Bab Lima Puluh Tujuh: Gemuruh Api dan Asap Perang di Bawah Kota Jianyang
Izinkan aku memberitahu kalian semua sebuah kabar lebih awal: minggu depan, novel ini akan mendapat rekomendasi resmi pertamanya dari Qidian dan masuk ke dalam daftar rekomendasi Tiga Sungai Qidian. Semua ini berkat dukungan kalian selama ini, untuk itu aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
************************
Di dunia ini, jumlah sekte dan perguruan yang menapaki jalan keabadian tak terhitung banyaknya. Hanya di lingkup dua Sekte dan Lima Ajaran saja, sudah tak terhitung banyaknya para ahli yang mampu terbang di udara. Manusia biasa mana tahu, di langit di atas kepala mereka, setiap hari ada banyak ahli sejati penapaki jalan keabadian yang menunggang awan, mengendarai angin, atau melesat di atas pedang, lalu-lalang dengan tergesa-gesa.
Menurut tingkat penguasaan Liu Lu saat ini, seharusnya ia belum mampu terbang. Namun ia memiliki seekor binatang spiritual yang dapat terbang, dan binatang itulah yang membagikan kemampuan terbangnya pada Liu Lu, sehingga di punggungnya tumbuh sepasang sayap. Namun bila ia benar-benar terbang di langit, lalu bertemu dengan seorang ahli tinggi dari salah satu sekte, dan orang itu melihat sayap putih mematikan di punggungnya, mungkin tanpa basa-basi akan langsung menebasnya atas nama hukum langit.
Karena itu, Liu Lu sangat jarang terbang kecuali benar-benar terpaksa, dan kalaupun terbang, ia tidak pernah melayang terlalu tinggi. Dengan kekuatan yang ia miliki sekarang, ia belum cukup kuat untuk menandingi para “manusia” yang berada di langit.
Malam semakin larut, Liu Lu masih memikirkan cara untuk masuk ke Kota Jianyang. Mungkin menyelinap masuk pada tengah malam, saat tak ada orang, adalah sebuah pilihan, namun tetap saja ia harus berhati-hati...
Tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda dari luar kuil, kuda Liu Lu tampak gelisah, keempat kakinya menghentak-hentak tanah. Liu Lu melirik ke luar pintu kuil, di luar gelap gulita, mungkin ada anjing liar atau sejenisnya yang membuat kudanya ketakutan. Namun ia malas keluar untuk memeriksanya, karena anjing liar, sekelaparan apapun, takkan berani menyerang seekor kuda.
“Tolong... ada orang... ada orang...?” Saat itu, terdengar beberapa suara lemah dan panik. Sebuah sosok dengan langkah tertatih-tatih masuk ke kuil dewa gunung dan langsung terjatuh di tanah.
Liu Lu tertegun sejenak, memandang orang yang berada di depan pintu kuil itu, seluruh tubuhnya bermandikan darah, mengenakan zirah kulit prajurit, dan di tangannya masih tergenggam sebilah pedang patah. Liu Lu tetap tak bergerak, hanya menatap sosok itu dengan diam. Setelah beberapa saat, orang itu perlahan mengangkat wajahnya, mata yang memerah oleh darah menatap lurus pada Liu Lu.
“Cepat... tolong... tolong serahkan ini...” Napasnya tersengal-sengal, tampaknya ajal sudah di ambang pintu.
Baru saat itu Liu Lu melompat turun dari meja altar, menghela napas panjang lalu berjalan mendekat. Ia membalikkan tubuh orang itu, terlihat ada lubang besar di dada, darah masih mengucur deras, wajahnya pucat pasi, hidupnya jelas tinggal beberapa helaan napas. Kecuali ada pil kebangkitan para dewa, siapa pun takkan mampu menyelamatkannya.
Wajah orang itu tampak tegas dan keras, sekali lihat sudah tahu dia lelaki sejati. Tiba-tiba ia menggenggam tangan Liu Lu, menyerahkan gulungan kertas yang berlumuran darah, segel lilin merah masih menempel di ujungnya.
“Tolong... serahkan ini... ke Kota Jianyang...”
“Jangan bicara dulu.” Liu Lu menutup mulutnya dengan satu tangan, tangan satunya menekan dada orang itu dan mengalirkan sedikit energi sejatinya. Meski tak bisa menyelamatkan nyawanya, setidaknya bisa memperpanjang hidupnya sejenak.
Setelah menerima energi sejati dari Liu Lu, wajah orang itu pun sedikit membaik, rona merah kembali muncul di pipinya—gejala yang biasa disebut sebagai cahaya terakhir sebelum mati.
“Tuan... Tuan pendeta... aku... aku tak akan selamat, tapi surat perang ini harus sampai ke tangan Jenderal Chu Yuntian di Kota Jianyang. Jika di kehidupan mendatang aku harus menjadi sapi atau kuda, aku pasti akan membalas kebaikanmu...” Dalam matanya terpancar harapan dan kepasrahan terakhir, inilah permintaan terakhir seorang manusia sebelum menghembuskan nafas.
“Ya, aku berjanji padamu.” Liu Lu sempat ragu sejenak, lalu mengangguk dan menyelipkan gulungan surat ke dadanya. “Siapa kau, kenapa sampai begini?”
“Aku anggota Pasukan Pengintai, penjaga Kota Jianyang, namaku Li Shuai. Atas perintah Jenderal Chu, aku menyelidiki pergerakan musuh. Tapi di pasukan kami ada pengkhianat, seluruh pasukan habis terbantai, hanya aku yang berhasil kembali. Katakan pada Jenderal Chu, Li Shuai... tak bisa lagi melayaninya... jasaku hanya bisa kubalas di kehidupan lain. Oh, langit... betapa aku menyesal...” Saat membicarakan nasibnya, air mata Li Shuai mengalir deras, lelaki yang rela berdarah di medan perang namun menahan air mata, kini hatinya penuh dendam dan penyesalan.
Dengan teriakan penuh kebencian, Li Shuai pun lunglai dalam pelukan Liu Lu. Ketika Liu Lu memeriksa dadanya, lelaki baja itu telah menghembuskan nafas terakhir dengan penuh dendam.
Liu Lu duduk menatap tubuh Li Shuai yang perlahan mendingin di pelukannya. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri, sakit yang tak bisa dijelaskan.
Di kehidupan sebelumnya, tiga puluh lebih saudara seperguruan dari Gunung Mingxue, dalam pelarian dipimpin oleh Pendeta Hitam, berlindung di Puncak Naga Gunung Chuanyun. Pendeta Linglin tanpa ragu menyambut mereka, memberi penghiburan, menyediakan tempat tinggal dan makanan, bahkan menyerahkan aula utama tempat tinggalnya kepada Pendeta Hitam.
Siapa sangka, Pendeta Hitam benar-benar seperti namanya, berhati hitam sehitam malam. Dalam waktu setengah bulan, ia membalas budi dengan memasang jebakan keji dan memusnahkan seluruh penghuni Gunung Chuanyun. Saat itu, perasaan Liu Lu sama persis seperti yang dirasakan Li Shuai barusan, penuh kemarahan dan dendam pada langit yang buta, pada kenyataan bahwa orang baik seringkali tak beruntung.
Hanya saja, Liu Lu masih beruntung karena ia terlahir kembali, sedangkan Li Shuai hanya bisa mati dengan mata terbuka, membawa dendam hingga ke alam baka.
Li Shuai adalah seorang prajurit di Pasukan Pengintai; seluruh anggotanya adalah saudara sehidup semati, siapa sangka di antara mereka ada pengkhianat. Bagi seorang prajurit, mati di medan perang dengan tubuh terbungkus kulit kuda adalah kehormatan, tapi tewas di tangan saudara sendiri, arwah para korban pasti takkan tenang.
“Tenanglah, aku akan mengantarkan surat perang ini ke Kota Jianyang,” gumam Liu Lu, lalu menutup kedua mata Li Shuai yang membelalak.
Saat fajar, Liu Lu menggali lubang di belakang kuil dewa gunung dan menguburkan Li Shuai seadanya. Ia membacakan beberapa ayat Kitab Kebajikan Alam Semesta di depan makam, berharap arwah sang lelaki baja bisa beristirahat dengan tenang dan bereinkarnasi. Setelah itu, Liu Lu menaiki kudanya, mengayunkan cambuk dengan keras ke perut kuda. Kuda itu meringkik kesakitan dan melesat dengan keempat kaki menuju arah Kota Jianyang.
Tak sampai dua jam, Liu Lu sudah tiba di lereng bukit sejauh sepuluh li dari Kota Jianyang. Dari tempat tinggi, ia melihat Kota Jianyang telah dikepung rapat di tiga sisi—timur, barat, dan selatan—oleh pasukan musuh, membentuk lingkaran besi yang bahkan seekor lalat pun tak bisa lolos. Pasukan musuh berkemah dua li di luar kota, jumlahnya entah berapa, yang jelas tenda-tenda mereka membentang sejauh mata memandang.
Gerbang kota tertutup rapat, bendera berkibar di atas tembok, para penjaga berdiri tegak seperti tombak, tangan menggenggam busur dan pedang pendek, siap berperang kapan saja.
Liu Lu tak mungkin menembus kepungan musuh yang rapat itu. Ia hanya bisa menunggu. Hingga sore hari, tiba-tiba dari arah perkemahan musuh terdengar tabuhan genderang perang yang menggelegar, barisan prajurit mengalir keluar seperti air bah, menggotong tangga awan dan mesin batu besar, lalu melancarkan serangan hebat ke gerbang timur Kota Jianyang.
Sepanjang hidupnya, termasuk di kehidupan lalu, inilah kali pertama Liu Lu benar-benar menyaksikan perang manusia secara langsung. Ia tak kuasa menahan debar jantungnya, seolah dirinya sendiri ikut terjun ke medan laga.
Para penjaga di atas tembok kota mulai melepaskan anak panah, hujan panah deras hingga menutupi cahaya matahari, membuat barisan depan musuh roboh seketika. Namun mereka maju tanpa gentar, dipacu genderang perang, barisan belakang naik menindih yang gugur di depan, bahkan ada yang berlari di atas tubuh kawannya yang telah tewas, terus maju hingga mencapai dasar tembok kota.
Tangga awan pun didirikan, belasan tangga menancap ke tembok. Para penjaga telah siap menghadapinya, mereka menuangkan tong-tong penuh minyak panas dari atas, menyiramkan ke bawah melalui tangga itu. Prajurit musuh yang ada di bawah tangga pun menjerit kesakitan, kulit mereka melepuh, dan yang terpenting, tangga yang terkena minyak menjadi licin dan tak bisa dipanjat lagi. Mau mencoba naik pun sia-sia.