Bab Ketujuh Puluh Delapan: Ular Piton Emas Meningkatkan Level
(Segera kita akan memasuki babak pertarungan, bisa dibilang inilah saat yang menentukan nasib buku ini. Dengan tulus aku mohon kepada para pembaca sekalian untuk membantu menyimpan dan merekomendasikan. Jika kau tak pergi, aku pun takkan meninggalkanmu!)
Yang Guang dibangunkan dari meditasinya oleh Yagyu Sakura. Apakah ada kejadian penting yang terjadi? Dipaksa bangun dari meditasinya tentu saja membuat suasana hati Yang Guang sangat buruk, namun ia tahu jika tidak ada urusan yang sangat penting, Yagyu Sakura tak akan berani mengganggunya saat ia tengah berlatih.
"Tuan, ada pergerakan dari Yu Jiao dan Yu Yun. Uskup Se Wu memintaku segera membangunkan Anda," Yagyu Sakura segera menjelaskan situasinya tanpa berani menunda.
Baru saja Yagyu Sakura selesai bicara, Yang Guang sudah tak sabar lagi bergegas menuju tempat tidur panjang Yu Jiao dan Yu Yun. Di ruang batu tempat kedua bersaudari itu tertidur, tubuh mereka yang sebelumnya melingkar seperti ular kini sudah sepenuhnya terbuka. Sisik emas yang tadinya berkilau di tubuh mereka kini tampak suram dan kusam. Melihat keadaan ini, bukan malah khawatir, Yang Guang justru merasa lega dan menghela napas panjang.
Sebenarnya saat masuk, ia sudah menggunakan persepsi spiritualnya untuk mengamati keadaan kedua bersaudari itu. Ia mendapati aura mereka bukannya melemah, malah menguat drastis. Melihat kulit dan sisik mereka yang suram, ia tahu kedua bersaudari itu telah berhasil menembus ke tingkat Naga Roh.
Benar saja, belum setengah jam setelah Yang Guang tiba, dua aura kuat perlahan naik dari ruang batu itu. Semua manusia dan binatang pembantu yang sebelumnya ada di dalam sudah ia suruh keluar, karena ia tak ingin kondisi kedua bersaudari itu dilihat orang lain.
Kedua bersaudari itu hampir bersamaan membuka mata. Begitu melihat Yang Guang tersenyum pada mereka, mereka langsung bahagia, meloloskan diri dari kulit lama mereka dan merayap ke arah Yang Guang. "Kakak, akhirnya kau datang melihat kami," ujar Yu Yun dengan penuh semangat.
"Haha, bukankah aku sudah bilang aku akan segera datang? Aku sudah lama menanti kalian di sini, lho," kata Yang Guang sambil mengedipkan mata nakal.
"Huh, Kakak nakal! Kau bilang akan bergabung dengan kami, tapi aku dan kakak terus menunggu dan menunggu, tapi kau tak juga kembali. Kami sampai mengira... mengira..." Belum selesai bicara, Yu Yun sudah mulai menangis.
"Aduh, sayangku jangan menangis lagi. Bukankah aku sudah kembali dengan utuh? Dengan kemampuanku, siapa yang bisa menahanku kalau aku memang mau pergi?" kata Yang Guang dengan gaya percaya diri, mencoba menenangkan mereka.
"Sudahlah, adik, Kakak kita tidak pernah berbohong pada kita. Kalau ia bilang akan datang, pasti datang. Kakak, benar kan?" Ucap Yu Jiao, yang sebenarnya juga sedang mengingatkan Yang Guang agar jangan sekali-kali berbohong pada mereka, bahkan kebohongan kecil sekalipun.
"Ehem, tentu saja! Aku, Yang Guang, selalu menepati janji. Apa yang sudah kuucapkan pasti kutepati!" jawab Yang Guang agak gugup karena ditekan oleh Yu Jiao. Namun ia segera mengalihkan topik.
"Sudah, hari ini adalah hari baik kalian menembus ke tingkat Naga Roh. Jangan bicara hal-hal yang tidak menyenangkan lagi. Kakak sudah menyuruh Se Wu menyiapkan makanan favorit kalian. Sekarang cepat makan, ya!" Ucap Yang Guang sambil mengajak mereka makan dan bersenang-senang.
"Asyik, asyik! Aku lapar sekali, ingin makan daging!" Yu Yun si tukang makan langsung teralihkan perhatiannya oleh ajakan Yang Guang. Melihat adiknya begitu mudah dialihkan, Yu Jiao hampir tak kuasa menahan tawa.
Di aula khusus milik Yang Guang, Se Wu sudah menyiapkan berbagai hidangan di atas permadani di tengah ruangan, sesuai perintah Yang Guang. Setelah Yang Guang dan kedua bersaudari datang, ia menyuruh semua orang keluar. Ia ingin menikmati santapan istimewa bersama mereka. Daging seberat beberapa puluh kilogram ludes mereka santap dalam waktu kurang dari satu jam. Setelah kenyang, mereka bertiga berbaring di atas ranjang batu Yang Guang sambil bercakap-cakap.
"Yu Jiao, bagaimana perasaanmu setelah menembus ke tingkat Naga Roh?" tanya Yang Guang, kembali ke urusan latihan yang paling ia pedulikan.
"Kakak, setelah menembus ke tingkat Naga Roh, aku merasa penyerapan dan pemanfaatan energi alam jadi jauh lebih efektif. Dan persepsi spiritual itu benar-benar luar biasa. Dulu aku cuma mendengar kakak memuji-muji kegunaannya, sekarang setelah mengalaminya sendiri, ternyata jauh lebih hebat dari bayanganku," jawab Yu Jiao dengan patuh.
"Benar, benar! Aku dan kakak merasakan hal yang sama. Hanya saja kekuatan petirku sekarang meningkat pesat. Kini sekali aku melepaskan petir, bisa melesat lebih dari dua ratus meter!" sambung Yu Yun.
"Bagus, Yu Yun memang yang terbaik," kata Yang Guang sambil memuji Yu Yun yang tampak menunggu pujian.
Setelah memuji, Yang Guang bertanya tentang hal yang terpenting, "Berapa jarak maksimum persepsi spiritual kalian?"
"Batas maksimalku sekitar 200 meter," jawab Yu Jiao tanpa ragu, padahal jarak itu bagi seorang kultivator adalah rahasia terbesar.
"Hihi, kakak kalah lagi. Batas maksimalku 210 meter," Yu Yun langsung menyahut sambil tertawa geli. Yu Jiao yang sudah terbiasa dengan kelakuan adiknya hanya tersenyum menanggapi kehebohan itu.
"Begitu ya... berarti dugaanku tidak salah," ucap Yang Guang dengan tampang merenung.
"Kakak, adik ingin kau berjanji satu hal," kata Yu Yun tiba-tiba dengan mata berbinar, melihat Yang Guang yang diam saja.
"Apa itu? Selama kakak bisa, pasti akan kukabulkan," jawab Yang Guang, membelai Yu Yun dengan penuh kasih.
"Benar, ya? Jangan ingkar janji lho!" Yu Yun berkata dengan ekspresi licik, merasa jebakannya berhasil.
Melihat itu, hati Yang Guang langsung berdebar. Ia tahu pasti akan menerima syarat "tidak adil" dari Yu Yun. Benar saja, Yu Yun segera mengutarakan keinginannya: ia ingin bersama kakaknya, Yu Jiao, pindah ke ruang batu tempat tinggal Yang Guang untuk tinggal bersama.
"Ini... bukankah kurang baik? Meski aula ini cukup besar, tapi bertiga di sini rasanya agak sempit, ya..." Yang Guang tak berani menolak terang-terangan, hanya bisa berdalih.
"Huh, itu cuma alasan kakak saja. Aku dan kakak juga tidak akan keluyuran ke mana-mana, cuma untuk tidur dan berlatih saja, aula ini sudah lebih dari cukup kok. Kakak sebenarnya tidak mau kami tinggal bersama kakak, ya? Kakak sudah tidak suka kami lagi?" Ucap Yu Yun lalu langsung menangis.
Yang Guang pun memandang ke arah Yu Jiao, berharap mendapat pertolongan. Tapi Yu Jiao yang biasanya membantunya, kali ini hanya berpura-pura tidak melihat dan ikut-ikutan berkaca-kaca.
Yang Guang tahu, kali ini ia tak bisa menolak. Kalau ia tetap menolak, bukan hanya akan melukai hati mereka, tapi juga bisa membuat hubungan mereka retak.
"Baiklah, kakak setuju. Kalian boleh pindah ke sini mulai hari ini," jawab Yang Guang akhirnya. Mendengar permintaan akhirnya dikabulkan, Yu Yun segera berhenti menangis dan memberi isyarat kemenangan pada kakaknya.