Bab Seratus Enam Puluh: Menghadang
Orang-orang di desa menatap Baili Xiang dan An Le dengan ekspresi tidak bersahabat.
Baili Xiang sudah menduga situasi seperti ini dan tidak ingin mencari masalah, sehingga ia memutuskan untuk langsung berjalan keluar desa bersama An Le.
Namun, terkadang kenyataan tidak sejalan dengan harapan.
Misalnya, ketika Anda tidak ingin memancing masalah, justru masalah yang datang menghampiri Anda.
Baili Xiang baru melangkah beberapa langkah ketika orang-orang di belakang langsung mengikuti. Tanpa disadari, warga desa mulai mengepung An Le dan Baili Xiang di tengah kerumunan.
An Le mengerutkan kening dan mulai memasang sikap siaga.
Kerumunan telah membentuk lingkaran, menjebak Baili Xiang dan An Le di tengah-tengahnya.
Tepat pada saat itu, seseorang melangkah maju dari barisan depan. Ia adalah seorang pria paruh baya berusia sekitar empat puluhan dengan raut wajah yang tampak licik.
Baili Xiang menatap pria paruh baya itu dengan cemberut, menunggu lelaki itu berbicara.
Pria paruh baya tersebut memasang tampang sinis, terutama saat menatap Baili Xiang. Wajahnya begitu suram hingga seolah-olah dapat memeras air darinya.
"Orang asing, ini urusan desa kami. Sebaiknya kalian tidak ikut campur dalam urusan orang lain. Kalau nanti situasinya memburuk, tidak ada untungnya bagi siapa pun."
Dari kata-kata itu saja, sudah sangat jelas tersirat ancaman.
Baili Xiang tertawa dingin tanpa berkata apa-apa. Sebaliknya, An Le menatap pria paruh baya itu dengan ekspresi tidak senang dan berkata dengan nada suram, "Bagaimana jika kami bersikeras ikut campur urusan ini!"
Pria paruh baya itu jelas bukan orang sembarangan. Terlihat jelas bahwa ia memiliki wibawa yang kuat di desa tersebut.
"Mau ikut campur? Orang asing, sebaiknya gunakan otakmu saat berbicara. Ini desa kami, bukan tempat bagi kalian untuk berbuat semena-mena."
Ucapan itu sarat dengan ancaman.
Kecurigaan di dalam hati Baili Xiang semakin menguat. Ia tersawa dingin dan berkata, "Kalian semua adalah pria bertubuh tegap, tetapi malah berandai-andai merunduk untuk menindas seorang janda dan anak yatim sungguh menyedihkan. Hari ini, urusan ini benar-benar akan kami campuri. Alasan pertama karena ibu dan anak ini sangat malang, dan alasan kedua, demi suami mereka yang sedang bertempur di garis depan perbatasan, kami harus menegakkan keadilan bagi keluarga mereka. Apakah kalian tidak merasa malu melakukan hal semena-mena seperti ini?"
Para prajurit di perbatasan mempertaruhkan nyawa mereka demi melindungi keamanan di garis belakang. Tidak disangka, alih-alih mendapatkan sedikit rasa terima kasih, mereka justru harus menghadapi orang-orang tak tahu malu yang menyulitkan keluarganya sendiri.
Namun, tidak semua orang di kerumunan itu kehilangan hati nurani. Setidaknya setelah Baili Xiang melontarkan kata-kata tersebut, banyak dari mereka yang menundukkan kepala.
Pria paruh baya itu sama sekali tidak peduli.
"Menindas? Bukti apa yang kalian punya untuk menuduh kami menindasnya?"
An Le justru tertawa mendengar itu. "Bukti? Tentu saja kami punya bukti! Misalnya, kalian sekarang menghalangi kami dan menunda penyelamatan anak tersebut, atau ancaman verbal yang kalian lontarkan barusan."
Wajah pria paruh baya itu menjadi sangat dingin.
Baili Xiang merasa khawatir dengan kondisi anak tersebut dan tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ia menoleh ke arah An Le dan berkata, "Ayo kita pergi!"
Mendengar ucapan itu, pria paruh baya tersebut mengira Baili Xiang dan rombongannya berniat meninggalkan desa.
An Le pun berhenti berdebat dengan pria paruh baya itu, lalu berbalik dan memimpin Baili Xiang berjalan menuju arah kereta kuda.
Kerumunan warga tanpa sadar membuka jalan bagi mereka.
Baili Xiang naik ke dalam kereta kuda, sementara An Le menunggu di bawah. Tidak lama kemudian, Baili Xiang turun kembali sambil membawa sebuah bungkusan kertas di tangannya.
An Le tersenyum tipis. "Sepertinya akan cukup sulit bagi kita untuk masuk kembali ke halaman rumah wanita itu."
Tidak jauh dari sana, warga desa tidak kunjung bubar dan justru memblokir jalan keluar desa. Pria paruh baya itu berdiri di persimpangan dengan ekspresi penuh kemenangan, jelas menunjukkan niatnya untuk menghalangi keduanya masuk kembali.
Baili Xiang sama sekali tidak merasa khawatir. "Jangan takut. Memberi mereka sedikit pelajaran juga bukan ide yang buruk."
Baili Xiang sudah terlalu sering melihat orang-orang seperti itu dan terbiasa dengan tabiat mereka.
Sambil membawa bungkusan obat, An Le dan Baili Xiang berjalan berdampingan memasuki kembali kawasan desa.
Ketika mereka tiba di hadapan pria paruh baya itu, lelaki tersebut mencibir dan berkata, "Kenapa, masih ingin masuk? Kau anggap desa kami ini tempat apa, bisa keluar masuk sesuka hati kalian?"
Ketika An Le memasang wajah dingin, seluruh tubuhnya memancarkan aura kelam yang memikat sekaligus berbahaya. Tatapannya begitu tajam hingga siapa pun yang melihatnya akan merasa seolah-olah terjatuh ke dalam gua es yang membeku.
"Apakah kalian benar-benar yakin ingin menghalangi kami menyelamatkan anak itu?" Suara An Le terdengar sangat dingin, bahkan aura dingin yang dipancarkannya membuat Baili Xiang yang berdiri di sampingnya merasa tidak nyaman.
Pria paruh baya itu tidak menyangkal dan malah mengangguk. "Memangnya kenapa kalau kami halangi! Urusan anak itu sebaiknya tidak usah kalian campuri."
"Sudah kubilang, hari ini urusan ini pasti kuurus! Kusir, pergi ke kota dan panggil pejabat kemari, katakan bahwa penduduk desa di sini membiarkan orang mati sia-sia." Suara An Le cukup lantang, tentu saja terdengar oleh kusir yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana dengan cemas. Tanpa ragu sedikit pun, sang kusir langsung naik ke atas kereta.
Pria paruh baya itu tentu saja tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi dan tidak mungkin membiarkan sang kusir memanggil pihak berwenang. Ia langsung mengerahkan orang untuk menghentikan mereka.
"Mau pergi? Mana bisa semudah itu! Tanpa izinku, tidak ada seorang pun dari kalian yang boleh pergi." Pria paruh baya itu mulai kehilangan kesabarannya dan berteriak kepada kerumunan, "Xiaoyu, apa yang kalian tunggu lagi? Cepat hentikan kusir itu, jangan biarkan siapa pun meninggalkan tempat ini hari ini!"
An Le mencibir, lalu menoleh ke arah Baili Xiang dan berkata, "Kau berdirilah di samping saja nanti. Jika ada yang berani melukaimu, gunakan bubuk obat itu untuk menghadapi mereka."
Mendengar perkataan An Le, Baili Xiang langsung paham bahwa pria itu berniat menggunakan kekerasan yang sebenarnya.
Baili Xiang mengangguk tanpa membantah keputusan An Le.
Empat pemuda yang keluar dari kerumunan tidak menghiraukan An Le dan justru melangkah maju lebih dulu, menunjukkan sikap yang sangat menantang.
Pada saat itulah An Le bergerak.
Dalam sekejap mata, tubuhnya berkelebat dan langsung muncul di hadapan keempat pemuda tersebut. Ia mengulurkan tangannya, dan bahkan sebelum Baili Xiang sempat melihat gerakan An Le dengan jelas, keempat pria itu sudah jatuh tersungkur ke tanah.
Sang kusir yang menyadari situasi telah berubah menjadi genting segera memacu kereta kudanya meninggalkan tempat itu.
Pria paruh baya tersebut sangat murka.
Terutama setelah melihat keempat pemuda itu terkapar di tanah, ia sadar bahwa kali ini mereka sedang berurusan dengan orang yang sangat berbahaya.
Baili Xiang telah menyiapkan bubuk obat di tangannya. Begitu orang-orang itu berani maju menyerang secara membabi buta, ia tidak akan ragu untuk menyebarkan bubuk tersebut ke arah mereka.
Namun, warga desa pada dasarnya adalah orang-orang yang pengecut. Melihat empat pemuda bertubuh kekar tumbang dalam sekejap, nyali dan kecongkakan mereka seketika menguap.
Wajah pria paruh baya itu memucat karena marah, lalu ia bertanya dengan suara geram, "Sebenarnya kalian ini siapa?"
Baili Xiang tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, mengingat pria paruh baya itu kini tampak ketakutan.
Sambil tersenyum dingin, ekspresi Baili Xiang tampak sama menakutkannya. "Siapa kami, kalian akan segera tahu setelah para pejabat datang nanti! Sekelompok orang dewasa sepertiga kalian tega menyulitkan seorang anak berusia dua tahun. Aku ingin bertanya, apakah kalian semua tidak punya anak di rumah? Bagaimana hati kalian sanggup berbuat tega seperti ini?"
Baili Xiang benar-benar merasa geram. Nasib anak di dalam rumah itu masih belum diketahui hidup atau matinya, tetapi orang-orang ini begitu kejam hingga bertindak seperti algojo yang ingin merenggut nyawa si kecil.
Tepat pada saat itu, kerumunan orang di barisan belakang mulai bergeming.
Seseorang tiba-tiba berteriak panik, "Istri Wang Fu sudah gila, dia membawa pisau dan hendak menebas orang!"
Kerumunan itu mendadak menjadi kacau balau, dan semua orang berlarian menyelamatkan diri ke segala arah. Dengan kepanikan tersebut, sebuah jalan terbuka di tengah kerumunan.
Barulah saat itu Baili Xiang mengetahui bahwa suami sang wanita bernama Wang Fu. Namun, Baili Xiang mengernyitkan dahi; nama Wang Fu terdengar begitu familiar di telinganya.
Wanita itu menggenggam sebilah pisau dapur sambil mengayun-ayunkannya. Sifat lembutnya telah lenyap, menyisakan raut wajah yang beringas.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa wanita tidak boleh didesak hingga batas akhir, karena jika terdesak, ia mampu melakukan apa saja. Wanita di hadapannya saat ini adalah bukti nyata dari pepatah tersebut.
Pria paruh baya itu pun mulai merasa ciut nyalinya dan mundur beberapa langkah ke samping.
Wanita itu berjalan mendekati Baili Xiang dan An Le, lalu menatap Baili Xiang dengan penuh rasa bersalah. "Nyonya, maafkan aku karena telah membuatmu terseret dalam masalah ini."
Baili Xiang menggelengkan kepala. "Jangan ucapkan basa-basi dulu, menyelamatkan anak itu jauh lebih penting."
Wanita itu memahami prioritas saat ini. Ia berbalik, mengangkat pisau dapurnya tinggi-tinggi, dan berteriak dengan penuh amarah kepada kerumunan warga, "Kalian semua ini mengaku sebagai kerabat suamiku, tetapi bagaimana bisa kelakuan kalian begitu menjijikkan dan kejam! Biasanya aku diam saja saat kalian menindas kami sekeluarga, tapi Luo'er adalah satu-satunya anakku, dan kalian tega-tagahnya ingin membunuhnya! Bagus kalau begitu, toh kalau anakku mati aku pun tidak ingin hidup lagi. Jika aku tidak bisa hidup, aku akan menyeret kalian semua ke neraka bersama-sama! Mati itu apa susahnya, memangnya aku takut? Aku, Qing Niang, bersumpah hari ini, siapa pun di antara kalian yang tidak percaya, silakan coba saja maju!"
Selama ini Qing Niang terbiasa bersikap lemah lembut di desa, sehingga tidak ada seorang pun warga yang pernah melihatnya begitu beringas. Melihat sisi dirinya yang sekarang, orang-orang tampak sangat terkejut, terutama mereka yang penakut hingga memilih bersembunyi di sudut-sudut.
Hal yang paling ditakuti di dunia ini adalah orang yang sudah tidak takut mati.
Setelah berkata demikian, Qing Niang menatap tajam ke arah pria paruh baya itu sambil mencibir. "Dan kau, pantas dipanggil sebagai kepala kaum, tetapi justru menjadi dalang yang ingin merampas beberapa petak tanah milik keluarga kami! Suamiku bahkan belum mengirimkan kabar kematiannya, tapi kalian sudah begitu tidak sabaran. Jika suamiku ternyata masih hidup dan kembali nanti, kulihat apa alasan yang akan kalian ucapkan! Dulu suamiku orang yang baik dan tulus, kalian menyuruhnya pergi berperang dan ia pun menurut. Sebelum berangkat, kalian menepuk dada berjanji akan merawat kami seibu dan anak ini. Sekarang... heh... kalian benar-benar 'merawat' kami dengan sangat baik ya!"
Baili Xiang memahami bahwa emosi di dalam hati wanita itu perlu dilampiaskan, sehingga ia tidak mendesaknya, melainkan hanya menepuk pundak wanita tersebut dengan penuh simpati.
Merasakan ketulusan dan penghiburan dari Baili Xiang, Qing Niang menoleh dengan tatapan penuh rasa terima kasih.
"Ayo kita pergi."
Baili Xiang memimpin jalan terlebih dahulu.
Berkat ketegasan dan sikap beringas Qing Niang barusan, tidak ada lagi orang yang berniat atau berani maju untuk menghalangi jalan mereka.
Sambil berjalan di belakang, Qing Niang berkata dengan nada penuh penyesalan, "Nyonya, aku benar-benar minta maaf. Tapi sekarang aku sudah membulatkan tekad; jika terjadi sesuatu pada anakku, aku juga tidak ingin hidup lagi. Hidup seperti ini sudah tidak ada artinya. Daripada hidup dalam ketertindasan dan rasa takut, lebih baik aku mati dengan bermartabat. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Ngomong-ngomong, Nyonya, Anda bisa memanggilku Qing Niang."
Baili Xiang merasa iba dan berusaha membujuknya, "Jangan berpikir yang bukan-bukan. Oh ya, tadi kudengar kau menyebut suamiku bernama Wang Fu? Aku pernah tinggal di daerah perbatasan sebelumnya. Bisakah kau ceritakan ciri-ciri fisik suamimu? Siapa tahu aku pernah melihatnya."
Catatan Penulis:
Menghaturkan terima kasih kepada Mu Mu Ge Zi atas jimat keselamatannya, dan terima kasih kepada sahabat Heng Duan Jiang Shan atas hadiah koin merah mudanya. Terima kasih banyak kepada kalian berdua~~