Bab 39 Suara dari Lantai Tiga
Waktu terus berlalu, malam pekat menyelimuti Rumah Hantu.
Menjelang larut malam, di tengah keheningan rumah hantu, tiba-tiba terdengar suara aneh, seolah-olah seseorang sedang menggergaji sesuatu.
Di ruang istirahat karyawan, Chen Ge perlahan membuka matanya. Ia melirik ponselnya—sekarang sudah pukul satu lewat sepuluh dini hari.
Ia membalikkan badan, menekan kepala dengan bantal, namun suara aneh itu terus saja menembus ke telinganya.
"Aku tidak sedang bermimpi, kan? Apa sih yang terus berbunyi itu?"
Setiap properti di rumah hantu ini dibuat atau dimodifikasi sendiri oleh Chen Ge. Ia sangat tahu, tidak ada satu pun alat di sini yang bisa menimbulkan suara seperti menggergaji kayu itu.
Setelah tidur selama enam atau tujuh jam, kepalanya masih agak pusing. Chen Ge mencubit keras pahanya sendiri, mengenakan pakaian, lalu mengambil sebuah palu dari kotak peralatan.
Ia menyalakan senter, lalu membuka pintu ruang istirahat.
Rumah hantu di tengah malam jauh lebih menakutkan daripada di siang hari. Chen Ge bersandar di ambang pintu, belum berani langsung keluar.
"Tak mungkin maling, hanya orang bodoh yang mau mencuri barang di rumah hantu tengah malam begini; bukan juga tikus, karena suara mereka menggerogoti kayu sangat pelan dan halus, tidak sejelas ini." Setelah menyingkirkan dua kemungkinan yang wajar, Chen Ge mulai mempertimbangkan hal-hal di luar nalar: "Jangan-jangan monster di dalam cermin keluar?"
Karena kekurangan kain, Chen Ge belum sempat menutupi seluruh cermin di lantai tiga, tepatnya di adegan Pembantaian Tengah Malam.
Ia menatap lorong gelap itu, melangkah mundur beberapa langkah, lalu menempelkan boneka peninggalan orang tuanya ke tubuhnya, barulah ia berani keluar dari kamar.
Sumber suara berasal dari atas. Chen Ge menaiki tangga, terus menuju lantai tiga, dan akhirnya berhenti di depan pintu adegan Pembantaian Tengah Malam.
"Benar saja, suara itu keluar dari sini. Tapi, aku belum tahu, apakah suara itu berasal dari arwah korban Apartemen Ping An, atau dari makhluk kotor di dalam cermin." Berdiri di depan pintu, Chen Ge sedikit ragu. Sejujurnya, bahkan ia sendiri enggan masuk ke dalam adegan horor seperti ini di malam hari.
Disiksa oleh suara gergaji di dalam rumah, Chen Ge menggenggam erat gagang palu. "Aku sendiri punya gelar 'Orang yang Dilindungi Hantu Gentayangan', dan telah mendapat niat baik dari korban Apartemen Ping An. Jadi, meskipun di dalam adegan Pembantaian Tengah Malam aku bertemu makhluk kotor dari dalam cermin, seharusnya ia tidak bisa berbuat apa-apa padaku."
Ia teringat saat makhluk cermin itu hampir membuat He Shan pingsan, namun gagal karena kemunculan tiba-tiba Xu Wan. Dari situ, bisa dilihat bahwa makhluk itu sebenarnya tak terlalu kuat.
"Masuk saja, toh aku dan makhluk cermin itu sudah berada dalam posisi saling membinasakan. Semakin banyak yang kuketahui tentangnya, makin besar peluangku menyingkirkannya." Chen Ge sangat tenang. Ia tahu, yang sebenarnya ia takuti bukanlah makhluk itu sendiri, melainkan sensasi menghadapi sesuatu yang tak diketahui.
Ia membuka pintu besar adegan Pembantaian Tengah Malam. Bau apek samar perlahan menyebar di dalam ruangan, membuat tempat ini semakin mirip Apartemen Ping An.
Pintu-pintu kamar di sepanjang lorong setengah terbuka dan setengah tertutup. Chen Ge mengangkat ponsel, sementara tangan lainnya menggenggam palu, lalu masuk ke dalam.
Suara gergaji itu semakin jelas, Chen Ge tahu ia semakin dekat dengan kebenaran.
Ia menelusuri seluruh lantai tiga, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kamar. Ia yakin suara aneh itu memang berasal dari dalam ruangan itu.
Pintu kamar tidak tertutup rapat. Chen Ge meraih gagang pintu, sensasi dingin yang menusuk langsung membuatnya sadar sepenuhnya.
Otot kakinya menegang, lalu ia menghentakkan pintu.
"Siapa di dalam?!"
Chen Ge menerobos masuk dengan palu terangkat, tepat saat itu ia melihat sosok hitam besar sedang berjongkok di kamar mandi, siluetnya sangat mirip dengan He Feng!
Sosok gelap itu tak menyangka ada orang masuk, segera melempar benda di tangannya, lalu berbalik dan melompat ke dalam cermin, menghilang tanpa jejak.
"Berhenti!" Chen Ge berteriak, mengayunkan palu, namun tak mengenai apa pun.
Kamar mandi itu kosong melompong, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah ilusi.
"Itu jelas bukan He Feng! Tapi kenapa sosok itu benar-benar sama tinggi dan besar dengan He Feng?" Berdiri di depan cermin, Chen Ge menatap dirinya sendiri, perasaan aneh muncul dalam hatinya. "Makhluk ini sedang meniru He Feng? Apa tujuan utamanya melakukan itu?"
Kemunculan sosok hitam itu menimbulkan banyak pertanyaan, namun juga memberi dua informasi bagi Chen Ge.
Pertama, makhluk cermin mampu keluar dari cermin dan bergerak bebas; kedua, ia bisa berubah menjadi siapa pun yang pernah bercermin di sana.
"Makhluk ini ternyata lebih berbahaya dari dugaanku."
Suara gergaji yang menggema di rumah hantu akhirnya berhenti. Chen Ge berjongkok, memeriksa benda-benda yang tadi dilempar sembarangan oleh sosok hitam itu.
Di atas lantai semen yang kasar, tergeletak empat boneka kain yang compang-camping, dan beberapa pecahan kaca cermin yang tajam.
Ia mengangkat boneka-boneka itu dan memeriksanya. Boneka yang mewakili ibu, kakak perempuan, dan adik perempuannya hanya kotor oleh debu dan tanah, tidak mengalami kerusakan berarti.
Hanya boneka yang melambangkan ayahnya yang mengalami luka parah—lehernya hampir putus, tubuhnya penuh goresan.
"Kenapa hanya ayah yang terluka?" Chen Ge segera teringat satu alasan: boneka ayah pernah membantu He Feng melarikan diri, merusak rencana makhluk cermin, sehingga makhluk itu membalas dendam padanya.
"Empat arwah korban tak mampu menghentikan makhluk cermin, hanya bisa pasrah dibully, perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh." Chen Ge benar-benar tidak tahu apa-apa tentang kekuatan di dunia itu. Ia hanya bisa menebak berdasarkan informasi yang ada: "Arwah korban hanya bisa menakut-nakuti, tanpa kemampuan menyerang. Makhluk cermin satu tingkat di atas arwah korban. Tapi, ia selalu kabur saat bertemu manusia. Berarti, makhluk itu sebenarnya lemah dalam pertarungan fisik. Serangannya mungkin lebih ke ranah psikologis, seperti memanfaatkan celah di dalam hati manusia, membuat orang terbuai ilusi, lalu tersesat dalam diri sendiri."
Menggabungkan pengalaman He Shan, He Feng, dan kejadian barusan, Chen Ge menyimpulkan pendapatnya sendiri.
Makhluk cermin ini sangat sulit ditangani, tetapi jika dihadapi secara langsung, kemampuannya tak bisa berkembang maksimal. Jadi, asalkan bisa memancingnya keluar dari cermin, sisanya akan lebih mudah diurus.
"Aku harus merencanakan dengan baik, sebisa mungkin malam ini juga menghabisinya, supaya besok adegan Pembantaian Tengah Malam bisa digunakan." Sorot mata Chen Ge tenang. Makhluk di dalam cermin semakin berani, jika tak disingkirkan, ia takkan bisa tidur nyenyak.
Menggendong keempat boneka, ia meninggalkan adegan Pembantaian Tengah Malam, mengunci pintu, lalu masuk ke ruang peralatan.
Sambil mengambil jarum dan benang untuk menjahit luka di boneka, ia mulai memikirkan strategi.
"Makhluk itu sangat agresif, sepertinya sangat tertarik pada manusia hidup. Jika aku ingin memancingnya keluar dari cermin, cara termudah adalah menggunakan manusia sebagai umpan." Tangan Chen Ge sangat cekatan, hanya dalam beberapa menit sebagian besar luka boneka sudah dijahit.
"Masalahnya, setelah aku memancingnya keluar dari cermin, bagaimana cara membunuhnya? Katanya hantu takut garam dan bawang putih, tapi kalau benar-benar bertarung, apa masuk akal aku melempari makhluk itu dengan benda-benda ini?" Chen Ge berpikir serius, akhirnya memutuskan untuk mencari saran di forum dunia gaib.