Bab 93: Seratus Kemenangan Beruntun untuk Menegakkan Wibawa, Menghimpun Ilmu untuk Menitiskan Kembali Raga Dao
"Segala Jalan di Antara Langit"
Demikianlah nama kitab emas tersebut. Namanya terdengar sangat megah, namun entah bagaimana isinya?
Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil kitab emas itu di tangannya, lalu dengan lembut membuka halaman pertamanya. Ia mendapati halaman tersebut kosong melompah, lantas ia menyalurkan kesadarannya ke dalamnya. Detik berikutnya, sebuah informasi mendadak muncul di dalam benaknya.
"Ilmu Samudra Tanpa Batas! Menggunakan samudra sebagai objek visualisasi, menampung seratus sungai, mampu merangkum segala wujud, tidak berlatih Inti Emas, tidak pula mempraktikkan Janin Abadi, hanya memurnikan Esensi Sejati. Esensi Sejati menjelma menjadi samudra, melahirkan segala fenomena..."
"Kitab Reinkarnasi Kayu Kering: Kayu kering yang hampir lapuk mengubah sisa percikan hayat terakhirnya menjadi sebilah benih, menggunakan raga yang renta sebagai pupuk untuk merawat benih baru, menjelmakan reinkarnasi yang tidak pernah berhenti..."
"Tak Bergeming Bagaikan Gunung: Memvisualisasikan gunung agung, menekan sebidang tanah yang kokoh, tidak bergerak dan tidak bergeming. Kelihatannya seolah-olah seluruh sumber kehidupan telah lenyap, padahal segala sesuatu di atas raganya sedang tumbuh subur dan penuh dengan vitalitas..."
"..."
Berdengung!
Kitab emas itu tiba-tiba memancarkan cahaya, menolak kesadarannya agar tidak merangsek masuk lebih jauh. Selain sembilan bab ilmu yang terpampang di permukaan, sisa halaman lainnya terkunci rapat oleh segel pelindung, sehingga mustahil baginya untuk melihat keseluruhan isi kitab tersebut.
Kendati demikian, sekadar melihat sekilas pun sudah mampu memantik inspirasi di benaknya, membuat berbagai macam gagasan berkelebat tanpa henti di dalam hatinya.
"Bagaimana?"
Melihat ekspresi Yang Yi yang tampak masih penasaran, sang pemilik toko merasa jauh lebih tenang.
"Berapa harga kitab ini?"
"Ini adalah harta yang tak ternilai hargnya. Kendati demikian, segala sesuatu pasti ada perkecualiannya. Ketika Leluhur Wanxiang merintis Persekutuan Dagang Wanxiang di masa lampau, beliau pernah berpesan: 'Segala Jalan di Antara Langit' hanya diwariskan kepada mereka yang memiliki ikatan takdir."
Mendengar perkataan sang pemilik toko, ia pun tertegun. "Lantas, siapakah yang dimaksud dengan orang yang memiliki ikatan takdir itu?"
Pemilik toko tersenyum tipis dan berkata, "Tentu saja orang seperti rekan Daois ini, seseorang yang memiliki keteguhan tekad yang luar biasa, kebijaksanaan yang tinggi, serta pendirian yang kuat!"
"Oh, mengapa bisa berkata demikian?"
"Rekan Daois berniat membeli teknik khusus, rasanya Anda pasti berencana untuk menyerap intisari dari berbagai ajaran, memetik keunggulan dari beragam sumber demi merintis teknik kultivasi Anda sendiri. Bukankah tebakan saya ini benar?"
Mendengar hal itu, Yang Yi tidak berniat menutupinya, lalu mengangguk pelan.
Segera setelah itu, sang pemilik toko menceritakan sebuah rahasia besar kepadanya.
Ternyata, kitab "Segala Jalan di Antara Langit" itu dihimpun sendiri oleh leluhur Persekutuan Dagang Wanxiang. Di masa mudanya, Leluhur Wanxiang adalah sosok yang sangat diagungkan oleh langit. Meskipun belum tentu bisa menundukkan para jenius dari generasi yang sama, pamornya sangat luar biasa tiada tanding, berdiri tegak di puncak kejayaan.
Entah mengapa, sekembalinya dari sebuah reruntuhan kuno, Leluhur Wanxiang tiba-tiba mengubah tabiat lamanya.
Ia tidak lagi suka membandingkan diri dengan orang lain, dan pembawaannya pun menjadi jauh lebih rendah hati.
Setelah menyepi selama setahun penuh, ia mulai mengumpulkan berbagai macam teknik kultivasi dari seluruh penjuru langit dan bumi, bersiap untuk menciptakan teknik kultivasinya sendiri.
Kala itu, banyak orang yang mencemooh Leluhur Wanxiang karena dianggap terlalu percaya diri dan tidak tahu diri.
Namun, Leluhur Wanxiang sama sekali tidak terusik. Ia menghabiskan waktu selama tepat tiga ratus tahun untuk mengumpulkan berbagai teknik kultivasi, lalu kembali menyepi demi merintis jurus baru. Namun nahas, usahanya itu berujung pada kegagalan.
Tepat ketika orang-orang bersiap untuk menghibur Leluhur Wanxiang, mereka justru mendapati bahwa leluhur tersebut sama sekali tidak merasa putus asa, melainkan tampak sangat bersemangat.
Sejak saat itu, ia melanjutkan usahanya mengumpulkan teknik kultivasi. Hanya saja, kali ini seluruh teknik yang dicarinya adalah jenis teknik khusus. Tidak peduli seberapa tinggi tingkatannya, tetapi ada satu syarat yang harus sama dengannya, yakni harus bersifat unik dan tidak biasa.
Kali ini, Leluhur Wanxiang menghabiskan waktu seabad lamanya untuk mengumpulkan teknik-teknik tersebut, sebelum kembali menutup diri untuk bermeditasi.
Delapan puluh satu tahun kemudian, keajaiban turun dari langit. Tanda-tanda alam berwarna-warni meliputi seluruh penjuru batasan dunia. Ternyata, Leluhur Wanxiang telah berhasil merintis teknik barunya.
Begitu keluar dari pertapaannya, tingkat kultivasi Leluhur Wanxiang meroket dengan dahsyat. Hanya dalam waktu tiga jam saja, ia berhasil mengangkat tataran kultivasinya hingga mencapai Alam Kesengsaraan.
Badai kesengsaraan surgawi pun menyusul seketika. Ketika orang lain menghadapi kesengsaraan, semuanya tampak begitu berhati-hati dan waspada. Namun, saat Leluhur Wanxiang menghadapi kesengsaraan, ia hanya mengeluarkan hardikan ringan, dan petir kesengsaraan itu langsung dilebur menjadi sebutir mutiara guntur olehnya.
Setelah berhasil menciptakan teknik tersebut, Leluhur Wanxiang tidak mendirikan sekte atau perguruan, melainkan membangun Persekutuan Dagang Wanxiang, mengedarkan sumber daya ke seluruh penjuru semesta demi mensejahterakan umat manusia.
Ketika Persekutuan Dagang Wanxiang telah berjalan di jalur yang benar, Leluhur Wanxiang menyunting seluruh teknik yang pernah dikumpulkannya menjadi sebuah jilid kitab, dan akhirnya menamakannya sebagai "Segala Jalan di Antara Langit"!
Seharusnya, kitab "Segala Jalan di Antara Langit" ini sangatlah berharga. Kendati demikian, Leluhur Wanxiang meninggalkan pesan: bilamana ada seseorang yang datang ke persekutuan dagang untuk membeli teknik khusus demi merintis jurus baru, maka pinjamkanlah kitab "Segala Jalan di Antara Langit" kepada orang tersebut untuk membantunya mengembangkan ajarannya.
Kendati demikian, ada satu syarat yang harus dipatuhi: terlepas dari apakah penciptaan jurus itu berhasil atau gagal, orang tersebut tetap harus berhutang budi kepada pihak persekutuan dagang.
Setelah merenung sejenak, ia pun menyetujui persyaratan tersebut.
Sumpah darah telah diikrarkan, lantas sang pemilik toko menyerahkan "Segala Jalan di Antara Langit" kepadanya, beserta sebilah slip giok yang merekam mantra pembuka segel pelindung kitab tersebut. Pemilik toko itu juga berpesan berulang kali bahwa masa peminjaman kitab ini hanya dibatasi selama seratus tahun.
Jika masa berlakunya telah tiba dan ia masih belum mengembalikannya, maka Persekutuan Dagang Wanxiang akan mengerahkan teknik rahasia untuk memanggil kembali kitab tersebut, sementara namanya akan dimasukkan ke dalam daftar hitam persekutuan dagang.
Transaksi telah rampung. Sang pemilik toko merasa sedikit sungkan, lalu mengeluarkan sebuah cermin dan menyerahkannya kepada Yang Yi. Cermin itu adalah hadiah atas kemenangannya meraih seratus kemenangan beruntun.
Namun, ia tidak menerimanya. Walaupun sebelumnya sang pemilik toko sempat menjebaknya dengan dalih teknik kultivasi, ia sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati.
Seorang saudagar senantiasa mengejar keuntungan, itu adalah sifat alamiah. Apabila ada kesempatan semacam ini, mereka pasti tidak akan melepaskannya. Ditambah lagi, ia memang sangat membutuhkan bantuan kitab "Segala Jalan di Antara Langit", sementara berbagai pusaka sihir sudah tidak lagi ia pedulikan.
Mana yang lebih penting dan mana yang sepele, ia tentu mampu membedakannya dengan jelas.
Setelah Yang Yi menolaknya berkali-kali, sang pemilik toko terpaksa menyimpan kembali cermin pusaka tersebut dan tidak pernah lagi menyinggung masalah itu.
Seketika itu pula, keduanya mulai berbincang akrab. Yang satu berniat menjalin hubungan baik, sementara yang lain memiliki pertanyaan untuk diajukan. Percakapan di antara mereka pun mengalir dengan sangat lancar.
Tidak lama kemudian, keduanya bahkan sudah saling memanggil sebagai saudara.
Pada saat ini, Yang Yi merasa waktunya sudah cukup tepat, lalu ia membuka mulutnya dan berkata, "Kakak Yun, saat berada di Sekte Pemurni Artefak dahulu, aku pernah melihat sebuah buku berwarna perak. Selain warnanya yang berbeda, bentuknya persis sama dengan 'Segala Jalan di Antara Langit'. Mungkinkah ada seseorang dari Sekte Pemurni Artefak yang juga pernah meminjam kitab ini?"
Mendengar hal itu, Yun Yizhong tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Saudaraku, dalam masalah ini engkau telah salah paham. Buku berwarna perak yang engkau maksudkan itu juga dijual oleh Persekutuan Dagang Wanxiang kami. Isi di dalamnya persis sama dengan 'Segala Jalan di Antara Langit', hanya saja buku itu tidak memiliki sembilan diagram visualisasi esensi serta aura Dao yang ditinggalkan oleh leluhur kami!"
Hati Yang Yi bergetar seketika. "Entah apakah pihak persekutuan masih memilikinya? Aku sangat ingin membeli satu eksemplar."
Wajah Yun Yizhong mendadak menunjukkan ekspresi serba salah, lalu ia berkata, "Meskipun buku 'Segala Jalan di Antara Langit' berwarna perak ini tidak dapat disandingkan dengan kitab asli peninggalan leluhur kami, benda itu tetaplah sangat berharga. Sebab, setiap buku tersebut merupakan sebuah pusaka roh tingkat rendah, yang ditempa oleh seorang Mahaguru Pemurni Artefak dari persekutuan kami. Jumlahnya hanya ada tiga puluh enam eksemplar di dunia, dan kesemuanya sudah lama terjual habis."
Kilas kekecewaan melintas di mata Yang Yi, sementara di dalam hatinya ia justru merasa sangat gembira. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya telah memperoleh sebuah pusaka roh tanpa sengaja dan bahkan tidak menyadarinya.
Melihat ekspresi tersebut, Yun Yizhong tidak tahu bagaimana cara menghiburnya, sehingga wajahnya dipenuhi dengan senyum pahit.
Keduanya kembali mengobrol sejenak, sebelum Yang Yi menyatakan pamit undur diri. Menjelang kepergiannya, ia menyerahkan sebuah cincin penyimpanan kepada Yun Yizhong, dan berpesan berulang kali agar barang-barang di dalam cincin itu ditukarkan dengan benda-benda pusaka langit dan bumi, seraya memohon bantuan kepada Yun Yizhong.
Sepeninggal Yang Yi, Yun Yizhong barulah mengeluarkan cincin penyimpanan yang ditinggalkan oleh Yang Yi. Begitu kesadarannya memindai isinya, tubuhnya langsung menegang, rona wajahnya berubah drastis, kedua matanya membelalak lebar, dan debar jantungnya berdegup kencang.
"Ini... Ini adalah... Batu istana ungu?"
Yun Yizhong menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya dipenuhi oleh rasa terkejut yang luar biasa. Suaranya bahkan bergetar, seolah-olah ia masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya.