Bab 146: Pengungkapan Besar
Ucapan itu membuat wajah Yang Changgui berubah gelap. Ia membentak Li dengan suara lantang, "Sebaiknya kau lekas keluar, jangan sampai aku mengulanginya untuk ketiga kalinya, atau kau akan tahu akibatnya!"
Li pun merasa ciut. Entah sejak kapan, ia mulai sedikit merasa takut pada Yang Changgui. Padahal, pria itu dulunya sangat penurut, tetapi beberapa kali belakangan ini ia sempat mengamuk hebat yang membuatnya tampak begitu mengerikan. Sosok yang biasanya begitu pendiam itu, saat marah, terlihat bagaikan monster yang siap menerkam manusia.
Sambil mengomel, Li keluar dari kamar. Orang-orang yang berada di halaman tanpa sadar langsung kedutan melihat penampilannya. Tampak Li mengenakan gaun panjang kemben berwarna merah menyala, dengan luarannya jubah tipis berwarna merah muda. Sebenarnya itu adalah pakaian yang sangat indah, bahkan Yu Hongsu pernah mengenakannya. Namun, tubuh Li dua kali lipat lebih gemuk daripada Yu Hongsu, membuat pakaian itu meregang hingga batas maksimal dan membalut tubuhnya dengan begitu ketat, menciptakan pemandangan yang amat buruk rupa.
Rambut Li ditata dengan sanggul terbang, tetapi karena ia tidak bisa meriasnya sendiri dan hanya asal-asalan, hasilnya jadi tampak kacau baladewa. Wajahnya dipoles dengan warna merah dan putih yang mencolok, alisnya digambar tebal dan hitam pekat hingga menyerupai dua ekor ulat bulu yang sedang merayap. Wajahnya begitu putih seperti baru dibedur kapur, kedua pipinya diberi perona merah mencolok, dan bibirnya yang dipulas merah darah tampak mengerikan seolah ia baru saja meminum darah. Penampilannya benar-benar menakutkan, bagaikan seorang badut.
Melihat wujud hantu istrinya itu, Yang Changgui merasa sangat geram. "Sepanjang hari kau bersolek, dan hasil akhirnya malah berwujud hantu seperti ini? Benar-benar memalukan! Cepat sana ganti baju dan cuci mukamu!"
Wajah Li langsung cemberut. Ia merasa riasannya kali ini sudah sangat cantik! Bagaimana bisa orang-orang ini memandangnya dengan begitu jijik?
Zheng merasa matanya hampir buta. Li benar-benar perempuan yang membuat orang kehilangan kata-kata. Namun, kedatangan mereka ke sana memiliki tujuan yang penting. "Li, apa kau tahu apa yang sedang dikatakan orang-orang di desa tentang Yue'er kami? Aku benar-benar penasaran, siapa sebenarnya orang berhati busuk yang tega memfitnah Yue'er kami dengan keji seperti itu?"
Pandangan mata Li bergeser menghindar, wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Terutama saat melihat Nyonya Li dan Ibu Guihua, ia sudah paham mengapa Zheng dan yang lainnya datang ke sini. Mendengar pertanyaan Zheng, ia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa menundukkan kepala sambil menatap tanah.
Begitu melihat gelagat itu, Zheng langsung tahu bahwa perbuatan ini pasti ulah Li. Ia maju menerjang, mencengkeram rambut Li, lalu melayangkan sebuah tamparan keras. "Kau perempuan murahan! Untung saja kau ini kakak ipar Yue'er, tapi kau tega merusak nama baiknya dan mengatakan perut ipar perempuanmu itu memiliki keanehan. Bagaimana bisa hatimu sejahat itu? Kau perempuan keparat!"
Kulit kepala Li terasa bagai mau copot akibat rambutnya dijambak, terlebih tenaga Zheng sangat kuat hingga pipinya langsung membengkak merah. Ia meronta-ronta dengan sekuat tenaga. "Aduh, sakit sekali! Lepaskan, perempuan tua keparat! Yang Changgui, apa kau sudah mati? Kenapa kau hanya menonton saat aku disiksa seperti ini!"
Yang Changgui sudah samar-samar menangkap maksud ucapan Zheng sejak tadi. Ditambah lagi dengan melihat ekspresi murka adik laki-lakinya, ia tahu bahwa istri bodohnya ini pasti kembali membuat keonaran. Mendengar jeritan sang istri, ia sama sekali tidak berniat membela, melainkan hanya memutar bola mata acuh tak acuh. Istri seperti ini memang sudah sepatutnya diberi pelajaran.
Melihat Yang Changgui mengabaikannya, Li hanya bisa menjerit-jerit histeris. Orang-orang di halaman hanya menonton dengan dingin. Bibi Sulung Yang, Bibi Bungsu Yang, dan Bibi Ketiga Yang tidak bisa ikut bertindak, karena bagi mereka baik Xiao Yue maupun Li sama-sama ipar perempuan mereka. Walaupun di dalam hati mereka hanya menyayangi Xiao Yue, orang luar tidak berpikir demikian. Jika mereka ikut campur tangan secara fisik, orang-orang pasti akan bergosip miring.
Kakek Yang sebenarnya sudah mendengar keributan di halaman sejak tadi. Awalnya ia berpikir untuk tidak mempermalukan diri lebih lanjut dan pura-pura tidak mendengarnya. Namun, keributan di halaman terdengar semakin menjadi-jadi, sehingga ia terpaksa harus keluar untuk melihatnya sendiri.
Begitu tiba di halaman, ia mendapati tempat itu telah dipenuhi oleh banyak orang. Mau bagaimana lagi, keributan yang dibuat oleh Zheng dan rombongannya terlalu besar hingga warga desa berbondong-bondong datang untuk menonton. Halaman kediaman Keluarga Yang kini penuh sesak oleh orang-orang.
Kakek Yang melirik ke arah Li yang sekujur tubuhnya dipenuhi tanah, wajahnya bengkak merah, ditambah air mata dan keringat yang membuat bedaknya luntur berantakan, menyisakan rona belang merah dan putih di wajahnya. Kakek Yang menatap dengan ekspresi jijik yang amat sangat, lalu membentak Yang Changgui, "Kenapa kau tidak lekas menolong istrimu berdiri? Penampilan seperti apa ini?!"
Yang Changgui melirik Li sekilas. "Jika aku menolongnya, dia mungkin akan mencari-cari masalah lagi. Aku tidak mau. Biarkan saja dia tetap di tanah kalau memang menyukainya!"
Kakek Yang tidak menyangka putra yang biasanya begitu penurut itu kini berani mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang. "Cepat bangunkan dia! Ada apa? Apa kata-kataku sudah tidak didengar lagi?!"
Melihat sang ayah murka, Yang Changgui merasa tidak enak hati. Ia tahu suasana hati kakak keduanya sedang buruk belakangan ini, dan ia tidak ingin membuat ayahnya semakin marah. Dengan terpaksa ia berjalan mendekat, mencengkeram lengan Li untuk menariknya berdiri. Namun, Li yang berbadan gembrot itu sengaja membuat ulah dengan mengeraskan tubuhnya agar tetap bergeming di atas tanah.
Yang Changgui yang sudah kehabisan kesabaran langsung mencubit pinggang Li dengan sekuat tenaga. Li spontan melengkingkan suara setinggi langit, melompat bangkit dari tanah sambil memegangi pinggangnya dan melompat-lompat kesakitan. "Yang Changgui, apa kau sudah gila?! Mencubitku begitu kuat, lebih baik kau bunuh sekalian aku!"
Begitu Li berhenti meratap kesakitan, Kakek Yang baru membuka suara, menoleh kepada Yang Changfai dan berkata, "Anak Kedua, apa maksudmu ini? Membawa begitu banyak orang datang ke rumah, urusan besar apa yang sedang terjadi?"
Nada bicara Kakek Yang dipenuhi dengan sindiran tajam. Urusan besar apa yang bisa terjadi di Desa Linshui yang terpencil ini? Bukankah ucapan Kakek Yang itu sama saja dengan mempermalukan putranya sendiri?
Alis Zheng mengernyit dalam. Ia tidak menyangka Kakek Yang akan mempermalukan Yang Changfa di hadapan begitu banyak orang. "Kakek Yang, jangan salahkan Changfa, akulah yang ingin datang ke sini. Tidak perlu menyindir Changfa seperti itu. Anak-anak ini sudah menjalani hidup yang tidak mudah, apa perlu kau bersikap seketat itu padanya? Apakah kau sudah lupa dengan semua perbuatan keluargamu sendiri? Tetapi lihatlah bagaimana cara Changfa memperlakukan kalian selama ini?"
Kakek Yang dibuat terdiam seribu bahasa oleh ucapan Zheng. Ia sebenarnya sedang diliputi emosi, dan kebetulan melihat begitu banyak orang di halaman serta anak keduanya yang berada di sana, sehingga secara refleks ia mengira anak keduanyalah yang kembali berulah. Ia lupa bahwa Zheng adalah ibu mertua Yang Changfa; orang lain mungkin tidak akan ikut campur jika ia memarahi putranya sendiri, tetapi seorang ibu mertua pasti akan membela menantunya mati-matian.
Melihat Kakek Yang terbungkam, Zheng tersenyum sinis di dalam hati. Pria tua ini benar-benar sama persis dengan mendiang Nyonya Wu, yang hanya tahu cara menindas Changfa. "Kakek Yang, berhubung kau sudah keluar, maka kita harus membahas masalah ini dengan jelas. Mengapa menantu sulung Keluarga Yang kalian pergi ke mana-mana menyebarkan rumor busuk, mengatakan bahwa perut Yue'er kami memiliki keanehan, dan bahkan menyebutkan bahwa segala kesialan Keluarga Yang disebabkan oleh anak di dalam kandungannya? Coba katakan, apakah manusia pantas melakukan hal semacam itu? Perilaku yang lebih rendah dari babi dan anjing, bahkan tega memfitnah ipar sendiri, orang seperti itu pantas dijebloskan ke neraka delapan belas lapis."
Wajah Kakek Yang langsung menghitam pekat. Ia tidak menyangka Li begitu bodoh hingga berani melontarkan kata-kata sembarangan seperti itu. Jika hal ini dimanfaatkan oleh orang berhati busuk di luar sana, seluruh Keluarga Yang bisa tertimpa malapetaka. Memikirkan hal itu, ia menatap tajam ke arah Li dengan penuh kebencian.
Li merasa ciut ditatap dengan sorot mata setajam itu oleh Kakek Yang, tetapi ia juga bingung harus berbuat apa sekarang. Satu-satunya jalan adalah menyangkalnya mati-matian. Bola matanya berputar cepat, lalu ia mulai menangis histeris seolah-olah orang tuanya baru saja meninggal. "Tidak, Ayah! Aku difitnah! Aku tidak pernah mengucapkan perkataan seperti itu! Xiao Yue adalah bagian dari Keluarga Yang kita, bagaimana mungkin aku mengatakan hal seburuk itu? Lagi pula, anak yang dikandungnya adalah darah daging Keluarga Yang juga, yang kelak harus memanggilku bibi sulung, mana mungkin aku melakukan perbuatan serendah itu?"
Keraguan sempat terlintas di wajah Kakek Yang. Benar juga, Li seharusnya tidak mungkin sebodoh itu, bukan? Maka ia pun menolak dan berkata kepada Zheng, "Besan, lihatlah, mungkinkah ini hanya sebuah kesalahpahaman?"
Zheng melambaikan tangan, tertawa dingin. "Jangan, jangan gunakan trik murahan itu padaku. Li, tidak masalah jika kau tidak mau mengakuinya, tetapi Nyonya Li dan Ibu Guihua jelas-jelas mengatakan bahwa kaulah yang membisikkan hal itu kepada mereka. Bagaimana kau bisa menjelaskan ini?"
Dengan sikap tak acuh, Li menggelengkan kepala dan berkata, "Mana mungkin perkataan mereka bisa dipercaya? Siapa di desa ini yang tidak tahu kalau mulut kedua orang itu penuh dengan omong kosong dan tidak ada satupun kalimat yang jujur." Usai berkata demikian, Li bahkan melirik Zheng dengan penuh kemenangan. Dahulu ia memang hanya mengatakan hal itu kepada Nyonya Li dan yang lainnya, selebihnya pasti kedua orang itulah yang melebih-lebihkannya. Sekarang, selama ia tetap bergeming dan membantah mati-matian, lihat siapa yang bisa berbuat apa padanya!
Melihat tingkah polah Li yang seperti itu, Kakek Yang merasa muak hingga tak sanggup melihatnya lagi. Ia sudah sering melihat orang bodoh, tetapi belum pernah melihat orang sebodoh ini. Nyonya Li dan Ibu Guihua berdiri tepat di dekat sana, bagaimana mungkin mereka bisa tinggal diam saat Li melimpahkan seluruh kesalahan kepada mereka secara terang-terangan?
Benar saja, begitu mendengar ucapan Li, Nyonya Li langsung melompat maju sambil memaki, "Persetan dengan mulut busukmu, Li! Kau perempuan keparat, beraninya kau memfitnah kami! Bagus, sekarang aku sudah melihat sifat asliku yang sebenarnya. Karena kau tidak tahu malu, jangan salahkan aku jika aku berbalik bersikap kejam."
Ibu Guihua turut menimpali dengan nada geram, "Betul! Li, aku tidak menyangka kau adalah orang semacam ini. Masalah ini jelas-jelas bersumber darimu yang menceritakannya kepada kami, kalau tidak dari mana kami bisa tahu urusan internal Keluarga Yang kalian? Jangan harap kau bisa melimpahkan seluruh kesalahan ini kepada kami!"
Nyonya Li memicingkan mata menatap Li dan berkata, "Benar sekali! Dulunya kaulah yang mendatangi kami dan mengatakan bahwa perut Xiao Yue pasti memiliki keanehan. Kau bilang semenjak menantu kedua kalian hamil, segala urusan di rumah tua ini selalu sial, sementara kehidupan Xiao Yue dan Yang Changfa justru semakin makmur, jadi pasti anak itulah yang telah merampas seluruh keberuntungan Keluarga Yang kalian!"
Orang-orang di sekitar menatap Li dengan pandangan aneh. Kehidupan Yang Changfa dan Xiao Yue jelas-jelas membaik bahkan sebelum mereka dikaruniai anak, argumen yang dilontarkan Li terlalu mengada-ada.
Ibu Guihua melanjutkan, "Betul! Bahkan apa yang dimakan dan dikenakan oleh keluarga Xiao Yue sehari-hari, perhiasan apa saja yang dimilikinya, bukankah semua itu kau sendiri yang menceritakannya kepada kami? Kalau tidak, bagaimana mungkin kami tahu?"
Melihat warga sekitar mempercayai perkataan dirinya dan Ibu Guihua, Nyonya Li semakin percaya diri dan langsung membongkar rahasia lainnya, "Tepat sekali! Kau sendiri merasa iri dengan kehidupan mereka karena keserakahanmu, lalu dengan sengaja mengarang kebohongan dan mengatakan bahwa harta keluarga Xiao Yue berasal dari sumber yang tidak jelas dan tidak bersih. Kau bahkan memfitnah ketiga tamu mereka sebagai orang-orang berbahaya yang tidak bersih dan memiliki catatan pembunuhan sebagai buronan!"
Seiring dengan semakin banyaknya hal yang dibeberkan oleh Nyonya Li dan Ibu Guihua, tatapan orang-orang di sekitar yang tadinya memandang rendah perlahan berubah menjadi jijik. Yang Changfa menatap tajam penuh kebencian kepada Li, Zheng begitu murka hingga rasanya ingin merobek-robek daging Li dan meminum darahnya, sementara mata Shen Junling menyipit berbahaya. Perempuan ini benar-benar sudah bosan hidup, berani-beraninya memfitnah mereka bertiga, bahkan berniat mencelakai Xiao Yue dan Yang Changfa. Sungguh tidak bisa dimaafkan.