Bab Enam: Noda Hitam
Saat Li Qiqi kembali ke rumah, langit sudah mulai terang.
Ia meminta sahabatnya pulang. Sampai di titik ini, ia hanya ingin menyendiri dan menenangkan pikirannya.
Cahaya pagi menyorot wajah Li Qiqi yang pucat dan letih, menampakkan pandangan matanya yang penuh keputusasaan. Ia buru-buru menutup tirai, menenggelamkan dirinya dalam kegelapan.
Apa yang terjadi padanya sungguh di luar nalar, selama dua puluh lima tahun hidupnya, tak pernah ia mengalami hal seperti ini. Ia takut pada apa yang telah dilewatinya, dan lebih takut lagi pada masa depan yang tak pasti.
Kejadian yang menimpa Wang Sanbei masih terpatri jelas dalam benaknya. Jika itu tidak benar-benar berbahaya, mana mungkin polisi begitu memperhatikannya?
Namun kini, benak Li Qiqi terasa seperti bubur, ia sudah tak sanggup memikirkan berbagai detail itu. Ia lari ke kamar mandi, mengambil handuk, bermaksud membasuh wajahnya.
Segenggam air segar ia cipratkan ke wajah. Li Qiqi mengulurkan tangan, hendak mengambil sabun muka. Dengan mata yang letih, ia melirik ke cermin. Tetapi saat melihat jelas wajahnya sendiri, matanya langsung membelalak.
Tubuh Li Qiqi bergetar hebat. Ia menatap bayangannya di cermin, meraba wajahnya sendiri, lalu mundur dua langkah.
Sandal yang dipakainya menimbulkan suara “tap-tap” di lantai kamar mandi, disusul suara napas Li Qiqi yang berat dan tersengal.
Tenggorokannya bergolak. Ia kembali menatap wajah di cermin, menggosoknya keras-keras, napasnya memburu, matanya masih menyisakan ketakutan.
Mungkin ia hanya salah lihat, pasti hanya salah lihat.
Barusan, ia merasa wajahnya di cermin tidak seperti dirinya sendiri, malah mirip...
“Tidak mungkin, mana mungkin, pasti aku salah lihat,” gumamnya.
Ia kembali membasuh wajah, berusaha menyadarkan diri. Begitu menatap cermin lagi, akhirnya ia memastikan—wajah itu masih wajahnya sendiri, hanya terlihat lebih letih dan pucat.
Dengan langkah limbung, Li Qiqi menuju ruang tamu, meraih gelas air dan meneguknya. Ia lalu meringkuk di sofa. Rumah mungil yang biasanya hangat itu kini tak memberinya rasa aman sedikit pun. Namun ia juga tak tahu harus ke mana, karena di dunia ini tak ada tempat yang benar-benar aman baginya.
Ia menggenggam selimut erat-erat, kenangan-kenangan berputar di kepalanya. Ia tak bisa bercerita pada siapa pun, tapi ia mengingat semuanya dengan jelas.
Apakah... ini benar-benar bukan ulah makhluk halus?
Tak ingin memikirkannya lagi, dengan tangan gemetar Li Qiqi mengambil ponselnya, lama sekali sebelum akhirnya ia mengetikkan sebuah nomor telepon.
“Tut... tut... tut...”
Suara dering telepon bergema di ruangan sunyi. Li Qiqi menunggu dalam diam, hingga akhirnya, di tengah suara gaduh di seberang, terdengar suara perempuan dari telepon.
“Halo? Siapa ini?”
“Ibu...”
“Ini aku,” suara Li Qiqi bergetar. “Kalian... apa kabar belakangan ini?”
“Li Qiqi? Akhirnya kamu mau menelepon juga?” Nada suara ibunya naik delapan oktaf. Ia mendadak melemparkan sesuatu, dan suara keras mahyong membentur meja terdengar jelas.
“Kamu berani-beraninya ganti nomor! Mau putus hubungan sama ibu, ya? Cuma masalah ibu ingin kamu cepat menikah, dan meminta uang mas kawin untuk adikmu, memang separah itu?”
“Telepon buat apa? Dengar ya, ibu tidak punya uang sedikit pun, jangan harap dapat apa-apa dari ibu!”
“Dasar anak durhaka, cuma tahu minta, tak pernah memberi, kamu pasti masuk neraka nanti!”
Aku... akan masuk neraka, ya?
Li Qiqi menggaruk lengannya, merasa gatal. Tapi ia sudah tak peduli lagi. Air mata menetes, melunturkan penyesalan di matanya. Wajahnya berubah beringas. Dengan suara lantang dan penuh kemarahan, ia membalas,
“Kau perempuan hina, pelacur, suamimu selingkuh pun kau masih mau menghitung uang buat orang lain. Siapa juga yang mau jadi anakmu? Kalau kau memang cinta mati pada anak laki-lakimu, silakan urus dia sampai mati!”
“Anak gila! Apa yang kamu omongkan?!”
“Gila? Benar, aku memang bicara dengan orang gila sepertimu! Aku tak akan masuk neraka, aku akan hidup lebih baik, dan aku ingin lihat kalian hidup sengsara dan melarat!”
Li Qiqi kembali menggaruk lengannya, kali ini lebih keras. Ia bahkan merasakan guratan merah di balik pakaiannya, namun rasa gatal itu tak kunjung hilang.
Semakin lama, rasa gatal itu makin menjadi, tak hanya di lengan.
“Dasar anak gila, kau tunggu saja! Berani-beraninya bicara begitu pada ibumu, kau takkan dapat akhir yang baik!”
“Sudah, tak perlu diteruskan! Semua ini karena dulu ibu terlalu lunak padamu...”
“Kau tak layak jadi ibuku!”
Dengan emosi meledak-ledak, Li Qiqi segera memutuskan sambungan telepon dan melempar ponsel ke sofa. Tangan kanannya yang kini bebas, ia gunakan untuk menggaruk lengan kiri sekuat tenaga. Rasa gatal itu kian menjadi.
Sangat gatal.
Kenapa harus gatal sekali? Kenapa... kenapa bisa begini?!
Namun, yang paling menakutkan bagi Li Qiqi bukan hanya rasa gatal itu, melainkan sesuatu yang seperti sedang tumbuh dari balik kulitnya.
Tumbuh?
Mata Li Qiqi membelalak, tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia berlari ke kamar mandi, kembali menatap cermin.
Wajah di cermin tampak semakin asing. Ia menatap wajahnya yang semakin pucat, bibirnya bergetar hebat. Dengan panik, ia melepas pakaian, memperlihatkan lengan kirinya di depan cermin.
Noda-noda hitam pekat bertumpuk rapat di lengan kiri, seperti tinta tumpah, menetes di bahu kiri, membentuk corak seperti bunga plum berwarna hitam.
“Uwek... uwek!”
Mual hebat yang tak tertahankan menguasai tubuhnya. Cairan lambung berwarna kuning keluar dari mulut, perutnya terasa diremas. Ia menempelkan tubuh ke wastafel, hanya tersisa ketakutan tak berujung. Ia menggosok dan mengorek-ngorek noda hitam di bahunya, namun hasilnya nihil.
“Tidak boleh... tidak boleh...”
Sama sekali tak boleh!
“TIDAK BOLEH!!!”
Jeritan tajam menggema di seluruh ruangan. Li Qiqi menjerit, matanya sepenuhnya dikuasai ketakutan. Ia berlari keluar kamar mandi. Dari luar terdengar ketukan pintu dan suara memanggil namanya. Itu suara polisi yang berjaga di luar, mendengar keributan dan hendak masuk memeriksa.
Tetapi kini, dalam pandangan Li Qiqi hanya ada noda-noda hitam yang terus bermunculan. Ia berlari ke dapur, membungkuk, mengambil pisau. Mulutnya terus bergumam dan menangis.
Dari luar, suara polisi memasukkan kode pintu terdengar jelas. Sebelumnya, Li Qiqi memang sudah memberitahu kode kunci rumahnya, sehingga mereka tak perlu mendobrak.
Namun tetap saja, mereka terlambat.
Salah satu polisi yang mengintip ke dalam hanya sempat menyaksikan adegan itu—
Li Qiqi berdiri di dapur, menatap lengan kirinya dengan pandangan kosong. Wajahnya menunjukkan ketakutan luar biasa, rahangnya mengeras, tangan kanannya menggenggam pisau, mengangkat tinggi-tinggi dan menghujamkannya ke lengan kiri.
Pisau buah yang ramping itu menancap dalam. Darah segar mengalir di sepanjang lengan. Rasa sakit dan putus asa membuat wajahnya terpelintir. Jeritan memilukan keluar dari tenggorokan, tapi ketakutan yang lebih besar kembali menguasainya. Dengan gigi terkatup rapat, ia kembali mencengkeram pisau, menggenggam erat, lalu memutar dengan keras.
“Aaaargh!”
Segumpal daging tercabik jatuh ke lantai, bergetar di atas keramik. Namun di tengah rasa sakit yang mendera, terbersit ekspresi lega di wajah Li Qiqi. Tubuhnya kehilangan kekuatan, ia ambruk ke lantai. Detik berikutnya, polisi bergegas masuk, mengangkatnya dari genangan darah...