Bab Satu: Apa yang Harus Dilakukan Ketika Uang Sudah Habis
"Oh! Jadi kau bilang Mutiara Penahan Jiwa itu ada di tubuh ular raksasa ini!" tanya Li Shaolong dengan penuh semangat. Macan Perak mengangguk, membenarkan hal itu.
Mendengar kabar gembira itu, Li Shaolong tak lagi ragu sedikit pun. Ia tak peduli betapa gelapnya malam, segera mengambil kapak dan pedang panjangnya, lalu memulai petualangan mencari harta karun. Waktu pun berlalu di tengah usahanya membedah tubuh ular itu, dan tanpa terasa, semalam pun berlalu. Ketika fajar menyingsing, Li Shaolong menatap penuh kegembiraan pada tumpukan benda di tanah.
Satu butir mutiara hitam dan sepuluh butir mutiara kecil berwarna perak berserakan di tanah, sementara di sampingnya tergeletak jasad ular raksasa yang sudah setengah terbuka perutnya.
"Tuan muda! Mutiara hitam ini adalah Mutiara Penahan Jiwa yang kau cari, sedangkan sepuluh butir kecil itu adalah inti jiwa yang terbentuk dari ular raksasa ini setelah ribuan tahun menelan binatang liar di pegunungan. Orang biasa jika memakan satu butir saja, di bawah tingkat Lingdong, bisa langsung naik satu tingkat kekuatan."
"Satu tingkat?" Li Shaolong terkejut. Ia tahu betul apa artinya satu tingkat kekuatan. Chen Chen kini saja sudah berada di tahap akhir Ganling, jika naik satu tingkat lagi, ia akan langsung mencapai tahap akhir Qifen. Sungguh seperti terbang dengan pesawat!
"Ya ampun, ini benar-benar benda luar biasa untuk menciptakan ahli hebat!" Li Shaolong berseru kagum. Macan Perak tersenyum dan berkata, "Ular raksasa itu sudah berbuat banyak keburukan selama hidupnya, sekarang akhirnya memberikan sedikit manfaat juga. Tuan muda, apa kau tidak merasa tubuhmu ada perubahan?"
"Perubahan pada tubuh?" Li Shaolong menatapnya heran. Namun tiba-tiba, raut wajahnya berubah penuh keheranan, dalam hati ia berkata, "Benar juga, kenapa aku tidak sadar, semalaman aku membedah tubuh ular ini tanpa merasa lelah sedikit pun, ada apa ini!"
Pikiran Li Shaolong segera terbaca oleh Macan Perak, karena mereka memang saling terhubung secara batin. Macan Perak pun terkekeh, "Tuan muda, jangan lupa apa yang kita makan semalam."
"Maksudmu daging ular itu?" Dengan petunjuk itu, Li Shaolong langsung terperanjat. Ia benar-benar tak menyangka daging ular raksasa itu punya khasiat luar biasa, hanya dengan makan beberapa potong saja, daya tahannya meningkat drastis. Walau tidak menambah tenaga ledakan, ketahanan tubuhnya kini sungguh mengagumkan.
"Itulah sebabnya kukatakan tubuh ular ini penuh harta. Kalian bertarung lama sekali, dia bisa bertahan hanya dengan kekuatan tubuhnya melawanmu. Bayangkan betapa kuatnya badannya. Kau makan dagingnya, meski tidak membuat tubuhmu sekuat dia, setidaknya jauh lebih kuat daripada manusia biasa," kata Macan Perak sambil menepuk tanah, membuat tanah cekung cukup dalam. "Lihat, bahkan aku juga mendapat banyak manfaat!"
"Hahaha, benda ini luar biasa! Kalau aku makan terus selama sebulan, bukan main, aku akan jadi manusia terkuat di dunia!" Li Shaolong tertawa puas, hatinya dipenuhi kegembiraan.
"Jangan terlalu bermimpi, daging ini hanya berefek khusus pada konsumsi pertama kali. Tidak peduli berapa banyak yang kau makan, khasiatnya hanya sekali saja. Setelah itu, kau makan sebanyak apapun tidak ada lagi gunanya!" Mendengar penjelasan itu, semangat Li Shaolong langsung surut, ia menggaruk kepala dengan kesal, "Kenapa kau tak bilang dari tadi, kalau tahu begitu semalam aku makan lebih banyak lagi!"
Macan Perak tertawa, "Tuan muda, kau sudah makan cukup banyak. Daging ini, cukup makan satu kati, setelah itu tidak ada efek lagi. Malah semalam kau sempat membuang beberapa potong!"
Barulah Li Shaolong merasa lega. Ia berpikir sejenak lalu berkata, "Jangan sampai terbuang sia-sia. Aku tidak butuh, siapa tahu nanti berguna. Lebih baik kubawa pulang untuk Chen'er dan Ping'er, biar mereka juga makan sedikit. Hehehe!" Sambil berkata begitu, ia mengayunkan tangannya, langsung menyimpan semua jasad ular dan mutiara ke dalam kantong penyimpanan.
Melihat semua barang sudah disimpan, Macan Perak berkata, "Tuan muda, kenapa kau tidak menyerap satu butir mutiara jiwa itu? Itu bisa meningkatkan kekuatanmu cukup banyak. Dengan tingkatmu sekarang, walau efeknya tidak maksimal, setidaknya bisa membantumu naik ke level awal Lingdong. Bagaimana kalau kau serap satu butir sekarang?"
Li Shaolong menggeleng, "Latihan itu harus bertahap. Progresku sudah cukup cepat, tanpa mutiara jiwa pun tidak akan banyak berpengaruh. Benda ini lebih baik kusimpan, siapa tahu nanti ada gunanya."
"Saudara Macan..." Sampai di sini Li Shaolong terdiam sejenak, lalu berkata, "Harus kupanggil apa kau sebenarnya?"
Macan Perak tertawa, "Tuan muda, jangan panggil aku saudara Macan lagi. Aku sudah bilang, aku perempuan, dan aku punya nama, Bailing. Mulai sekarang panggil saja namaku."
"Bailing, nama yang bagus!" ujar Li Shaolong mengulangi. Saat itu ia baru menyadari, walau bulu Bailing tetap berwarna perak, kini tampak lebih berkilau, bahkan cenderung putih, lebih tepatnya perak muda. Dibanding saat mereka pertama bertemu, warna bulunya kini jauh lebih indah.
"Bailing, aku harus pergi dari sini. Di rumah masih ada orang yang menunggu untuk kuselamatkan. Kau bagaimana? Mau ikut pulang bersamaku?" Li Shaolong dengan penuh kasih mengelus kepala Bailing. Melihat harimau yang pernah mempertaruhkan nyawa demi dirinya itu, ia benar-benar berharap Bailing mau ikut.
Mendengar itu, Bailing mengaum, lalu berkata, "Tentu saja aku mau. Sejak mengakui tuan muda sebagai tuanku, selamanya aku akan mendampingimu, ke manapun kau pergi. Kecuali kau sendiri yang tidak menginginkanku lagi."
"Mana mungkin aku meninggalkanmu! Kalau begitu ayo kita segera berangkat!" Seru Li Shaolong, lalu melompat ke punggung Bailing yang gagah, sambil menyimpan semua harta dan jasad ular raksasa tadi. Dalam sekejap, manusia dan harimau itu pun menghilang di tengah hutan.
Setengah hari kemudian, seekor harimau putih keperakan menggendong seorang pemuda bertubuh kokoh muncul di luar Pegunungan Wancang. Mereka adalah Bailing dan Li Shaolong.
"Ah, akhirnya kita keluar juga!" Li Shaolong menikmati hangatnya sinar matahari yang menyentuh kulitnya, merasa seperti terlahir kembali. Saat itu, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan. Bailing mengaum keras, diikuti ringkikan panik seekor kuda. Li Shaolong langsung tersadar dan menepuk punggung Bailing, berkata, "Jangan takutkan dia, itu saudaraku si Kuda!"
"Saudara Kuda..." Bailing mendengar itu, cemburu berkata, "Kau ini, kenapa semua kau panggil saudara! Benar-benar..." Mendengar nada cemburu di suara Bailing, Li Shaolong tertawa dan menceritakan bagaimana ia datang ke sini, dan bagaimana kuda itu tak mau bergerak.
Setelah mendengarkan semuanya, Bailing akhirnya tersenyum, "Ternyata kuda ini sangat setia. Kalau begitu, biar dia ikut bersamamu." Ia lalu mengaum beberapa kali ke arah kuda hitam itu. Entah apa maksudnya, yang jelas setelah mendengar auman Bailing, kuda hitam itu berjalan perlahan mendekati Li Shaolong, tapi tetap menjaga jarak dari Bailing.
Melihat kuda itu ketakutan, Li Shaolong menepuk kepala Bailing, "Apa yang kau bilang padanya, sampai ia ketakutan begitu?"
Bailing mendengus, tampak dua semburan napas putih dari hidungnya, lalu dengan sedikit marah berkata, "Aku tidak menakutinya. Aku hanya bilang ia boleh ikut denganmu. Soal dia takut atau tidak, itu urusannya sendiri, aku tidak menakut-nakutinya."
Mendengar penjelasan Bailing, Li Shaolong menatapnya curiga, lalu melompat ke punggung kuda, memacunya maju sambil berkata, "Bilang saja tidak, pasti tadi kau menakutinya!"
"Hmph, aku tidak perlu menakuti makhluk rendahan seperti itu. Jangan kan berdiri di sampingku, mendekat saja dia pasti berlutut!" kata Bailing dengan bangga. Memang, makhluk buas seperti Bailing membawa aura penguasa sejak lahir, hewan biasa mana berani mendekat, apalagi Bailing juga punya aura pembunuh yang kuat, dan tubuhnya jauh lebih besar dari harimau biasa. Tak heran si kuda sampai ketakutan. Sekarang ia masih mampu mengangkut Li Shaolong sudah luar biasa, kalau bukan karena kesetiaannya, pasti sudah lari jauh dari tadi, mana mau berada di dekat makhluk menakutkan seperti Bailing.
"Baik, baik, kau memang hebat! Tapi jangan sampai menakuti kudaku, nanti kalau ia kabur, aku tak punya tunggangan, terpaksa aku akan menunggangimu. Kau tahu sendiri, laki-laki dan perempuan tak boleh berdekatan, nanti kalau ada harimau jantan yang suka padamu, lalu salah paham, aku tidak mau tanggung jawab!" Li Shaolong sengaja menggoda.
"Kau..." Benar saja, mendengar itu Bailing hampir saja melompat marah, namun teringat bagaimana Li Shaolong sebelumnya rela bertarung melawan ular raksasa demi dirinya, ia menahan amarahnya dan menenangkan diri, "Sudahlah, tidak marah, anggap saja omongannya angin lalu. Aku lepaskan saja." Sampai di sini, wajah Bailing memerah, buru-buru berkata, "Aduh, kenapa aku jadi kasar begini, apa-apaan bicara sembarangan seperti itu. Hush, hush!" Untunglah wajahnya tertutupi bulu, Li Shaolong tak bisa melihatnya, kalau tidak pasti ia sudah tertawa terpingkal-pingkal, melihat seekor harimau bisa tersipu malu.
Andai Li Shaolong tahu apa yang dipikirkan Bailing, mungkin ia akan tertawa lebih keras lagi!
Sampai di sini, perjalanan mereka pun hampir selesai. Dalam waktu singkat, mereka menempuh jarak lebih dari lima puluh li, hingga akhirnya tiba di luar Kota Sheyang. Mendadak Li Shaolong teringat uangnya sudah habis. Ia pun cemas, bagaimana bisa masuk kota tanpa uang, padahal pajak masuk kota harus tetap dibayar.
Ia mengernyit, bingung harus bagaimana. Saat itu suara Bailing terdengar, "Tuan muda, kenapa tidak masuk ke kota?"
"Ini... aku kemarin habis bertarung dengan ular raksasa sampai uangku hilang semua. Saking terburu-burunya, lupa mengambilnya lagi. Sekarang aku benar-benar tidak punya uang, bagaimana bisa bayar pajak masuk kota!" kata Li Shaolong, agak malu.
"Pajak masuk kota?" Bailing tampak bingung, "Apa itu pajak masuk kota?"
"Ya ampun!" Li Shaolong hampir tersungkur. Bailing ternyata tidak tahu apa itu pajak masuk kota. Tapi memang tak bisa disalahkan, ia hanya binatang buas penghuni pegunungan, tidak pernah hidup di kota, jarang bergaul dengan manusia, apa yang ia tahu hanyalah dari ingatan turun-temurun. Wajar saja ia tidak tahu pajak masuk kota itu apa. Li Shaolong hanya merasa Bailing sangat mengerti manusia, sampai lupa kalau dia tetap saja seekor binatang. Ia pun menjelaskan satu per satu tentang pajak masuk kota.
Setelah mendengarkan penjelasan itu, Bailing mencibir, "Tuan muda, saat melawan ular raksasa kau begitu berani, mengapa sekarang menghadapi pengawal kota saja jadi takut? Tak ada uang, apa masalahnya? Mana mungkin uang lebih berkuasa dari kepalan tangan? Kalau mereka melarang kita masuk, masa kita tidak masuk? Aku akan masuk sekarang juga, biar mereka tahu seperti apa rasanya dicakar olehku!"
Mendengar ucapan Bailing, Li Shaolong meneteskan keringat. Dalam hati ia bergumam, "Ya Tuhan, benar-benar seperti perempuan galak. Untung saja dia bukan manusia, kalau tidak, lelaki mana pun yang menikahinya pasti sial tujuh turunan. Salah-salah, bisa-bisa keturunan pun terancam..." Membayangkan itu, Li Shaolong bergidik, buru-buru mengalihkan pikirannya.