Bab Sembilan Puluh Sembilan: Kuil Tua yang Runtuh, Biksu
Ini adalah salah satu kota tetangga Kota Daqian, yaitu Kota Dayun.
Cahaya perlahan memudar, dan pemandangan di depan mulai tampak jelas. Tempat yang dibawa Gu Li kepada Li Leping ini ternyata bukanlah pusat kota yang ramai dan penuh gemerlap. Lokasinya justru lebih mirip sebuah daerah pegunungan terpencil yang sunyi, suasananya kelam dan menekan, tanpa cahaya lampu, juga tak terlihat tanda-tanda kehidupan manusia.
Jalan di bawah kaki mereka pun bukan aspal modern, melainkan jalan tanah liat kekuningan, meski permukaannya tidak selembek dan sebau jalanan di Desa Qing Shi saat para arwah gentayangan muncul.
Sekelilingnya dipenuhi rerumputan liar yang tak terurus, seolah sudah lama tak pernah disentuh manusia. Sebenarnya, tempat ini sama sekali tak tampak seperti tempat yang akan didatangi orang.
Namun saat ini, sorot mata Li Leping terpaku tanpa bisa dialihkan. Sebab, tepat di depannya, berdiri sebuah kelenteng kecil yang tampaknya telah lama terbengkalai.
Kelenteng mungil itu berdiri di tengah kegelapan, seolah sudah bertahun-tahun dibiarkan, dinding batu di sekelilingnya ada yang sudah roboh, sisanya pun terlihat lapuk terpapar angin dan hujan, retak di sana-sini.
Dari sela-sela retakan, tumbuh beberapa rumput liar yang tetap bertahan hidup. Li Leping sama sekali tak meragukan, andai ia mendorongnya sedikit saja, tembok kelenteng yang rapuh itu pasti akan berlubang lagi.
Namun, ia tak ingin melakukannya. Sebab, di pintu masuk kelenteng yang sudah miring separuh itu, berdiri seorang laki-laki berkepala plontos mengenakan jubah kuning kemerahan, kedua tangan menangkup, mata terpejam, berdiri dengan wajah tampak begitu khusyuk.
Entah apa yang dilantunkannya, mungkin sedang membaca doa atau mantra tertentu?
“Biksu?”
Li Leping memperhatikan sosok berkepala plontos itu yang berdiri di pintu kelenteng. Tubuhnya tinggi kurus, tatapannya sedikit dingin, warna kulitnya kuning pucat yang tidak wajar, namun bukan seperti akibat kekurangan gizi karena terlalu banyak makan sayur.
“Di kelenteng tua dan terpencil seperti ini, ternyata masih ada biksu?”
“Biksu macam apa yang mau tinggal menjaga kelenteng bobrok begini?”
Penampilan pria plontos itu memang sangat mirip seorang biksu, hanya saja wajahnya masih sangat muda, biasa saja, usianya kira-kira seumuran dengan Gu Li, sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun.
Orang yang sudah begitu muda memilih jadi biksu, Li Leping benar-benar jarang menemukannya.
Yang membuat Li Leping semakin waspada, biksu itu juga mengenakan sebuah topeng di wajahnya.
Setengah wajah biksu itu tertutup topeng, bentuknya mirip topeng Vajra yang biasa digambarkan dalam ajaran Buddha, mulut terbuka memperlihatkan keganasan, mata melotot bulat, ekspresi garang yang memancarkan aura menakutkan sekaligus penuh wibawa.
Akan tetapi, entah mengapa, Li Leping merasa dari topeng Vajra itu mengalir aura aneh yang sulit dijelaskan.
Pada umumnya, topeng Vajra memiliki warna pekat dan cerah: merah, kuning, biru, hijau, hitam, dan putih, tampak meriah sekaligus memberi kesan nyata pada topengnya.
Namun, topeng di wajah biksu ini seolah catnya sudah mengelupas, warnanya telah banyak memudar, sebagian besar tertutup warna cokelat kehitaman yang suram seperti benda lapuk.
Topeng Vajra yang seharusnya berwibawa itu justru tampak lebih menyeramkan, menebarkan aura yang membuat orang gelisah. Sepasang mata melotot itu seolah menatap marah setiap orang yang memandangnya.
“Saudara, bisakah jangan menyorotku dengan senter?”
Saat itu juga, biksu yang sejak tadi menangkupkan tangan akhirnya bersuara. Suaranya lembut, namun terdengar sedikit jengkel.
“Oh, maaf.” Li Leping segera mengalihkan senternya.
Kini ia paham mengapa biksu itu menutup mata dan tampak begitu khusyuk. Rupanya dari tadi ada dua lampu senter menyala di depannya.
Karena posisinya, ia tidak enak bicara keras, jadi hanya menunggu Li Leping sendiri yang mematikan lampunya. Namun Li Leping terlalu fokus mengamati dirinya dan kelenteng di belakangnya, sampai lupa pada hal lain.
“Hehe, Jiang tua, lama tak bertemu.”
Saat itu, Gu Li melangkah maju, menyapa hangat.
“Baru dua minggu lalu kita bertemu. Lagi pula, kau juga jangan sorot aku dengan senter.” Biksu di seberang sedikit membuka matanya, menampilkan tatapan dingin.
Ia tampak sudah mengenal Gu Li, dan berbicara sangat lugas tanpa basa-basi.
“Eh.” Gu Li agak canggung menurunkan intensitas senter, namun nada bicaranya tetap santai, seolah sedang berbicara dengan teman lama. “Hei, Jiang Hao, jangan sedingin itu dong.”
“Aku tidak dingin,” jawab biksu bernama Jiang Hao itu sambil menurunkan kedua tangannya, lalu menatap Gu Li, “Kau kan tahu aku orangnya gampang bad mood kalau baru bangun tidur. Aku sudah terbiasa hidup teratur, jam sepuluh malam pasti tidur, tapi hari ini ada orang yang jam satu dini hari menelepon, membangunkanku.”
Dari nadanya, jelas ia jengkel karena dibangunkan tiba-tiba.
“Hehe, aku tahu, aku tahu.”
Gu Li tersenyum cerah, menepuk bahu Li Leping sembari memandang Jiang Hao dan berkata, “Tapi mau bagaimana lagi? Aku punya teman yang sangat butuh bantuanmu.”
Sambil berkata demikian, Gu Li menunjuk Jiang Hao, memperkenalkannya, “Ini Jiang Hao, teman lamaku, kami satu sekolah dari SMP sampai SMA, bahkan sekelas.”
“Tapi entah apa yang ada di pikirannya, waktu kuliah malah daftar ke Sekolah Tinggi Buddha Kota Dayun, sekarang dia jadi biksu.”
“Oh ya, sekarang dia adalah penanggung jawab Kota Dayun.”
Mendengar itu, Li Leping memandang biksu di depannya dengan penuh keheranan.
Melihat tampang Jiang Hao, juga topeng di wajahnya, memang terasa ia punya hubungan dengan dunia gaib. Tetapi Li Leping sama sekali tak menyangka, penanggung jawab Kota Dayun ternyata adalah seorang biksu.
Benar-benar menenangkan arwah gentayangan dalam makna harfiah.
Saat Li Leping masih tertegun, Gu Li pun memperkenalkannya secara singkat kepada Jiang Hao.
“Ya, aku sudah tahu.” Jiang Hao tidak memperdulikan pandangan heran Li Leping, juga tak menanggapi penjelasan Gu Li tentang dirinya. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan, “Mari ikut aku.”
Selesai berkata, ia berjalan lebih dulu masuk ke kelenteng tua yang remang-remang.
Namun, sebelum itu, ia mengeluarkan sebatang lilin dari lengan jubahnya yang lebar, lalu menyalakannya. Cahaya api menerangi jalan, membuatnya tampak seperti biksu pengembara yang menuntun di depan.
“Ayo,” Gu Li memberi isyarat pada Li Leping.
Mereka berdua mengikuti Jiang Hao, masuk ke halaman kelenteng yang sudah bertahun-tahun terbengkalai itu.
Gerbang yang hampir copot dari tembok, cat merahnya telah memudar menjadi hitam dan penuh lubang akibat karatan.
Ketiganya berjalan di sebuah jalan setapak dari batu, di kanan kiri dan di sela-sela batunya juga tumbuh rumput liar.
Terutama rerumputan di pinggir jalan, tumbuh setinggi pinggang, hampir setara dengan rerumputan yang pernah dilihat Li Leping di hutan Desa Qing Shi.
Tak lama, menyusuri jalan berbatu itu, mereka tiba di depan kelenteng tua.
Melewati anak tangga di depan pintu, menembus pintu masuk tanpa daun pintu, akhirnya Li Leping sampai di kelenteng mungil di tengah halaman itu.
Di dalam kelenteng yang sudah tua ini terdapat sebuah patung Buddha, namun lapisan emas di permukaannya sudah banyak terkelupas, sehingga warna logam aslinya tampak jelas.
Lapisan emas yang tak merata di atas permukaan patung yang kusam, ditambah sepasang mata hasil sapuan tangan manusia, membuat patung Buddha itu memancarkan kesan ganjil yang tak selaras.