Bab Seratus Enam Puluh Dua: Kekhawatiran
Yue Zhonghu mengangguk sambil menatap bayi dalam gendongannya dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu sebelumnya. Jika bukan karena kamu dan kakakmu, aku dan Yue'er pasti akan terus berbuat salah. Mulai sekarang, aku akan merawat anak ini dengan baik, dan aku bersama Yue'er akan terus menunggu kepulanganmu di balai pengobatan ini."
Baili Xiang tersenyum tipis. Ada beberapa hal dan perkataan yang tidak perlu diutarakan secara blak-blakan; cukup jika masing-masing saling memahami di dalam hati.
Anle menatap Baili Xiang dengan tatapan tegas, lalu berkata, "Membawa pulang anak itu bukanlah urusan yang terlalu sulit. Kalian tidak perlu bersikap seolah-olah sedang menghadapi perpisahan hidup dan mati. Selama aku ada di sini, kalian bisa merasa tenang dalam segala hal."
Anle sangat percaya diri, dan Baili Xiang pun tahu bahwa keyakinan Anle beralasan. Berdasarkan kecerdasan dan kemampuan bela diri Anle saja, Baili Xiang yakin bahwa pemuda itu pasti bisa diandalkan.
Baili Xiang kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Dukun beranak telah membersihkan tempat tidur, dan baskom kayu di lantai penuh dengan noda darah segar. Yue'er menatap Baili Xiang dengan wajah yang tampak agak pucat.
Duduk di tepi ranjang dengan senyuman, Baili Xiang mengulurkan tangan lalu menggenggam jemari Yue'er.
Begitu keluar dari kamar, Baili Xiang berpamitan kepada Yue Zhonghu dan langsung pergi bersama Anle.
Di tengah perjalanan, Anle melihat ekspresi muram di wajah Baili Xiang dan bertanya dengan nada bingung, "Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Baili Xiang mendesah pahit sambil mendongak, rona wajahnya tampak kurang baik. "Aku merasa khawatir."
"Khawatir tentang apa?"
Baili Xiang menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara, "Aku khawatir perjalanan kali ini tidak akan berjalan lancar. Ibunda Xiahou Chun selalu mendambakan seorang anak. Dulu aku meninggalkan Desa Keluarga Yun semata-mata karena Nyonya Besar mengejarku, sehingga aku terpaksa kabur bersama anakku dengan penuh kecemasan. Aku sangat takut dia tidak mau menyerahkan anak itu kepadaku. Belum lagi hubungan di antara aku dan Xiahou Chun..."
Meskipun ia enggan mengakui bahwa dirinya masih memiliki hubungan dengan Xiahou Chun, orang luar tentu tidak akan berpikir demikian. Mereka pasti akan menganggapnya sebagai wanita yang telah diceraikan, dan tidak seorang pun akan mengira dirinya layak untuk membawa anak tersebut.
Anle menangkap kilat kepanikan di mata Baili Xiang. Dengan perasaan cemas, ia mengulurkan tangan dan untuk pertama kalinya berinisiatif menggenggam tangan Baili Xiang dengan erat.
Baili Xiang tertegun. Ia mendongak menatap Anle dengan terkejut, lalu perlahan menarik tangannya seraya merasa wajahnya kini merona merah.
"Kamu..." Baili Xiang mengakui bahwa dirinya memiliki perasaan terhadap Anle, tetapi kondisinya saat ini sama sekali tidak tepat untuk membahas masalah percintaan.
Terlebih lagi, Anle terlalu misterius, dan hal itu juga membuatnya merasa takut.
Anle tersenyum tipis. Sepasang matanya menatap tajam penuh kehangatan ke arah Baili Xiang, membuat rona merah di pipi gadis itu kian menyebar.
Bahkan kedua daun telinganya terasa panas membara.
"Xiang'er, apakah kamu percaya pada takdir?" Anle berbicara dengan sangat sungguh-sungguh. Ia memahami batasan di antara dirinya dan Baili Xiang yang timbul karena gadis itu belum mengenalnya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah membuat Baili Xiang mengenalnya sedikit demi sedikit, lalu menerimanya.
Baili Xiang menggelengkan kepalanya. Di dalam hati ia berpikir bahwa hal semacam itu biasanya hanya terjadi di dalam cerita novel, bagaimana mungkin ada di dunia nyata?
Anle sama sekali tidak marah. Sambil tersenyum, ia melanjutkan, "Semua yang akan kukatakan ini sungguh-sungguh dari lubuk hatiku, setiap kata dan kalimatnya benar adanya."
Baili Xiang mendongak menatap Anle, mendapati kesungguhan terpancar jelas dari mata pemuda itu.
Anle meneruskan perkataannya, "Aku sudah lupa berapa lama aku tinggal di tempat itu. Kamu tahu sendiri di sana tidak ada malam, yang ada hanya siang hari. Aku hanya mengingat pesan guruku, bahwa jodohku telah ditentukan oleh langit, dan aku harus menunggu jodohku di dalam sana. Hanya orang yang telah ditakdirkan oleh langit yang bisa masuk ke tempat itu, dan orang itu adalah kamu, Xiang'er. Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu bahwa dalam hidup ini kamulah satu-satunya istri yang ditakdirkan untukku. Aku tahu kamu telah memiliki anak, dan aku juga mendengar masa lalumu dari ayah serta kakakmu. Namun, aku ingin mengatakan ini, Xiang'er: selama kamu bersedia, aku akan menyayangimu sepanjang hidupku, dan ketulusanku padamu mutlak."
Setiap patah kata dari Anle menghujam langsung ke lubuk hati Baili Xiang.
Baili Xiang tidak tahu harus merespons bagaimana. Ia hanya memalingkan wajahnya ke samping, tidak berani membalas tatapan hangat Anle.
"Hal-hal yang kamu katakan ini harus kupikirkan baik-baik terlebih dahulu. Anle, aku akui aku memiliki perasaan terhadapmu, tetapi... kondisiku sekarang seperti yang bisa kamu lihat sendiri. Sebaiknya kita mulai dari teman terlebih dahulu!" Suara Baili Xiang sangat lembut, begitu pelan hingga ia mengira hanya dirinya sendiri yang dapat mendengarnya.
Kendati demikian, Anle tetap mendengarnya. Wajah Anle langsung berbinar-binar penuh kegembiraan. Melihat Baili Xiang, ia begitu bahagia hingga tidak tahu bagaimana cara meluapkan gejolak di dadanya.
Baili Xiang baru saja mengatakan bahwa ia memiliki perasaan kepadanya. Bukankah ucapan itu secara tersirat berarti menerima dirinya?
Anle tersenyum lebar seperti seorang anak kecil yang dilanda kegirangan.
"Xiang'er, berapa lama pun itu, aku akan menunggumu." Anle tidak merasa terburu-buru. Waktu bertahun-tahun saja berhasil ia lewati, apalagi sekadar menunggu sedikit lebih lama lagi.
Berdasarkan perhitungannya, ikatan takdir antara Xiahou Chun dan Baili Xiang telah lama putus, dan dialah satu-satunya jodoh yang ditakdirkan langit untuk Baili Xiang.
Meskipun ia sadar bahwa perjuangan untuk bersanding dengan Baili Xiang tidak akan mudah.
Bagaimanapun, Baili Xiang adalah sosok wanita yang luar biasa, dan tentu tidak sedikit orang yang mengincar atau memandangnya dengan penuh minat.
Tepat ketika Baili Xiang merasa daun telinganya sudah terlalu panas untuk menahan rasa malu, kereta kuda pun berhenti di depan kediaman adipati. Baili Xiang segera melompat turun dari kereta dan melangkah cepat memasuki halaman.
Anle hanya bisa tersenyum melihat Baili Xiang yang pergi seolah-olah sedang melarikan diri.
Begitu tiba di kamarnya sendiri, Baili Xiang langsung menutup rapat pintu.
Ia bergegas menghadap cermin perunggu. Melihat rona merah di kedua pipinya pada pantulan cermin, ia seketika merasa sangat tersipu.
Ia sungguh-sungguh telah mengungkapkan isi hatinya kepada Anle.
Dalam sekejap, gelombang rasa malu melanda diri Baili Xiang.
Sebenarnya tidak banyak barang yang perlu dipersiapkan. Baili Xiang hanya mengemas beberapa pasang pakaian ganti dan meninggalkan barang-barang lainnya.
Perjalanan kali ini akan memakan waktu cukup panjang. Berdasarkanhitungannya, perjalanan menuju ibu kota kerajaan setidaknya membutuhkan waktu satu bulan. Keperluan apa pun nanti bisa dibeli di sepanjang jalan, asalkan persediaan uang perak mencukupi.
Malam harinya, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan malam bersama.
Baili Baochan juga baru saja bergegas kembali dari luar, sekaligus membawa kabar terbaru mengenai Xiahou Yuchen.
Jumlah orang yang duduk makan bersama di ruangan pada malam hari ini tidak terlalu banyak; keluarga dari ketiga saudara Xiahou Gaoyun tidak ada yang datang, sementara Anle duduk berdampingan dengan Baili Xiang.
Momen berkumpulnya keluarga yang seharusnya diliputi kebahagiaan justru terasa muram karena raut wajah setiap orang tampak suram malam ini.
Baili Baochan baru saja mengabarkan bahwa Xiahou Chun berencana mengadakan upacara pengangkatan satu setengah bulan lagi agar Xiahou Yuchen bisa diakui kembali oleh silsilah keluarga.
Sejak Xiahou Yuchen memasuki kediaman jenderal, sama sekali tidak ada berita yang bocor ke luar. Tidak ada yang tahu apakah keadaan anak itu baik-baik saja di dalam kediaman jenderal sana.
Bahkan Baili Baochan yang telah mengerahkan segala cara tetap gagal menggali informasi apa pun.
Kendati demikian, angin di luar mulai berhembus membawa kabar bahwa Nyonya Besar sangat menyayangi Xiahou Yuchen.
Namun, perasaan Baili Xiang justru terasa tidak keruan. Xiahou Yuchen masihlah seorang anak kecil, usianya masih sangat muda. Ditambah lagi dengan keberadaan nyonya besar serta begitu banyak selir di kediaman jenderal, terlepas dari hal lain, apakah nyonya besar akan tinggal diam dan tidak peduli?
Kemunculan Xiahou Yuchen secara langsung merenggut posisi putra sah di kediaman tersebut. Pertempuran di balik dinding halaman kediaman bangsawan yang megah sering kali menjadi hal yang paling mengerikan.
Ia sungguh mencemaskan keselamatan Xiahou Yuchen.
Anle menyadari tubuh Baili Xiang yang sedikit bergetar, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari gadis itu.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Chen'er. Dia adalah anak yang diberkahi keberuntungan dan tidak akan terjadi apa-apa padanya. Kita usahakan agar bisa tiba di ibu kota kerajaan dalam waktu satu bulan, dengan begitu kita bisa merebut kembali Chen'er sebelum Xiahou Chun sempat melakukannya."
Anle bertutur dengan nada yang amat sungguh-sungguh.
Baili Xiang mengangguk, kendati ia tetap menarik kembali tangannya.
Anggota keluarga yang duduk di sekeliling meja sama sekali tidak merasa aneh melihat tindakan Anle tersebut.
Terutama Baili Xiao, di dalam hatinya ia justru sangat berharap agar Baili Xiang dan Anle bisa bersatu.
Baili Xiang menghela napas, nadanya menyiratkan kepasrahan. "Aku hanya cemas... Besok pagi-pagi sekali kita berangkat!"
Lin Jingru lantas bertanya dengan nada penuh perhatian, "Xiang'er, apakah uang perak di saku mencukupi? Apakah Ibu perlu..."
Baili Xiang langsung menggelengkan kepala. Ia memang tidak punya kebiasaan meminta uang kepada keluarganya.
"Tidak perlu, Ibu. Uang perak yang kubawa masih ada beberapa ribu tael. Mengenai hal-hal lain, Ibu tidak usah khawatir, selama ada Anle di sampingku, semuanya akan baik-baik saja."
Baili Xiao dan Baili Gaoyun pernah menyaksikan sendiri kelihaian bela diri Anle, sehingga mereka memiliki keyakinan penuh terhadap kemampuan pemuda itu dalam melindungi Baili Xiang.
"Kali ini aku tidak akan mengerahkan Pasukan Bayangan untuk melindungimu. Belakangan ini Baili Ao menunjukkan gelagat mencurigakan dan berniat kembali ke Kota An untuk melakukan perlawanan balik. Aku khawatir jumlah orang kita nanti tidak mencukupi."
Baili Xiang mengangguk, memahami bahwa tekanan yang dipikul oleh Baili Xiao sebenarnya juga sangat besar.
Baili Gaotian telah meminum ramuan rahasia buatan Baili Xiang dan mengonsumsi berbagai obat racikannya, sehingga rona wajahnya kini terlihat jauh lebih baik. Sambil meneguk semangkuk sup, Baili Gaotian menatap Baili Xiang dan berkata, "Adikku, apakah kamu masih ingat ukiran giok berbentuk ikan milikmu?"
Baili Xiang mengangguk. Dulu ketika ia membereskan pakaiannya saat hendak meninggalkan Desa Keluarga Yun, ia menemukan sepotong giok di antara lipatan baju, dan benda itu masih ia simpan di dalam ruang penyimpanannya hingga saat ini.
Sambil mengangguk, Baili Xiang menjawab, "Aku ingat giok berbentuk ikan itu. Aku menyimpannya dengan baik. Kakak menanyakan ini karena ada urusan apa?"
Baili Gaotian melanjutkan, "Jika nanti perbekalan uangmu kurang, asalkan kamu melihat plang nama toko atau kedai yang mencantumkan lambang bergambar giok ikan, tunjukkan saja giok itu dan kamu bisa mengambil uang berapa pun yang kamu butuhkan."
Meskipun ucapan Baili Gaotian terdengar ringkas, dampaknya sungguh mengejutkan bagi Baili Xiang.
Keluarga Baili ternyata memang bukan keluarga sembarangan. Dengan begitu banyaknya jaringan bisnis di luar, pundi-pundi kekayaan tentu mengalir deras. Pantas saja Baili Ao begitu terobsesi ingin merebut posisi kepala keluarga.
Selepas makan malam, Baili Xiang berniat menengok Baili Mengru.
Anle tentu saja senantiasa mendampingi ke mana pun Baili Xiang pergi.
Kediaman Baili Mengru tidak terlalu jauh, terletak di jalan yang sama dengan kediaman adipati.
Begitu mendengar kabar kedatangan Baili Xiang, Baili Mengru dengan penuh antusias bergegas menyambut ke halaman.
Rona wajah Baili Mengru tampak jauh lebih sehat dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu, dan ia juga terlihat lebih riang. Terlebih ketika Baili Xiang melihat perut Baili Mengru yang kini tampak sedikit membuncit, hatinya diliputi rasa haru yang mendalam.
"Bibi, kamu..." Ucap Baili Xiang sambil mengulurkan tangan untuk mengusap lembut perut Baili Mengru.
Tepat pada saat itu, Yang Jinzhao keluar dari dalam. Baili Xiang langsung tersenyum semringah dan berseru, "Paman."
Melihat Baili Xiang seolah-olah melihat penyelamat agung, Yang Jinzhao segera melangkah maju dan berkata, "Xiang'er, kedatanganmu sangat tepat. Cepat periksa keadaan bibimu, lihat apakah bayi di dalam perutnya baik-baik saja."
Yang Jinzhao tahun ini telah menginjak usia empat puluh tahun, sehingga dianugerahi keturunan di usia senja ini merupakan anugerah yang besar baginya.
Senyuman tak pernah pudar dari wajah Baili Xiang. Sambil menggenggam tangan Baili Mengru, ia berkata riang, "Sebentar lagi akan kuperiksa kondisi tubuh Bibi dengan teliti."