Bab Sembilan Belas: Membicarakan Uang Itu Menyenangkan
Karyanya terkenal, tapi orangnya tidak. Sudah beberapa hari ini Wu Wei menyadari hal itu. Video pendek yang diambil di depan alun-alun telah mencapai dua juta penayangan, dan video-video selanjutnya pun masing-masing ditonton ratusan ribu kali. Seharusnya, ia sudah menjadi selebritas internet. Namun, di kota besar seperti Yanjing, ketika ia mengunjungi kawasan yang ramai influencer atau tempat nongkrong anak muda, sebelum ia mulai menari, bahkan dengan pakaian dan dandanan penari pun, nyaris tak ada yang mengenalinya—atau memang tak tahu siapa dia.
Di dunia maya, sosok Wu Wei adalah seorang penari yang seolah menantang gravitasi. Sedangkan di dunia nyata, Wu Wei hanyalah seorang pria biasa dengan wajah berjerawat yang agak jelek.
Menghadapi ajakan Susi, Wu Wei hanya tersenyum, “Aku sudah tahu ingin membuat karya dengan gaya seperti apa untukmu.”
Susi sempat tertegun, lalu tersenyum lebar penuh semangat dan rasa ingin tahu, “Benarkah?”
Ajakan? Benarkah?
Semua orang secara halus mengabaikan itu demi menghindari kecanggungan dan menjaga hubungan baik yang terbangun selama hampir sepuluh hari kerja sama.
Wu Wei meminta Susi dan tim produksinya menambahkan beberapa lampu yang bisa diatur di area khusus pengambilan gambar. Lampu-lampu itu bisa memunculkan beragam warna dan tingkat terang sesuai kebutuhan di area utama.
Gaya siaran langsung Susi memang variatif. Awalnya ia menganggap ide Wu Wei soal 'gaya seratus rupa' dan 'gonta-ganti kostum' itu biasa saja. Tapi begitu melihat hasil video pertama, ia langsung memutuskan, “Ini yang aku mau.”
Menggunakan musik DJ populer, baik yang berirama kuat maupun versi remix lagu hits, lampu biru temaram, Susi menyiapkan tujuh atau delapan wig. Dengan pengambilan gambar setengah badan dari jarak dekat, lampu putih dipancarkan dari bawah, menciptakan keseimbangan dengan cahaya biru tanpa saling meniadakan.
Setiap kali ganti wig, Susi menyesuaikan gerak tubuh dan ekspresi. Kadang jadi karakter kartun, kadang tampil tegas dengan rambut pendek, kadang cosplay tokoh tertentu.
Ia tak perlu mengosongkan lokasi, tak pernah canggung meski ditonton orang. Susi selalu tampil maksimal, menampilkan pose dan ekspresi terbaik.
“Aku ingin ekspresi matamu lebih menggoda,” pinta Wu Wei.
Susi punya kemampuan dan profesionalitas, Wu Wei punya teknik kelas atas. Begitu video pertama rampung, Susi tak sabar ingin membuat video tari berdurasi singkat dengan berbagai kostum.
Ia tak keberatan, berkali-kali ganti baju, berkali-kali syuting, berkali-kali dandan ulang. Untuk satu video tak sampai semenit, ia menghabiskan waktu lebih dari tiga jam. Begitu Wu Wei memberi isyarat OK, reaksi pertamanya bukan mandi, melainkan mencari kursi untuk duduk lemas. Rasanya lebih melelahkan daripada siaran langsung.
Tapi ia hanya butuh adaptasi. Setelah terbiasa, tak akan seberat siaran langsung.
Tiga hari kemudian, Wu Wei menyampaikan niat pamit. Ini sudah diduga Susi. Ia pun sedang bersiap-siap meluncurkan video dengan gaya baru di platform “Nada Lambat” dan menata ulang studio siaran serta materi-materi baru.
Atas bantuan Wu Wei selama ini, Susi mengucapkan terima kasih dengan tulus dan menyiapkan angpao besar sebagai bentuk apresiasi.
Tiga tumpuk uang setinggi batu bata, diikat rapi, dibungkus kertas merah.
Wu Wei hendak menolak, tapi Susi tersenyum, “Pak Wu, aku dengar di kampung halaman Anda banyak pasangan muda yang menunggu Anda pulang untuk foto prewedding.”
Wu Wei tersenyum dan menerima angpao yang isinya jelas sekitar seratus ribu yuan. Jika dihitung berdasarkan waktu, sebelas-dua belas hari itu, jumlahnya wajar. Apalagi sudah termasuk makan, tempat tinggal, mobil dan sopir, plus setengah hari waktu luang untuk urusan pribadi.
Ia pun tak menolak. Bicara soal uang, memang lebih cocok tanpa perlu bawa perasaan. Susi ini juga berhati-hati. Wu Wei hanya mengagumi keindahan, siapa pun yang berada sedekat itu dengan Susi, tiap hari memotretnya, apalagi ia harus beraksi menggoda dan menampilkan pesona di depanmu, kalau tatapan mata tak berubah, Wu Wei hanya bisa berkata, lelaki macam apa itu.
Soal uang, dalam sebuah kerja sama, justru mempererat hubungan. Pengalaman kerja sama pertama yang memuaskan, akan membuka peluang kerja sama kedua.
“Aku suruh orang memesankan…”
“Tiket keretaku sudah kubeli.”
Susi langsung mengambil tiket kereta dari tangan Wu Wei, mengecek, ternyata hard sleeper atas. Ia lalu memeriksa lewat ponsel, masih ada beberapa soft sleeper atas—tanpa perlu repot, ia minta nomor identitas Wu Wei dan langsung memesankan soft sleeper, tinggal diambil di stasiun.
Melihat waktu, Susi seperti saat menjemput, kini juga mengantar. Sesibuk apa pun, satu-dua jam tak masalah. Waktu makan tidak cukup untuk ke restoran mewah, jadi mereka makan di restoran terdekat, berseloroh, “Nanti kalau datang lagi, makan-makan yang belum sempat ini kita ganti.”
“Tak boleh sering-sering, beberapa hari ini aku sudah tambah gemuk, kalau terus makan, nanti tak bisa jalan,” kata Wu Wei sambil pura-pura menepuk perut.
Mobil berhenti di bank di ujung jalan. Wu Wei masuk untuk menyimpan uangnya. Meski transfer lebih praktis, ia paham kenapa Susi memilih membayar tunai. Kalau ia di posisi Susi, mungkin juga akan begitu.
Mobil tiba di stasiun kereta. Waktunya masih cukup. Susi meminta Wu Wei untuk tak buru-buru turun, menikmati AC di mobil.
Mobil diparkir di lahan parkir hotel dekat stasiun. Jika berjalan, hanya sekitar duaratus meter sudah sampai.
Tak lama kemudian, dua fotografer dari tim Susi datang membawa dua kotak hadiah indah, bukan sekadar cantik, tapi juga praktis dan muat banyak.
“Di dua kotak ini ada oleh-oleh, buat orang tua di rumah. Yang di kantong ini untuk cemilanmu selama di kereta.”
Wu Wei menerimanya tanpa menolak, “Oke, oleh-olehnya aku terima, tapi tak perlu mengantarku.”
Susi mengedipkan mata lalu mengangguk, “Baiklah, biar mereka yang mengantarmu masuk.”
Wu Wei mengangguk, turun dan melambaikan tangan, lalu melangkah lebar menuju stasiun. Meski beberapa waktu terakhir ia dua kali masuk trending topik hiburan, dan sempat jadi sorotan di “Nada Lambat”, bahkan diliput sejumlah media hiburan, bagi orang lain, ia tetap manusia biasa. Dengan santai ia melintas di kerumunan depan stasiun, masuk ke antrean pemeriksaan tiket, naik ke kereta, mencari tempat tidur, dan duduk.
Dua penumpang di tempat tidur bawah sudah duduk, sedang asyik bermain “Nada Lambat”. Melihat Wu Wei datang, mereka hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus ke video pendek di ponsel.
Setelah menaruh barang, Wu Wei duduk di kursi dekat jendela di luar kabin. Ia tersenyum tipis. Bukan senyum mencibir, bukan senyum getir, apalagi sedih. Hanya merasa lucu saja. Ia mengelus wajahnya yang dipenuhi bekas jerawat—dan memang, tak ada yang mengenalinya.
Ia membuka ponsel, mengecek SMS masuk dari bank.
Antara punya uang dan tak punya, hanya soal waktu dan kesempatan.
Tak masalah, nanti di rumah bisa cari lagi.
Wanita—suatu saat, kalian akan berada di atas sana, sulit disentuh.
“Sistem, undian sepuluh kali tingkat D!”
Antara tingkat C dan D, Wu Wei tak ragu. Peluang memang penting, tapi jumlah lebih menentukan.
Karena ia yakin ia orang yang beruntung.
Wu Wei bangkit menuju wastafel, mencuci tangan dengan saksama, meski undian tak perlu tangan, itu refleks saja. Yang penting tangan membawa hoki. Tak perlu dapat kemampuan tingkat tinggi, cukup dapat banyak saja, kemampuan tingkat D pun sudah cukup kuat.
“Mau mulai undian sepuluh kali tingkat D?”
“Ya.”
Hitam, hitam, hitam, hitam, hitam, hitam...