Bab Sepuluh: Mencari Kepala Desa untuk Meminta Keadilan
Pak Kepala Desa tidak pernah menyangka bahwa Bai Lixiang akan datang ke rumahnya untuk mencarinya, sehingga ia menjadi penasaran mengenai tujuan kedatangan Bai Lixiang hari ini.
Pak Kepala Desa berusia sekitar tiga puluhan, wajahnya pun terlihat ramah dan mudah didekati. Ia tersenyum lalu bertanya, “Ada keperluan apa, Nyonya Xiahouw?”
Karena hubungan Xiahouw Yuchen, orang-orang di desa memanggil Bai Lixiang dengan sebutan Nyonya Xiahouw, begitu pula Pak Kepala Desa, sebab ketika Bai Lixiang pertama kali diantar ke sini oleh pengurus rumah tangga, ia diberitahu bahwa suami Bai Lixiang bermarga Xiahouw.
Meski saat itu pengurus rumah tangga tidak menjelaskan status Bai Lixiang, namun keluarga yang mampu mempekerjakan pengurus tentu tidaklah miskin.
Pak Kepala Desa menduga bahwa Bai Lixiang pasti telah melakukan sesuatu yang tidak disukai, sehingga diasingkan oleh keluarga suaminya ke desa terpencil ini.
Bai Lixiang melihat Pak Kepala Desa tampak sedang berpikir, lalu tersenyum tipis dan berkata, “Begini, Pak Kepala Desa juga tahu di belakang rumah saya ada sekitar dua hektar kolam teratai, saya dan anak saya sepanjang tahun mengandalkan kolam itu untuk hidup. Namun… semalam, ada orang yang mencuri teratai di kolam kami.”
Mendengar itu, Pak Kepala Desa langsung mengerutkan kening, begitu pula Bibi Xiang yang berdiri di sampingnya.
Orang-orang di desa kerap mencari orang yang lemah untuk dijadikan sasaran, Bai Lixiang jelas menjadi target mereka. Tahun lalu, warga desa pernah mencuri teratai dari kolam Bai Lixiang, tetapi Bai Lixiang tidak mempermasalahkannya, dan Pak Kepala Desa pun memilih untuk tutup mata.
“Apa sebenarnya yang terjadi? Nyonya Xiahouw, bisa ceritakan lebih jelas?” Biasanya, selama tidak ada yang mempermasalahkan, urusan ini tidaklah besar, namun kali ini ada yang ingin menuntut, maka harus diselidiki. Lagipula, pencurian selalu dianggap hal yang tidak bisa ditoleransi di desa.
Bai Lixiang melihat Pak Kepala Desa cukup adil, lalu melanjutkan, “Semalam saya sempat memeriksa kolam teratai, semuanya masih ada di sana. Tapi pagi ini, saya menemukan sudut kolam teratai telah digali dan teratai hilang, bahkan lumpur di tanah masih basah. Saya menduga pencuri belum pergi jauh, jadi saya ingin meminta Pak Kepala Desa untuk mengambil tindakan.”
Di Desa Yunjiakau hanya ada beberapa keluarga, orang luar tidak mungkin datang hanya untuk mencuri sedikit teratai, jadi pencurinya pasti warga desa.
Hal ini disadari Bai Lixiang, demikian pula Pak Kepala Desa.
Pak Kepala Desa berpikir sejenak lalu berkata, “Nyonya Xiahouw, apakah Anda sudah mempertimbangkan baik-baik? Jika urusan ini menjadi besar…” Sebenarnya ia ingin mengatakan, jika masalah ini membesar, tidak ada yang akan merasa nyaman.
Ini perkara yang bisa membuat hubungan dengan tetangga jadi renggang, Pak Kepala Desa berharap Bai Lixiang tidak menuntut terlalu jauh.
Bai Lixiang sangat memahami maksud Pak Kepala Desa, namun kini, melihat keadaan, warga desa sudah menganggap dirinya mudah untuk ditindas.
Jika ingin hidup tenang ke depannya, sekarang harus menunjukkan sikap yang tegas, agar semua orang tahu Bai Lixiang bukan orang yang bisa dipermainkan.
Jadi, meski harus menyinggung perasaan orang lain, ia harus tetap bersikap tegas, jika tidak, nanti bukan hanya satu atau dua keluarga yang akan bermasalah.
Bai Lixiang dengan wajah sedih berkata, “Pak Kepala Desa, saya tahu pentingnya memaafkan, namun Anda juga tahu bagaimana saya dan anak saya hidup di desa ini. Meski masalah ini tidak begitu besar, jika saya memaafkan kali ini, nanti akan semakin banyak masalah. Saya dan anak saya hanya ingin hidup dengan tenang, jadi kali ini harus saya tuntut.”
Perkataannya sangat masuk akal, seperti pepatah, mengorbankan ayam untuk menakuti monyet.
Pak Kepala Desa menghela nafas, “Kalau Anda sudah yakin, biar saya yang menangani. Saya akan berusaha agar tidak menjadi besar, karena kita satu desa, sering bertemu, kalau hubungan jadi buruk, hidup kita semua tidak akan tenang.”
Kata-kata Pak Kepala Desa penuh niat baik.
Bai Lixiang juga tahu kapan harus berhenti.
“Terima kasih Pak Kepala Desa sudah mau membantu.”
Bibi Xiang yang berdiri di sampingnya menghela nafas dan berkata, “Lain kali jangan selalu mengurung diri di rumah, luangkan waktu untuk berjalan-jalan di desa, datang ke rumah saya pun boleh. Kudengar kamu juga mengerti tentang pengobatan?”
Di Yunjiakau, tidak ada yang ahli pengobatan. Setiap orang pasti pernah sakit atau terluka, dan jika ada masalah, mereka harus pergi ke kota untuk mencari tabib, yang memakan waktu lama.
Jika Bai Lixiang memang mengerti pengobatan, Bibi Xiang merasa itu kabar baik.
Seperti kejadian kemarin di rumah Yunzhong, kalau bukan karena Bai Lixiang, mungkin Ping’er sudah tidak ada.
Bai Lixiang merasa Pak Kepala Desa dan Bibi Xiang adalah orang yang baik dan mudah diajak bicara.
Ia berpikir, karena ia memang sedikit mengerti pengobatan, setidaknya bisa menangani penyakit ringan, maka ia berkata, “Saya memang mengerti sedikit tentang obat-obatan, penyakit ringan bisa saya tangani, kalau penyakit besar saya tak mampu.”
Pak Kepala Desa dan Bibi Xiang saling bertatapan, terlihat kebahagiaan di mata mereka.
“Ini benar-benar luar biasa!” seru Pak Kepala Desa dengan suara keras.
Bai Lixiang agak bingung menatap Pak Kepala Desa. Ia pun melanjutkan, “Kalau kamu bisa mengobati, warga desa akan beruntung.”
Pak Kepala Desa juga bermarga Yun, sudah turun-temurun tinggal di Yunjiakau, dan hatinya sangat peduli pada perkembangan desa.
Bibi Xiang melirik Pak Kepala Desa dan mendesak, “Cepat cari tahu siapa yang mencuri teratai milik Nyonya Xiahouw, biarkan saya di sini bersama beliau.”
Pak Kepala Desa tertawa ringan, tidak marah, “Nyonya Xiahouw, tunggu sebentar di sini, saya akan ke desa, sebentar lagi kembali.”
Sebenarnya urusan ini mudah diusut, cukup dengan bertanya ke setiap rumah, siapa yang keluar desa hari ini, bisa segera diketahui pelakunya.
Bibi Xiang mengantarkan Pak Kepala Desa sampai ke pintu, lalu menutup pintu besar sebelum kembali duduk di depan Bai Lixiang.
“Nyonya Xiahouw, saya sengaja menahan Anda di sini, sebenarnya ingin meminta Anda melihat penyakit saya…” Bibi Xiang tampak ragu dan agak sungkan.
Bai Lixiang menduga Bibi Xiang memiliki penyakit yang sulit diungkapkan, kalau tidak, pasti tidak akan begitu misterius dan malu-malu.
Bai Lixiang tahu, jika ingin hidup baik di desa ini, Pak Kepala Desa adalah orang penting, dan menjalin hubungan baik dengan Bibi Xiang hanya akan membawa manfaat.
Ia tersenyum ramah dan berkata, “Bibi Xiang, kalau ada sesuatu langsung saja katakan, tenang saja, saya tidak akan membocorkan.”
Ucapan ini memberikan rasa aman pada Bibi Xiang.
Bibi Xiang merasa senang, melihat Bai Lixiang berkata seperti itu, ia tahu Bai Lixiang sudah memahami maksudnya.
Tak lagi ragu, Bibi Xiang berkata, “Penyakit saya ini… ah, saya malu mengatakannya, jadi selama bertahun-tahun saya menahan saja. Karena kamu sesama perempuan, saya ingin mengungkapkan, siapa tahu kamu bisa membantu.”
Bibi Xiang masih terlihat malu saat mengatakannya.
Bai Lixiang tersenyum hangat, “Bibi tak perlu khawatir, silakan ceritakan saja, kalau saya bisa membantu pasti saya lakukan.”