Bab tiga puluh: Wajah yang Terpampang dalam Foto
“Kita masuk dan lihat-lihat dulu.” Setelah berhasil mengurung hantu itu, Li Leping mengalihkan pandangannya ke pintu masuk yang lebih dalam.
Menurut dugaannya, mekanisme Rumah Foto Hantu seharusnya mirip dengan Kantor Pos Hantu. Sebuah bangunan enam lantai yang berada di dunia gaib mustahil hanya dibangun untuk dilihat saja, pasti ada mekanisme tertentu untuk naik ke lantai atas.
Jadi, apakah setelah menyelesaikan satu tugas foto, seseorang bisa naik ke atas?
Dengan melangkah di atas lantai kayu tua, Li Leping terus melangkah lebih dalam.
“Hmm?”
Di depan, setelah melewati pintu aula lantai satu, yang tampak di matanya masihlah deretan kamar nomor 1 sampai 7 yang sudah sangat dikenalnya.
Namun, tepat di antara kamar nomor 13 dan 14, tiba-tiba muncul sebuah tangga besar selebar beberapa meter di hadapan Li Leping.
Ketika pertama kali datang ke Rumah Foto Hantu, dia sudah curiga apakah di antara dua kamar itu ada sesuatu yang tersembunyi, sebab secara struktur, jarak antar kamar yang lain semuanya identik, seperti hasil salinan.
Hanya saja, antara kamar 13 dan 14 terdapat kekosongan yang sangat mencolok.
“Ternyata benar, Rumah Foto Hantu memang memiliki mekanisme naik ke atas,” wajah Li Leping sedikit menggelap.
“Kalau tidak mengikuti aturan Rumah Foto Hantu dan menyelesaikan tugas yang diberikan, pada dasarnya tidak mungkin bisa naik ke lantai atas. Bahkan bagi pengendali hantu, kemungkinan menembus ke atas hanya mengandalkan kekuatan wilayah hantu pun sangat kecil.”
Di dalam Rumah Foto Hantu memang ada kekuatan yang menekan fenomena gaib, wilayah hantu biasa sama sekali tidak mungkin menembus ke dalamnya.
Meski berhasil menebak sebagian mekanismenya, ekspresi Li Leping tetap datar, tanpa sedikit pun kegembiraan.
Ia berjalan ke pintu masuk yang lebar dan menatap ke dalam.
Tangga itu juga terbuat dari kayu, bahannya sama dengan lantai di bawah kakinya, namun seluruh tangga itu diselimuti kegelapan. Semakin ke atas, karena tak ada penerangan, ujung tangga semakin sulit dilihat, tak jelas mengarah ke mana.
Namun saat Li Leping hendak menaiki tangga itu.
“Kriek…”
Dalam keheningan yang mencekam di Rumah Foto Hantu, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka perlahan dan aneh.
“Apa?”
Li Leping spontan menoleh, ekspresi terkejut muncul di wajahnya.
Suara itu bukan berasal dari pintu kamar di sekitarnya.
Suara pintu berat didorong itu jelas berasal dari pintu utama aula Rumah Foto Hantu.
“Apakah ada orang yang datang?” Li Leping memandang ke arah pintu kayu aula utama.
Di bawah cahaya lampu yang redup, pintu utama Rumah Foto Hantu terbuka.
Seseorang masuk.
Mendadak.
Wajah Li Leping yang biasanya tak pernah memperlihatkan emosi, kini tampak terkejut.
“Ini lelucon apa?!”
Ia merogoh ke belakang, jarinya sudah menggenggam pistol emas.
“Kalau ada yang aneh, langsung gunakan kekuatan Hantu Pelupa.” Li Leping berbicara dalam hati.
Tak salah juga jika reaksinya begitu waspada.
Sebab orang yang muncul di pintu utama itu, memiliki wajah yang menurut Li Leping sama sekali tak seharusnya ada di dunia ini.
Itu adalah wajah yang tak dikenalnya, namun pernah ia jumpai beberapa kali.
Dilihat dari jauh, wajah itu hampir persis sama dengan pemuda laki-laki dalam dua foto besar yang tergantung di aula utama Rumah Foto Hantu.
Salah satu foto itu dipasang di tempat paling menonjol di aula, seorang pria tampan dengan ekspresi sangat dingin, seolah wajah tanpa perasaan manusia.
“Apa ini manusia atau hantu?”
Li Leping memandang pemuda yang berjalan ke arahnya dari kejauhan, sulit menebak.
Tak pernah ia bayangkan, kali kedua datang ke Rumah Foto Hantu, ia akan bertemu seseorang yang wajahnya persis seperti pria dalam foto hitam putih di aula.
Saat itu juga, pemuda yang wajahnya hampir sama dengan di foto menatap Li Leping.
Ia mendekat, lalu berkata, “Kau manusia?”
Belum sempat Li Leping bertanya, pemuda itu sudah lebih dulu bicara.
“Jangan bergerak dari situ,” tatapan Li Leping berubah dingin, ia mengangkat pistol emas dari belakang punggungnya dan menodong ke arah pemuda itu.
“Tenang saja, bro, jangan tegang,”
Respons si pemuda sungguh di luar dugaan Li Leping.
Pemuda itu kembali bicara, bahkan mengangkat tangan dengan pose menyerah, tampak benar-benar tak berbahaya.
Tapi melihat wajahnya yang santai, seolah pistol emas di tangan Li Leping sama sekali tidak mengancamnya.
“Manusia?” Li Leping tetap ragu pada pemuda itu.
Sambil menodongkan pistol, ia perlahan mendekat.
Begitu ada tanda mencurigakan, Li Leping siap menghabiskan isi magazen.
Di tempat seseram ini, muncul wajah yang hanya ada di foto, mana mungkin ia bisa tenang?
Setelah mendekat, barulah Li Leping benar-benar melihat jelas pemuda yang mengangkat tangan itu.
Meski sangat mirip, pemuda di hadapannya dan yang di foto tetap ada perbedaan. Pemuda ini tampak lebih muda, sekitar dua puluh tahunan, wajahnya mirip tujuh delapan puluh persen, tapi tak bisa dibilang sama persis.
Yang paling mencolok adalah pakaian pemuda itu.
Ia mengenakan seragam resmi yang sama seperti yang dipakai oleh Fang Jun, penanggung jawab Kota Daqian.
Bahkan di dadanya tersemat sebuah papan nama.
Gu Li.
Dua kata itu terukir di papan nama berbahan emas.
“Gu Li?” tanya Li Leping.
Saat ini, jarak mereka hanya dua-tiga meter.
Meski Gu Li tampak ramah dan mengenakan seragam resmi, Li Leping tetap menatapnya tajam, pistol emas masih erat digenggam.
Begitu ada yang janggal, ia tak ragu untuk bertindak.
“Benar,” Gu Li mengangguk cepat, lalu berkata, “Tapi bisa tolong tak menodongkan pistol padaku? Rasanya agak seram.”
“Bisa saja.” Meski berkata begitu, Li Leping tak menurunkan pistolnya.
“Kau harus jelaskan dulu itu apa.” Ia mengangguk ke satu arah.
Di dinding sana tergantung dua foto besar hitam-putih.
Salah satu pemuda di foto itu, wajahnya sangat mirip dengan Gu Li.
“Eh…” Gu Li tampak canggung, “Kalau aku bilang aku juga masih mencari tahu, kau percaya?”
“Menurutmu?” Li Leping miringkan kepala, balik bertanya.
“Duh…” Gu Li menarik napas, tampak kikuk menatap foto besar di dinding.
Rasanya seperti sedang diinterogasi berdasar foto.
Ia beralasan, “Tapi aku sungguh tak tahu, aku juga baru dua kali ke sini, tak paham banyak soal tempat ini. Kalau kau tanya terus, ya yang bisa kubilang, orang di foto itu agak mirip ayahku.”
“Ayahmu?” Li Leping mengulang.
Mirip antara ayah dan anak, memang wajar.
“Sepertinya… ayahku, ya?” Gu Li sendiri tampak ragu.
“Kau bahkan tak tahu wajah ayahmu sendiri?” Li Leping tampak heran.
“Mau bagaimana lagi, aku kehilangan ayah waktu masih kecil, dan dia juga tak suka difoto, jadi aku hampir tak punya kenangan tentangnya,” jawab Gu Li.
“Wah, kalian pasti keluarga yang sangat harmonis,” Li Leping tersenyum miring.
Sambil bicara, ia menurunkan pistolnya.
Tak pantas memukul orang yang tersenyum, Li Leping pun tak ingin mempersulit Gu Li.
Mungkin ia harus berterima kasih pada para penanggung jawab seperti Fang Jun—hebat, mulia, dan jujur—jadi terlepas Gu Li jujur atau tidak, setidaknya untuk saat ini, Li Leping belum menemukan alasan untuk menghidangkannya peluru.