Bagian Pertama: Sang Pemelihara Roh Bab Sepuluh: Vila yang Dihantui
Dua puluh hari kemudian, di suatu tempat di Zhejiang.
Bersimpuh di pinggir jalan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Xu Guoqing merasa begitu tersesat. Ia tidak tahu ke mana kakinya telah membawanya tanpa tujuan, sudah lupa jalan pulang ke desa, dan lebih-lebih tak tahu harus menjalani hari-hari ke depan seperti apa.
Dua puluh hari ini ia bisa dikatakan hidup dari mengemis. Dunia luar tidak seperti Desa Xu yang menganut kerja kolektif dan hasilnya dinikmati bersama. Jika seseorang ingin bertahan hidup di luar, ia harus mencari pekerjaan. Namun bagi Xu Guoqing, itu lebih sulit dari naik ke langit, sebab ia tak punya keahlian apa pun, dan sudah beberapa kali menahan lapar.
Saat itu, tiga pengemis datang menghampiri Xu Guoqing. Salah satunya, dengan logat daerah yang kental, berkata, "Saudara, kalau mau mengemis di sini apa sudah izin dengan kami? Kalau tahu diri, segera pergi, jangan ganggu rezeki kami." Setelah berkata demikian, ia menendang punggung Xu Guoqing.
Dunia memang seperti ini. Ketika seseorang jatuh ke titik terendah, tak ada yang akan bersimpati padanya; yang ada justru banyak yang menambah derita.
Setelah diperlakukan seperti itu, Xu Guoqing hanya bisa pergi ke tempat lain. Bukan karena ia takut pada mereka; sejujurnya, dengan kemampuannya, tiga orang itu sekaligus pun bukan tandingannya. Baginya, hanya orang bodoh yang mau bertengkar mati-matian untuk urusan sepele.
Karena Xu Guoqing kini dekil dan kusam, begitu ia masuk ke sebuah gang, anjing-anjing pun menggonggong keras. Ia mengumpat pelan dan hendak berbalik, namun seekor anjing besar entah sejak kapan sudah menghadang jalannya.
"Sialan, aku bisa maklum pada manusia, tapi bukan berarti anjing juga boleh seenaknya padaku," gumam Xu Guoqing. Ia pun melangkah mendekati anjing besar itu.
Anjing itu menggeram, menunjukkan taringnya, tetapi Xu Guoqing tak gentar. Saat anjing itu hendak menerkam, ia menendangnya hingga terlempar dua meter. Setelah anjing itu kabur, ia bahkan dengan santainya bersiul.
Aksi Xu Guoqing itu tak luput dari perhatian seorang pemulung di kejauhan. Sambil mengacungkan jempol, pemulung itu berjalan mendekat dan menggoda, "Wah, tak kusangka, Saudara. Dengan kemampuan seperti itu, sayang benar kalau tak jadi perampok." Selesai berkata, ia menepuk bahu Xu Guoqing.
Xu Guoqing tidak marah dengan ucapannya ataupun karena tangannya yang baru saja mengorek sampah kini menepuk bahunya. Ia hanya tersenyum ramah, "Aku keluar untuk mencari seseorang. Kalau orang itu sudah kutemukan, aku akan pulang, tidak niat menetap lama."
Pemulung itu menatap Xu Guoqing dari atas sampai bawah. Merasa orang di depannya luar biasa, bukan hanya lihai, tapi juga punya aura yang sulit diungkapkan, ia pun bertanya, "Sudah punya rencana makan malam?"
Xu Guoqing menggeleng pasrah, menertawakan diri sendiri, "Terus terang saja, aku sudah beberapa kali kelaparan. Kalau tidak, anjing tadi pasti tak semudah itu bangkit setelah kutendang."
Pemulung itu seperti sudah menduga Xu Guoqing akan berkata demikian. Ia merangkul bahunya, "Saudara, lihat tuh, di sini banyak anjing. Tertarik?"
Di pinggiran kota.
Malam itu, Xu Guoqing mendapat hidangan terbaik sejak ia meninggalkan desa. Seekor anjing seberat tiga puluh jin habis disantap berdua dengan pemulung itu.
"Saudara, besok kau mau apa?" tanya pemulung itu sambil membersihkan gigi dan duduk santai.
Saat makan, Xu Guoqing sudah tahu nama lelaki itu Chen Fusheng, berumur empat puluh tahun, berasal dari Shaoxing. Orang-orang di sekitar memanggilnya Raja Rongsokan. Mendengar pertanyaannya, Xu Guoqing menjawab, "Mau bagaimana lagi? Jalani saja hari demi hari. Kalau tidak ada jalan keluar, besok ya tangkap anjing lagi buat makan."
Mereka pun tertawa bersama. Lalu Raja Rongsokan berkata, "Saudara, mencari orang dengan cara seperti ini bukan solusi. Yang terpenting kau harus punya pekerjaan dulu. Bagaimana kalau kau cari kerja di sini, setelah ada kabar baru baru kau pergi?"
Xu Guoqing menganggap saran itu masuk akal. Ia pun berkata, "Kira-kira, menurut abang, pekerjaan apa yang cocok buatku? Masa iya aku benar-benar merampok?"
Raja Rongsokan mengernyitkan kening, berpikir sejenak. "Dengan kemampuanmu, jadi satpam pasti bisa. Bagaimana kalau besok kau coba lamar jadi satpam?"
Xu Guoqing menggeleng, "Satpam? Kedengarannya kurang cocok. Lagi pula, jadi satpam bukankah terlalu menyepelekan kemampuanku?"
Mendengar itu, Raja Rongsokan tertawa geli dalam hati: Anak ini ternyata punya harga diri tinggi juga. Ia berkata, "Jadi satpam dulu saja untuk bertahan. Nanti kalau sudah ada modal bisa cari kerja lain. Sekarang cari kerja harus punya keahlian. Selain jago berkelahi, kau bisa apa? Lagi pula, keahlian itu tak bisa dimakan. Sebagus apa pun, masih bisa kalah oleh satu peluru. Benar, kan?"
Xu Guoqing tidak mengatakan bahwa ia bisa menghindari peluru pemburu. Lagipula, ia sekarang pun tidak tahu apa itu peluru. Namun, soal keahlian, Xu Guoqing merasa dirinya punya satu kelebihan. Ia berkata, "Abang bilang sekarang semua pekerjaan butuh keahlian?"
"Siapa yang mau mempekerjakan kalau tak punya keahlian?" Raja Rongsokan menepuk dadanya, merapikan rambut yang sudah berbulan tak dicuci, membelah tengah, lalu berkata, "Ambil contoh pemulung seperti kami, butuh kejelian mata dan kecepatan tangan. Misalnya, kalau ada barang antik di tumpukan sampah, harus punya mata jeli untuk tahu nilainya. Kalau tidak, di depan emas pun kau takkan tahu. Selain itu, tangan juga harus cekatan. Ada istilah ‘mata jeli tangan cepat’, itu dia. Nah, kami saja harus punya keahlian, kamu bisa apa?"
Xu Guoqing hampir saja tertawa melihat Raja Rongsokan yang begitu bangga. Ia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba bertanya, "Abang, percaya sama hantu?"
Duduk di atas batu, hati Raja Rongsokan langsung ciut, nyaris saja jatuh. Ia menoleh ke belakang dengan was-was, lalu berkata, "Saudara, malam-malam jangan bercanda seperti itu. Lihat vila di kejauhan itu? Katanya beberapa hari ini berhantu. Pemiliknya bilang, siapa pun yang bisa membersihkan rumah itu dari gangguan, akan diberi dua ratus ribu. Sudah banyak orang pintar dipanggil, tapi tak ada yang berhasil—semua masuk berdiri, keluar terbujur. Awalnya aku tak percaya, tapi waktu cari makanan di tong sampah depan vila itu beberapa malam lalu, aku tak sengaja mengintip ke dalam, dan hampir saja jantungku copot. Mau tahu apa yang kulihat?"
"Apa?" Xu Guoqing pun jadi penasaran tanpa sadar.
Raja Rongsokan kembali menoleh ke belakang, seolah takut ada hantu perempuan di belakangnya, lalu berkata, "Kalau tak salah tiga malam lalu. Aku lapar, jadi cari makan di tong sampah rumah itu. Saat sedang mencari, kudengar suara wanita menangis dari dalam vila. Penasaran, aku mengintip. Astaga, nyaris aku pingsan. Mau tahu apa yang kulihat?"
Kening Xu Guoqing berkerut. Ia mengumpat, "Kau dari tadi ngomong muter-muter, kenapa tak langsung bilang apa yang kau lihat? Jangan bertele-tele!"
"Terlalu tegang, terlalu tegang," jawab Raja Rongsokan, menggaruk kepala dengan canggung, hendak bicara, tapi lagi-lagi menoleh ke belakang, takut ada sesuatu.
Xu Guoqing tak tahan lagi. Melihat tingkah Raja Rongsokan yang penakut, ia sengaja menakut-nakutinya, "Abang, sudah, jangan terus menoleh ke belakang. Kalau begini, tak melihat hantu malah aneh. Bukankah ada pepatah, ‘tiga kali jangan menoleh’? Kalau menoleh tiga kali, nanti tak bisa kembali lagi."
Raja Rongsokan, yang memang penakut, langsung terduduk di tanah karena terkejut. Baru saja hendak mengumpat, tiba-tiba di belakang Xu Guoqing entah sejak kapan sudah berdiri seseorang.
Catatan: ‘Tiga kali jangan menoleh’, menurut kepercayaan kuno, manusia memiliki tiga lampu di tubuh: di kedua bahu dan di atas kepala. Lampu itu melambangkan energi positif manusia. Jika seseorang mendadak menoleh, salah satu lampu di bahu bisa padam, sehingga energi positif berkurang. Terutama setelah tengah malam, saat energi negatif sangat kuat, menoleh bisa memadamkan lampu di bahu, dan setelah lampu padam, bahkan anak kecil pun mudah diganggu makhluk halus. Selama lampu masih menyala, orang bisa berjalan tanpa takut, tapi jika sudah padam, lebih baik berhenti.
(Di siang hari ini, saya teringat pernah membaca buku tentang metafisika. Katanya, manusia takut hantu, padahal sebenarnya hantu lebih takut pada manusia, sehingga mereka suka bersembunyi di belakang kiri manusia. Maka, jika berada di tempat sepi atau angker, sebaiknya jangan sembarangan menoleh. Kenapa kebanyakan orang tak bisa melihat hantu? Sebab hantu takut pada manusia, dan biasanya hanya muncul saat larut malam ketika semua orang sudah tidur, lalu bila merasa ada manusia yang akan terbangun, mereka segera bersembunyi. Intinya, jangan takut pada hantu. Orang yang mati karena melihat hantu biasanya mati karena ketakutan sendiri. Hantu umumnya tidak berniat jahat. Toh, hantu dulunya juga manusia. Ini pendapat yang saya baca, bila ada yang berbeda silakan berdiskusi di kolom komentar. Kalau masuk akal, akan saya apresiasi.)