Bab Lima Puluh: Kemampuan Baru
Keesokan harinya, Ma Jing tidak memilih untuk berdiam diri di rumah guna memulihkan tenaga, melainkan justru mengajak Tang Jiayi dan Wei Wei untuk menjalani tiga hari berturut-turut penuh hiburan santai. Alasan Ma Jing pun sangat masuk akal: tiga hari terakhir justru lebih penting untuk menyeimbangkan kondisi, sebab mengulang-ulang pelajaran di detik-detik akhir tidak akan banyak membantu dalam meningkatkan nilai. Lebih baik sedikit bersantai, menjelajahi sekitar Pingxian, sehingga kelak saat kalian lulus dan masuk universitas, ada cerita yang bisa dibagikan saat memperkenalkan diri kepada teman sekelas.
Namun, rencana wisata keliling dengan mobil yang dirancang Ma Jing ditolak tegas oleh kedua orang tua mereka. Alasannya pun tak terbantahkan: jika di luar nanti tanpa sengaja makan sesuatu yang membuat sakit perut, atau apes mengalami kecelakaan, meski hanya luka kecil di jari atau terkilir pergelangan kaki, bisa-bisa berdampak pada ujian masuk perguruan tinggi. Mereka harus benar-benar hati-hati agar lima hari terakhir ini bisa dilewati dengan aman.
Akhirnya, Ma Jing hanya bisa memanggil kedua "satwa yang dilindungi" itu ke rumahnya. Tidak bisa keluar, setidaknya mereka masih bisa main gim bersama di rumah.
Melihat tampilan gim di layar laptop rakitan Ma Jing yang berukuran besar, Wei Wei langsung mengajukan protes. Permainan-permainan itu bukanlah yang ia bayangkan seperti Warcraft atau CS, juga bukan gim RPG daring semacam Diablo II, melainkan gim-gim santai yang tampak sederhana.
Menanggapi kebingungan Wei Wei, Ma Jing menjelaskan, "Ini adalah gim senam otak, bisa membuat otakmu tetap dalam kondisi terjaga. Pagi hari kita main gim zona merah, sesuai dengan ujian Bahasa dan Sains pada tanggal 7 dan 8, siangnya main gim zona biru, sesuai dengan Matematika dan Bahasa Inggris."
Wei Wei pun mengenakan "Cincin Inspirasi" seperti yang ditekankan Ma Jing, lalu masuk ke salah satu gim. Ternyata, itu adalah gim sambung kalimat: di layar muncul satu kalimat, dan dalam beberapa detik ia harus memilih satu dari empat kalimat berikutnya, lalu muncul empat pilihan kalimat baru dan penghitung waktu, hingga akhirnya cerita sambung itu buntu dan tak bisa dilanjutkan lagi.
"Sudah, giliranmu habis, sekarang waktunya Jia Jia," ucap Ma Jing setelah cerita sambung Wei Wei berakhir. Ia menyingkirkan Wei Wei yang masih ingin lanjut, lalu mempersilakan Tang Jiayi maju ke depan layar komputer untuk memulai permainan dari awal.
Begitulah, selama tiga hari berikutnya, mereka bertiga setiap pagi dan sore selalu bermain gim senam otak yang unik di rumah Ma Jing, sementara waktu lainnya hanya digunakan untuk jalan santai dan mengobrol—olahraga yang dijamin aman.
Ma Jing mendesain gim-gim senam otak itu bukan karena iseng belaka, melainkan untuk melakukan sedikit eksperimen pada dua sahabatnya, Tang Jiayi dan Wei Wei.
Pada hari terakhir bulan Mei, Ma Jing akhirnya mencapai progres 50% transformasi menjadi manusia elektronik yang telah lama ia nantikan. Mulai saat itu, di dalam tubuhnya perlahan-lahan akan muncul zat khusus kedua dari manusia setengah elektronik—protein penghitungan. Apakah zat itu benar-benar protein, Ma Jing sendiri tidak tahu pasti. Yang ia tahu, zat itu bisa secara signifikan meningkatkan kemampuan berhitung E7U, sekaligus juga memperkuat kesadaran dirinya.
Kemampuan intuisi otak manusia sebenarnya adalah fungsi penghitungan samar dari otak. Sering kali, tanpa perlu menganalisis secara detail, otak sudah dapat memperkirakan secara kasar tinggi, besar, volume, kecepatan, berat, dan sebagainya—itulah hasil dari penghitungan samar.
Beberapa hari belakangan, seiring bertambahnya protein penghitungan, kemampuan E7U pun kian meningkat. Ma Jing yang tadinya sudah tidak terlalu khawatir soal ujian masuk perguruan tinggi, kini semakin percaya diri. Justru ia kini lebih memikirkan Tang dan Wei, terutama nilai Wei Wei. Nilai mereka berdua sebenarnya sudah sangat baik, hampir pasti lolos universitas papan atas. Namun, Wei Wei akhir-akhir ini dengan penuh percaya diri berkata ingin masuk Qingda, padahal nilainya hanya bisa tembus jika tahun itu kebetulan passing grade turun. Ma Jing pun berencana akan membantunya sekali lagi.
Karena itulah Ma Jing mengajak mereka ke rumah, memperkenalkan gim senam otak yang ia rancang. Saat mereka asyik bermain, "Cincin Inspirasi" di kepala mereka akan merekam sinyal gelombang otak, kemudian memperkuat dan mengembalikannya ke otak, sehingga bisa meningkatkan kecepatan respons otak.
Tentu saja, tahun ini ujian masuk perguruan tinggi mewajibkan pengawasan elektronik dan penghalang sinyal radio di ruang ujian; mustahil membiarkan mereka mengenakan hiasan kepala yang aneh itu saat ujian. Tujuan utama latihan kali ini adalah meningkatkan gairah area otak terkait, membentuk refleks, dan sementara waktu mengubah jam biologis mereka, agar saat hari ujian tiba, mereka bisa langsung dalam kondisi prima dan mengeluarkan kemampuan terbaik.
Jika Wei Wei memperhatikan catatan nilai permainannya selama tiga hari ini, ia akan mendapati nilainya selalu naik turun: sesekali rendah, sesekali tinggi, lalu perlahan menjadi stabil di kisaran nilai tertinggi. Tang Jiayi pun demikian, semua itu karena kontribusi Ma Jing yang diam-diam bekerja di belakang mereka.
Sekolah yang sudah libur tampak sepi. Beberapa gedung yang disulap menjadi ruang ujian sudah dikunci rapat, diberi garis pembatas, dan diawasi oleh petugas.
"Wang Binbin dan teman-teman kita ada yang dapat lokasi ujian di SMA Satu, ada juga yang di SMP Chengguan. Kemarin Wang Binbin telepon, katanya ia survei lokasi, naik sepeda mencari sekolah itu lama sekali. Ia bilang sangat iri pada kita bertiga, bisa tinggal di sekolah, ujian pun di tempat yang sudah kita kenal," kata Ma Jing. "Padahal di antara dua SMA dan dua SMP, lingkungan sekolah kita ini yang paling jelek. Gedung utama masih mending, tapi di gedung kelas tiga SMA, meja-meja yang penuh lubang dan cekungan itu pasti bikin banyak peserta ujian stres."
"Kan sekarang ujian sudah dibekali papan jawab plastik, jadi permukaan meja yang berlubang itu tidak terlalu berpengaruh. Siapa tahu malah dapat inspirasi dari corat-coret di meja, bisa jadi malah ingat jawaban soal," ujar Wei Wei sambil tertawa.
"Katanya saat ujian, meja harus dibalik, jadi kata 'pagi' yang terukir bisa jadi terbaca 'bahagia', malah harus mikir lama," sahut Tang Jiayi. "Wei Wei, kamu pernah ngukir di meja nggak?"
"Ya, waktu SD aku juga ikut-ikutan ngukir kata 'pagi' di meja. Kadang pas pelajaran melamun, aku gambar-gambar pakai pulpen, apa yang kugambar pun sekarang aku sendiri sudah lupa," kata Wei Wei sambil menendang batu kecil. "Sekarang dipikir-pikir, sudah sepuluh tahun ya?"
"Belum sepuluh tahun," Ma Jing langsung mengoreksi, tersenyum, "Sepuluh tahun lalu kamu baru delapan tahun, masih kelas dua SD. Yakin waktu itu kamu sudah bisa ngukir?"
Wei Wei tersenyum getir dan menggeleng, "Kalau kamu bilang begitu, aku juga benar-benar lupa waktu kelas dua SD ngapain saja. Pelajaran SD pun sudah tidak ingat lagi."
"Sama saja, aku pun begitu, dan kebanyakan orang juga. Waktu sudah sepuluh tahun berlalu. Tapi, beberapa hari lalu waktu aku beres-beres, tidak sengaja kutemukan buku pelajaran SD-ku. Begitu kubuka, langsung ingatanku kembali."
"Eh, buku pelajaran SD-ku rasanya sudah dijual kiloan waktu pindahan. Dulu disimpan di rumah, pas pindah semua sudah dijual ibuku."
"Punyaku juga. Andai dulu didonasikan saja, soalnya pernah ada berita di mana bekas buku pelajaran bisa disumbangkan ke adik kelas."
"Jia Jia, kamu polos sekali. Sembilan tahun wajib belajar, biaya sekolah gratis, sekolah cuma bisa cari untung dari penjualan buku. Kalau kamu sumbangkan buku pelajaran ke adik kelas, sekolah mana tega kehilangan pemasukan? Toko buku baru sama penerbit pendidikan itu makan dari mana nanti?"
"Katanya memang di negeri ini bisnis penerbitan buku paling menguntungkan adalah buku pelajaran dan buku pendamping. Apalagi buku pelajaran, penjualannya stabil tiap tahun, tidak perlu repot promosi. Asal sudah dapat restu dinas pendidikan provinsi, pasti laku."