Bab Sembilan Puluh Tujuh: Tirai Ditutup
Mengingat tujuan kedatangannya ke Long An, gadis itu tak peduli lagi pada bahaya, buru-buru mengangkat ujung roknya dan berlari tergesa-gesa ke depan.
Di tengah-tengah kepungan besar, pandangan Jiang Geng tiba-tiba menangkap bayangan biru muda yang melintas. Akhirnya, ia bisa mengamati gadis itu dari dekat.
Jiang Geng diam-diam menoleh ke arah si gadis. Saat tatapan keduanya bersirobok, seberkas kekaguman yang menakjubkan melintas di kedalaman mata Jiang Geng.
Gadis itu sungguh cantik. Ia mengenakan busana biru muda di bagian atas, dan bagian bawahnya adalah kain tipis yang melayang...
Melihat lekuk indah di balik pakaian tipis itu, Jiang Geng dapat menebak bahwa gadis ini dianugerahi sepasang kaki jenjang yang hampir sempurna, baik dari segi garis maupun proporsi.
Namun, yang paling mengagumkan baginya adalah kulit gadis itu. Entah karena sinar matahari yang begitu terang, Jiang Geng bisa melihat dengan jelas bahwa di lengan dan leher yang terbuka, tak tampak sedikit pun cela. Kulitnya bening tanpa noda, berkilauan lembut di bawah sinar matahari, laksana giok putih yang dipahat dengan amat teliti.
Hati Jiang Geng sedikit bergetar, meski wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi.
"Lepaskan dia!" Gadis itu berlari dari kerumunan besar ke bagian luar lingkaran kecil, berseru dengan suara manja.
Yu Hang menatap gadis yang bersuara lembut itu, lalu melirik Luo Shangwu.
Namun saat itu Luo Shangwu pun tampak bingung, hanya bisa saling melotot dengan Yu Hang.
"Dia tiba-tiba melukai banyak prajurit, bahkan nyaris membahayakan keselamatan Kapten Luo. Mana mungkin kami melepaskannya begitu saja?" Jiang Geng menatap cemasnya si gadis, lalu berkata pelan.
"Kau ini bagaimana... pokoknya kalian lepaskan saja dia, pasti tidak salah!" Gadis itu semakin gelisah, bahkan tak sempat merasa takut dan berusaha menyusun kata-kata dengan tergesa.
Mendengar suara jernih dan merdu gadis itu, Jiang Geng hanya bisa tertawa dalam hati.
Orang lain mungkin tidak tahu.
Tapi ia yang baru saja bertarung melawan Wang Zhuoyang, sangat paham bahwa barusan Wang Zhuoyang benar-benar bermaksud membunuh! Kalau saja ia tidak sempat menghunus belati dari pinggang belakang untuk menangkis, tubuhnya yang tak berzirah itu mungkin sekarang sudah terkubur.
Bagi Jiang Geng, terhadap siapa pun yang mengancam nyawanya, ia tidak pernah menunjukkan belas kasihan sedikit pun.
Lagipula, meski Jiang Geng sendiri rela melepaskan orang ini, Luo Shangwu yang baru saja dipermalukan, jelas takkan mau membiarkan orang itu pergi!
Andai saja Jiang Geng tak maju menghadapi Wang Zhuoyang, bisa jadi Luo Shangwu-lah yang kini terkapar tak berdaya.
Tentu saja, kalau Yu Hang melihat Luo Shangwu tergeletak di tanah, mungkin anak panah yang tadi menancap ke tanah akan langsung meluncur ke kepalanya.
Kini, Luo Shangwu telah kembali menampilkan wibawa dan sikap sebagai Kapten Pengawal Zhaoxin.
Dengan langkah tenang, ia berjalan ke depan Wang Zhuoyang yang dikepung oleh tombak-tombak panjang, menatap gadis yang cemas itu, lalu berkata lantang, "Siapa sebenarnya kalian? Tahukah kalian, menyerang pejabat istana dan melukai prajurit Kerajaan Dasheng tanpa alasan adalah kejahatan berat?"
Saat itu, Luo Shangwu mengerahkan seluruh kewibawaan yang biasa ia gunakan saat melatih prajurit.
Menurutnya, ancaman seperti ini seharusnya bisa membuat gadis di depannya takut, sehingga ia mau mengungkapkan asal-usul dan tujuan mereka.
"Ah, sudah kubilang, jangan tanya-tanya lagi. Kalau kalian tetap memaksa, pada akhirnya tak ada satu pun yang akan diuntungkan," sahut si gadis.
Namun, ancaman Luo Shangwu sama sekali tak membuatnya gentar. Ia tampak ingin bicara, tapi akhirnya hanya membuka tutup mulut tanpa suara.
Ucapan itu membuat wajah Luo Shangwu berubah.
Jika Wang Zhuoyang bukan orang bodoh, dan gadis cantik yang menakjubkan ini pun bukan orang bodoh, lalu jika semua yang mereka katakan benar...
Apakah latar belakang kedua orang ini memang sedemikian kuat, hingga bahkan seorang pejabat militer berpangkat enam seperti Luo Shangwu pun tak berani menantang mereka?
Luo Shangwu pun jadi ragu sejenak.
Ia kembali melirik Wang Zhuoyang yang dikepung tujuh delapan tombak.
Wang Zhuoyang berdiri di tengah ancaman senjata, tetap menampilkan senyum mengejek, membuat jantung Luo Shangwu yang baru saja tenang kembali berdebar kencang.
"Kalian tak boleh menyakitiku. Lepaskan aku, anggap saja hari ini tak pernah terjadi, aku pun takkan mempermasalahkan," ucap Wang Zhuoyang perlahan. Mungkin menurutnya itu sudah merupakan kelonggaran besar, alisnya sedikit berkerut.
Kali ini bukan hanya Luo Shangwu, bahkan Jiang Geng pun ingin menendangnya mendengar ucapan itu.
Jadi, setelah kau sendiri membuat masalah, kami malah harus memohon agar kau tidak menuntut kami di kemudian hari?
"Aku!" Luo Shangwu menarik napas dalam-dalam, namun ia masih bisa menahan diri dan tak kehilangan akal.
Ia kembali menatap gadis itu, mengamati pakaian yang dikenakannya.
Sulaman yang indah, kain halus, perhiasan yang mewah namun tak mencolok...
"Sebutkan siapa kalian, mungkin saja aku akan melepaskan kalian," ujar Luo Shangwu, yang sudah bisa menilai bahwa gadis dan Wang Zhuoyang ini bukan orang biasa.
Namun, membebaskan mereka begitu saja jelas tak mungkin.
Bagaimanapun, di sekelilingnya berdiri pasukan kavaleri yang dipimpinnya.
Mereka datang dari dalam kota, bergegas demi menyelamatkan Luo Shangwu dari bahaya.
Setelah menangkap Wang Zhuoyang sang pemimpin perusuh, lalu hanya karena beberapa kata dari gadis dan Wang Zhuoyang, Luo Shangwu membebaskan mereka begitu saja, tentu akan menimbulkan kekecewaan di hati para prajurit.
Hati manusia memang hal yang sangat rumit.
Mengumpulkannya sulit, namun membuatnya tercerai-berai begitu mudahnya.
Bagaimana menangani masalah ini dengan baik, seketika menjadi beban di benak Luo Shangwu.
Ia berpikir keras, tetap berusaha mengetahui asal-usul gadis itu.
"Kau sungguh ingin tahu?" tanya gadis itu dengan nada kesal.
"Untuk apa bicara banyak pada mereka?" Namun sebelum Luo Shangwu sempat menjawab, Wang Zhuoyang yang tertahan di sisi langsung menyela.
"Jangan banyak tingkah!" seru Yu Hang, turun dari kudanya dan membentak Wang Zhuoyang.
Wang Zhuoyang melirik malas, mencibir, tak membalas.
"Aku tanggung sendiri akibatnya," kata Luo Shangwu dengan sungguh-sungguh.
"Itu janji?" Gadis itu menggigit bibir, gigi putihnya berkilauan di balik bibir merah lembap.
"Tentu," jawab Luo Shangwu, lalu menoleh sejenak ke arah Jiang Geng.
Seolah teringat sesuatu, gadis itu menunduk dan mengeluarkan sebuah lencana dari saku bajunya.
"Nih!"
Ia mengangkat lencana itu dan hampir menempelkan ke wajah Luo Shangwu.
Melihat itu, ekspresi Luo Shangwu berubah.
Ia buru-buru mendekat, mengamati lencana itu dengan seksama.
Lama ia terdiam.
Akhirnya, suara Luo Shangwu terdengar lirih.
"Lepaskan dia."
Pandang Jiang Geng berubah, dan saat bertatapan dengan gadis yang manyun itu, ia menampakkan senyum kecil.
"Hmph! Senyum apa? Sudah kubilang, kau pasti tak percaya juga!" Gadis itu memalingkan muka, tak mau lagi memandang Jiang Geng.
Jiang Geng hanya menggeleng.
Tak tahu dari keluarga mana gadis ini, ternyata benar-benar mampu membuat Luo Shangwu mengalah.
Tapi itu pun tak ada hubungannya dengan dirinya.
Ia melirik Wang Zhuoyang yang perlahan berdiri, dalam hatinya sempat terlintas niat gelap.
Melihat keributan ini berakhir begitu saja, Jiang Geng berkata, "Aku pergi dulu."
Luo Shangwu pun kehilangan semangat, hanya mengangguk lesu.