Bab Delapan: Tertipu
Seorang pria berjalan masuk ke apotek sambil mengomel, menarik perhatian Bai Fan. Setelah diamati dengan saksama, ternyata pria itu adalah He Qing'an yang wajahnya penuh lebam dan memar.
Ia menutupi mulutnya sambil tertawa, lalu berjalan mendekat dan menggoda, “Wah, kamar gadis mana yang kau terobos sampai babak belur begini?”
Setelah berkata begitu, ia bahkan menjulurkan tangan dan menekan luka memar di wajah He Qing'an, membuat He Qing'an meringis kesakitan dan segera menepis tangannya.
“Mau apa kau? Apa kau tidak tahu kalau lelaki dan perempuan seharusnya menjaga jarak?”
Selesai bicara, ia menutup wajahnya dan berjalan melewati ruang depan sambil memanggil tabib.
Karena kakak beradik itu sudah pergi, Bai Fan juga merasa tidak perlu berlama-lama di sana. Sebelum berangkat, ia sempat menumpang makan siang di Balai Pengobatan Kehidupan Abadi, karena ia hanya punya sepuluh tael perak, jadi harus berhemat sebisa mungkin.
Setelah mengambil cambuk dari kamarnya, pelayan sudah siap menuntun kuda poni putihnya di depan pintu. “Nona, tidak ingin tinggal beberapa hari lagi?”
Bai Fan melompat ke pelana, tersenyum dan berkata, “Tidak usah, aku masih ada urusan, jadi tidak ingin merepotkan!”
“Hia!”
Dengan seruan ringan, ia mengendarai kuda, bersiap meninggalkan kota kecil itu.
Baru dua langkah kudanya berjalan, He Qing'an tiba-tiba berlari keluar dari balai pengobatan dan menghadang di depan kudanya.
“He Qing'an, apa lagi sekarang?”
He Qing'an bersedekap sambil cemberut, “Kau melukaiku semalam, kau harus ganti rugi, kalau tidak aku akan terus menguntitmu!”
Bai Fan tertawa lepas, memacu kudanya melewati He Qing'an sambil berseru, “Kejar aku, kalau bisa, baru aku ganti uang obatmu!”
“Aku... Kau curang!” He Qing'an memaki sambil menunjuk punggung Bai Fan yang menjauh.
Mana mungkin dua kaki bisa menandingi empat kaki?
Namun, kali ini ia memang ditugaskan seseorang untuk mengikuti Bai Fan ke Dianzhou. Kalau sampai ia pergi begitu saja, bagaimana ia akan mempertanggungjawabkan tugasnya?
“Eh, tunggu aku!”
Dengan terpaksa, ia pun berlari mengejar. Ia benar-benar menyesal tak mendengarkan saran Yu Yiyu untuk rajin berlatih ilmu meringankan tubuh.
Dua hari kemudian, saat senja, mereka berdua menunggang kuda beriringan di jalan setapak pegunungan. Karena musim panas, tanah begitu kering hingga hanya dengan berjalan pun debu sudah beterbangan, apalagi dengan kuda-kuda tangguh itu.
He Qing'an yang berada di belakang Bai Fan pun berkali-kali makan debu.
Satu jam kemudian, mereka akhirnya tiba di Dianzhou. Melihat dua huruf besar di atas gerbang kota, Bai Fan merasa amat bersemangat.
“Akhirnya aku akan punya uang, haha, membayangkannya saja sudah senang!”
He Qing'an mendengus sinis, “Jangan terlalu senang dulu. Kalau menagih utang semudah itu, takkan ada surat utang yang jatuh tempo di tanganmu!”
“Dengan lidahku yang tajam ini, aku yakin pasti bisa menagihnya. Percaya tidak? Bahkan orang mati pun bisa kubujuk hidup lagi!” Bai Fan tertawa penuh percaya diri.
“Kalau mereka berani tak bayar juga, aku akan sekap semua di ruang hitam kecilku, hahaha!”
He Qing'an menggelengkan kepala, lebih dulu menuntun kudanya masuk ke gerbang kota. Melihat itu, Bai Fan lekas turun dan berjalan beriringan dengannya.
“Eh, sejak kapan rambutmu berubah warna?” tanya Bai Fan penasaran melihat rambut He Qing'an yang kini memutih.
He Qing'an tak tahan lagi, memutar bola mata dan berhenti, menepuk-nepuk debu di kepalanya, “Lihat baik-baik, ini semua gara-gara kau!”
Bai Fan hanya bisa tertawa canggung. Tiba-tiba, penjual bakpao tua berlari menghampiri, menggenggam tangan He Qing'an dan membentak, “Anak muda, apa-apaan kau ini? Debu dari kepalamu semua jatuh ke bakpaoku!”
Ia menunjuk bakpao yang berubah warna karena kejatuhan debu, lalu berkata dengan marah, “Bakpaoku jadi seperti ini mana mungkin laku terjual, kau harus ganti rugi.”
“Baik, baik, kami ganti. Berapa harganya?” jawab He Qing'an dengan malas.
Si penjual berpikir sejenak, lalu mengacungkan satu jari.
“Satu tael perak?”
He Qing'an tersenyum, mengeluarkan satu tael perak dari lengan bajunya dan meletakkannya di atas kukusan, lalu berkata kepada Bai Fan, “Sudah, ayo kita pergi!”
Saat mereka hendak pergi, si penjual kembali memanggil, “Eh, siapa bilang satu tael? Maksudku sepuluh tael perak!”
“Hanya beberapa biji bakpao sepuluh tael perak?” Bai Fan terkejut, “Kenapa kau tidak sekalian merampok saja!”
“Memang aku sedang merampok, kenapa?” bisiknya pelan.
Bai Fan dan He Qing'an belum sempat bereaksi, si penjual langsung berteriak keras, “Orang-orang, kemari! Dua orang ini mengotori bakpao saya, tak mau ganti rugi, malah mau kabur. Ayo semua lihat, tolong beri keadilan...”
Begitu ia berteriak, orang-orang pun langsung berkumpul, mengepung mereka berdua dan mulai menunjuk-nunjuk serta mengomentari.