Bab Lima Puluh Delapan: Tekad
"Nilai perkiraan Jiajia adalah 647, sementara ambang nilai penerimaan universitas jalur satu tahun lalu adalah 567, jadi lebih tinggi 80 poin. Guru kelas tiga kalian bilang tahun ini ambang nilai kemungkinan akan lebih rendah sekitar 5 sampai 10 poin dibanding tahun lalu, ditambah lagi Jiajia dapat tambahan 5 poin karena menjadi Siswa Teladan Kota, jadi totalnya lebih tinggi 90 poin."
Tang Qi membolak-balik statistik penerimaan dari berbagai universitas ternama yang terletak di atas meja teh, membaca pelan, “Tahun lalu, nilai tertinggi Universitas Jing adalah 721, yang terendah 702, jadi sepertinya tidak ada harapan. Tapi Universitas Majing justru punya peluang bagus.”
“Paman Tang, Tante Lü, aku sudah memutuskan akan mendaftar ke universitas yang sama dengan Jiajia. Jiajia ingin melihat-lihat daerah selatan, dan aku sendiri juga tidak punya keinginan khusus untuk menempuh studi di ibu kota, jadi aku akan menemaninya mendaftar ke universitas di selatan.”
“Hmm...” Tang Qi hanya bergumam tanpa sadar, tak berkata apa-apa. Justru Lü Wei yang menyahut, “Bagus juga. Anak perempuan kami itu, selalu ribut ingin kuliah ke selatan, padahal di provinsi kita sendiri juga ada universitas unggulan. Kalau kamu, Majing, bisa pergi ke universitas yang sama dengannya, bisa selalu menjaga dia, Tante pun jadi tenang.”
“Tante Lü, Paman Tang, kalian tenang saja, aku pasti akan menjaga dia dengan baik.” Majing buru-buru berjanji.
Semakin lama Lü Wei memandang Majing, semakin suka dia pada pemuda itu. Dengan tatapan khas seorang ibu mertua pada calon menantu, ia berkata, “Ya, nanti setelah kalian lulus, pas sudah lewat batas usia 22 tahun, langsung saja menikah. Kalau bisa langsung punya anak, aku bisa cepat pensiun dan membantu kalian...”
“Ibu...!” Tang Jiayi memanjangkan suaranya, memotong omongan Lü Wei yang sudah membayangkan cucu, lalu berbisik keras, “Ibu, kenapa bicara sembarangan begitu?”
Setelah berkata, Tang Jiayi langsung berdiri tegak, berjalan cepat kembali ke kamarnya, dan menutup pintu dengan suara keras. Ia menelungkup di atas selimut merah mudanya, membenamkan kepala di bawah selimut AC yang lembut, sambil menggerutu, “Ibu memang keterlaluan, semua hal diumbar. Majing saja belum benar-benar menyatakan perasaannya, ibu sudah bicara soal menikah, bahkan sampai punya anak…”
Di ruang tamu, Tang Qi yang mendengar suara pintu kamar putrinya, tersenyum pada Majing, “Anak perempuan kami ini memang jadi manja gara-gara kami berdua.”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, dia baik kok.” Majing buru-buru mengalihkan pembicaraan, bertanya, “Paman Tang, universitas apa saja yang sudah Paman pertimbangkan untuk Jiajia?”
“Eh…” Pertanyaan itu membuat wajah Tang Qi memerah. Beberapa hari ini, ia dan istrinya hampir setiap hari berselancar di situs “Kebun Lebah”, menggunakan fitur tur kampus 3D secara daring, tapi belum sempat mencari universitas di selatan.
Melihat ekspresi Tang Qi, Majing teringat keluhan Tang Jiayi sebelumnya, langsung mengerti, lalu mengambil sebuah buku Statistik Penerimaan Universitas Jalur Satu 2005 Edisi Sains dan Teknologi dari atas meja, membuka halaman provinsi Min, dan menunjuk Universitas Ludu: “Paman, bagaimana dengan Universitas Ludu? Itu juga universitas unggulan, katanya yang terhebat di selatan, tahun lalu menerima 66 mahasiswa jurusan sains, nilai tertinggi 679, terendah 635. Nilai Jiajia hampir pasti bisa masuk.”
“Universitas Ludu?” Tang Qi dan Lü Wei juga mengambil buku serupa, membuka halaman yang sama.
“Nilai terendahnya 635, tapi jurusan dengan nilai terendah itu kurang bagus semua. Hanya ada tiga jurusan yang nilai minimumnya di bawah 640: Informatika, Rekayasa Perangkat Lunak, dan Dirgantara.”
“Tiap tahun nilai masuk tiap jurusan berubah, banyak jurusan cuma menerima satu atau dua orang, kalau hanya satu orang yang lolos seleksi, nilainya otomatis jadi ambang minimal,” kata Tang Qi.
“Sebenarnya jurusan Ilmu Komputer dan Rekayasa Perangkat Lunak itu cukup bagus, walau biayanya memang tinggi, tapi daya tampungnya juga banyak, jadi kecil kemungkinan dipindah ke jurusan lain. Meski dua jurusan ini sekarang sudah umum di setiap kampus teknik, tapi kualitas di universitas ternama tetap jauh lebih baik. Setidaknya, kampus biasa belum tentu bisa beli superkomputer.”
“Superkomputer itu apa?” tanya Lü Wei.
“Itu komputer super, di dalamnya ada ratusan bahkan ribuan CPU, kamu anggap saja itu komputer yang jauh lebih hebat dari ratusan komputer rumah kita,” Tang Qi menjelaskan santai pada istrinya, lalu beralih ke Majing, “Majing, kamu tertarik dengan dua jurusan itu?”
Namun, belum sempat Majing menjawab, Tang Qi sudah melanjutkan sendiri, “Iya juga, sistem ponsel yang kamu rancang bisa berjalan hampir dua kali lebih efisien dari sistem bawaan, banyak orang minta kamu instal ulang sistem mereka. Kamu juga yang desain Ponsel Lebah dan sebentar lagi mau buka toko ponsel di kabupaten. Ponsel itu juga komputer kan, jadi kamu mau ambil jurusan komputer?”
Majing mengangguk, “Akhir-akhir ini memang tertarik pada bidang itu, dan sepertinya aku memang punya bakat, jadi aku berencana ambil jurusan itu.”
“Sebenarnya jurusan kedokteran juga tidak tinggi nilainya, Kedokteran Pencegahan 643, Pengobatan Tradisional 641, Farmasi dan Kedokteran Klinik minimal 640,” ucap Lü Wei menyebutkan jurusan yang menurutnya bagus. Menjadi dokter itu sangat terhormat.
Namun Tang Qi langsung mematahkan imajinasi istrinya dengan kalimat singkat, “Jurusan kedokteran harus kuliah lima tahun.” Lü Wei pun segera berubah pikiran, “Ah, jangan deh, nanti kelamaan sekolah, keluar-keluar sudah jadi perawan tua.”
“Aduh, ngomong apa sih? Kalau Jiajia mau lanjut S2, S3, biar saja,” tapi Tang Qi langsung menambahkan, “Asal sudah lewat usia 22 tahun untuk laki-laki, 20 tahun untuk perempuan, kampus pun tidak boleh melarang mahasiswa menikah!”
Melihat kedua orang tua Tang menatapnya lekat-lekat, Majing pun merasa tak enak berlama-lama di sana, buru-buru berkata, “Soal universitas dan jurusan, biar nanti kalau Jiajia sudah keluar, Paman dan Tante bicarakan langsung dengan dia, pastikan sesuai keinginannya.”
Majing berdiri, menunjuk ke arah ruang kerja, “Oh ya, di situs Kebun Lebah ada tur kampus 3D Universitas Ludu, Paman bisa ajak Jiajia lihat-lihat.”
Setelah itu, Majing segera pamit pergi. Namun, setelah turun ke bawah, ia tidak langsung pulang, melainkan keluar dari gerbang sekolah dan berjalan menuju halte bus jalur tujuh.
Kota Kabupaten Ping berbentuk hampir persegi, sebagai kota di dataran utara, jalan-jalannya lurus tanpa hambatan medan atau sungai. Di luar kota, ada tiga jalan berbentuk tapal kuda yang mengelilingi kota: Jalan Gerbang Timur, Jalan Gerbang Barat, dan Jalan Tepi Sungai. Namun, ketiga jalan ini sebenarnya hanya setengah jalan; sisi yang menghadap kota dipenuhi toko-toko, sementara sisi satunya adalah rumah dan ladang desa sekitar. Di pusat Kabupaten Ping, hanya ada empat jalan utama berbentuk seperti karakter “丰”: Jalan Utama Selatan-Utara, Jalan Gerbang Utara, Jalan Kantor, dan Jalan Pangan. Di antaranya, Jalan Utama Selatan-Utara bahkan sudah dijadikan kawasan pejalan kaki demi mengikuti tren.
Semua kantor pemerintahan, serta SD Negeri 1, SMP Negeri 1, dan SMA Negeri 1, berdiri di Jalan Kantor. Padahal, nama ketiga sekolah ini sudah pernah diubah. Dulu, sempat ngetren warga Hong Kong, Makau, dan perantauan menyumbang dana pendidikan, pemerintah menjanjikan hak penamaan bagi donatur yang menyumbang minimal 10% dari total dana pembangunan. Maka, ketiga sekolah di kabupaten ini pun akhirnya memakai nama tokoh ternama. Namun, karena ada sungai kecil yang memisahkan Jalan Tepi Sungai di selatan kota, SMA Negeri 2 tidak kebagian rejeki itu, jadi mereka tetap memakai nama lama. Sebagai alumni SMA Negeri 2, Majing pun setia dengan tradisi itu.
Begitu turun dari bus, Majing berjalan ke arah utara di sisi timur Jalan Selatan, sesekali menoleh ke sisi barat, mencari toko yang pas untuk disewa. Sementara toko-toko di sisi timur juga ia abadikan lewat kamera kacamata elektroniknya. Karena kameranya tak punya fitur zoom optik, ia tak bisa melihat jelas ke seberang jalan, jadi ia harus mengandalkan matanya sendiri untuk mencari.
Karena sibuk ujian masuk perguruan tinggi, Majing sudah dua hari tak memakai kacamatanya. Hari ini, ia sengaja mengenakannya ke jalan, karena fitur pandangan luasnya sangat membantu untuk mencari informasi dan lokasi.
Tak butuh waktu lama, ia pun menemukan target yang dicari.