Bab Lima Puluh Satu: Ketika Kau Membaca Surat Ini...
Di atas kertas surat yang telah menguning, tergores tulisan memenuhi seluruh halaman. Meskipun huruf-hurufnya menggunakan aksara lama, Li Leping masih mampu mengenali sebagian besar isinya.
“Namaku Pang Shaochuan. Ketika kau membaca surat ini, aku sudah tiada.
Aku tidak tahu siapa yang akan membuka surat ini, juga tidak tahu siapa dirimu, apalagi berapa lama waktu telah berlalu sejak aku meninggal. Namun, jika kau sudah menemukan surat ini, berarti keseimbangan gaib yang pernah kuciptakan telah kehilangan kendali.”
Li Leping terkejut.
Dari kata-kata itu, bisa dipastikan kemunculan surat ini memang karena keseimbangan supranatural di desa telah terganggu.
Ternyata benar, segala kejanggalan di desa ini berhubungan erat dengan sang tetua yang telah hidup sejak masa Republik hingga zaman kini.
“Aku meninggalkan dua arwah di desa ini: satu akan menyerang siapa pun yang menyentuh tanah, dan satu lagi akan menyerang siapa pun yang menyentuh air.
Dengan memanfaatkan pertentangan aturan di antara keduanya, serta beberapa cara khusus, aku mengubur jasad satu arwah di tepi sungai, dan satu lagi di dasar sungai. Dengan demikian, dua arwah itu saling memicu aturan masing-masing, sehingga setelah konflik berkepanjangan, tercapai suatu bentuk pengekangan timbal balik.”
Sungguh luar biasa.
Li Leping menatap surat peninggalan sang tetua dengan penuh keterkejutan.
Meskipun dari cara kematian cucu Tuan Zhao dan penduduk yang menjadi tanah ia sudah menduga di desa Qingshi ada lebih dari satu arwah, namun ketika dugaannya terbukti, tetap saja ia tak bisa menahan keterpanaan.
Di desa Qingshi yang mungil ini, ternyata tersegel dua arwah jahat.
Yang paling mengejutkan, sang penulis surat bernama Pang Shaochuan itu ternyata cukup berani memanfaatkan konflik aturan di antara dua arwah, lalu menguburkan mereka di tanah desa ini.
Ini mirip dengan seorang pengendali arwah yang membiarkan dua arwah jahat di tubuhnya terus berseteru, hingga akhirnya tercipta kebuntuan abadi.
Contohnya, Tong Qian.
Jika tak ada kejadian di luar dugaan, kebuntuan semacam ini bisa bertahan selama puluhan tahun.
Dan sekalipun dua arwah itu mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit, seharusnya tak akan terjadi ledakan mendadak, apalagi sampai tiba-tiba menewaskan banyak orang.
Setidaknya, akan muncul lebih dulu gejala-gejala aneh yang sulit dijelaskan sebagai peringatan awal.
Namun kini, ada faktor tak dikenal yang membuat keseimbangan itu runtuh lebih awal, bahkan lebih cepat dari perkiraan sang tetua.
Waktu kematian sang tetua mungkin belum genap setahun, namun dalam waktu yang demikian singkat, tanah keseimbangan gaib yang ia tinggalkan sudah hancur.
Seandainya benar ada arwah di alam baka, mungkin sang tetua itu akan bangkit dari kuburnya karena marah.
“Kalau begitu, penyebab kematian cucu Tuan Zhao sudah jelas. Karena ia menyentuh air sungai, ia pun diterkam arwah jahat di dasar sungai. Sedangkan penduduk lainnya, di desa ini mana ada yang tak pernah menginjak tanah?”
Li Leping mulai memahami beberapa hal, juga mengerti kenapa di antara semua korban, hanya tetua paling sepuh di halaman itu, yang usianya mungkin lebih dari delapan puluh tahun, yang tetap selamat.
Di usia setua itu, jangankan ke sawah, berjalan ke tepi sungai pun pasti tidak sanggup.
Sementara yang lain, menyentuh tanah di desa adalah hal biasa, siapa sangka tanah di bawah kaki mereka telah lama terkontaminasi kekuatan gaib.
“Hanya saja, masih ada beberapa hal yang belum terpecahkan,” gumam Li Leping sambil menyipitkan mata, tampak sedang berpikir keras.
Meski sebagian masalah terjawab, namun masih banyak misteri tersisa.
Sang tetua telah menjelaskan aturan pembunuhan arwah jahat.
Namun, orang yang menyentuh air sungai pasti bukan hanya cucu Tuan Zhao. Tak perlu bicara waktu lain, pada hari kejadian saja, yang menyentuh air sungai setidaknya ada teman-teman main cucu Tuan Zhao, juga mereka yang mengevakuasi jasad dari sungai.
Namun, mereka tidak menjadi korban arwah sungai, melainkan diserang oleh “arwah tanah” di desa Qingshi.
Kondisi kematian mereka membuktikan hal itu.
Ada satu hal lagi yang belum bisa dipahami Li Leping.
Mengapa seluruh penduduk desa Qingshi bisa tewas mendadak dalam waktu bersamaan?
Dan mengapa teman-teman cucu Tuan Zhao justru tewas lebih dulu daripada penduduk yang lain?
Jika ini kutukan, kenapa ada perbedaan waktu kematian yang tidak masuk akal seperti itu?
Li Leping melanjutkan membaca.
Masih ada beberapa baris terakhir di kertas surat yang menguning itu.
“Jika saat kau datang, melihat sebuah kotak di bawah ranjang—
Ingatlah, jangan pernah membukanya.
Apa yang kau peroleh hanyalah sementara, tetapi apa yang hilang, lebih besar nilainya.”
Informasi di surat berhenti sampai di situ. Bagian belakang kertas kosong tanpa tulisan.
“Jadi, hanya ini isinya?” Alis Li Leping mengerut rapat.
Memang, melalui surat ini, ia memperoleh banyak petunjuk.
Namun, ada masalah yang belum terpecahkan; ia masih tak tahu apa isi kotak itu, juga ke mana kotak itu pergi.
“Sialan, kenapa bicara setengah-setengah seperti menebak teka-teki?” ujar Lu Sheng di sampingnya, yang juga telah selesai membaca surat itu, dengan nada tak puas.
Li Leping melipat surat itu dengan rapi, menyimpannya, lalu berdiri diam tanpa sepatah kata.
Sebenarnya, ia tidak membantah ucapan Lu Sheng.
Apa yang dikatakan Lu Sheng memang ada benarnya. Para tetua dari masa Republik selalu saja berperan sebagai penutur teka-teki di saat-saat genting.
Padahal kebenaran peristiwa sudah di depan mata, namun mereka enggan menjelaskannya dengan gamblang.
Akibatnya, banyak orang akhirnya harus kehilangan nyawa demi mengungkap kebenaran yang sebenarnya sudah diketahui seseorang.
Tapi, meski mengeluh, urusan yang harus diselesaikan tetap harus dilakukan.
Kalau orang itu tak mau bicara, apa lagi yang bisa dilakukan?
Masa harus mendatangi makamnya, membongkar kuburannya dan melampiaskan kekesalan di sana?
Siapa tahu, yang digali nanti adalah mayat yang sudah lama meninggal, atau justru arwah jahat yang kekuatannya tak terbayangkan...
“Sekarang bagaimana?” tanya Lu Sheng. Amarahnya memang muncul sekejap dan pergi sekejap, ia pun sadar di gubuk reyot seperti ini, marah-marah pun percuma.
Li Leping mengibaskan tangan. “Jangan terburu-buru, biarkan aku berpikir.”
Memang surat itu tidak menyebutkan dengan jelas apa isi kotak.
Namun dari potongan kalimat yang ada, bisa diduga kuat bahwa kotak itu menyegel sesuatu yang berkaitan dengan kekuatan gaib.
Dan bahkan sesuatu yang membuat seorang pengendali arwah dari zaman Republik saja harus berhati-hati.
Apa pun isinya, sekarang pasti sudah keluar. Kalau tidak, mustahil keseimbangan yang diciptakan sang tetua hancur secepat ini.
Walaupun ia meminta Tang Ziyi segera menyelidiki siapa saja para pemuda yang pernah datang ke sini untuk berpetualang, Li Leping tahu informasi yang ia punya sangat terbatas. Mencari beberapa orang dari lautan manusia jelas butuh waktu.
“Apa yang kau peroleh hanya sementara, namun yang hilang jauh lebih besar...” Li Leping menggumamkan kalimat itu.
Memperoleh, kehilangan...
“Apa yang sebenarnya telah kudapatkan?” tanya Li Leping dalam hati, berulang-ulang.
Tiba-tiba, matanya berbinar, seolah mendapat pencerahan.
Namun pada saat itu juga—
“Tap, tap tap.”
Dari luar rumah, mendadak terdengar suara langkah kaki.