Bab Empat Puluh Delapan: Lakukan Apa yang Ingin Kau Lakukan
Setelah kehebohan yang dibuat kedua orang tuanya, Wu Wei pun memandang komentar-komentar bernada provokatif dan ajakan boikot di internet dengan lebih tenang.
“Nak, susumu sudah jadi. Minum, lalu cepat tidur, ya.” Wei Shuping mengetuk pintu dan masuk, menaruh segelas susu hangat di meja komputer samping ranjang. Melihat putranya masih asyik bermain ponsel, ia ragu sejenak, lalu menasihati, “Tidur lebih awal saja…”
“Ma, kalian sama Papa sudah lihat ini belum?”
Wu Wei membalikkan ponselnya, memberi isyarat agar sang ibu duduk, lalu memutarkan pertunjukan musik elektronik yang ia lakukan di festival tempo hari.
“Sudah lihat, Nak. Kamu belajar itu sejak kapan?”
“Waktu merantau di Yanjing dulu aku sudah belajar, Ma. Nggak nyangka sekarang malah jadi tren di internet. Andai aku tahu dari dulu, pasti sudah lebih giat menari dan main suona…”
Semakin lama Wu Wei bicara, suaranya makin lirih, sampai akhirnya ia sendiri lupa apa yang ia katakan. Mereka hanya saling menatap dalam diam.
Setelah lama terdiam, Wei Shuping mengelus kepala putranya dan tersenyum, “Jangan terlalu dipikirkan. Lakukan saja apa yang kamu inginkan.”
“Ya.”
Momen itu benar-benar menggetarkan hati, hingga membuat mata Wu Wei berkaca-kaca. Wei Shuping sendiri tak menoleh melihat reaksi anaknya, ia berdiri dan keluar dari kamar, memberi ruang bagi anaknya. Ia tahu, putranya pasti sanggup. Yang bisa diberikan orang tua hanyalah pelabuhan hangat untuk pulang. Jangan takut, Nak. Kapan pun kau lelah, pulanglah. Di rumah, selalu ada kehangatan yang menantimu.
Sejak Wu Wei kecil, kedua orang tuanya selalu merasa diri mereka berbeda dari kebanyakan orang tua lain. Mungkin bagi orang lain, ini dianggap “membiarkan anak tumbuh bebas”. Termasuk ketika Wu Wei, di tahun terakhir SMA, tiba-tiba ingin ikut ujian seni. Tahun paling krusial, setengah waktunya dihabiskan untuk persiapan ujian seni, dan akhirnya tidak lolos universitas. Dulu, cibiran orang-orang pernah membuat Wu Wei enggan pulang. Meski hidup merantau di utara begitu berat dan sepi, ia pun rela tak pulang saat Tahun Baru, tak ingin menatap sorot mata sanak saudara, apalagi melihat sikap pongah mereka yang merasa sebagai orang tua teladan di hadapan ayah dan ibunya.
Wu Jianping dan Wei Shuping hanyalah pekerja kereta api biasa, tak pernah berharap anaknya jadi orang kaya raya. Mereka hanya ingin Wu Wei tumbuh dengan selamat dan bahagia, tidak ingin masa kecil dan tumbuh kembang anaknya selalu dibayangi tekanan. Mereka pun tak pernah, di depan anaknya, membanding-bandingkan dengan anak orang lain.
Mereka tak pernah memuji Wu Wei berlebihan, juga tak pernah menyebutnya tidak berbakat. Ketika tahu Wu Wei bisa bertahan hidup sendiri di perantauan selama tiga bulan tanpa meminta uang dari rumah, bagi mereka, putranya sudah tumbuh dewasa—seorang lelaki sejati. Sekalipun kelak Wu Wei tak menjadi “orang besar” seperti harapan banyak orang, mereka yakin ia tidak akan sampai kelaparan.
Sebagai orang tua, dengan smartphone yang begitu canggih, tentu mereka tahu dunia internet. Bagaimana bisa tidak tahu? Bagaimana mungkin tidak tahu bahwa di balik popularitas anaknya, ada begitu banyak suara sumbang dan cacian?
Mereka memang tak bisa berbuat banyak, tapi mereka pura-pura tak tahu apa-apa. Mereka hanya berharap, setidaknya di rumah, Wu Wei tidak harus memikirkan semua itu. Rumah hanya perlu menjaga kehangatannya sendiri.
Wu Wei tersenyum tipis dan menyeka matanya yang basah. Ia yakin, andai kedua orang tuanya memiliki kekuatan untuk membantunya, mereka pasti akan maju paling depan, menghadapi ribuan suara celaan dan caci maki itu bersamanya. Meski mereka tak bisa, tapi mereka sudah memberinya kekuatan terbesar—keberanian untuk menghadapi “naga jahat”.
…
“Pak Wu, Anda sudah datang.”
“Pak Wu.”
“Pak Wu.”
“Paman, Tante, selamat pagi.”
Wu Jianping dan Wei Shuping memilih untuk tidak lembur akhir pekan ini. Fakta bahwa putra mereka kini dalam sehari bisa menghasilkan sepuluh ribu yuan, sungguh berdampak besar bagi mereka. Kehidupan yang dulu penuh kehati-hatian mengatur keuangan demi menabung untuk anak, tiba-tiba saja kehilangan motivasi.
Untuk apa lembur? Sehari lembur, paling banyak dapat dua ratusan yuan. Bandingkan dengan pekerjaan Wu Wei sekarang; jelas jauh lebih penting dari sekadar dua ratus yuan.
Begitu tiba di studio foto, mereka menyadari status baru anak mereka. Semua orang menyambut mereka ramah. Begitu tahu mereka adalah orang tua Wu Wei, panggilan “Paman” dan “Tante” pun mengalir begitu akrab.
Mereka pun menyaksikan sendiri, calon pengantin yang sedang konsultasi foto pernikahan hari itu, begitu tahu Wu Wei datang, berebut ingin dipotret olehnya. “Pak Wu yang motret, saya duluan! Foto yang sebelumnya nggak jadi, nggak apa-apa!”
Kebetulan hari itu ada satu klien yang paket foto pernikahannya sudah jadi. Harga tinggi bukan semata karena Wu Wei sebagai fotografer, tapi juga karena fasilitas studio yang lengkap: bingkai besar, pajangan mewah, album berkelas.
Jelas pasangan pengantin itu tak sabar, begitu tahu foto mereka selesai semalam, pagi-pagi sudah datang ke studio. Di antara tatapan iri pelanggan lain di ruang tunggu, mereka membuka album foto, dan kebahagiaan menikmati hasil sempurna itu tampak jelas. Bertemu Wu Wei, mereka bahkan terlihat sedikit mengaguminya.
“Pak Wu, terima kasih banyak. Hasilnya luar biasa.”
“Pak Wu, benar-benar sempurna. Saya sangat puas.”
Rekan kerja Wu Jianping, Pak Niu dan istrinya, pagi itu datang dengan mobil Wu Wei. Putri mereka, Niu Hui, dan tunangannya berangkat dari rumah sendiri. Pasangan Pak Niu sendiri awalnya tak begitu percaya—masa iya, Wu Wei bisa dapat sepuluh ribu hanya dari satu sesi foto pernikahan? Lebih aneh lagi, sudah bisa dapat uang sebanyak itu, kenapa malah sibuk jadi vlogger atau selebgram, katanya malah belum tentu untung. Kalau serius di studio, sebulan sepuluh ribu saja sudah luar biasa, keluarga mana yang bisa menyaingi?
Jangan-jangan anaknya tertipu?
Dengan rasa penasaran, mereka ikut datang. Melihat mobil baru Wu Wei saja, mereka langsung percaya—sesama rekan kerja, penghasilan satu sama lain sudah saling tahu. Keluarga Wu saja, andai tidak utang, mana mungkin bisa beli mobil sebagus itu.
Mereka penasaran, apa sih istimewanya foto pernikahan Wu Wei?
Memang mereka tak bisa menjabarkan detail teknik, tapi bisa merasakan, foto di tangan pengantin baru itu jelas berbeda dari foto-foto lain di studio, bahkan dari foto yang pernah mereka lihat sebelumnya. Namun persisnya di mana bedanya, mereka tak tahu.
“Wu Wei, terima kasih banyak,” Niu Hui dan tunangannya lebih dulu menyampaikan terima kasih. Tunangannya pun langsung ke bagian keuangan studio, membayar biaya sesi foto sesuai harga yang sudah ditetapkan studio untuk Wu Wei.
Setelah pembayaran, barulah manajer studio datang. Seolah baru tahu mereka adalah kenalan Pak Wu, ia langsung menginstruksikan resepsionis yang menangani Niu Hui untuk menggandakan jumlah bingkai, memakai bahan lebih bagus, album, banner, poster pun ditambah, dan mereka dipersilakan memilih foto lebih banyak. Paket layanan yang mereka dapat, seolah naik beberapa ribu yuan nilainya. Hanya saja, tidak termasuk bonus baju tambahan. Manajer studio tahu, jika Wu Wei mau menambah sesi foto, mereka pun senang hati menyiapkan busana dan perlengkapan ekstra.
Baik layanan maupun gengsi, semuanya diberikan dengan maksimal. Niu Hui pun merasa uang yang dikeluarkan sangat sepadan, senyumnya tak pernah luntur, dengan bahagia memilih busana bersama resepsionis. Wu Wei pun berpesan, “Pilih dua setel lagi, ya.”
Senyum Niu Hui makin lebar.
Bahkan sebelum sesi foto dimulai, di mobil Wu Wei sudah berpindah dua karton rokok Hua Zi dan dua botol Wuliangye dari mobil tunangan Niu Hui.