Bab Tiga: Jalan Menuju Kedewasaan
Setelah berdiam di dalam sarangnya selama dua hari, Yang Guang akhirnya kembali keluar hari ini. Ia berniat untuk mengamati lingkungan sekitar tebing ini dengan lebih cermat. Setelah berjemur selama kurang lebih satu jam untuk menambah energi, Yang Guang mulai bergerak melakukan aksinya.
Di tebing pinggir laut ini, hidup berbagai macam burung, kebanyakan adalah burung laut seperti camar dan walet yang memakan ikan serta udang. Musim ini adalah masa kawin bagi burung-burung tersebut, sehingga seluruh tebing dipenuhi dengan suara kicauan yang tinggi atau rendah serta deru kepakan sayap yang bergema, sebuah pertunjukan dari para burung untuk menarik pasangan mereka masing-masing.
Tanpa terlalu mendekati sarang-sarang burung di tebing, Yang Guang lebih dulu memeriksa area perbatasan antara tebing, padang rumput, dan hutan. Jika memang ada hewan berbahaya di sekitar sini, maka tempat-tempat itulah yang paling mungkin menjadi lokasi persembunyian mereka.
Angin laut yang lembap bertiup di atas padang rumput yang dipenuhi semak-semak rendah, membuat beberapa di antaranya rebah. Beberapa tikus dan burung pemakan segala sedang sibuk mencari makan di padang itu. Yang Guang sangat menyukai daging tikus, rasanya jauh lebih lezat daripada tikus-tikus kota yang hidup di selokan dan berbau busuk. Meskipun komodo biasa tak keberatan memakan bangkai, namun sebagai kadal yang tidak biasa, Yang Guang sangat jijik memakan daging busuk. Mungkin ini adalah efek psikologis dari pemikiran "manusia" di kehidupan sebelumnya.
Setelah menghabiskan waktu setengah hari, Yang Guang akhirnya selesai mengamati dengan saksama wilayah yang ia tetapkan sebagai daerah kekuasaan. Ia tidak menemukan hewan yang bisa mengancam dirinya. Perutnya mulai lapar, ia pun bersiap untuk berburu.
"Ya, daging tikus memang enak, sayang ukurannya kecil. Satu dua ekor saja tak akan cukup mengenyangkan. Sedangkan jika berburu burung di siang hari, kemungkinan gagal cukup besar, dan terlalu sering mengganggu burung laut itu bisa membuat mereka pindah. Aku justru ingin mereka tetap di sini sebagai sumber makanan jangka panjang," pikir Yang Guang dengan sedikit frustrasi. Setelah menimbang-nimbang, ia tetap memutuskan untuk berburu tikus, sekalian melatih kemampuannya menangkap mangsa. Lagipula, tikus-tikus kecil ini berkembang biak dengan cepat dan tidak akan meninggalkan padang rumput kecil ini, berbeda dengan hutan yang jauh lebih berbahaya.
Tanpa sembarangan menerkam tikus-tikus yang keluar mencari makan, Yang Guang menggunakan lidahnya yang mampu mengendus bau mangsa dari jarak ribuan meter untuk membuntuti tikus-tikus yang membawa makanan pulang ke sarangnya. Ia lebih menyukai cara berburu "sekali sapu bersih" yang lebih efektif ini. Karena sudah lama hidup di pulau kecil yang bebas dari manusia dan burung pemangsa, kewaspadaan tikus-tikus di sini jauh lebih rendah daripada tikus-tikus di daratan utama.
Yang Guang berjongkok di balik semak dekat lubang sarang tikus. Begitu seekor tikus keluar dari lubang, ia langsung menerkam dan menggigitnya dengan cepat. Hanya dalam waktu kurang dari dua jam, ia sudah berhasil menangkap lima ekor tikus dengan cara itu. "Sepertinya aku bisa bersaing dengan kucing untuk gelar 'pakar tikus'," pikir Yang Guang sambil tersenyum dalam hati.