Bab 74: Ternyata Menggoda
Sebenarnya, Qi Chengye tidak perlu mengungkapkan hal ini secara terang-terangan. Lagipula, wibawanya tidak akan berkurang hanya karena masalah kecil seperti ini. Namun, Jiang Geng bisa saja mengalami perlakuan kurang menyenangkan atau dijauhi karenanya. Qi Chengye, dengan menyatakan hal ini di depan semua orang, sesungguhnya sedang menegaskan bahwa ia benar-benar mengakui posisi Jiang Geng. Namun, ia tidak bermaksud untuk memberikan pembenaran atau legitimasi sepenuhnya bagi Jiang Geng. Ia membiarkan Qi Fei mengucapkan kata-kata tadi, sejatinya untuk memberi tahu Jiang Geng: aku mendukungmu, tapi kau harus membuktikan sendiri kemampuanmu. Jika hanya mengandalkan kata-kataku, itu tidak cukup. Sekalipun aku memberimu posisi setinggi apa pun, itu takkan berarti, kecuali kau sendiri mampu membuat mereka mengakui kehebatanmu, barulah kau benar-benar berdiri kokoh.
Jiang Geng jelas bukan tipe orang yang menunggu suapan di depan mulut. Ia sudah lama paham, segala sesuatu di dunia ini harus diperjuangkan. Ia bisa berdiri di sini hari ini, juga hasil dari perjuangannya sendiri. Para pengawal yang mendengar kisah “kejayaan” Jiang Geng dan melihat sikapnya yang sama sekali tidak sombong, perlahan mengurangi sikap bermusuhan pada Jiang Geng. Tapi, hanya dengan kata-kata itu saja, belum cukup untuk membuat mereka betul-betul mengakui Jiang Geng.
Mereka yang bisa dipercaya dan dipakai oleh Qi Chengye, tentu memiliki kemampuan masing-masing. Orang-orang yang berkemampuan, sering kali memiliki rasa percaya diri dan kebanggaan tertentu. Jiang Geng, seorang pendatang baru, hanya butuh beberapa hari saja sudah bisa berada di atas mereka, membuat tahun-tahun pengabdian mereka seolah tak berarti apa-apa. Jika mereka tidak membencinya saja sudah bagus, bagaimana mungkin bisa dengan mudah menerima Jiang Geng?
Namun karena segan pada Qi Chengye, tetap ada yang berkata, “Karena Yang Mulia sudah berkata begitu, tentu kami tak akan menganggap Saudara Jiang sebagai orang luar.” Tapi kalau melihatmu masuk ke perangkap, apakah akan diperingatkan atau tidak, itu soal lain.
Jiang Geng memahami maksud tersembunyi ucapan mereka, tapi ia tidak tersinggung, malah mengucapkan terima kasih dan berniat duduk kembali. Namun, tepat ketika itu, Qi Chengye tiba-tiba berkata, “Ah, sungguh sayang, hidangan lezat dan anggur enak sudah tersedia, tetapi tidak ada hiburan tari dan musik. Sungguh disayangkan.”
Semua orang menoleh kepada Qi Chengye. Mereka semua cerdas dan tahu Qi Chengye tidak mungkin asal bicara seperti itu. Mereka juga tahu, ketika Qi Chengye memesan tempat di Gedung Fengyang, ia sudah memerintahkan agar tidak perlu menyediakan banyak minuman, bahkan kelompok musik dan penari sama sekali tidak diperlukan.
Harus diketahui, Gedung Fengyang sangat terkenal di Kota Longan bukan hanya karena masakannya yang lezat dan bangunannya yang menjulang tinggi. Yang lebih memikat lagi, pemiliknya yang seorang saudagar kaya ternama, memelihara sekelompok musisi dan penari yang mahir, bahkan di antaranya ada penari bermata hijau berkulit putih yang katanya berdarah asing. Dengan dentingan alat musik dan tarian mereka, semua bisa terpesona. Ketika mendengar kabar itu, para pengawal sempat menyesal dan kecewa. Sebab, kalau bukan karena Qi Chengye, mungkin seumur hidup pun mereka takkan pernah menyaksikan pemandangan seperti itu.
Namun kini, Qi Chengye yang sebelumnya melarang adanya musik dan tari, justru mengeluh bosan dan menyesal. Tentu saja ini mengandung maksud tertentu.
Tapi mereka tak punya waktu untuk berpikir lama, karena tidak mungkin membiarkan suasana canggung setelah ucapan Qi Chengye. Mereka harus segera merespons. Karena Qi Fei pun diam saja, mereka akhirnya terpaksa angkat bicara.
“Yang Mulia, hamba bersedia menari pedang untuk menghibur!”
“Aku juga bersedia!”
Yang lain pun ikut-ikutan menawarkan diri. Mereka berpikir, tuan mereka memang bukan orang yang tergila-gila pada wanita, mungkin saja ia ingin melihat apakah mereka selama ini sudah mulai lengah, sehingga mengucapkan hal itu.
Jiang Geng duduk tenang di tempatnya, tiba-tiba merasa Qi Fei menatapnya dengan pandangan aneh.
Aku kan tidak bisa menari pedang, kenapa melihatku?
Jiang Geng memilih memejamkan mata setengah, mengabaikan tatapan Qi Fei.
Ia sama sekali tidak tertarik melakukan hal semacam itu hanya demi menyenangkan hati Qi Chengye. Ia bukan seorang penghibur. Ia menunduk, mengambil secangkir teh harum, menyesap perlahan, dan memperhatikan beberapa pengawal yang saling berebut menawarkan diri.
“Fengchuan, menurutmu bagaimana?”
Namun, meski Jiang Geng berniat tidak ikut campur, ada yang tetap memperhatikannya.
Qi Chengye tiba-tiba bertanya padanya. Para pengawal yang lain langsung terdiam.
Suasana menjadi hening, hanya Jiang Geng yang hampir tersedak teh.
“Uhuk, Yang Mulia suka apa ya silakan saja dinikmati, tak perlu menanyakan pendapatku,” kata Jiang Geng sambil tertawa canggung.
Senyum tipis muncul di wajah Qi Chengye.
Qi Fei yang berada di sampingnya segera menimpali, “Oh ya, tadi dengar-dengar Kepala Pengawal Xu sepertinya mengirimkan sesuatu...”
“Tunjukkan saja kemari,” ucap Qi Chengye ringan.
Qi Fei memberi isyarat, pelayan Gedung Fengyang pun segera keluar, tak lama kemudian, empat pelayan masuk membawa sebuah peti kayu panjang hampir dua meter, diletakkan di depan meja.
Jiang Geng melihat peti itu, hatinya merasa tidak tenang. Para pengawal lain pun melirik penasaran.
“Bukalah,” kata Qi Fei.
“Baik,” jawab para pelayan, lalu dengan hati-hati membuka kunci peti, menyingkap isinya.
Di dalam peti terdapat lapisan kain hitam, dan di atasnya terletak sebuah tombak panjang dengan gagang berwarna merah menyala.
Mata tombak terbuat dari baja terbaik, berkilau terang laksana perak, ujungnya yang runcing berpendar tajam, seperti naga perak yang tengah membuka mata dan meraung.
Para pengawal lain melihat tombak itu, sejenak tampak bingung.
Tombak? Kepala Pengawal Xu mengirim tombak untuk apa? Lagipula, Yang Mulia juga tidak bisa menggunakan tombak.
Hanya Jiang Geng yang matanya berkedip saat melihat tombak itu.
Pantas saja dijanjikan tiga hari akan dikirim, tapi tak ada kabar, ternyata disimpan di sini!
“Jadi ini toh, Fengchuan, tidak ingin melihat apakah cocok dengan keinginanmu?” Qi Chengye tampak sangat senang.
Para pengawal lain akhirnya sadar, tombak itu ternyata untuk Jiang Geng.
Pandangan mereka yang semula mulai melunak, kini kembali menunjukkan rasa tidak suka.
Jiang Geng berkata kaku, “Tampaknya memang berkualitas tinggi, terima kasih, Yang Mulia.”
“Kebetulan, Saudara Jiang, mengapa tidak mencoba tombak itu? Hitung-hitung menghibur Yang Mulia, juga agar para saudara bisa melihat kemampuanmu,” ujar Qi Fei sambil tersenyum melihat Jiang Geng yang tampak enggan.
Jiang Geng pun paham, Qi Chengye dan Qi Fei sebenarnya sudah merencanakan semuanya, agar ia menunjukkan kemampuannya.
Pertama, untuk membuktikan apakah ia memang benar-benar mumpuni. Kedua, agar ia bisa menunjukkan kehebatannya di hadapan para pengawal lain, supaya mereka lebih mudah menerimanya.
Namun, Jiang Geng tidak ingin tampil seolah-olah dirinya seorang penghibur bagi orang lain.
Aku tidak akan pernah melakukan itu, pikirnya. Tapi, tidak tahan dengan tatapan orang-orang di sekitarnya, ia terpaksa bangkit perlahan dan melangkah ke depan.
Ia mengambil tombak itu, memutarnya perlahan, merasakan berat di tangannya yang membuatnya seakan terlena, matanya langsung bersinar.
“Tombak yang hebat!” seru Jiang Geng lirih, seolah mendapat harta karun.
Ia langsung melangkah dua kali ke area yang lapang, lalu memutar tombak itu dengan cepat, ujung tombak berkilau tajam, menebarkan cahaya dingin.