Paviliun Permata Kebijaksanaan
Sudah lama sekali mereka bertiga tidak bermain dengan begitu gembira. Kemegahan Ibu Kota benar-benar menghapus bayang-bayang kelam yang selama ini membebani hati mereka. Bahkan Chen Chen seolah melupakan sejenak dendam berdarah ayahnya, dan hanya menikmati waktu bersama dua perempuan di sisinya. Di hati Li Shaolong, yang tersisa hanyalah kepuasan sederhana; andai waktu bisa berhenti selamanya pada momen ini, alangkah baiknya. Selama bertahun-tahun, kembali atau tidaknya dia ke tempat asalnya sudah tidak lagi begitu penting. Toh, setelah hidup enam tahun di dunia ini, dia mulai terbiasa dengan segalanya.
Tanpa terasa, mereka bertiga sampai di sebuah pasar kecil. Di Ibu Kota, pasar seperti ini setidaknya ada delapan, biasanya terletak di tempat-tempat ramai. Lelaki tampan dan dua gadis cantik itu, meski penampilan mereka lusuh dan tanpa busana mewah, tetap saja memancarkan pesona yang mampu memikat siapa pun yang memandang. Mungkin dari segi wajah, kedua gadis itu bukanlah yang paling menonjol di Negeri Bulan Sabit, pasti masih ada yang lebih cantik; namun keberanian dan kemandirian yang terpancar dari diri mereka, tidak akan ditemukan pada perempuan kebanyakan. Inilah aura kedewasaan yang ditempa oleh pahit-manis kehidupan, sesuatu yang tidak bisa dimiliki para nona dari keluarga terpandang.
Melihat dua gadis itu saling bergandengan tangan, melompat-lompat dari satu lapak ke lapak lain, hati Li Shaolong terasa hangat dan manis.
“Ting’er, lihat, yang ini bagus tidak?” Chen Chen dengan riang menghampiri sebuah lapak perhiasan kecil. Di lapak itu tak ada barang mewah, mayoritas adalah perhiasan sederhana yang biasa dibeli oleh gadis-gadis dari keluarga miskin; putri-putri bangsawan tentu tak akan sudi melirik perhiasan seperti itu.
Chen Mengting pun mengambil sebuah tusuk konde berhias bunga mutiara. Tusuk konde itu berbentuk bunga enam kelopak, masing-masing kelopak dihiasi sebutir mutiara yang bentuknya berbeda-beda. Jelas bukan barang mahal, tapi pengerjaannya cukup rapi sehingga mereka berdua menyukainya, bergantian mencoba dan membandingkan satu sama lain. Melihat dua gadis itu hanya melihat-lihat tanpa membeli, sang penjual pun jadi gelisah dan berusaha keras menawarkan barang dagangannya, memuji-muji kecantikan mereka dan mengatakan bahwa tusuk konde ini seolah memang diciptakan khusus untuk mereka—semua jurus klasik pedagang yang sedang mencari untung.
“Duh, selama ini sepertinya aku sudah menelantarkan mereka. Andai mereka mengikuti lelaki lain yang lebih kaya, mana mungkin harus puas dengan barang-barang murahan seperti ini,” Li Shaolong merasa bersalah, lalu melirik sekeliling. Matanya tiba-tiba berbinar saat melihat sebuah toko perhiasan tak jauh dari situ.
Karena kedua gadis itu tidak jauh darinya, Li Shaolong tersenyum tipis, berniat memberi kejutan pada mereka. Ia pun melangkah masuk ke toko perhiasan yang tampak megah itu. Begitu masuk, seorang pelayan langsung memperhatikannya, namun ketika melihat pakaian Li Shaolong yang lusuh dan jauh dari kesan mewah, ekspresi ramah di wajah pelayan itu seketika menghilang, berubah menjadi sinis. Melihat perlakuan itu, Li Shaolong sempat tertegun, lalu menunduk menatap pakaiannya dan tersenyum miris dalam hati, “Pantas saja orang bilang pakaian menentukan penilaian orang lain. Dunia ini memang sangat realistis.”
Tak sepenuhnya salah jika pelayan itu bersikap demikian. Saat itu Li Shaolong sedang dalam perjalanan jauh dan tidak pernah berniat berjalan-jalan, jadi dia tidak membawa baju bagus. Apa yang dipakainya hanyalah pakaian lama, walaupun bahannya bagus, namun waktu telah membuatnya tampak usang. Di toko perhiasan seperti ini, gaji pelayan biasanya juga kecil; mereka hanya mengandalkan komisi dari penjualan. Melihat penampilan Li Shaolong, wajar saja pelayan itu tidak menghormatinya. Sayangnya, mereka tidak tahu bahwa Li Shaolong adalah tamu undangan istimewa dari Kaisar. Jika tahu, pasti mereka tidak akan berani bersikap demikian, sebab siapa pun yang diundang langsung oleh Kaisar, meski tengah terpuruk, cepat atau lambat pasti akan berjaya. Tapi mana mungkin seorang pelayan toko tahu hal seperti itu.
Karena tidak ada yang menyambutnya, Li Shaolong pun melihat-lihat sendiri. Toko itu tertata elok, meski tidak terlalu luas, namun koleksinya beragam dan sangat menarik. Sambil melihat-lihat, dia membatin bahwa barang-barang di sini benar-benar berkualitas, jauh berbeda dengan perhiasan di lapak-lapak luar; mulai dari pengerjaan, warna, hingga kemewahan batu permatanya, semuanya kelas satu.
“Mas, berapa harga tusuk konde ini?” Setelah memilih beberapa lama, Li Shaolong menunjuk sebuah tusuk konde yang bentuknya hampir sama dengan yang tadi dipilih Chen Mengting di lapak luar.
Pelayan itu kembali melirik Li Shaolong dari atas ke bawah, jelas tidak percaya bahwa dia benar-benar hendak membeli. Dengan nada acuh tak acuh, ia menjawab, “Tusuk konde itu terbuat dari mutiara laut dalam, membawa aura air yang bermanfaat untuk menyegarkan pikiran. Memang tidak membantu dalam latihan, tapi bisa menghilangkan kelelahan. Soal harga…” Pelayan itu kembali menatap Li Shaolong sinis, lalu berkata, “Menurut saya, lebih baik jangan ditanya, karena harganya sangat mahal.”
Mendengar itu, Li Shaolong tersenyum dan berkata, “Tak masalah, sebut saja harganya. Kalau saya tidak mampu membayar, saya tidak akan merepotkan Anda lagi.” Sambil berkata demikian dengan sopan, ia mengelus kantong penyimpanan di pinggang dan membatin, “Untung saja setelah berjasa besar kemarin, Zhang Liang memberikan hadiah sepuluh ribu tael perak dari militer. Membeli dua tusuk konde seharusnya cukup.”
Seandainya ada yang tahu isi hati Li Shaolong, mungkin mereka akan kaget setengah mati: sepuluh ribu tael perak hanya untuk membeli dua tusuk konde? Itu namanya bukan membeli, tapi menghambur-hamburkan harta. Tapi bagi Li Shaolong, selama dua gadis itu bahagia, jangankan sepuluh ribu, seratus ribu tael pun ia tak akan ragu keluarkan. Bagi Li Shaolong, perasaan kedua gadis itu jauh lebih berharga dari harta apa pun. Jika nilainya diukur dengan uang, bahkan dirinya sendiri pun akan merasa hina.
Pelayan itu mendengarnya, diam-diam mencibir dalam hati, “Lihat saja penampilannya, mana mungkin mampu beli. Tapi baiklah, akan kukatakan saja biar dia kapok dan tahu toko kami bukan untuk sembarang orang.” Lalu ia berkata, “Kalau memang begitu, dengar baik-baik. Harga tusuk konde ini sangat mahal, delapan ribu tael perak.”
“Delapan ribu tael?” Li Shaolong tampak sedikit terkejut. Namun, bukan karena angka itu terlalu tinggi, melainkan karena ia mengira setelah semua penjelasan pelayan, harganya setidaknya dua puluh atau tiga puluh ribu tael. Ternyata hanya delapan ribu, artinya untuk dua tusuk konde pun ia masih sanggup membeli.
Pelayan itu melihat ekspresi kaget Li Shaolong dan merasa puas, seolah-olah semakin tidak mampu Li Shaolong, semakin besar pula keuntungannya. Dengan pura-pura ramah ia berkata, “Memang mahal, tapi kualitasnya sepadan. Di Ibu Kota, toko perhiasan dengan pengerjaan seteliti ini tidak lebih dari tiga. Jadi delapan ribu tael itu sudah murah.”
Sembari memuji-muji barangnya, dalam hati pelayan itu tidak yakin Li Shaolong benar-benar mampu membeli. Dia hanya ingin melihat wajah malu orang lain, bahkan merasa puas jika bisa mempermalukan orang yang menurutnya lebih miskin atau malang. Ada orang-orang yang memang seperti itu, merasa bahagia jika bisa menghina atau menertawakan kesulitan orang lain—sebuah keanehan jiwa yang menyimpang.
Melihat perubahan sikap pelayan yang tiba-tiba jadi ramah, Li Shaolong tentu paham maksudnya. Ia hanya tersenyum, mengambil satu tusuk konde lain yang sama indahnya dari etalase, lalu berkata, “Baik, saya beli dua ini. Tolong bungkuskan pakai kotak kain.”
Tanpa menawar, langsung minta dibungkus, sikap ini langsung membuat pelayan yang tadinya berniat melihat Li Shaolong malu jadi tertegun. Ia menatap kedua tusuk konde itu, lalu dengan tidak percaya berkata, “Kalau dua sekaligus, harganya jadi dua puluh ribu tael. Tusuk konde yang satu lagi ini dua belas ribu tael.”
Padahal, kedua tusuk konde itu sama-sama delapan ribu tael, dan diambil dari etalase yang sama. Tidak masuk akal jika harganya berbeda. Pelayan itu sengaja menaikkan harga empat ribu tael, berharap calon pembeli itu mundur teratur.
Namun, tanpa banyak bicara, Li Shaolong langsung mengambil kantong penyimpanannya dan menumpahkan tumpukan batangan perak ke meja, seratus tael per batang, total dua ratus batang, tidak kurang satu pun.
Melihat tumpukan perak di meja, pelayan itu terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka pria berseragam lusuh itu bisa mengeluarkan uang sebanyak itu. Bukannya menyesal telah bersikap sombong, pelayan itu malah menggerutu dalam hati: kenapa punya uang sebanyak ini tapi tidak beli baju yang lebih bagus? Gara-gara dia, aku jadi seperti badut. Sekarang malah mempermalukan diri sendiri, rasanya ingin mengubur diri saja.
Mungkin keributan di luar terlalu besar, sebelum pelayan sempat menghitung uangnya, seorang pria paruh baya berpakaian mewah keluar dari dalam. Melihat Li Shaolong berdiri di depan meja dengan tumpukan dua ratus batang perak, ia pun tercengang. Meski toko perhiasan itu sering didatangi bangsawan, jarang ada yang membayar dengan perak tunai sebanyak itu. Biasanya mereka membawa uang dari orang tua dalam bentuk surat utang, bukan uang tunai. Melihat Li Shaolong dengan uang sebanyak itu, pria paruh baya itu pun memandangnya dengan cara berbeda.
Namun, ketika matanya melirik dua tusuk konde di meja, ekspresinya berubah jadi marah. Ia membentak, “Berani sekali kau, pelayan rendahan! Berani-beraninya menaikkan harga seenaknya! Toko Perhiasan Tongxian sudah berdiri ribuan tahun di Ibu Kota, selalu jujur dan tak pernah menipu pembeli. Dua tusuk konde itu harganya enam belas ribu tael, kenapa kau minta dua puluh ribu? Mau mencoreng nama besar toko kita?” Sambil berkata, ia menampar pelayan itu.
Melihat kejadian itu, barulah Li Shaolong paham bahwa pelayan tadi sengaja menaikkan harga. Ia pun marah, namun di saat yang sama menaruh respek pada pria paruh baya itu. Kebanyakan pedagang akan mengambil untung sebanyak mungkin, jika bisa menjual dua puluh ribu, mereka tidak akan menjual enam belas ribu. Tapi pria itu berbeda, bahkan setelah uangnya diterima, ia tetap mengatakan harga sebenarnya. Hanya karena kejujuran itu saja, Li Shaolong sudah merasa hormat padanya.
Pesan untuk pembaca:
Maaf hari ini Hari Buruh, keluarga terus berdatangan, jadi tidak sempat menulis. Bab ini terlambat terbit, mohon maklum.