Bab 86: Satu Pria Menjaga Gerbang, Sepuluh Ribu Orang Tak Dapat Membuka
Para prajurit Jianyang yang bertugas menjaga kota bersorak kegirangan ketika melihat Liu Lu, semangat mereka pun langsung membara. Dengan tombak dan belati di tangan, mereka bertahan tanpa mundur selangkah pun, menahan mati-matian pasukan Xiyue yang berusaha memanjat tembok lewat tangga awan.
Sasaran Liu Lu bukanlah prajurit Xiyue biasa, melainkan tujuh murid Gunung Mingxue yang pertama kali melompat ke atas tembok. Dengan gerakan ringan, ia menjejak gundukan anak panah dan menerjang ke arah murid yang paling dekat dengannya. Tubuhnya belum tiba, namun hembusan angin dari telapak tangannya lebih dulu menyambar, menciptakan bayangan kuat yang membuat mata berkunang-kunang karena kecepatannya.
“Kau?” Murid Gunung Mingxue itu terkejut dan segera mundur, sembari menembakkan beberapa butir Pil Surya Membara.
Pil Surya Membara dayanya jauh di bawah Pil Ledak Vajra. Namun Pil Ledak Vajra sangat sulit dibuat, bahkan kakak sulung seperti Yunhai dalam setahun hanya mampu membuat dua atau tiga tungku saja. Karenanya, mereka tak akan menggunakannya kecuali dalam keadaan benar-benar genting.
“Duar! Duar! Duar!” Pil Surya Membara meledak berturut-turut, memancarkan cahaya perak menyilaukan di atas tembok. Murid Gunung Mingxue itu pun terpaksa memejamkan mata agar tak terluka oleh silaunya cahaya.
Namun, kilatan perak dari Pil Surya Membara hanya bertahan sekejap saja. Begitu ia membuka mata kembali, Liu Lu telah berdiri tepat di hadapannya, nyaris menempel, matanya menatap lebar tanpa sedikit pun terganggu oleh silau perak tadi.
Penyebabnya sederhana, karena pengaruh makhluk spiritual Pemutus Jiwa Salju Terbang membuat gerakan Liu Lu jauh melampaui manusia biasa di dunia persilatan. Sebelum Pil Surya Membara jatuh ke tanah, ia sudah lebih dulu bergerak cepat ke hadapan murid Gunung Mingxue itu. Pil-pil itu meledak di belakangnya bahkan tanpa sempat ia lihat.
“Tidak boleh…” suara murid itu bergetar karena ketakutan.
“Maaf, kau harus mati.” Wajah Liu Lu tanpa belas kasihan sedikit pun. Dengan satu gerak tegas ia mencengkeram kepala murid itu dan membantingnya keras ke gundukan anak panah di samping.
“Pletak!” Kepala itu pecah seperti semangka masak terhempas ke tanah, suara tulang retak mengiringi semburan darah dan otak. Setelah menuntaskan nyawa lawan, Liu Lu segera melepas tubuhnya dan menerjang murid Gunung Mingxue berikutnya.
Enam murid Gunung Mingxue lain yang melihat rekan mereka tewas mengenaskan, hendak menolong namun sudah terlambat. Mereka buru-buru saling mendekat, bersiap menghadapi Liu Lu dengan kekuatan bersama. Namun Liu Lu seperti dewa kematian yang keluar dari neraka, aura membunuhnya begitu kuat hingga menghadapi enam orang pun ia tak menunjukkan rasa gentar sedikit pun.
Keenam murid Gunung Mingxue itu serempak menelan Pil Esensi Abadi, lalu masing-masing mengeluarkan satu Pil Ledak Vajra dan menembakkannya ke arah Liu Lu, melingkupi area sepuluh langkah di sekitarnya.
“Bum! Bum! Bum!” Ledakan dahsyat mengguncang langit dan bumi, asap dan debu beterbangan. Tiga gundukan anak panah di tembok Jianyang hancur, puluhan prajurit Xiyue dan Jianyang tewas mengenaskan.
Wajah murid-murid Gunung Mingxue itu menampakkan senyuman, nyaris saja mereka saling menepuk tangan. Dengan kekuatan Pil Vajra, bahkan seekor gajah pun akan hancur lebur. Namun ketika debu ledakan menghilang, semua orang di atas tembok tertegun. Liu Lu meringkuk di tanah, seluruh tubuhnya dilindungi selaput tipis transparan, nyaris tak terluka sama sekali.
Sorak sorai prajurit Jianyang pun membahana, mereka serempak berseru memuja Liu Lu.
Liu Lu perlahan bangkit, selaput yang membungkus tubuhnya pun perlahan terbuka. Suasana di atas tembok kembali hening, tak ada yang menyangka ternyata selaput itu adalah sepasang sayap indah yang luar biasa.
Wajah para murid Gunung Mingxue pucat pasi, ketakutan memenuhi hati mereka. Mereka sama sekali tak paham, makhluk macam apa Liu Lu ini, mengapa ia memiliki sayap, apakah benar ia adalah iblis yang merangkak keluar dari neraka? Tatapan Liu Lu yang dingin mengitari mereka, dan tiba-tiba, mereka merasa pandangan menjadi buram—Liu Lu menghilang dari tempatnya.
“Tidaaak…” salah satu murid Gunung Mingxue, Yunying, adik kesepuluh Yunhai, tiba-tiba menjerit pilu. Beberapa yang lain menoleh, namun Yunying telah lenyap.
“Gedubrak!” Saat mereka panik, tiba-tiba seseorang jatuh dari atas, menghantam tanah di kaki mereka. Seperti kelinci yang ketakutan, mereka meloncat mundur. Ternyata yang jatuh adalah Yunying, namun lehernya patah, darah mengalir dari tujuh lubang di wajahnya. Bahkan Dewa Emas Agung tak mampu menyelamatkannya.
“Dia di atas…” Yun Tao, yang kelima, baru saja tersadar. Ia menjerit dan langsung melompat turun dari tembok Jianyang.
Para saudara seperguruan lainnya pun tersadar. Bersama-sama pun mereka tak sanggup menghadapi Liu Lu. Jika tak segera lari, tak akan ada yang selamat. Begitu murid Gunung Mingxue mundur, prajurit Jianyang kembali menguasai tembok, menjatuhkan tangga awan pasukan Xiyue, dan menyembelih siapa saja yang masih mencoba naik.
Tujuh murid Gunung Mingxue datang, kini hanya lima yang kembali. Sambil berlari ke arah perkemahan Xiyue, mereka beberapa kali menoleh ke langit, cemas Liu Lu akan mengejar. Namun baru berlari sejenak, terdengar suara dingin dan akrab di telinga mereka, “Mau ke mana kalian, sampah?”
“Kakak Sulung!” Mendengar suara Yunhai, mereka seperti mendapat suntikan semangat dan segera berhenti.
Yunhai muncul entah dari mana, seperti siluman, berdiri di belakang adik-adiknya dengan wajah lebih kelam dari kematian.
“Kakak, Yunying dan Yunling mereka…” Yun Tao buru-buru hendak melapor.
“Tak perlu bicara!” potong Yunhai dengan suara menggelegar, tanpa sedikit pun duka atas kematian adiknya. “Kalian selama ini malas dan tak mau maju, kekuatan rendah, sekarang malah mempermalukan perguruan. Masih ada yang mau diomongkan?”
Kelima adik itu menunduk malu, hati mereka membara karena dimarahi. Meski selama ini mereka tampak patuh pada Yunhai, sebenarnya tak ada yang benar-benar menghormatinya. Yunhai hanya mengandalkan usia dan senioritas untuk bertindak semena-mena. Sewaktu ia seumur mereka dulu, mungkin kekuatannya bahkan tak sebaik mereka.
“Kakak, lalu kota Jianyang…” Setelah beberapa saat, Yun Tao memberanikan diri bertanya.
“Hmph, tak perlu kita urus lagi. Si bocah dari Gunung Chuanyun sudah ada yang akan menghadapinya. Dia akan mendapat balasannya.” Yunhai menyeringai dingin, menatap ke medan perang di dekat kota Jianyang dengan dendam membara di wajahnya.
Memang, Liu Lu sedang menghadapi masalah besar. Ia tidak mengejar murid Gunung Mingxue yang melarikan diri, karena harus membantu pasukan Jianyang mempertahankan kota. Tanpa bantuannya, Jianyang bisa direbut kapan saja oleh pasukan Xiyue. Ia mondar-mandir di sekitar gerbang selatan, menghancurkan tangga awan dan menara pengepung milik Xiyue, lalu melempar prajurit Xiyue yang sempat naik ke tembok hingga tewas. Dalam waktu singkat, semangat pasukan Jianyang membumbung tinggi, sementara tiga puluh ribu pasukan Xiyue sekalipun tak mampu melangkah lebih jauh.
Chu Yuntian dan para panglima juga kembali ke tembok, memimpin langsung pertempuran. Sebagian warga kota bahkan membongkar rumah mereka sendiri, mengangkut batu, genteng, dan kayu untuk dijadikan senjata, melemparkannya ke pasukan Xiyue di bawah tembok hingga membuat mereka meraung kesakitan.
Namun, saat itu juga Liu Lu tiba-tiba mencium bau amis darah yang sangat pekat—bukan aroma darah biasa di medan perang, melainkan bau amis yang begitu menyengat dan memualkan.