Bab Tiga Puluh Satu: Kekhawatiran
Tolong berikan rekomendasi! Kalau ada tiket rekomendasi, mohon diberikan pada Yuan Xiang! Yiling di sini membungkuk berterima kasih pada semuanya!
Bai Lixiang melihat ketakutan di mata Xiahou Yuchen.
Ia mengelus kepala Xiahou Yuchen, menenangkan, "Chen'er, jangan khawatir, selama ibu ada, tidak akan terjadi apa-apa."
Bai Lixiang mengira Xiahou Yuchen merasa takut, namun tak tahu bahwa yang justru dikhawatirkan Xiahou Yuchen adalah dirinya.
Xiahou Yuchen mengangkat kepalanya, menatap Bai Lixiang dengan serius dan berkata, "Ibu, mulai sekarang setiap kali engkau naik ke gunung mencari obat, aku akan ikut bersamamu! Dan aku tidak akan pergi ke kota untuk sekolah."
Awalnya Xiahou Yuchen baru saja memutuskan untuk pergi ke kota menuntut ilmu, namun setelah kejadian dengan Yun Wu, ia sangat khawatir pada Bai Lixiang.
Melihat Xiahou Yuchen berkata begitu, Bai Lixiang tidak memarahinya, malah dengan penuh kasih mengelus kepala putranya.
Sebenarnya, di dalam hati, ia pun sama cemasnya. Tadi sikap Yun Wu sangat jelas, Bai Lixiang khawatir akan keselamatannya sendiri di masa depan. Dulu, pemilik tubuh ini jarang keluar rumah sehingga masalah tak pernah menimpa, tetapi kini, ia harus menjalani hidup dan menghidupi anak, jadi harus keluar mencari penghasilan.
Bai Lixiang bahkan sempat terpikir untuk pindah ke kota kecil.
Namun ia menghela napas, merasa itu tak realistis!
Masalah ini tidak bisa diputuskan dalam sehari dua hari, semuanya harus dipikirkan matang-matang.
Dengan suara pelan, Bai Lixiang berkata, "Chen'er, jangan khawatirkan ibu, sebaiknya kau tetap pergi ke kota menuntut ilmu, baru dengan begitu ibu bisa tenang."
Saat itu, di tepian sungai jarang ada orang. Untunglah tadi tak ada warga desa yang melihat keributan dengan Yun Wu. Bai Lixiang melirik sekeliling, setelah memastikan tak ada orang, barulah tenang.
Setelah kejadian tadi, Bai Lixiang benar-benar kehilangan minat mencari tanaman obat.
Ia menggendong keranjang di punggung, lalu mengajak Xiahou Yuchen pulang ke rumah.
Sup yang ia masak dan daging yang dibeli hari itu masih tersisa. Karena takut cepat basi, Bai Lixiang menyimpannya dalam kendi tanah liat dan menggantungnya di dalam sumur, jadi masih aman.
Setelah makan sedikit, Bai Lixiang mulai mengajarkan Xiahou Yuchen meracik tanaman obat.
Hari ini ia memang menemukan beberapa tanaman di tepi sungai; seperti krokot, sambiloto, dan daun sendok.
Karena jumlahnya tak banyak, Bai Lixiang mengajari Xiahou Yuchen cara mengolahnya.
Matahari siang sangat terik, Bai Lixiang pun memutuskan untuk tidur siang.
Begitu masuk ke dalam rumah, ia segera masuk ke ruang rahasianya.
Di dalam ruang itu, suasananya tetap subur dan penuh kehidupan.
Bai Lixiang melangkah di lembah, memandangi tanaman obat di sekelilingnya, dalam hati ia menghela napas.
Ia punya begitu banyak tanaman obat, tapi tak bisa membawanya keluar untuk menolong orang, sebanyak apapun tetap sia-sia.
Dari atas tebing di sekeliling, terdengar suara burung, hanya saja karena jaraknya jauh, Bai Lixiang tak bisa mendengar dengan jelas.
Ruang rahasia itu tak jauh berbeda dengan dunia luar, perbedaannya hanya di mana-mana tumbuh tanaman obat langka. Air jernih yang mengalir juga memiliki khasiat menyembuhkan luka dengan cepat.
Hari ini Bai Lixiang masuk hanya untuk mengenali tanaman obat di lembah, agar nanti saat butuh ia sudah tahu.
Ia bolak-balik menyusuri lembah, sesekali perhatiannya teralihkan oleh suara dari rimbunnya pepohonan di atas tebing.
Setiap kali begitu, Bai Lixiang akan mendongak menatap ke arah tebing, namun selain melihat pepohonan, ia tak bisa melihat apapun.
Ruang itu memang penuh misteri, dan rahasianya pasti lebih dalam dari yang ia lihat.
Ia merasa di atas tebing itu pasti ada sesuatu yang tak diketahui orang, hanya saja tebing di sekitar terlalu tinggi, ingin mencari jalan naik, Bai Lixiang merasa harus menjelajahi seluruh lembah.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar, Bibi Xiang datang bersama sepupunya.
Barulah Bai Lixiang tahu, sepupu Bibi Xiang bernama Xia Fancai.
Hari itu, Xia Fancai membawa empat lelaki. Usia mereka beragam, yang tertua kelihatannya sudah lebih dari lima puluh tahun, yang termuda sekitar tiga belas atau empat belas tahun.
Pakaian mereka memang lusuh, tapi tetap rapi. Dari wajah mereka, tampak penuh semangat. Bai Lixiang menebak, keempatnya adalah pekerja yang disewa Xia Fancai untuk menggali teratai.
Setelah menilai sekilas, Bai Lixiang pun mengalihkan pandangannya.
Mereka bersama-sama menuju kolam teratai di belakang, Bai Lixiang lalu ditarik Bibi Xiang ke samping.
"Kau masih perlu cari dua orang lagi, timbangan sudah kusiapkan, kau pergilah ke desa cari orang untuk membantu. Nanti saat menggali bisa langsung ditimbang dan diangkut. Hari ini teratai tidak akan dicuci, jadi nanti mungkin beratnya akan sedikit berkurang," kata Bibi Xiang, menyampaikan pesan Xia Fancai sebelumnya.
Agar teratai bisa disimpan lama, lumpur di permukaannya memang tak boleh langsung dibersihkan.
Karena kali ini Xia Fancai membeli begitu banyak teratai, jelas tidak mungkin habis terjual dalam satu dua hari.
Jadi Xia Fancai memutuskan semua teratai tidak dicuci.
Bai Lixiang pun paham, jadi ia tidak mempermasalahkannya.
Dengan senyum tipis, Bai Lixiang berkata, "Bagaimana pun juga, selama Bos Xia yang atur, aku ikut saja, lagipula uang dari kolam teratai ini hanyalah penghasilan tambahan bagiku."
Bibi Xiang menghela napas. Ia melihat tanaman obat yang dijemur di halaman Bai Lixiang, tahu betul kini penghasilan Bai Lixiang mungkin hanya mengandalkan tanaman obat itu. Dalam hati, ia merasa kasihan padanya.
"Tenang saja, tak mungkin kau rugi. Cepat cari dua orang ke desa untuk bantu menimbang," Bibi Xiang mendesak.
Bai Lixiang mengangguk, "Baiklah, aku akan cari orang. Kau mau menunggu di sini atau ikut ke desa?"
Bibi Xiang menggeleng, "Aku tunggu di sini saja, padi di rumah sudah selesai dipanen, kebetulan dua hari ini bisa istirahat. Kau ke desa cari orang, aku bantu menjaga di sini."
Bai Lixiang berjalan di pematang sawah, dalam hati memikirkan siapa yang harus diajak dari desa.
Ia tak banyak kenal orang, dan dari sedikit yang ia kenal, hanya keluarga Yunzhong dan Bibi Gui.
Setelah ragu cukup lama, akhirnya Bai Lixiang memilih pergi ke rumah Yunzhong.
Beberapa hari ini, semua orang sibuk menjemur padi, pintu rumah Yunzhong pun tidak tertutup.
Ibu Yunzhong sedang menaburkan gabah di atas tikar bambu. Bai Lixiang mengetuk pintu, ibu Yunzhong menoleh, langsung meletakkan keranjang dan berkata, "Nyonya Xiahou, silakan masuk."
Bai Lixiang masuk ke halaman, melihat pemandangan di dalam.
Halaman kecil itu dialasi dua lembar tikar bambu, di atasnya padi dijemur.
"Ada keperluan apa, nyonya?" tanya ibu Yunzhong dengan suara pelan.
Bai Lixiang mengangguk dan tersenyum, lalu berkata, "Bibi, aku ingin menanyakan, apa Yunzhong ada di rumah?"
Mendengar pertanyaan itu, ibu Yunzhong menjawab, "Yunzhong ada di sawah, masih ada sedikit padi yang belum dipanen. Nyonya mencari Yunzhong, apakah ada keperluan?"
Memang benar, Bai Lixiang jarang masuk desa, tiba-tiba mencari Yunzhong pasti ada urusan.
Tanpa menutupi, Bai Lixiang berkata, "Begini, aku ingin minta bantuan Yunzhong untuk menimbang teratai, kemungkinan butuh seharian. Upahnya dua puluh koin, entah Yunzhong ada waktu atau tidak."