Bab 164: Salah Menggunakan Obat
Baili Xiang merasa sangat iba kepada wanita tersebut, sehingga ia tidak bisa menahan diri untuk menghibur, "Kau tidak perlu khawatir, anakmu akan baik-baik saja."
Wanita itu meredam emosinya yang tertekan, dan merasa sedikit lebih lega setelah mengutarakan isi hatinya.
"Aku hanya punya satu anak ini, sedangkan suaminya... aku sudah tidak bisa berharap lagi. Sudah dua tahun tidak ada kabar, entah apakah dia mengalami kecelakaan atau tidak. Anak ini adalah segalanya bagiku. Jika anak ini tiada, aku pun tidak ingin hidup lagi," ucap wanita itu dengan ekspresi penuh penderitaan.
Baili Xiang sangat ingin menawarkan bantuan untuk mencoba mengobati, tetapi melihat tatapan An Le, ia akhirnya mengurungkan niatnya.
Suasana di dalam gerobak sangat hening.
Untungnya, setelah beberapa saat, mereka tiba di kota kecil.
Saat itu hari sudah gelap, dan banyak toko di sepanjang jalan sudah tutup.
Kota kecil ini tidak begitu besar. Mengingat mereka ingin membantu seseorang sampai tuntas, Baili Xiang memutuskan untuk mengantar wanita itu ke balai pengobatan.
Untungnya, balai pengobatan di kota kecil itu belum tutup. Sambil mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, wanita itu menggendong anaknya turun dari kereta kuda.
Uang yang diberikan kusir kereta kepada wanita itu tadi tidak diambilnya, namun An Le tetap meminta kusir untuk menyelipkan uang tersebut ke dalam pelukan anak itu.
Kali ini wanita itu tidak menolak. Sebenarnya, ia memang tidak memiliki banyak uang untuk biaya berobat anaknya. Meskipun ia tahu menerima uang dari orang lain bukanlah hal yang baik, demi keselamatan nyawa anaknya saat ini, ia tidak bisa lagi memedulikan hal semacam itu.
Melihat wanita itu masuk ke dalam balai pengobatan, Baili Xiang baru merasa tenang dan meminta kusir mencari sebuah penginapan.
Kali ini An Le memesan tiga kamar, masing-masing satu untuk satu orang.
Setelah kamar diatur, yang tersisa berikutnya adalah makan malam, lalu beristirahat.
Baili Xiang memilih tempat duduk di dekat jendelanya. Duduk di dekat jendela pada saat seperti itu memberikan perasaan yang sangat khusus.
Begitu duduk, pandangan Baili Xiang langsung tertuju ke luar, sementara urusan memesan makanan diurus sepenuhnya oleh An Le.
Tiba-tiba, Baili Xiang melihat di jalanan yang kosong, wanita yang tadi mereka tumpangi keretanya berjalan seorang diri sambil menggendong anaknya.
Baili Xiang tidak bisa menahan kerutan di keningnya. Perlu diketahui, mereka baru saja berpisah kurang dari seperempat jam yang lalu, bahkan bagi seorang dokter, tidak mungkin proses pemeriksaan selesai secepat itu.
Hasilnya sudah bisa ditebak; Baili Xiang telah menduga bahwa tabib di balai pengobatan itu pasti menolak untuk memeriksa penyakit si anak.
"Wanita yang menumpang kereta tadi datang ke mari, kurasa perjalanannya tidak lancar," kata Baili Xiang sambil melirik ke luar dengan desahan.
An Le juga melirik sekilas, lalu tiba-tiba mengerutkan keningnya.
Wanita itu kebetulan sedang melewati jendela saat itu. An Le mengamatinya dengan seksama, lalu menundukkan kepala dan merenungkan sesuatu.
Gerbang kota sudah ditutup pada jam sekian. Jika ingin keluar, mereka harus menunggu hingga keesokan paginya, dan di kota kecil ini hanya ada satu penginapan. Saat Baili Xiang memikirkan hal itu, ia melihat wanita tersebut masuk sambil menggendong anaknya.
Wajah wanita itu tampak suram dan penuh kekecewaan, matanya bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis.
Setibanya di meja depan, wanita itu berniat menyewa kamar. Namun, pemilik penginapan di balik meja menatap anak itu dengan cering, lalu mengaitkannya dengan penampilan wanita tersebut dan langsung bertanya, "Apakah anakmu sakit?"
Ini adalah pertama kalinya wanita itu menginap di penginapan. Mendengar pertanyaan pemilik penginapan, ia mengangguk dengan gemetar ketakutan.
Pemilik penginapan berjalan memutar dari balik meja, melirik anak itu sejenak, melihat wajahnya yang pucat pasi dan matanya yang terpejam rapat, lalu berpikir sejenak sebelum berkata, "Kamar sudah penuh. Jika ingin tinggal, kau bisa tidur di kamar jerami, dan aku tetap akan mengenakan tarif kamar biasa untukmu."
Setelah mengatakan itu, pemilik penginapan kembali masuk ke balik meja.
Pemilik penginapan mengucapkan kata-kata itu tanpa menyembunyikannya sedikit pun, dan karena tidak banyak orang di aula utama, tentu saja Baili Xiang mendengarnya dengan sangat jelas.
Wanita itu tidak bodoh. Mendengar ucapan pemilik penginapan, ia bertanya dengan suara pelan, "Mengapa aku harus membayar harga kamar biasa?"
Pemilik penginapan mendengus dingin, "Kau tidak boleh menyalahkanku karena berbicara blak-blakan. Penyakit anakmu sudah separah ini, siapa yang tahu apakah dia bisa bertahan melewati malam ini? Jika kuberi kamar biasa, bagaimana jika nanti membawa sial? Memberimu tempat di kamar jerami sudah bisa dianggap sebagai bentuk belas kasihan. Kalau bukan karena melihat seorang wanita sepertimu yang kesulitan menggendong anak, aku pasti sudah mengusirmu keluar sejak tadi."
Air mata wanita itu berputar di pelupuk matanya, hingga akhirnya Baili Xiang tidak tahan lagi dan berdiri.
"Kak, silakan ke mari." Begitu Baili Xiang bersuara, pemilik penginapan langsung menoleh.
Namun, sikapnya terhadap Baili Xiang sangat berbeda.
Mengapa? Tentu saja karena pakaian dan dandanan Baili Xiang serta An Le menunjukkan bahwa mereka sekilas berasal dari keluarga terpandang.
Di tengah keputusasaannya, wanita itu mendengar suara yang dikenalnya dan langsung menoleh ke arah Baili Xiang.
Sambil menggendong anaknya, wanita itu melangkah menghampiri Baili Xiang.
"Nyonya, mengapa kalian ada di sini?"
Saat wanita itu berkata demikian, air matanya kembali tumpah.
Baili Xiang menghela napas. "Coba bawa anak itu ke mari, biar kulihat! Aku juga sedikit memahami ilmu kedokteran."
Baili Xiang tidak tahu apakah keputusannya ini benar atau salah. Yang jelas, melihat wanita yang begitu tak berdaya itu mengingatkannya pada dirinya di masa lalu, serta saat ia melarikan diri bersama Xiahou Yucheng.
Perasaan senasib dan seperjuangan muncul dari lubuk hatinya.
Wanita itu menatap Baili Xiang dengan rasa terkejut, lalu buru-buru menyerahkan anak itu ke tangan Baili Xiang.
"Duduklah," kata An Le sambil memegang cangkir teh di tangannya.
Wanita itu duduk dengan tegang sambil memperhatikan Baili Xiang.
Baili Xiang mendekap anak itu dalam pelukannya. Kesan pertama yang ia rasakan adalah betapa kurusnya anak tersebut.
Selain itu, tubuh anak itu tidak tinggi, bahkan terlihat jauh lebih pendek daripada anak-anak seusianya.
Karena musim dingin, anak itu dibungkus dengan mantel katun yang sangat besar, yang dari ukurannya sepertinya milik suami wanita tersebut.
Anak itu terbungkus di dalam pakaian katun, hanya menyisakan kepalanya yang kelihatan.
Saat ini, wajah anak itu tampak sangat pucat.
Baili Xiang mulai memeriksa anak itu.
Pertama matanya, lalu mulutnya, kemudian mengeluarkan tangan anak itu dari balik selimut dan dengan hati-hati mulai meraba nadinya.
Kondisi penyakit anak itu jauh lebih parah daripada yang dibayangkan Baili Xiang. Mungkin, seperti yang dikatakan An Le, anak ini sudah tidak tertolong.
"Kemarin saat penyakitnya kambuh, apakah ada hal yang tidak biasa terjadi?" tanya Baili Xiang sambil menatap wanita itu.
Wanita itu buru-buru menjawab, "Kemarin sore, anak itu terus mengeluh perutnya tidak enak. Waktu itu aku tidak terlalu memedulikannya karena sebelumnya dia juga sering sakit perut, tapi rasa sakitnya akan hilang sendiri setelah beberapa saat, jadi kupikir itu sama seperti sebelumnya. Namun, sejak semalam, dia kesakitan sampai berguling-guling di atas tempat tidur. Aku sangat ketakutan hingga semalaman pergi ke desa sebelah untuk meminta tolong seorang tabib kampung. Tabib kampung itu meresepkan beberapa jenis obat, lalu kubuatkan rebusan untuk diminum anak itu, dan setelah itu anak ini jadi begini."
Wajah wanita itu tampak sangat buruk. Apa daya yang dimilikinya selain hanya bisa menyaksikan anaknya berubah menjadi seperti ini sedikit demi sedikit?
Baili Xiang mengerutkan kening. Sakit perut?
Tempat ini tidak nyaman untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Sambil melihat sekeliling ke kiri dan ke kanan, Baili Xiang ingin mencari tempat yang cocok untuk membaringkan anak itu.
An Le sepertinya tahu apa yang dipikirkan Baili Xiang dan langsung berkata, "Bawa anak itu kembali ke kamar saja!"
Mendengar perkataan An Le, Baili Xiang tahu bahwa pria itu mendukung tindakannya.
Sambil mengangguk, Baili Xiang mengangkat anak itu.
An Le tahu pemilik penginapan akan mencoba menghentikan mereka, jadi ia langsung melangkah maju dan melemparkan dua keping perak pecahan kepada si pemilik, yang kemudian langsung memperlihatkan senyum lebar saat melihat mereka naik ke lantai atas.
Wanita itu bahkan sempat melirik pemilik penginapan dengan ketakutan saat naik ke lantai atas.
Baili Xiang membaringkan anak itu di atas tempat tidur, lalu membuka mantel katun luar. Di dalam, anak itu juga mengenakan pakaian katun berlapis, yang kemudian dilepaskan oleh Baili Xiang.
Perut anak itu tampak bundar, membuncit tinggi, dan terasa sangat keras saat disentuh.
"Sudah berapa hari anak ini tidak buang air besar?" Baili Xiang khawatir ada terlalu banyak kotoran yang menumpuk di usus anak tersebut.
Tanpa berpikir panjang, wanita itu langsung menjawab, "Sudah dua hari tidak buang air."
Baili Xiang memikirkan sesuatu dalam hatinya. Menurut akal sehat, meskipun anak itu menderita masalah pencernaan semacam ini, seharusnya tidak sampai merenggut nyawa.
"Apakah kau masih ingat obat apa saja yang diresepkan tabib untuknya?"
Wanita itu mengingatnya dengan sangat jelas karena saat itu tidak ada alat tulis, sehingga semua resep itu ia simpan di dalam kepalanya.
"Chaihu, banxia, bai fuling..." Wanita itu menyebutkan tujuh atau delapan jenis ramuan obat, tetapi hampir tidak ada satupun yang benar-benar berkhasiat untuk mengobati penyakit anak tersebut, dan kebanyakan justru merupakan obat pereda dahak.
Obat macam apa yang diresepkan ini! Dalam hatinya, Baili Xiang sudah menyimpulkan bahwa tabib yang memeriksa anak itu pasti seorang tabib palsu atau seseorang dengan keahlian medis yang dangkal.
"Di mana kau mengambil obatnya?"
Wanita itu langsung menjawab, "Chaihu dan banxia diberikan oleh tabib kampung itu, sedangkan obat-obatan sisanya kubeli saat masuk ke kota."
Baili Xiang merasa bahwa anak itu mungkin salah meminum obat. Yang namanya pengobatan harus disesuaikan dengan gejalanya, tetapi obat yang diberikan oleh tabib itu sama sekali tidak cocok dengan kondisi penyakit si anak, pantas saja anak tersebut langsung memburuk setelah meminumnya.
Baili Xiang tidak berniat menyembunyikan kebenaran dari wanita itu dan berkata terus terang, "Aku tidak memiliki banyak keyakinan untuk bisa menyembuhkan anakmu. Sejujurnya, sejak pertama kali melihatnya, aku sudah tahu bahwa anakmu sulit diselamatkan. Aku turun tangan sekarang semata-mata agar tidak merasa bersalah pada nuraniku sendiri. Jika kau ingin aku mengobatinya, aku tidak bisa memberikan jaminan penuh bahwa ia akan sembuh."
Wanita itu sudah terlalu sering mendengar vonis kematian untuk anaknya, sehingga ketika mendengar Baili Xiang berkata masih ingin mencobanya, ia merasa sangat gembira hingga hampir tak kuasa menahan diri.
"Nyonya adalah Dewi Kwan Im yang Maha Pengasih. Pertemuan anak ini dengan Nyonya adalah sebuah keberuntungannya. Silakan Nyonya lakukan yang terbaik untuk mengobatinya, apapun yang terjadi pada anak ini nanti, aku tidak akan menyalahkan Nyonya."
Wanita itu menatap Baili Xiang dengan penuh rasa terima kasih dan berkata dengan sangat tulus.
An Le memandang wanita itu dan berkata, "Duduklah di sana untuk beristirahat sebentar. Saat dia memeriksa penyakit, dia tidak suka ada orang lain yang berdiri di dekatnya, rasanya tidak leluasa."
Seluruh harapan wanita itu kini bertumpu pada Baili Xiang, jadi tentu saja ia menuruti apapun yang dikatakan mereka tanpa ada ruang untuk membantah.
Sambil mengangguk, wanita itu langsung berjalan ke sisi ruangan dan duduk di atas bangku, meskipun postur duduknya tampak seperti sedang duduk di atas duri.
Baili Xiang tidak ingin membuang waktu. Ia memberikan air dari mata air spasial kepada anak itu, lalu memijat perutnya. Namun, anak tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda membaik.
Baili Xiang merasa sangat putus asa. Sambil terus memijat perut anak itu, ia memutar otak memikirkan resep obat apa yang harus digunakan.
Tabib kampung itu telah memberikan obat yang salah, yang berarti kondisi anak ini mungkin memburuk akibat obat tersebut. Baili Xiang belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
An Le memandangnya dengan cemas dari samping.
Wanita itu pun berulang kali mencuri pandang ke arah Baili Xiang.
Waktu berlalu sedikit demi sedikit, tetapi anak itu tetap tidak menunjukkan perubahan. Baili Xiang menghentikan gerakan tangannya.
Ia berjalan menghampiri wanita itu sambil mengingat-ngingat resep obat di dalam kepalanya, mengingat bahwa di dalam gulungan bambu sepertinya ada catatan tentang resep yang berkaitan dengan kasus semacam ini.
Hanya saja, betapapun ia mencoba mengingatnya, Baili Xiang tidak dapat mengingatnya dengan jelas.