Bab Sepuluh: Kulit Kelinci Membawa Masalah
“Baik, aku pergi cuci dulu.” Setelah berkata demikian, Yang Changfa langsung menuju kamar mandi keluarga Yang.
Xiao Yue selalu membersihkan diri dengan air di kamarnya sendiri, karena kamar mandi di rumah Yang hanya dipakai oleh para pria dan anak-anak; tiga menantu perempuan masing-masing membersihkan diri di kamar sendiri, maklum satu keluarga besar memang agak kurang praktis kalau harus berbagi tempat mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian bersih, Yang Changfa duduk di meja tengah ruangan dan mulai makan. Xiao Yue duduk di depannya, memandanginya lekat-lekat. Saat suaminya belum pulang, hatinya selalu gelisah, khawatir terjadi sesuatu. Kini pria itu sudah duduk di depannya dan makan, perasaannya langsung hangat hanya dengan memandangnya. Rasanya, hidup sederhana bersamanya di desa kecil ini, menua bersama dan memiliki beberapa anak pun sudah cukup membahagiakan.
Karena lapar, Yang Changfa makan dengan lahap. Usai makan, ia mendongak dan melihat istrinya tersenyum manis dengan mata berbinar menatap dirinya. Kenyang membuat pikiran jadi melayang, apalagi dalam cahaya lampu, istrinya tampak berbeda dari siang hari, lebih menawan. Ia perlahan mendekat dan langsung memeluk Xiao Yue, bibirnya menempel di bibir istrinya.
Xiao Yue yang tengah melamunkan masa depan tiba-tiba dipeluk, lalu melihat wajah suaminya semakin dekat. Begitu sadar, ia pun membalas pelukan itu.
Yang Changfa merasakan tangan kecil istrinya melingkar di pinggangnya, ia pun memeluk lebih erat. Setelah berciuman, ia menatap wajah istrinya yang kini merona merah, rasanya ingin sekali menyatu dengan sang istri. Dengan penuh semangat, ia mengangkat Xiao Yue ke atas dipan.
Ketika bangun keesokan paginya, tubuh Xiao Yue terasa pegal seluruhnya. Entah mengapa semalam suaminya begitu bergairah dan tak mau melepaskannya hingga larut malam. Meski tidur terlambat, ia tetap terjaga saat fajar menyingsing.
Usai sarapan, Yang Changfa membereskan hasil buruannya kemarin di halaman. Ia mendapat dua ayam hutan dan dua kelinci liar. Kulit kelinci yang sudah dikuliti tergeletak di tanah. Xiao Yue melihatnya lalu bertanya, “Changfa, kulit kelinci itu biasanya kamu apakan?”
“Oh, biasanya aku jual ke pasar di kota, tapi harganya murah, satu lembar cuma lima belas koin.”
“Kalau kali ini jangan dijual, aku ingin jadikan pakaian, boleh?”
“Tentu saja boleh, kalau kamu mau buat pakaian, nanti aku olah kulitnya dulu.”
“Kamu bisa mengolah kulit juga?”
“Tentu bisa. Kulit kelinci ini taruh saja dulu, setelah selesai beres-beres nanti aku urus.”
“Baik.”
“Changfa, kasih satu juga untukku ya!” Li, istri kakak pertama, keluar rumah tepat saat mendengar Xiao Yue bicara, langsung saja ia minta satu. Ia pikir, kulit kelinci di pasar bisa dijual lumayan, sedangkan ia harus menyulam beberapa kantong kecil baru bisa dapat uang segitu, jadi ia pun meminta.
“Kakak ipar, kulit kelinci ini kecil, kasih kamu satu punyaku jadi tak cukup.” Diam-diam Yang Changfa kesal, tahu istrinya butuh, ia sendiri sudah berniat mencari lebih banyak lagi, mana mungkin memberi lebih pada yang lain.
“Kalau kurang ya cari lagi ke gunung lah!”
“Kelinci itu tak harus ke gunung, kalau mau, suruh saja kakak mencarinya untukmu!” jawab Yang Changfa dengan tidak sabar.
“Kakakmu itu mana bisa dapat? Changfa, masa cuma satu kulit kelinci saja kakak ipar sudah minta, kamu malah bertele-tele!” Li memandang sinis Yang Changfa.
“Kakak ipar, hanya karena kulit kelinci, kamu sampai ngotot begini, Changfa itu adik iparmu, kenapa harus memaksa?” Xiao Yue yang melihat ekspresi Li langsung kesal. Mau minta tapi malah meremehkan, ia pun mengambil kulit kelinci itu dan menggenggamnya erat, tak percaya Li berani merebut darinya.
“Xiao Yue, aku ini kakak iparmu, kamu malah bicara begitu padaku? Memang anak perempuan keluarga Xiao dididik seperti itu ya?”
“Bagaimana orang tua kami mendidik itu urusan keluarga kami, setidaknya ayah dan ibu selalu mengajarkan, barang bukan milik sendiri jangan diambil. Mengambil barang orang lain itu mencuri,” Xiao Yue pun emosi.
“Kamu bilang siapa pencuri? Kenapa kulit kelinci itu jadi milik kalian, kita belum pisah rumah, semua masih milik keluarga Yang, aku juga bagian dari keluarga ini, aku mau, ya harus dikasih!”
“Apa ribut-ribut ini? Sudah tak ada kerjaan? Xiao Yue, tak sopan pada kakak ipar, mau diusir dari rumah ini?” seru Nyonya Wu dari depan ruang tengah.
Li yang melihat mertuanya keluar langsung berwajah puas, “Ibu, kelinci itu kan hasil buruan Changfa, istrinya mau buat baju, aku cuma minta satu untuk ayah ibu, eh malah dibilang pencuri. Ibu, tolong bela aku!”
Xiao Yue melirik Wu dan Li, lalu berkata, “Ibu, dua kulit kelinci ini memang tadinya mau saya berikan pada ayah ibu, tapi kakak ipar ingin memberikannya pada orang tuanya sendiri, saya ini hanya ingin berbakti pada ibu makanya jadi berebut. Lagi pula saya tak pernah bilang dia pencuri, itu dia sendiri yang bilang.”
Benar saja, begitu mendengar Li mau membawa kulit itu ke rumah orang tuanya, tatapan Wu langsung tajam menusuk Li, “Kamu perempuan tak tahu diuntung, untuk orang tuamu? Mereka itu siapa, aku saja belum dapat, kamu sudah mikir keluargamu sendiri. Itu milik keluarga Yang, kamu mau bawa ke rumah Li, kalau memang lebih sayang keluarga sendiri, mending pulang saja ke sana. Aku suruh kakakmu ceraiin kamu!”
Li tak menyangka Xiao Yue tega berbohong, mendengar ucapan Wu, ia pun merasa sangat terhina, “Ibu, saya tidak begitu, jangan percaya omongan istri Changfa.”
“Kakak ipar, itu salahmu. Anak perempuan yang sudah menikah tak semestinya membawa harta suami ke keluarganya lagi.” Lin, istri ketiga, keluar dan menambah keributan.
“Benar, istri ketiga bicara benar, memang anak seorang terpelajar,” puji Wu, lalu meludah ke arah Li.
“Ibu, musim dingin ini sangat dingin, sebentar lagi suamiku ikut ujian. Bagaimana kalau kulit kelinci itu saya buatkan pakaian untuk suami, supaya dia bisa belajar dengan baik dan tahun depan bisa lulus ujian, bagaimana menurut ibu?”
Lin juga tertarik dengan kulit kelinci itu, merasa bahwa suaminya sebagai orang terpelajar berhak mendapat barang bagus, sedangkan yang lain cukup pakai kain kasar.
Xiao Yue melihat tiga perempuan di halaman itu berebut dua kulit kelinci, benar-benar merasa tak habis pikir.
“Sudah, istri Changfa, kasih saja kulit kelinci itu ke istri ketiga,” putus Wu tanpa sedikit pun menanyakan pendapat Yang Changfa dan Xiao Yue.
“Ibu, tapi—” Yang Changfa baru mau bicara, sudah ditarik Xiao Yue masuk ke dalam rumah dan kulit kelinci pun diberikan ke istri ketiga.
“Kenapa kamu berikan kulit kelinci itu ke istri ketiga? Bukankah kamu yang mau?” tanya Yang Changfa begitu masuk ke dalam dari tadi.
“Tak apa, cuma dua kulit kelinci saja. Kalau terus di halaman, pasti makin ribut, menyebalkan. Lagi pula ibu memang selalu berpihak pada istri ketiga, dia tadi bicara saja sudah pasti kulit itu miliknya, ribut pun percuma.”
“Maaf, ini semua salahku…” Yang Changfa tampak murung.
Xiao Yue langsung menghibur, “Kenapa harus merasa bersalah? Sudah, nanti saja kamu carikan lagi untukku.”
“Baik, nanti aku carikan lagi,” Yang Changfa mengangguk, dalam hati bertekad akan lebih sering berburu kelinci untuk istrinya, bahkan kalau bisa mendapatkan rubah, supaya bisa dibuatkan pakaian yang indah dan hangat.
“Lucu juga, istri ketiga ambil kulit kelinci padahal belum diolah, kalau minta orang lain mengolah pasti bayar. Dia pikir bisa untung besar,” Xiao Yue mengalihkan pembicaraan melihat suaminya muram.
Yang Changfa baru sadar, lalu menatap istrinya yang tersenyum nakal, “Benar juga, kamu pintar sekali.”
“Bukan pintar, aku hanya baik pada orang yang baik padaku.”
“Aku juga akan selalu baik padamu,” bisik Yang Changfa lembut.
Xiao Yue tersenyum dan mengangguk, “Pokoknya kamu jangan bantu dia mengolah kulitnya.”
“Tenang saja, mereka pun tak tahu aku bisa mengolah kulit, jadi tak akan minta tolong padaku.”
“Baguslah.”
“Kamu istirahat saja di kamar, aku lanjutkan pekerjaan di luar.”
“Ya, baik.”
Setelah Yang Changfa keluar, Xiao Yue pun tidak ada pekerjaan, karena semalam kurang tidur, ia pun merebahkan diri di atas dipan.