Bab 3: Kelimpahan
Di seluruh dunia, jumlah Transenden tidak lebih dari tiga digit. Belum lama ini, tujuh Transenden mengumumkan pembentukan sebuah organisasi anti-perang, berupaya mengandalkan kekuatan mereka untuk mengembalikan dunia ke dalam kedamaian.
Sekilas terdengar tak nyata, namun sebenarnya cukup mungkin dilakukan: semisal menculik semua kepala negara yang terlibat perang, lalu menodong mereka dengan senjata agar menandatangani perjanjian gencatan senjata—seorang pengguna kekuatan khusus yang pernah menyuarakan ide ini kini sedang diselidiki.
Hal ini tampaknya tak ada kaitan dengan Yulaya, kecuali bahwa para pendirinya sama-sama Transenden seperti dirinya. Namun suatu hari, Yulaya menerima undangan dari “Tujuh Pengkhianat”.
Saat itu, anggota Tujuh Pengkhianat belum genap tujuh orang; beberapa di antaranya masih ragu antara kerinduan akan damai dan kesetiaan pada tanah air. Hanya Verner—Transenden Prancis yang memiliki kekuatan Pulau Misterius—yang sibuk mencari rekan seperjuangan.
Yulaya mengetahui hal ini, namun ia hanya menjadi penonton dari kejauhan. Kadang ia menyelamatkan beberapa orang yang meminta pertolongan padanya, tak menyangka akan menerima undangan yang begitu formal.
Apakah dirinya terlihat begitu berjiwa besar?
Mendapatkan surat rahasia yang tiba-tiba datang, berstempel peta pulau, Yulaya tak kuasa menahan rasa herannya.
Namun rasa heran tetaplah rasa heran, ia tak berniat mengubah rencananya hanya karena itu. Ia letakkan surat itu tanpa membalas. Ketika pihak pengirim tak kunjung mendapat jawaban, mereka pun memahami maksudnya dan tak mengirim undangan lagi.
Setelah itu, Tujuh Pengkhianat resmi muncul ke hadapan dunia. Mereka menculik kepala negara seperti Prancis dan lain-lain, mengguncang dunia. Kini, para pemimpin negara hidup dalam ketakutan, kewaspadaan memuncak, namun tetap saja satu per satu “diundang” bertamu ke Pulau Misterius.
Kini hanya Britania Raya yang tersisa. Parlemen pun mengadakan sidang khusus. Mayoritas sepakat bahwa target berikutnya kemungkinan adalah Perdana Menteri atau Ratu. Usulan untuk memanggil pulang Shakespeare dari penjagaan perbatasan, agar bersama Yulaya menjalankan tugas perlindungan, pun disetujui secara bulat.
Yulaya melamun saat rapat berlangsung. Shakespeare yang semula hendak bertanya sesuatu, melihat Yulaya menatap kosong ke satu titik di udara, jelas tidak fokus.
Melihat sisi wajah Yulaya yang penuh belas kasih bak dewa, Shakespeare mengurungkan niat menepuk bahunya. Ia hanya mengatupkan tinju ke bibir, berdeham, lalu berlalu. Yulaya memandangi punggungnya, belum sempat bertanya, tapi dalam hati ia berpikir, pantas saja Shakespeare menjadi sastrawan besar; sekalipun di dunia ini ia tak menulis naskah, bakatnya tetap luar biasa.
Yulaya baru berjaga malam sekitar setengah jam, ketika tamu tak diundang mengganggu tugasnya.
Dalam kantuk, ia seolah melihat seekor kucing kuning keemasan di depannya?
Tapi segera ia sadar ini nyata, bukan mimpi, sebab ia merasakan energi yang meletup-letup dari tubuh kucing itu—energi yang sama dengan asal dirinya.
“…?” Ia merasa belum pernah menganugerahkan berkah pada makhluk selain manusia di dunia ini.
Namun setelah diperhatikan, kucing itu tampak tidak asing. Bukankah itu yang sering mondar-mandir di depan rumahnya?
Yulaya tahu, jika ia tak berhati-hati, makhluk yang lama berada di sekitarnya akan tanpa sengaja berubah atau bermutasi. Hal ini serupa dengan takdir masa lalunya; sentuhan sembarangan darinya bisa mengubah satu spesies menjadi ras abadi.
Dulu, ia adalah Dewa Bintang Kesuburan, dibenci oleh musuh-musuhnya sebagai Sang Pembawa Wabah Keabadian, namun disebut Raja Obat Penuh Kasih oleh para pengikutnya.
Sebelum bereinkarnasi menjadi manusia, Yulaya adalah Dewa Bintang Kesuburan. Perbuatan masa lalunya membuat “Xianzhou Luofu” rela melakukan apa saja untuk memburunya, sekaligus menimbulkan permusuhan abadi dengan “Pemburu”.
Setelah menyeberang ke dunia ini, Yulaya mengingat sebagian memori tentang Dewa Bintang.
Ia dulu adalah salah satu Dewa Bintang paling terkenal di alam semesta—Sang Dewa Kesuburan, penerus sang Tabib pendahulu, atau bisa disebut Tanpa Nama.
Ia telah hidup terlalu lama, terbangun dari jasad tabib di dekat Tzigania, hingga kenangan awalnya pun telah pupus. Baru di kehidupan kini, sosok ilahi itu kembali mengingat asal muasalnya.
Dulu, ia adalah sosok misterius yang nyaris tak dikenal manusia. Namun setelah perlahan kembali memahami kemanusiaan, Yulaya bukan lagi “Dia”, melainkan “ia”.
Namun kekuatan Kesuburan yang begitu dahsyat tak menghilang bersama kepergian Dewa Bintang, malah menempel pada jiwa Yulaya dan terbawa ke dunia berdimensi rendah ini.
Bumi tak sanggup menahan kehadiran Dewa Bintang. Maka, di celah antara tiga dimensi dan dua dimensi, setelah mengingat sebagian memori, ia memilih memecah diri jadi avatar, mengutus sang avatar turun ke bumi, agar planet ini tak hancur karena kehadiran dewa.
Kekuatan Dewa Bintang sungguh tak terbayangkan. Demi benar-benar memisahkan diri dari Kesuburan, avatar Yulaya yang paling lemah pun terpaksa kehilangan hampir semua kenangan, hingga kekuatannya tak jauh beda dari para pengguna Kesuburan biasa.
Meski avatar terlemah, ia telah mencapai puncak kekuatan dunia ini. Walau hanya membawa kurang dari seperseribu dari kekuatan aslinya, tak seorang pun di dunia ini mampu membunuhnya, bahkan melukainya pun sulit—sebab luka di tubuhnya tak bertahan lebih dari satu detik, bahkan darah pun tak sempat mengalir.
Untungnya ia tak berdarah. Sebab bila setetes darah jatuh ke tanah, bencana bagi makhluk asli akan terjadi—lebih parah dari kisah kiamat, di mana tumbuhan dan hewan menguasai setiap jengkal bumi, hingga manusia hampir tak punya ruang hidup.
*
Verner semula mengira melaksanakan rencana di Britania Raya akan lebih sulit dibanding negara lain, karena pihak lawan jelas sudah bersiaga, bahkan sampai memulangkan Shakespeare yang terkenal dari medan perang.
Transenden satu lagi mungkin tak terkenal, namun Verner jauh lebih waspada terhadapnya dibanding Shakespeare. Orang itu jarang menunjukkan kekuatan; sepanjang yang diketahui, ia hanya pernah menggunakannya sekali—saat ia bangkit sebagai Transenden di medan perang beberapa tahun lalu.
Verner sempat mengira, ia juga akan bergabung dengan para Pengkhianat. Namun ternyata ia keliru. Orang itu memang banyak menyelamatkan nyawa, tapi bukan berarti ia sudi meninggalkan dunia demi cita-cita.
…Ia salah menilai.
Saat Verner terkunci dalam penjara pohon, ia membatin. Seharusnya ia tak hanya mengajak satu rekan. Karena meremehkan lawan, mereka mungkin akan kalah telak.
Seorang Transenden mampu melakukan hal luar biasa layaknya tsunami atau gempa bumi, namun tak semua Transenden demikian.
Kekuatan Verner, Pulau Misterius, bukanlah soal kekuatan mentah, melainkan gabungan aneka kekuatan yang sulit diantisipasi.
Dengan kombinasi kekuatan itu, Verner pernah mengalahkan banyak musuh Transenden. Jika di wilayahnya sendiri, Pulau Misterius, ia bahkan nyaris tak terkalahkan.
Dengan reputasi tinggi dan hati yang penuh kebanggaan, kekalahan baginya nyaris mustahil. Sepanjang hidup, ia hanya dua kali gagal: pertama, saat Transenden misterius penguasa tumbuhan itu tak membalas ajakannya; kedua, kegagalan kali ini.
Verner memandang kosong pada sosok di bawah sinar bulan. Rambut emas lawannya dikepang longgar, mata hijau zamrud berkilau di kegelapan, topi bergaya kuno menutupi kepala—satu-satunya bagian dari dirinya yang tak begitu hidup.
“Topi itu, hadiah dari seseorang?” ia mendengar dirinya bertanya.
Orang itu tertegun. “Bukan.” Dalam ingatannya, memang pernah ada seseorang yang selalu memakai topi tinggi, tapi tak pernah menghadiahkan topi padanya.
“Sampaikan maksudmu,” ucap Yulaya.
Verner—si penjahat yang tertangkap—terdiam…
Verner cepat tanggap, “Aku datang mencarimu.”
Yulaya memiringkan kepala, bingung. Lawannya segera menegaskan, “Aku hanya ingin kau mempertimbangkan lagi, benarkah perang harus terus berlanjut? Kau pun pernah di medan tempur, tahu betapa kejamnya perang, apalagi perang para pengguna kekuatan khusus.”
“Begitu banyak nyawa segar terbunuh oleh sesama bangsa sendiri. Mereka tak seharusnya mati sia-sia, bukan? Kau telah menyelamatkan banyak orang, apa kau rela melihat mereka yang kau selamatkan akhirnya mati di tangan musuh sebagai prajurit wajib militer beberapa tahun kemudian?”
“Itu sungguh tak masuk akal! Tuhan menciptakan manusia, mereka yang saling membunuh itu sejatinya adalah saudara. Perang membuat mereka kehilangan kendali atas nasibnya. Kami merindukan damai, kehidupan pun merindukan damai!”
Yulaya berpikir sejenak, lalu melepaskan Verner.
“Baiklah, aku setuju denganmu.” Tatapannya meneliti Verner. “Sekarang, katakan padaku, sejauh mana kau sanggup melangkah?”
Verner menjawab dengan keyakinan pada cita-citanya, “Selama perdamaian tercapai, meski harus mati hari itu juga, aku takkan menyesal.”