Bab Tiga Puluh Satu: Dendam dari Kehidupan Sebelumnya
“Apa?”
“Mike?”
“Kau bilang namamu siapa? Mike Mowaimi?”
Ketika Roland mendengar perkenalan dari orang di depannya, rasa terkejut pun membanjiri benaknya.
Sembari menyipitkan mata dan mengamati lawan bicaranya, Roland berusaha mencari sisa-sisa gambaran orang bernama sama di dalam ingatannya.
“Ya, ada masalah?” Mowaimi tidak tahu apa sebenarnya yang membuat Roland terkejut, dan ketika Roland mengamati dirinya, ia malah balik bertanya, “Apa karena namaku sama dengan temanmu? Aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini, lagipula, di Amerika, nama Mike sangatlah umum, seperti Mike Tyson misalnya?”
Nama yang sama?
Tentu saja bukan!
Jawaban ringan itu membuat Roland membuang jauh-jauh kegundahan hatinya. Saat ini, mana mungkin ia masih punya pikiran untuk peduli soal urusan guru privat?
Dengan sangat tidak sopan, ia meneliti lawan bicaranya beberapa kali, tatapan matanya seakan hendak menguliti lawan bicara itu, “Kau bilang kau dari UCLA? Jurusan teknik elektro? Lalu, apa kau juga punya teman bernama Adhan?”
“Ya...”
Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat Mowaimi sedikit terkejut.
Ini adalah kali pertamanya menjadi guru privat, ia tidak tahu apakah reaksi Roland ini normal atau tidak.
Namun, saat mendengar nama Adhan, sorot mata Mowaimi jadi sedikit aneh, “Kalau aku tidak salah, ini seharusnya pertemuan pertama kita, kan? Atau, apa kita pernah saling kenal sebelumnya?”
Pernah kenal?
Tidak, tidak mungkin...
Bagaimana mungkin Roland mengenalnya?
Meski Mowaimi tidak menjawab pertanyaan Roland secara langsung, tapi dari pertanyaan baliknya, pupil mata Roland tiba-tiba mengecil.
Perasaannya pun seketika dikuasai oleh emosi yang mendadak menyeruak.
Siapa sebenarnya pria di depannya ini?
Jika hanya melihat penampilan, Roland yang tidak memiliki ingatan fotografis jelas tidak mungkin bisa seperti tokoh utama dalam novel; langsung menyebutkan identitas lawan bicaranya.
Namun—
Ia pernah mendengar nama Mike Mowaimi.
Ini memang nama yang sangat umum, hanya Mike, bukan Michael.
Tapi bila nama sederhana ini disandingkan dengan UCLA, jurusan teknik elektro, Adhan, dan lain sebagainya—
Ia langsung menjadi salah satu dari tiga pendiri perusahaan Blizzard.
Kelak, game-game terkenal dunia seperti Starcraft, Warcraft, Diablo, hingga World of Warcraft, semuanya lahir dari tangan lelaki berpenampilan seperti programmer di depannya ini dan tim yang ia pimpin.
Tentu saja, semua itu bukanlah inti permasalahan.
Yang penting, beberapa hari lalu Roland bahkan sempat mengetik nama orang ini di komputer barunya.
Meski Roland sudah memutuskan untuk fokus berakting, namun harta karun di kepalanya tentu tak boleh disia-siakan, bukan?
Meski ia belum punya rencana lengkap untuk ‘menggali harta’, menuliskan semuanya berdasarkan ingatan besarnya saja pasti takkan salah.
Dan Blizzard, atau lebih tepatnya World of Warcraft, adalah bagian terbesar dari ingatannya.
Ia mulai bermain sejak akhir era The9, sudah belasan tahun lamanya, tidak ada hal lain yang lebih membekas di benaknya selain game ini.
Semasa sekolah, ia main Warcraft di warnet, ketika beralih menjadi kreator konten, ia pun pernah membahas film adaptasinya.
Meski film Warcraft garapan Duncan Jones akhirnya kacau balau karena masalah dana dan pemain yang keluar-masuk, itu tetap bukan alasan untuk menjadikan seluruh film seperti trailer.
Padahal, seratus dua puluh empat menit hanya untuk pengantar, membuat film itu justru terasa seperti pratayang sekuel, dunia yang dibangun pun terkesan dipaksakan, membuat penonton geleng-geleng kepala.
Tapi meski begitu, Roland tetap merekomendasikan film itu pada orang lain.
Ia memperkenalkannya pada para pemain Warcraft.
Karena—
Ia tidak mau jadi satu-satunya yang kecewa.
Meski begitu, ia tetap sangat menantikan sekuel Warcraft.
Sayangnya, hingga saat ia menyeberang ke dunia ini, Warcraft 2 masih saja tidak ada kabar.
Hal itu membuatnya benar-benar kecewa.
Ketika Roland duduk di depan komputer, menulis daftar harta karun dan sampai pada perusahaan Blizzard, perasaannya menjadi campur aduk.
Karena perusahaan itu berdomisili di Los Angeles, Roland bahkan sudah berencana, kalau ada kesempatan, ia pasti akan datang berkunjung.
Meskipun tidak bisa bercanda seperti ketika mengirim satu mobil kentang ke Ubisoft, setidaknya ia bisa melihat langsung perusahaan yang pernah ‘menipu’ banyak waktu, uang, dan perasaannya.
Namun—
Sebelum sempat melaksanakan niat itu, sebelum kerajaan game masa depan itu benar-benar hadir, ia sudah lebih dulu bertemu langsung dengan pendiri Blizzard, Mike Mowaimi, hanya karena urusan guru privat?
Ini benar-benar—
Roland bahkan tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini dengan kata-kata.
Senang?
Omong kosong!
Ia bahkan ingin mengepalkan tangan dan menendang lutut Mowaimi!
World of Warcraft memang game yang luar biasa, tapi film yang kalian buat itu apa-apaan! Karakterisasi yang kalian ciptakan itu apa!
Ambil contoh Jaina—penuh dengan hal-hal yang bisa dikritik!
Bukan salahnya meninggalkan pacar, tapi kenapa harus jadi anak berbakti yang keras kepala?
Bukan salahnya mengkhianati ayahnya, tapi kenapa ayahnya yang dianggap merusak perdamaian Kalimdor?
Bahkan ada yang mengorbankan ayah demi kepentingan besar, mengganggu arwah leluhur, dan marah pada kakak undead...
Mengingat semua tindakan yang tidak masuk akal itu, Roland rasanya ingin menikam seseorang.
Tentu saja, karena Mowaimi sudah keluar dari perusahaan sejak 2018, jadi setelah dalam Battle for Azeroth, Sylvanas baru saja berteriak ‘For the Horde’ di awal update, langsung berubah menjadi ‘Horde itu sampah’, itu bukan salah Mowaimi lagi.
Namun meski begitu, setelah memastikan identitas orang ini, sorot mata Roland tetap tidak bersahabat.
Namun, saat Roland masih memikirkan bagaimana melampiaskan uneg-unegnya, David yang sudah memarkir mobil masuk ke ruang tamu. Saat melihat Roland dan Mowaimi saling menatap di depan pintu, ia langsung bertanya heran, “Roland, kenapa kau tidak mengajak Mowaimi masuk? Apa yang kalian bicarakan di depan pintu?”
“Dia itu guru privat yang susah payah aku carikan untukmu, jangan sampai kau usir.”
“Sama seperti kamu, dia juga anak muda yang punya impian.”
“Meski sudah mendapat tawaran kerja dari Western Digital, dia tetap ingin memulai usahanya sendiri.”
“Sayangnya dia belum punya modal, makanya urusannya tertunda.”
“Dia mau datang ke sini mengajar, salah satunya juga demi persiapan usaha ke depannya.”
“Kalau ada hal yang tidak kau mengerti, langsung saja tanya padanya, aku sudah bicara dengannya, dia sangat mudah diajak diskusi.”
Mendengar ucapan David, Mowaimi yang tadi terhalang di pintu pun tersenyum dan mengangguk.
Meski masih sedikit bingung, namun kebaikan yang terpancar dari sudut matanya berhasil ditangkap jelas oleh Roland.
Benar, Mowaimi saat ini bukanlah miliarder di masa depan, ia masih terbelit masalah keuangan.
Meski sudah mendapat tawaran dari Western Digital, ia hanyalah seorang mahasiswa miskin dengan impian besar.
Ia bisa saja mengikuti jejak HP, Apple, dan Google, memulai usaha dari garasi, tapi tetap saja ia butuh makan!
Tanpa sepeser uang pun di tangan, hanya mengandalkan kartu kredit, bagaimana mungkin ia memulai perusahaan?
Karena itu, begitu melihat iklan lowongan dari David, ia langsung melamar.
Syarat yang diberikan David benar-benar menggiurkan.
Sekitar seratus hari bimbingan privat, dibayar dua puluh ribu dolar.
Di tahun 1990, ketika rata-rata gaji hanya sekitar dua puluhan ribu, itu adalah jumlah yang sangat besar.
Mowaimi yang ingin berwirausaha, wajib mendapatkan uang itu.
Jadi, meski Roland bersikap aneh, ia tidak akan mencari masalah, justru akan tetap tersenyum ramah.
Namun, setelah mendengar penjelasan David dan melihat sikap Mowaimi, Roland yang tadi penuh ‘dendam’ tiba-tiba mengangkat alis.
Tunggu dulu—
Bertengkar dengannya pun tidak akan mengubah masa lalu!
Meski ia mengusir Mowaimi, tim penulis naskah yang suka asal-asalan menciptakan karakter pun tetap akan muncul, bukan?
Kalau begitu—
Bukankah lebih baik kau jadi guruku saja?
Nanti, tugasmu cukup membuat game yang bagus, urusan lain tak perlu kau cemaskan.
Menyadari hal ini, Roland yang tadi masih berpikir ingin menyerang lawannya, tiba-tiba tersenyum manis.
“Mike, maaf, aku tadi melamun.”
“Soalnya di bayanganku, programmer seharusnya seperti Steve (Jobs).”
“Dia suka memakai sweater hitam, tapi kau hari ini pakai yang putih...”
Penjelasan aneh itu membuat David dan Mowaimi sama-sama tertegun.
Meski merasa cara berpikir Roland agak unik, keduanya tidak terlalu mempermasalahkan.
Terutama Mowaimi, ketika Roland menyebut Jobs, mahasiswa yang akan segera lulus itu pun langsung melupakan tatapan tajam Roland tadi, dan hanya menggeleng, “Dia itu pendiri Apple, mana mungkin aku bisa dibandingkan dengannya?”
“Tapi, sebenarnya gaya berpakaian kami sama, sama-sama kasual.”
“Tentu saja, aku juga sebenarnya tidak suka baju hari ini, terlalu polos.”
“Aku lebih suka pakaian warna hitam, karena tidak mudah kotor...”