Bab Tiga: Naik ke Gunung untuk Memetik Obat
Orang-orang di desa biasanya bangun sangat pagi. Saat itu hari baru saja terang, di ladang sudah ada orang yang mulai bekerja.
Bai Lixiang memanggul keranjang di punggungnya, dengan sabit dan cangkul kecil dimasukkan ke dalamnya. Sedangkan di bahu Xiahou Yuchen tersampir sebuah kantong kain, kedua kakinya yang pendek berlari-lari mengikuti Bai Lixiang, berusaha menyesuaikan langkahnya.
Biasanya Bai Lixiang jarang keluar rumah, jadi warga desa pun tahu. Pagi itu, saat melihat Bai Lixiang keluar rumah membawa keranjang, mereka semua memandang penuh rasa ingin tahu. Tentu saja, bisik-bisik dan gosip tak terhindarkan.
Namun Bai Lixiang memilih untuk tidak mendengarkan dan tidak peduli, ia langsung membawa Xiahou Yuchen ke belakang desa tanpa menghiraukan pandangan orang-orang.
Entah sehebat apa kebencian suaminya pada pemilik tubuh sebelumnya, sampai-sampai meninggalkannya di tempat terpencil seperti ini. Desa ini dikelilingi gunung di tiga sisi, hanya ada satu jalan kecil untuk keluar desa.
Berdasarkan ingatan, dari desa ini menuju pasar terdekat saja harus berjalan kaki sekitar satu jam. Di belakang desa, gunung-gunung membentang berderet-deret.
Dalam ingatan, Bai Lixiang belum pernah naik ke gunung, bahkan jalan menuju ke sana pun harus dipandu oleh Xiahou Yuchen.
“Chen’er, di gunung belakang ini ada binatang buas tidak?” tanya Bai Lixiang dengan nada cemas.
Xiahou Yuchen berpikir sejenak, lalu menjawab ragu, “Dulu pernah dengar anak-anak desa bilang di gunung ada macan tutul, tapi aku sendiri belum pernah lihat. Tapi babi hutan memang banyak. Aku sering lihat orang desa berburu babi hutan. Ibu, kalau ibu hanya ingin melihat-lihat, lebih baik jangan masuk ke dalam hutan. Kita di luar saja, di dalam gunung bahaya.”
Xiahou Yuchen tampak sangat khawatir.
Bai Lixiang mengangguk. Memang hari itu ia hanya ingin melihat-lihat, barangkali ada tumbuhan obat yang bisa dimanfaatkan di sekitar sana.
Di kehidupan sebelumnya, pekerjaannya memang menanam dan meracik tumbuhan obat. Sepertinya, di kehidupan ini pun ia hanya bisa mengandalkan itu untuk bertahan hidup.
Lagi pula, pekerjaan seperti menyulam tidak ia kuasai, juga tak punya kesabaran. Mencari dan menjual tumbuhan obat di gunung jelas menjadi pilihan terbaik.
Sekarang sudah masuk musim gugur, tumbuhan obat yang bisa dipetik di gunung pun cukup banyak.
Dari lereng gunung, seluruh desa tampak jelas. Sawah-sawah menguning, padi sudah siap panen. Dari tempat itu, desa terlihat damai dan tenteram.
Di pinggir jalan tumbuh banyak kemangi liar, entah karena pengaruh iklim atau sebab lain, kemangi itu sudah berbunga. Tumbuhan ini biasa digunakan untuk mengatasi panas-dingin, gondongan, bisul, memperlancar peredaran darah dan meredakan nyeri sendi, dan sering kali dipakai dalam pengobatan tradisional.
Bai Lixiang memerhatikan, lalu memutuskan akan mengambil kemangi itu nanti saat pulang. Ia pun melanjutkan perjalanan bersama Xiahou Yuchen naik ke gunung.
Gunung di belakang desa cukup tinggi, jalannya pun agak terjal. Namun karena sering dilalui orang, jalurnya masih cukup mudah dilewati.
Saat mendaki, Bai Lixiang belum mulai memetik tumbuhan obat, sebab mendaki saja sudah melelahkan, apalagi tubuh pemiliknya yang lemah. Belum berjalan jauh, ia sudah terengah-engah. Jika harus memanggul obat-obatan, pasti lebih berat lagi.
Melihat Bai Lixiang berjalan makin lambat, Xiahou Yuchen merasa kasihan dan berkata, “Ibu, kalau capek, biar aku saja yang membawa keranjangnya. Aku sering naik gunung sendirian, jalanan ini sudah biasa buatku, tidak berat kok.”
Bai Lixiang menoleh dan tersenyum, “Ibu tahu kamu anak yang berbakti, tapi ibu tidak bisa membiarkanmu membawa keranjang. Kamu masih anak-anak, masih dalam masa pertumbuhan. Kita jalan santai saja, sambil istirahat. Nanti saat pulang pasti akan sibuk.”
Xiahou Yuchen bertanya heran, “Ibu, sebenarnya ibu naik gunung mau apa?”
Ia tak melihat ibunya mencari sayuran liar, juga tidak memungut kayu bakar, hanya memperhatikan rumput dan bunga liar di pinggir jalan.
Bai Lixiang menunjuk sepetak rumput liar berwarna ungu di tanah datar tidak jauh dari mereka, “Chen’er, kamu tahu tidak, rumput liar ungu di sana itu apa?”
Perilaku Bai Lixiang membuat Xiahou Yuchen bingung. Ia berlari ke sana, mencabut rumput ungu itu, dan mencium baunya, ternyata tidak harum.
“Ibu, ini cuma rumput liar, memangnya apa lagi?” jawab Xiahou Yuchen polos, wajahnya yang imut membuat Bai Lixiang ingin mencubit pipinya yang putih bersih.
Mungkin karena faktor keturunan, Xiahou Yuchen memang sangat menggemaskan. Matanya yang besar dan jernih, wajahnya kecil dan rapi, benar-benar anak laki-laki yang tampan.
Bai Lixiang menerima rumput itu dari tangan Xiahou Yuchen, memperhatikan bunga-bunga kecil ungu di atasnya, lalu menjelaskan, “Menurut kamu ini rumput liar, tapi bagi ibu ini adalah tumbuhan obat.”
Xiahou Yuchen menatap Bai Lixiang dengan heran, matanya membelalak, “Ibu, ini benar-benar tumbuhan obat? Dari mana ibu tahu?”
Xiahou Yuchen tahu, selain menyulam, ibunya tidak bisa melakukan pekerjaan lain.
Karena diragukan, Bai Lixiang pun mencari alasan agar Xiahou Yuchen tidak curiga. Meski baru dua hari bersama Xiahou Yuchen, ia merasa anak ini sangat cerdas. Benar saja, ia baru saja berpikir jangan sampai Xiahou Yuchen bertanya, eh, anak itu langsung bertanya.
Ia pun tersenyum, “Kalau ibu bilang begitu, pasti ada alasannya. Ibu tahu banyak hal, hanya saja kamu belum tahu semuanya. Itu rahasianya orang dewasa.”
“Kalau begitu, ibu, ini tumbuhan obat apa? Bisa menyembuhkan penyakit apa?”
Xiahou Yuchen tampak sangat penasaran. Dalam hatinya, tabib adalah orang yang sangat hebat, bisa menyembuhkan penyakit dan menolong orang. Ia juga ingin menjadi tabib.
Kini, ibunya bisa mengenali tumbuhan obat, siapa tahu ibunya juga seorang tabib. Penemuan itu membuat Xiahou Yuchen sangat bersemangat.
Bai Lixiang memasukkan rumput ungu itu ke dalam keranjang, lalu menjelaskan, “Namanya daun perilla. Bisa digunakan untuk mengeluarkan keringat, meredakan masuk angin dan sakit kepala, mengencerkan dahak, menyehatkan paru-paru, memperlancar peredaran darah, menenangkan napas, dan menjaga kehamilan.”
Melihat Xiahou Yuchen mendengarkan dengan serius, Bai Lixiang jadi penasaran, “Chen’er, kamu ingin belajar ilmu pengobatan?”
Xiahou Yuchen mengangguk kuat-kuat, menatap Bai Lixiang penuh kagum, matanya berbinar-binar, lalu dengan mantap berkata, “Ibu, aku benar-benar ingin belajar. Ajari aku, aku pasti akan belajar dengan sungguh-sungguh.”
Bai Lixiang mengelus kepala Xiahou Yuchen dan tersenyum, “Tapi ibu bukan tabib, hanya penyakit ringan saja yang bisa ibu tangani. Kalau penyakit berat, ibu tidak bisa. Kalau kamu memang ingin belajar, ibu bisa mengajarkan cara mengenali tumbuhan obat, cara mengolahnya, juga manfaat dan kegunaannya.”
Walaupun Bai Lixiang bilang dirinya bukan tabib dan kurang paham tentang pengobatan, di mata Xiahou Yuchen, ibunya tetap hebat dan luar biasa. “Ibu, aku mau belajar. Tolong ajari aku. Aku pasti akan belajar dengan rajin bersama ibu.”