Bab Tiga: Sampai Jumpa Lagi, Saudara Kura-Kura
Tatapan Guru Linlin menyiratkan secercah keheranan; ia merasa murid utamanya kini semakin matang dan bijaksana, membuat hatinya dipenuhi rasa bangga.
“Guru, murid ini masih bodoh. Bolehkah bertanya, apa makna penting dari menjinakkan binatang spiritual?” tanya Liu Lu dengan nada tulus, meski sebenarnya ia bertanya demi para adik seperguruannya.
“Hmm, Lu, kau memang berhati-hati dan teliti. Kelak pasti menjadi sosok besar,” puji Guru Linlin pada Liu Lu, lalu wajahnya berubah serius. “Anak-anakku, kalian harus ingat baik-baik, binatang spiritual itu layaknya tangan dan kaki sendiri. Ia akan terhubung dengan darah dan jiwa pemiliknya. Bila binatang spiritual itu tertimpa bencana, pemiliknya pun sulit menghindar. Selama binatang hidup, pemiliknya hidup; bila binatang mati, pemiliknya pun binasa. Jadi, jangan pernah lengah. Perlakukan binatang spiritual sebagaimana kalian memperlakukan diri sendiri.”
Selain Liu Lu, yang lainnya tertegun, tubuh mereka merasakan hawa dingin yang merayap. Tidak heran selama ini guru selalu menjaga Kirin Api berkaki empat dan berekor tiga miliknya dengan sangat hati-hati, nyaris tak pernah terpisah. Rupanya, nasib binatang spiritual dan pemiliknya benar-benar saling terikat, satu mati, yang lain pun pasti celaka walau berada sejauh ujung dunia.
Meski sedikit terkejut, hal itu tak mampu meredam semangat mereka untuk mendapatkan binatang spiritual. Melihat Liu Lu perlahan berjalan ke tepi danau, wajah mereka kembali berseri, lalu berkelompok riang mencari binatang spiritual yang mereka idamkan. Membayangkan kelak selalu ditemani binatang spiritual, kegembiraan mereka tak terbendung.
Setiba di tepi danau, Liu Lu tidak tergesa mencari binatang spiritual. Ia justru mengitari danau perlahan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah mengelola taman binatang spiritual, sehingga ia hafal benar di mana tiap jenis binatang biasa berada di tempat ini. Namun, kini ia tengah mempertimbangkan binatang spiritual mana yang paling cocok untuk melindungi perguruan dari tangan jahat.
Setelah berpikir panjang, ia melangkah ke sebuah batu besar di seberang danau, menghela napas pelan, lalu menatap seekor kura-kura mungil yang sedang berjemur di atasnya.
Kura-kura kecil itu sedang asyik menikmati hangat matahari, kepala dan keempat kakinya masih tertarik masuk ke dalam tempurung, ukurannya pun hanya sebesar telapak tangan. Di kehidupan lalu, Liu Lu pernah menjadikannya binatang spiritual, berharap memperoleh usia panjang luar biasa, namun malah membawa malapetaka pada perguruan. Di kehidupan ini, ia tak ingin jatuh pada kesalahan yang sama.
Seolah sadar, begitu Liu Lu mendekat, kura-kura kecil itu mengeluarkan kepala, menatapnya dengan rasa ingin tahu.
“Aduhai, sobat kura-kura.” Liu Lu membungkuk, mengelus tempurungnya perlahan. “Jodoh kita di kehidupan lalu telah usai. Semoga di kehidupan ini kau hidup damai sampai tua, tak lagi terseret ke dalam pertumpahan darah dunia persilatan.”
Entah mengerti atau tidak, yang jelas baru saja Liu Lu selesai berkata, kura-kura itu kembali menarik kepala masuk ke tempurung, melanjutkan berjemur. Seperti kata Liu Lu, kini takdir mereka memang telah berbeda.
Mengingat pengalaman di kehidupan lalu, Liu Lu diliputi perasaan campur aduk. Ia menegakkan badan, meneliti keadaan taman binatang spiritual, namun di matanya tak ada pemandangan indah, hanya letak tiap jenis binatang yang terpetakan jelas.
Di dunia persilatan masa kini, Gunung Penembus Awan bahkan tak dapat disandingkan dengan dua sekte besar dan lima aliran utama, bahkan dibandingkan perguruan kecil lainnya pun tetap tergolong miskin dan lemah. Murid di gunung itu tak sampai seratus orang, dan bila dikecualikan bagian pekerja, yang benar-benar menekuni ilmu hanya sekitar empat puluh orang. Bila bahaya datang, selain Guru Linlin sang kepala perguruan, murid lain hampir tak mampu mengorganisasi perlawanan berarti.
Andai saja di kehidupan lalu Gunung Penembus Awan memiliki beberapa ahli tingkat tinggi, bahkan sekadar tingkat Bayi Roh, niscaya Gunung Salju Gelap tak berani mengusik mereka. Kini, Gunung Penembus Awan bagaikan orang sakit parah. Untuk menyembuhkannya, diperlukan obat mujarab—dan Liu Lu adalah obat mujarab itu.
Sebelum melintasi waktu, ia telah bersumpah keras, andai diberi kesempatan kedua, ia takkan ragu menempuh jalan gelap sekalipun.
Memikirkan itu, pikiran Liu Lu semakin jernih. Ia menggertakkan gigi, melangkah tegap menuju hutan di timur danau.
Di tepi hutan itu, tergantung papan kayu bertuliskan empat aksara besar yang sudah pudar, “Dilarang Masuk Orang Asing.” Tempat ini adalah wilayah terlarang di taman binatang spiritual; murid biasa dilarang masuk, bahkan Guru Linlin pun harus berhati-hati, sebab di sana dikurung binatang-binatang buas nan berbahaya.
Berkat ingatan masa lalunya, Liu Lu masuk lebih dalam ke hutan, telinganya beberapa kali menangkap raungan menakutkan dari binatang liar. Pohon-pohon raksasa menjulang, dedaunan lebat menutupi matahari, suasana menjadi gelap dan dingin. Angin sepoi membawa hawa sejuk yang membuat bulu kuduk berdiri.
Liu Lu berjalan hampir setengah jam, beruntung tidak bertemu binatang buas ataupun burung pemangsa. Namun, sekalipun bertemu ia takkan gentar, sebab justru itulah tujuannya datang.
Akhirnya, ia tiba di bawah sebuah pohon besar yang memerlukan sepuluh orang dewasa untuk merangkul batangnya. Pohon itu ditumbuhi banyak benjolan, puncaknya tak tampak mata, dan tajuknya mengembang seperti payung raksasa, menghalangi sinar mentari. Hanya secercah cahaya menembus di antara dedaunan.
Udara di bawah pohon itu terasa aneh, bercampur bau amis dan anyir yang membuat perut mual.
Setelah sedikit ragu, Liu Lu mengeluarkan pisau kecil dari pakaiannya, menggulung lengan kiri, dan mengiris lengan bawahnya hingga mengalir darah segar yang jatuh ke tanah. Sakitnya membuat ia meringis.
Tak lama, bau amis di udara makin pekat. Tiba-tiba, dari atas pohon, dedaunan terbuka dan muncullah kepala ular raksasa yang menakutkan. Sebiji matanya saja sebesar kepala Liu Lu, kulit putih tanpa sisik, empat taring panjang melengkung dan berwarna kebiruan, jelas-jelas mengandung racun mematikan.
Ular putih besar itu perlahan mendekat ke Liu Lu. Ketika tubuhnya menjulur keluar hampir satu depa, tampaklah sepasang sayap transparan di punggungnya yang mengepak begitu cepat hingga hanya terdengar suara berdengung. Dialah makhluk paling terkenal di taman binatang spiritual—“Salju Terbang Pemutus Jiwa.”
Di tiga alam, Salju Terbang Pemutus Jiwa menyimpan banyak kisah menakutkan. Konon, dua ratus tahun lalu, seekor Salju Terbang Pemutus Jiwa yang telah menjadi siluman masuk ke sebuah negeri kecil di selatan. Dalam waktu kurang dari setengah bulan, seluruh negeri itu musnah, tak tersisa satu jiwa pun.
Gerakannya yang lincah dan cepat, sepasang sayap di punggungnya yang mampu membawanya terbang secepat kilat, serta racun pada taringnya yang mematikan dalam sekali gigitan, menjadikannya raja racun sejagat. Delapan belas pendekar tingkat tinggi pernah membutuhkan waktu hampir setengah tahun untuk menaklukkan satu ekor Salju Terbang Pemutus Jiwa yang telah banyak berbuat kejahatan itu di tepi Laut Selatan, dan enam di antaranya turut menjadi korban.
Gunung Penembus Awan memang bukan aliran besar, namun Guru Linlin selalu mengajarkan kebaikan dan menuntut murid-murid menempuh jalan lurus. Karena itu, di kehidupan lalu, Liu Lu tak berani menggunakan Salju Terbang Pemutus Jiwa sebagai binatang spiritual—makhluk buas itu terlalu haus darah, bertentangan dengan langit dan bumi.
Namun, di kehidupan sekarang, Liu Lu telah mantap mengambil keputusan. Jika ingin membangkitkan perguruan, ia mesti memiliki kekuatan luar biasa. Soal benar atau salah, itu hanyalah kata-kata belaka. Di tiga alam ini, yang kuatlah yang berkuasa. Selama kau menjadi yang terkuat, kaulah yang menentukan mana jalan yang benar.