Bab Lima Puluh Sembilan: Kau Bantu Aku Menjaga Kota, Aku Beri Kau Perak
Atas permintaan seseorang, Liu Lu dengan setia menuntaskan urusan orang lain. Ia terharu oleh nasib yang menimpa Li Shuai, sehingga bersedia memenuhi keinginan terakhirnya sebelum ajal menjemput. Kini, surat militer itu sudah diserahkan kepada Chu Yuntian, dan tugas Liu Lu pun telah usai. Senja hampir tiba, waktu yang tepat baginya untuk terbang meninggalkan Kota Jianyang dan menyeberangi Sungai Lai.
Namun, pada saat itu, seorang prajurit tiba-tiba bergegas masuk ke ruang kendali militer, berlutut di hadapan Chu Yuntian.
“Jenderal, musuh telah menabuh genderang emas, mereka akan mundur.”
“Apa?” Chu Yuntian tertegun, sementara yang lain berseri-seri kegirangan. Ini jelas kabar yang sangat menggembirakan.
Chu Yuntian telah banyak makan asam garam peperangan, ia tidak mudah terperdaya oleh musuh. Keningnya berkerut, ia menunduk berpikir sejenak, tak habis pikir mengapa musuh tiba-tiba memilih mundur. Padahal, sang panglima musuh pun bukan orang bodoh. Mana mungkin mereka tak tahu bahwa Kota Jianyang sudah berada di ujung tanduk, hampir tak sanggup bertahan?
Jika saat ini mereka mundur, maka serangan yang barusan mereka lakukan akan sia-sia, segala pengorbanan dan lelah mereka terbuang percuma. Mana mungkin komandan musuh melakukan kesalahan serendah itu?
Para pejabat sipil dan militer lainnya segera mengucapkan selamat kepada Chu Yuntian, mengatakan bahwa dewa melindungi Kota Jianyang. Liu Lu malas mendengarkan ocehan mereka. Toh urusannya sudah selesai, melihat Chu Yuntian pun hanya diam membisu, ia pun memilih keluar tanpa pamit, berjalan menuju gerbang utara kota.
Di luar gerbang utara mengalir Sungai Lai. Sungainya tidak lebar, menyeberang naik perahu dari tepi ini ke seberang hanya makan waktu setengah jam lebih sedikit. Kalau Liu Lu terbang melintasinya, mungkin cukup setengah batang dupa saja. Kota Jianyang dikepung di tiga sisi, hanya di luar gerbang utara tak ada tentara musuh, jadi Liu Lu mudah saja naik ke tembok utara. Saat itu matahari terbenam semerah darah, seolah mengumandangkan lagu duka bagi para prajurit yang gugur dalam pertempuran tadi.
Sungai Lai mengalir deras ke timur, ombaknya yang terpancar dalam cahaya senja tampak memerah seperti darah. Liu Lu menatap jauh ke arah jalan penghubung di seberang sungai. Waktunya masih terlalu awal, ia memutuskan menunggu hingga langit benar-benar gelap, baru akan menyeberang sungai dengan terbang. Berdiri di atas tembok, angin senja menerpa jubah Tao-nya, menambah rasa pilu di hatinya. Di luar tembok, semak belukar tumbuh liar, di antara beberapa bangunan reyot yang hampir runtuh.
“Tuan pembawa surat militer... Tuan pembawa surat militer... Tuan pembawa surat militer...” Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar teriakan panik yang terbawa angin malam. Dan suara itu bukan satu orang, melainkan banyak orang yang berteriak serempak.
Liu Lu menoleh, terlihat di bawah tembok banyak prajurit berlarian seperti lalat kehilangan arah, berteriak-teriak sambil mencari. Yang mereka cari tentu saja Liu Lu.
“Kalian sedang mencariku?” Liu Lu mengerutkan kening, lalu melompat turun dari tembok. Jubahnya berkibar saat ia mendarat di hadapan para prajurit itu.
Melihat Liu Lu, para prajurit itu girang bukan kepalang, langsung mengerubunginya.
“Tuan, Jenderal Chu memanggilmu.”
“Jenderal Chu...” Liu Lu agak bingung. Surat militer sudah ia serahkan pada Chu Yuntian, apa lagi yang hendak dicari?
“Kami berpencar mencari ke seluruh kota, tak menyangka tuan ternyata ada di sini. Ayo segera ikut kami!” Para prajurit itu tampak sangat tergesa, sebab di masa perang seperti ini, setiap perintah jenderal harus segera dilaksanakan.
Liu Lu melihat ke langit, waktu masih cukup. Mungkin ada kesalahan pada surat militer itu, dan demi menuntaskan wasiat Li Shuai, ia harus mengerjakannya dengan sempurna. Maka ia pun mengikuti para prajurit itu kembali ke kantor garnisun.
Masih di ruang kendali militer, namun kini tak ada orang lain, hanya Chu Yuntian sendirian duduk di balik meja, wajahnya gelap seperti awan sebelum badai, di sampingnya berdiri seorang prajurit muda. Mata Liu Lu yang tajam menangkap sebuah peti kayu di samping meja, yang sebelumnya belum ada saat ia datang.
“Tuan, silakan duduk di sini,” ujar Chu Yuntian singkat, hanya berdiri dan memberi salam, mempersilakan Liu Lu duduk di depan meja.
Prajurit muda di samping Chu Yuntian segera membawakan kursi untuk Liu Lu, kemudian mundur keluar dari ruangan. Liu Lu duduk dengan tenang di hadapan Chu Yuntian, hanya sebuah meja yang memisahkan mereka. Chu Yuntian menghela napas dalam-dalam.
“Tuan, apakah engkau sudah membaca isi surat militer ini?” tanya Chu Yuntian, wajahnya semakin serius.
“Surat itu tersegel lilin merah, aku pun tak punya kemampuan menembus pandang, bagaimana bisa tahu isinya?” Liu Lu menganggap pertanyaan Chu Yuntian konyol.
“Ah, jangan salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud menuduh. Jika memang belum pernah membaca, bagaimana jika engkau membacanya sekarang?” Chu Yuntian menyodorkan surat militer itu.
“Jenderal Chu, aku hanyalah seorang pendeta Tao yang tak peduli urusan dunia. Hanya karena melihat ketulusan Li Shuai semalam, aku bersedia memenuhi wasiatnya. Kini urusan ini sudah selesai, aku hendak pergi mencari sahabat seperjalananku,” jawab Liu Lu, menolak mengambil surat itu. Lagi pula, isi surat itu tak ada kaitannya dengan dirinya, bahkan nasib Kota Jianyang pun tak membuatnya peduli.
“Hmph!” Chu Yuntian mendengus keras, jelas mulai marah. Ia melemparkan surat itu ke atas meja. “Pendeta Tao tak peduli urusan dunia? Barangkali hanya kau sendiri yang berpikir begitu!”
Liu Lu tertawa kecil, “Jenderal, aku bukan bawahannmu, tak perlu mendengar omelanmu. Sampai di sini saja,” katanya sembari bangkit, berbalik hendak pergi meninggalkan ruangan.
Tatapan Chu Yuntian tajam menatap punggung Liu Lu. Saat Liu Lu hampir mencapai pintu, Chu Yuntian membuka peti kayu di samping meja.
“Tunggu dulu, lihatlah apa ini?”
Liu Lu tadinya ingin pergi begitu saja, tak tertarik berdebat dengan jenderal yang kehilangan akal. Namun ia teringat bahwa Chu Yuntian adalah panglima besar yang namanya tersohor, dan sedikit banyak pasti tahu aturan dunia persilatan. Bagaimana mungkin hari ini bertindak tak masuk akal dan bicara ngawur? Karena itu, Liu Lu berhenti dan menoleh. Pandangannya langsung tertarik oleh isi peti kayu itu.
Di dalamnya tidak ada apa-apa selain batangan perak, bertumpuk rapi. Sebuah peti penuh, paling sedikit ada seribu lima ratus tael.
“Tuan, izinkan aku berkata. Kota Jianyang kini benar-benar berada di ujung tanduk. Harta di kota pun telah digunakan untuk biaya perang. Dengan tergesa, aku hanya bisa mengumpulkan seribu lima ratus tael perak ini. Jika engkau bersedia membantuku mempertahankan Jianyang, seluruh perak ini akan kuserahkan padamu,” kata Chu Yuntian, suaranya berat seperti genderang perang, setiap kata diucapkan dengan sungguh-sungguh.
Liu Lu terdiam cukup lama seperti setengah batang dupa, lalu tiba-tiba berjalan cepat ke meja, mengambil surat militer yang ia serahkan pada Chu Yuntian, dan membaca isinya di bawah cahaya lilin. Perilaku Chu Yuntian benar-benar di luar dugaan, sampai-sampai hendak menyuap Liu Lu agar membantunya mempertahankan kota. Tak usah bicara soal pendeta Tao yang tak campur urusan dunia, andai Liu Lu mau melanggar aturan pun, hanya dengan seribu lima ratus tael perak ingin membelinya? Itu benar-benar lelucon besar!
Gunung Chuanyun hanyalah sekte kecil, di kaki gunung mereka memiliki seratus hektar sawah, tiap tahun mendapat sewa tanah. Sedangkan sekte besar dan ortodoks seperti Dua Sekte Lima Aliran, kekayaannya nyaris menandingi kerajaan. Orang yang waras tak akan pernah bermimpi menyuap pendeta Tao hanya dengan seribu lima ratus tael perak, itu benar-benar hal yang memalukan.
Chu Yuntian jelas bukan orang bodoh, namun ia malah melakukan hal konyol semacam ini. Rasa penasaran Liu Lu pun tak tertahan, pasti ada sesuatu dalam surat militer itu. Maka ia putuskan untuk melihat isinya.
Baru membaca dua baris, wajah Liu Lu langsung berubah. Ternyata, benar pepatah yang mengatakan musuh selalu bertemu di jalan sempit.