Bab 56 Menyambut dan Membersihkan Debu
Pada sore hari tanggal sembilan belas Juni, sekitar pukul tiga, Kepala Keluarga Zhang mengutus pengurus rumah tangga untuk mengirimkan undangan ke kantor kabupaten.
Gao Shun menerimanya atas nama tuan rumah dan berjanji akan datang tepat waktu.
Awalnya, Gao Shun berencana hanya pergi bersama Zhao Xiong. Namun, Li Qiang yang khawatir akan keselamatannya, memaksa ikut serta untuk memberikan perlindungan.
Gao Shun bertanya, “Lalu siapa yang akan menjaga kantor kabupaten?”
Li Qiang tertawa dan berkata, “Hehe, Jenderal, kalau Anda dan Zi Zhuang tidak berada di kantor kabupaten, memang masih ada yang perlu dilindungi di sana? Secara resmi, aku dan Ge Hu adalah pengawal kepala kabupaten, masakan kami tidak ikut? Cukup tinggalkan Qin Du Bo di kantor kabupaten. Biarkan Kepala Rumah Tangga Fang memimpin dua tim kecil untuk ikut bersama kita, jangan pernah lengah.”
Gao Shun merasa usulan itu masuk akal, jadi ia pun menyetujui pengaturan Li Qiang dan berkata, “Suruh Fang Zheng dan yang lain makan lebih awal dan bersiap-siap untuk bertempur.”
“Hehe, Jenderal, tak perlu setegang itu, ini di dalam kota kabupaten, mereka takkan berani berbuat jahat terang-terangan,” ujar Li Qiang.
“Semoga saja demikian, sedia payung sebelum hujan. Terakhir kali aku memeriksa mereka lewat peta sistem, ketiga kepala keluarga itu terlihat sebagai titik merah. Karena kamu bilang jangan lengah, sebaiknya memang tetap waspada,” jawab Gao Shun.
“Baik, Jenderal,” Li Qiang tampak sangat terkejut mendengar mereka muncul sebagai titik merah. Mungkinkah mereka sudah bergabung dengan kekuatan Xianbei dan telah dibeli oleh mereka? Pantas saja setiap kepala kabupaten di sini tidak pernah bertahan lama, pasti ada keterkaitan yang tak bisa dipisahkan.
Jamuan penyambutan diadakan di satu-satunya hotel besar di kota, Gedung Makan Dingfeng, yang sudah tergolong bagus di wilayah perbatasan.
Ketika Gao Shun dan rombongan tiba, Kepala Keluarga Zhang dan beberapa orang lainnya sudah berbaris menanti di depan restoran.
“Salam untuk Kepala Kabupaten.”
Zhao Xiong dengan ramah berkata, “Hehe, maaf telah membuat kalian menunggu lama, sungguh kurang sopan.”
Kepala Keluarga Zhang menjawab, “Kami juga baru saja tiba, Kepala Kabupaten terlalu sopan. Silakan masuk ke dalam!”
“Silakan!”
Selain keluarga Zhang, Tian, dan Ma, ada juga keluarga Li, Sun, Tong, Wang, dan beberapa keluarga kecil lainnya.
Melihat tubuh Li Qiang dan Ge Hu yang kekar, benar-benar seperti raksasa, tinggi mereka jauh melebihi orang kebanyakan. Ditambah lagi dengan dua tim pengawal bersenjata lengkap dan gerak-gerik mereka yang seragam, mereka langsung tahu bahwa para pengawal itu telah menerima pelatihan militer yang ketat. Hal itu membuat para kepala keluarga semakin memperhatikan latar belakang Kepala Kabupaten yang baru.
Gao Shun sangat heran, sebuah kota kecil di perbatasan yang hampir jatuh ke tangan musuh, ternyata masih banyak keluarga kecil yang bertahan di sini. Jika mereka punya kekuatan untuk bertahan, bukankah akan lebih baik jika pindah ke pedalaman yang aman? Kenapa masih memilih tinggal di wilayah yang setiap saat bisa jatuh?
Gedung Makan Dingfeng adalah bangunan kayu dua lantai dengan dekorasi yang cukup bagus.
Hari itu, kedatangan Kepala Kabupaten membuat seluruh restoran dipesan, tak ada tamu lain. Fang Zheng dan yang lainnya ditempatkan di aula lantai satu untuk makan.
Sebagai penasehat militer, Gao Shun duduk di sisi Zhao Xiong, sementara Li Qiang dan Ge Hu berdiri di belakang mereka.
Setelah beberapa putaran minuman dan hidangan, obrolan pun beralih ke arah kebijakan Kepala Kabupaten yang baru.
Kepala Keluarga Zhang bertanya, “Kepala Kabupaten Zhao, Kota Ma Yi ini adalah kota kecil di perbatasan, sering diganggu oleh suku asing. Hidup kami sangat susah. Apakah dalam hal pajak akan ada keringanan bagi kami?”
Zhao Xiong menjawab, “Hehe, pertanyaan Kepala Keluarga Zhang sangat bagus. Tadi pagi saya berkeliling kota dan sangat terkejut. Setidaknya separuh warga kota berpakaian lusuh dan tampak kelaparan. Saya sangat ingin berbuat sesuatu untuk rakyat, tapi saya belum sepenuhnya memahami situasi kota ini. Namun, kalian tak perlu khawatir, setelah saya memahami semuanya, saya pasti akan membuat kebijakan pajak yang adil.”
“Terima kasih atas kepedulian Kepala Kabupaten Zhao terhadap rakyat perbatasan. Kami berterima kasih dan mari kita minum bersama.”
“Baik, bersulang!” Zhao Xiong pun langsung meminum habis cawannya.
Baru saja meletakkan cawan, Kepala Keluarga Zhang kembali bertanya, “Lalu apa rencana Kepala Kabupaten untuk sementara waktu?”
Zhao Xiong dengan nada dibuat-buat menjawab, “Hehe, bertahun-tahun kota ini tak punya kepala kabupaten, bahkan pejabat pun tak ada, apalagi yang melakukan serah terima. Saya harus mempelajari semuanya dari awal. Untuk rencana jangka panjang, sementara belum ada. Saya akan membenahi kantor kabupaten dan barak dulu, setidaknya tempat tinggal harus nyaman, bukan?”
“Benar sekali, Kepala Kabupaten!”
Zhao Xiong memperhatikan ekspresi semua orang dan merasa geli. Di wilayah perbatasan yang rawan bahaya, mereka sama sekali tak menunjukkan rasa khawatir. Lalu ia berkata, “Yang terpenting sekarang adalah merekrut pejabat kabupaten untuk membantu saya mengelola kota ini. Kalian semua penduduk setempat, tentu lebih paham kondisi daerah. Sudah sewajarnya kalian ikut serta dalam urusan kota dan mengabdi pada tanah kelahiran. Saya pikir, tiap keluarga bisa mengajukan dua anak muda terbaik dari keluarga masing-masing untuk bekerja di kantor kabupaten. Dengan begitu, saya pun bisa cepat memahami urusan kota. Bagaimana pendapat kalian?”
Tiga kepala keluarga besar—Zhang, Tian, dan Ma—tertawa kecil dalam hati. Ternyata dugaan mereka benar, untung mereka sudah menyiapkan rencana. Kepala Keluarga Zhang berkata, “Kepala Kabupaten terlalu sopan. Ini adalah kehormatan bagi keluarga kami. Tentu kami akan mendukung. Besok kami akan mengirim putra-putri terbaik keluarga ke kantor kabupaten untuk menerima perintah.”
Melihat Kepala Keluarga Zhang memimpin, kepala keluarga-keluarga kecil pun ikut berjanji akan mengirim anak mereka ke kantor kabupaten besok.
Zhao Xiong berpura-pura sangat senang dan berkata, “Haha, terima kasih atas kebesaran hati kalian semua. Saya haturkan segelas minuman untuk kalian sebagai tanda terima kasih.”
Kepala Keluarga Zhang lalu bertanya lagi, “Kepala Kabupaten Zhao, ini adalah daerah perbatasan. Bangsa Xianbei sering menyerang, rakyat sangat menderita. Kami pun tak bisa berbisnis dengan normal, banyak tanah desa yang terbengkalai. Adakah solusi dari Kepala Kabupaten?”
“Hehe, Kepala Keluarga Zhang, saya baru tiba di sini, bahkan belum mengenal kota dengan baik, apalagi desa-desa. Mana mungkin saya punya solusi? Barangkali Kepala Keluarga Zhang punya usulan?”
“Hehe, Kepala Kabupaten Zhao, justru karena kami tak punya solusi makanya menantikan kedatangan Kepala Kabupaten. Dengan Anda di sini, kami merasa punya sandaran. Tentu kami akan menurut pada pengaturan Kepala Kabupaten.” Bola pertanyaan dilempar balik.
Zhao Xiong dalam hati berkata, benar-benar licik. Ia berkata, “Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih atas dukungan kalian.”
Gao Shun memanfaatkan waktu ketika semua orang sibuk minum untuk mengamati sifat masing-masing. Tak ada yang benar-benar menonjol, tapi lewat peta sistem, tiga titik merah masih terlihat—tiga kepala keluarga besar itu. Kepala keluarga kecil lainnya tampaknya tak bermasalah.
Karena Zhao Xiong baru tiba dan belum mulai mengambil kebijakan, para kepala keluarga hanya sekadar memperkenalkan diri. Tak ada pembicaraan penting di meja makan, sehingga tidak memicu konflik kepentingan. Maka suasana pun berlangsung hangat dan kedua pihak sama-sama puas.
Setelah jamuan bubar, Kepala Keluarga Zhang, Tian, dan Ma berkumpul lagi di rumah Zhang untuk berdiskusi tertutup.
Kepala Keluarga Zhang berkata, “Tampaknya kepala kabupaten yang baru ini juga bukan orang yang ambisius. Baru datang saja sudah sibuk membenahi kantor kabupaten dan barak. Untuk saat ini, kita tak perlu melapor pada Tuan Suku. Kita amati saja dulu beberapa waktu.”
Kepala Keluarga Ma bertanya, “Lalu bagaimana dengan perdagangan dengan Tuan Suku? Sekarang penjaga gerbang kota sudah diganti, barang kita tak bisa keluar.”
“Masa khusus, perlakuan pun khusus. Urusan dengan Tuan Suku biar aku yang jelaskan. Untuk saat ini, kita simpan saja barang-barang itu, nanti sekalian diangkut lebih banyak. Saya yakin Tuan Suku tidak akan menyalahkan kita. Keselamatan nomor satu.”
“Baik, kita lakukan seperti usulan Kepala Keluarga Zhang.” Kepala Keluarga Ma dan Tian pun sepakat.
Beberapa kepala keluarga kecil merasa bahwa Zhao Xiong tidaklah sulit didekati. Dalam hati mereka senang, mungkin ini kesempatan untuk lepas dari tekanan tiga keluarga besar.
Sesampainya di kantor kabupaten, Zhao Xiong mengeluh, “Berbicara di acara seperti tadi benar-benar melelahkan. Jadi kepala kabupaten ternyata tak mudah.”
Li Qiang tertawa, “Hahaha, Kepala Kabupaten Zhao, di antara kita, hanya Anda yang punya jabatan, kami semua sangat iri. Anda tidak mau, jutaan orang di luar sana menginginkan jabatan itu namun tak mendapatkannya.”
“Kalau kamu mau, lain kali biar sang Jenderal yang atur, aku benar-benar lelah, jauh lebih enak melatih pasukan.”
“Sudah, jangan bertengkar lagi. Segera suruh Bao De untuk mengawasi gerak-gerik tiga keluarga besar. Segera laporkan jika ada perkembangan,” kata Gao Shun.
“Siap, Jenderal.” Li Qiang langsung keluar untuk mengatur segalanya.