Bab 143: Fitnah Keji
Melihat keadaan istrinya, Yang Changfa merasa sangat iba. Ia berjalan keluar dengan pelan untuk mengambil semangkuk air hangat, lalu menyeka tangan dan wajah Xiao Yue. Setelah itu, ia mengambil kipas dan dengan lembut mengipasinya. Saat ini hari sudah beranjak siang, dan suhu udara mulai naik. Terutama karena sudah memasuki bulan Juni, udaranya sungguh terasa sangat panas.
Xiao Yue tertidur pulas selama lebih dari dua jam, hingga Bibi Yang memanggil waktu makan, barulah Yang Changfa membangunkannya. Sebelumnya, ia telah memuntahkan seluruh isi perutnya, jadi sudah pasti ia merasa lapar sekarang.
Xiao Yue membuka matanya dan merasakan tubuhnya jauh lebih baik. Tampaknya obat dari Liu Xihan benar-benar berkhasiat. Namun, saat ini perutnya terasa sangat lapar dan ia sangat ingin makan.
Yang Changfa membantunya turun dari kang dan memakaikannya pakaian. Xiao Yue menikmati setiap pelayanan yang diberikan suaminya itu. Perutnya kini sudah sangat besar, membuat Yang Changfa bersikap siaga setiap hari. Apa pun yang ingin dilakukannya selalu membuat pria itu cemas. Tidak ada pilihan lain, Xiao Yue terbiasa tinggal menerima segala sesuatunya dari sang suami. Kendati demikian, demi kelancaran persalinannya kelak, ia tetap bersikeras berjalan-jalan di halaman setiap hari. Yang Changfa sangat memahami manfaat hal tersebut, sehingga ia selalu menemani istrinya berjalan-jalan setiap hari.
Setelah mengenakan pakaian, Xiao Yue dibantu oleh Yang Changfa menuju meja makan. Siang itu Bibi Yang memasak nasi, menumis beberapa hidangan, serta merebus sup ayam yang dipersiapkan khusus untuk Xiao Yue dan Tuan Jiu.
Begitu melihat makanan, rasa lapar di perut Xiao Yue semakin menjadi-jadi. Melihat semua orang sudah berkumpul, ia berseru, "Baiklah, semuanya sudah berkumpul, ayo kita makan, aku sudah kelaparan!"
Mendengar istrinya begitu kelaparan, Yang Changfa buru-buru mengambilkan lauk untuknya. Karena perutnya yang membuncit membuat jaraknya agak jauh dari meja makan dan ia hanya bisa menjangkau hidangan yang ada tepat di hadapannya, Yang Changfa pun mengambilkan makanan menggantikannya. Melihat mangkuknya masih penuh dengan lauk, ia lantas meniup semangkuk sup ayam agar cepat dingin untuknya.
Pemandangan kemesraan keduanya membuat Shen Junling merasa giginya ngilu sebelah. Namun, kedua orang itu sama sekali tidak merasa canggung. Xiao Yue tetap makan dengan lahap, sementara Yang Changfa melayaninya dengan sigap—menyajikan sup ayam, mengambilkan lauk, sibuk tanpa henti. Setelah Xiao Yue benar-benar kenyang, barulah Yang Changfa mengambil mangkuknya sendiri untuk makan.
Setengah jam setelah makan, Yang Changfa kembali datang membawa buah anggur. "Istriku, saatnya makan buah."
Xiao Yue mengangguk, mengambil buah anggur, dan mulai memakannya. Konon, banyak mengonsumsi buah semasa hamil akan membuat anak yang lahir nanti berwajah rupawan. Selain itu, Yang Changfa juga menyediakan sekantong kenari karena makan kenari dipercaya membuat anak menjadi cerdas. Oleh karena itu, setiap hari Xiao Yue harus memakan lima buah kenari.
Keesokan harinya, Tuan Jiu sudah bisa turun ke ladang. Tubuhnya tampak sudah tidak bermasalah lagi, tetapi semua orang tahu bahwa racun Zixi San masih bersarang di dalam tubuhnya. Sayangnya, tidak seorang pun tahu di mana wanita yang ditakdirkan untuknya berada. Saat ini, mereka hanya bisa berharap orang itu segera datang.
Sejak Tuan Jiu menyerahkan kekuasaan atas pasukan militer, urusan besar istana tidak lagi ada hubungannya dengan dirinya. Namun, siapa yang dapat mengabaikan hal-hal yang menyangkut kehidupan orang banyak, termasuk penduduk di desa pegunungan kecil ini?
Sejak kepergian Tuan Jiu, pertempuran melawan perbatasan selatan dipimpin oleh Pangeran Chen. Setelah Pangeran Chen meraih kemenangan, pihak perbatasan selatan menyerahkan surat menyerah. Istana kekaisaran pun resmi mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan tersebut.
Mendengar berita itu, seluruh negeri bersukacita. Para rakyat dengan antusias memperbincangkan dan memuji Pangeran Chen, seolah-olah mereka telah melupakan Tuan Jiu sepenuhnya.
Tepat ketika semua orang menganggap Pangeran Chen sebagai dewa perang generasi baru dan mendendangkan pujian untuknya, kaisar justru mengeluarkan sebuah dekrit kekaisaran yang menganugerahi Pangeran Chen setumpuk emas dan permata, tanpa sedikit pun menyinggung masalah pasukan militer Tuan Jiu. Hal ini secara diam-diam menandakan bahwa seluruh pasukan tersebut kini telah kembali ke tangan kaisar.
Tuan Jiu tidak menunjukkan reaksi apa pun saat mendengar berita ini, begitu pula dengan Liu Xihan. Hanya Shen Junling yang mendengus dingin penuh cemeh.
Xiao Yue telah mengikuti perkembangan masalah ini sejak awal dan kini ia telah memahami sepenuhnya intrik di baliknya. Sudah pasti Pangeran Chen telah bersekongkol dengan perbatasan selatan, sementara kaisar berniat menjatuhkan Tuan Jiu dan Pangeran Chen sekaligus. Karena keduanya memiliki target yang sama yaitu Tuan Jiu, mereka pun bersekongkol demi kepentingan masing-masing.
Namun, kaisar tidak menduga bahwa di perbatasan selatan masih ada sosok yang tangguh, hingga akhirnya Tuan Jiu mengalami kekalahan. Ketika kaisar melihat Pangeran Chen tidak terluka sementara Tuan Jiu telah jatuh, ia lantas memanfaatkan kesempatan itu untuk menyingkirkan Tuan Jiu terlebih dahulu, merampas kekuasaan militernya, dan membuangnya ke tempat terpencil ini.
Melihat nama baik Pangeran Chen semakin harum di kalangan rakyat jelata, kaisar tentu merasa cemas. Oleh karena itu, ia merebut kembali kekuasaan militer ke tangannya sendiri secara diam-diam. Seharusnya kekuasaan itu jatuh ke tangan Pangeran Chen, tetapi kaisar yang berniat membinasakannya tentu tidak mungkin menyerahkan pasukan militer kepadanya.
Tampaknya hari-hari damai tidak akan bertahan lama. Kaisar dan Pangeran Chen cepat atau lambat pasti akan saling berhadapan dalam pertarungan, persis seperti empat tahun lalu. Hanya saja, kali ini kaisar tidak lagi memiliki bantuan dari Tuan Jiu, meskipun kaisar mungkin merasa kekuatannya sendiri sudah cukup dan tidak lagi membutuhkan Tuan Jiu.
Setelah kaisar merebut kembali pasukan militer, pihak Pangeran Chen tampak tenang tanpa pergerakan. Tampaknya ia sedang merencanakan intrik yang jauh lebih besar.
Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa perbatasan selatan mengirimkan Putra Mahkota untuk merundingkan perdamaian. Xiao Yue dan Yang Changfa tidak tahu seperti apa sosok Putra Mahkota perbatasan selatan tersebut, tetapi dari reaksi Tuan Jiu dan kedua temannya, ia tahu bahwa orang itu bukanlah sosok sembarangan yang mudah dihadapi.
Namun, perjalanan dari wilayah perbatasan ke ibu kota diperkirakan masih membutuhkan waktu cukup lama, mengingat Putra Mahkota perbatasan selatan bepergian dengan rombongan kehormatan sehingga tidak bisa bergerak cepat.
Mendengar kabar bahwa perbatasan selatan telah kalah, hati para penduduk desa akhirnya merasa lega. Mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan masa depan mereka, dan Desa Linshui pun kembali menikmati kedamaian seperti sedia kala.
Usia kandungan Xiao Yue kini telah memasuki bulan kedelapan. Konon, kehamilan anak kembar cenderung mengalami kelahiran prematur, apalagi ini adalah anak kembar tiga. Terlebih lagi, ukuran perut Xiao Yue tampak sangat besar hingga membuat siapa saja yang melihatnya merasa terkejut dan sulit percaya bagaimana bisa ada perut sebesar itu.
Secara perlahan, desas-desus mulai menyebar di dalam desa. Penduduk bergosip bahwa kandungan Xiao Yue tidak normal dan merupakan anak aneh karena ukurannya yang begitu besar.
Mendengar rumor tersebut, Yang Changfa merasa sangat geram. Ia sangat menyayangi anak-anaknya, namun demi menjaga ketenangan kandungan Xiao Yue, ia memutuskan untuk menyembunyikan hal itu dari istrinya.
Shen Junling berkeliaran di desa sepanjang hari dan kadang-kadang menikmati keributan antarpenduduk. Tentu saja ia juga mendengar rumor yang beredar di desa tersebut. Dapat dibayangkan betapa marahnya ia, mengingat anak-anak itu adalah anak baptisnya.
Ketika Yang Changfa sedang merenungkan cara untuk mengatasi masalah tersebut, Shen Junling kembali dengan penuh amarah. Melihat Yang Changfa, ia berkata dengan nada geram, "Apa kau tidak mendengar gosip yang beredar di desa? Kenapa kau masih bisa duduk tenang di sini tanpa menunjukkan reaksi apa pun?"
Yang Changfa meliriknya sekilas dan berkata, "Lalu menurutmu apa yang harus kulakukan? Aku bahkan belum tahu siapa yang menyebarkan gosip ini, kepada siapa aku harus mencarinya?"
Mendengar perkataan itu, amarah Shen Junling yang tadinya meluap-luap seketika kempes seperti balon yang tertusuk jarum. Dengan mengerutkan kening, ia bertanya, "Jadi sekarang kau berniat mencari dalang di balik semua ini?"
Yang Changfa mengangguk, namun ia belum menemukan cara yang tepat. Rumor di desa biasanya disebarkan oleh para wanita, sebagai seorang pria dewasa tentu tidak pantas baginya mendatangi mereka untuk berdebat.
Kedua pria itu masih berpikir keras di halaman ketika Nyonya Zheng datang dengan tergesa-gesa dari luar. Begitu tiba, ia langsung menarik tangan Yang Changfa dan bertanya, "Changfa, kenapa aku mendengar orang-orang di desa mengatakan bahwa kandungan Yue'er bermasalah?"
Begitu melihat Nyonya Zheng masuk, Yang Changfa langsung mengerti tujuan kedatangannya, mengingat rumor di desa sudah begitu marak. Sebelum Yang Changfa sempat membuka mulut, Bibi Sulung Yang dan Bibi Ketiga Yang juga turut masuk dengan tujuan yang sama.
Melihat kekhawatiran di wajah mereka, Yang Changfa merasa sangat tersentuh. Mereka semua adalah sanak saudara yang sungguh peduli pada keluarganya!
Ia tersenyum dan berkata kepada mereka, "Ibu, Bibi Sulung, Bibi Ketiga, kalian tidak perlu khawatir. Yue'er baik-baik saja. Perutnya memang sangat besar, tetapi itu karena ia mengandung anak kembar tiga. Kalian tenang saja!"
Mendengar penjelasan Yang Changfa, mereka bertiga menghela napas lega dan mengangguk bersamaan. "Baguslah kalau begitu, baguslah kalau tidak ada masalah." Namun sesaat kemudian, mata mereka melebel dan saling berpandangan dengan rasa tidak percaya. Nyonya Zheng menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Changfa, apa yang kau katakan tadi? Yue'er mengandung anak kembar tiga?" Ia meminta penegasan sekali lagi karena merasa sulit mempercayainya.
Yang Changfa tersenyum sambil mengangguk. "Betul sekali, Dokter Sakti Liu yang telah mendiagnosis nadinya, katanya ini anak kembar tiga."
Nyonya Zheng, Bibi Sulung Yang, dan Bibi Ketiga Yang merasa sangat gembira. Bibi Ketiga Yang berulang kali berkata, "Changfa dan Yue'er memang pasangan yang penuh berkah. Lihatlah, sejak mereka menikah hidup mereka semakin baik, dan sekarang Yue'er langsung mengandung tiga anak sekaligus. Peristiwa seperti ini sangat jarang ditemui di sekitar kita, sungguh suatu keberuntungan besar!"
Bibi Sulung Yang juga menyipitkan mata karena tersenyum lebar. "Benar sekali! Kedua anak ini memang sungguh luar biasa dan memiliki hati yang baik." Namun sesaat kemudian, teringat kembali olehnya rumor di desa, ia pun menggertakkan gigi dan berkata, "Sebenarnya manusia sial mana yang menyebarkan omong kosong ini? Jika gosip ini terus menyebar dan dipercaya orang lain, maka situasinya akan menjadi gila. Bukankah itu sama saja dengan mencelakakan Yue'er?"
Memikirkan hal itu, ekspresi Yang Changfa pun menjadi suram. Ia tahu betul bahwa jika penduduk desa sampai mempercayai gosip bahwa anak di dalam perut istrinya adalah anak jadi-jadian atau membawa sial, para tetua klan di desa kemungkinan besar akan mendatangkan seorang pendeta Tao untuk melakukan ritual. Jika sang pendeta mengatakan hal-hal yang ngawur, nyawa anak-anak itu pasti tidak akan bisa diselamatkan. Membayangkan kemungkinan terburuk tersebut, Yang Changfa merasa ingin sekali melenyapkan orang yang menjadi dalang di balik penyebaran rumor ini.
Nyonya Zheng juga diliputi rasa sakit hati dan kemarahan yang mendalam. Putrinya sedang mengandung namun harus menghadapi teror gosip seperti ini, rasanya seperti disayat pisau bagi seorang ibu!
Shen Junling mengamati ketiga orang yang berada di halaman itu, lalu bola matanya berputar perlahan. "Changfa, aku punya akal!"
"Kau sudah menemukannya? Cara apa?" tanya Yang Changfa tidak sabar.
Shen Junling menatap Nyonya Zheng, Bibi Sulung Yang, serta Bibi Ketiga Yang, lalu berkata, "Bukankah gosip di desa disebarkan oleh para kaum wanita, dan kita para pria tidak pantas turun tangan? Kalau begitu, urusan ini kita serahkan saja kepada ketiga bibi."
"Kami?" Nyonya Zheng, Bibi Sulung Yang, dan Bibi Ketiga Yang saling berpandangan. "Baiklah, apa yang harus kami lakukan? Katakan saja, kami bertiga yang akan membereskannya!"
Shen Junling mengangguk dan menjelaskan, "Kalian bertiga pergilah ke penjuru desa untuk mencari orang-orang yang menyebarkan rumor tersebut. Begitu kalian menemukannya, tangkap dan tanyakan siapa yang memberi tahu mereka, lalu seret mereka untuk menemui orang tersebut. Dengan menelusurinya satu per satu seperti itu, bukankah kita akan menemukan siapa orang pertama yang menyebarkan gosip ini?"
Mendengar usulan Shen Junling, mata Yang Changfa langsung berbinar terang. Benar juga, itu ide yang sangat cemerlang.
Bibi Sulung Yang, Nyonya Zheng, serta Bibi Ketiga Yang juga sepakat bahwa ide tersebut sangat bagus. Dengan maju bertiga bersama-sama, mereka sama sekali tidak perlu takut menghadapi para wanita bermulut ember di desa.
Saat mereka sedang merundingkan rencana tersebut dan bersiap untuk bergerak, mereka melihat Bibi Yang berjalan masuk dengan wajah dipenuhi amarah. Begitu melihat orang-orang berkumpul di halaman, matanya seketika memerah karena emosi.
Yang Changfa buru-buru menyambutnya dan bertanya, "Bibi Kecil, ada apa? Siapa yang merundungmu? Apakah ini karena masalah perut Yue'er?"