13. Kemunculan Pertama Sang Anak Hebat
Halaman (1/3)
Urusan sayuran sudah selesai dibicarakan. Cara mengembangkannya secara rinci masih harus menunggu beberapa waktu, sampai hasil dari kebun sayur mulai melimpah.
Namun hari ini, Luo Yihang lebih banyak memikirkan pucuk lada Sichuan.
“Ayah, sehari bisa menghasilkan berapa banyak pucuk lada?”
“Di rumah kita ada sekitar enam puluh pohon. Kalau semua pucuk mudanya dipetik, sehari mungkin dapat dua sampai dua setengah kilogram. Tapi tidak boleh dipetik semua, nanti pohon ladanya tidak berbuah.”
“Bisa tumbuh selama berapa lama?”
“Sepuluh hari, ya? Paling lama setengah bulan.”
Pas sekali. Sehari dua sampai dua setengah kilogram, sepuluh hari berarti dua puluh sampai dua puluh lima kilogram. Modal awal untuk memulai usaha seharusnya sudah cukup.
Soal tidak boleh dipetik semua? Soal hasil lada akan berkurang jika terlalu banyak dipetik? Itu semua tergantung pada kekuatan energi spiritual.
Setelah melihat sikap kedua orang tuanya di meja makan hari ini, sebuah gagasan muncul di benak Luo Yihang.
Sayuran yang disuburkan oleh energi spiritual memiliki khasiat yang luar biasa. Barang sebagus itu harus dijual dengan harga tinggi agar nilainya benar-benar tampak.
Dan uang sangat penting.
Agar orang tuanya dapat hidup tenang, dibutuhkan uang. Untuk menyewa seluruh lahan di desa dan menanaminya, dibutuhkan uang. Untuk memperbaiki kehidupan mereka, dibutuhkan uang pula.
Yang paling penting, tanah tandus yang membentang di seluruh pegunungan dan lembah, dengan rerumputan serta semak-semak kecil yang tumbuh jarang-jarang, memiliki tingkat pemanfaatan ruang yang terlalu rendah. Semua itu harus diubah dan dipenuhi tanaman.
Inilah tempat suci dalam gua milik Akar Spiritual Tanah dan Kayu—versi miskin.
Dan untuk itu, tentu dibutuhkan jumlah uang yang tidak sedikit.
Kini sudah dipastikan bahwa kualitas sayuran yang disuburkan oleh energi spiritual cukup tinggi.
Masalahnya adalah bagaimana menjualnya, dengan harga berapa, dan apakah pasar bisa menerimanya.
Masih ada waktu sebelum sayuran di kebun matang dalam jumlah besar.
Mumpung ada waktu, lebih baik dilakukan sebuah percobaan.
Bahan percobaannya adalah pucuk lada.
Lalu muncul pertanyaan baru: bagaimana cara menjual pucuk lada?
Pucuk lada memang biasanya dijual per ons. Di pasar, satu ons bisa dihargai lebih dari dua yuan. Namun jumlahnya hanya sekitar dua puluh lima kilogram. Kalau semuanya terjual, hasilnya paling-paling hanya seribu lebih yuan. Sekalipun harga satuannya dinaikkan sepuluh kali lipat, hasilnya juga hanya sekitar sepuluh ribu yuan—tidak seberapa.
Hasil pertanian mentah memang sulit dijual mahal. Hanya setelah diolah dan diberi nilai tambah, seseorang bisa memperoleh pendapatan besar.
Pengolahan itu bisa berupa merek, kemasan, atau cerita. Tentu saja, cara yang paling umum adalah memasaknya.
Menjual pucuk lada secara langsung: tidak.
Mengolah pucuk lada menjadi makanan lalu menjualnya: ya.
Namun, bagaimana tepatnya cara melakukannya?
Luo Yihang tidak tahu, tetapi ada orang yang tahu.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
...
Setelah makan siang, Luo Yihang berganti pakaian, mengambil beberapa barang, lalu mengendarai motor matik tua milik ayahnya menuruni gunung untuk mencari bantuan dari seseorang.
Setelah keluar dari Parit Ping'an, ia terus menuruni jalan desa yang menghubungkan satu desa dengan desa lainnya. Di bawah sana terbentang sebidang tanah datar yang luas.
Menurut cerita para tetua desa, tempat itu dulunya juga sebuah gunung. Pada tahun enam puluhan atau tujuh puluhan, ketika pabrik-pabrik program garis ketiga dibangun, tim konstruksi dari delapan provinsi datang dan benar-benar memangkas puncak gunung itu hingga rata untuk membuka lahan.
Pada hari membuka ladang kacang, para orang tua juga pernah bercerita tentang penggunaan dinamit untuk meledakkan gunung dan mengangkut batu. Sebagian yang mereka maksud adalah tempat ini.
Pada masa itu, bukan hanya gunung yang dibuka. Dua waduk besar juga digali, lalu rumah-rumah dibangun dan sekolah didirikan.
Daerah ini kemudian menjadi kompleks perumahan keluarga para pekerja pabrik mesin.
Luo Yihang bersekolah di sekolah menengah pertama dan atas di sini. Kini pabriknya telah bangkrut, kompleks perumahannya tidak lagi berpenghuni, dan sekolahnya pun sudah ditutup.
Ia melewati kompleks perumahan itu, lalu terus menuruni jalan gunung hingga ke kaki gunung. Di sebuah lembah yang bentuknya mirip teras di atas Parit Ping'an, tersembunyi kawasan pabrik mesin.
Tempat itu sangat luas.
Ada belasan bengkel besar dan tujuh atau delapan gedung perkantoran. Setiap bengkel luasnya kira-kira sebesar dua atau tiga lapangan basket.
Di dalamnya bahkan ada taman, tempat parkir armada kendaraan, kantor pos, rumah sakit, dan gudang senjata milik bagian keamanan.
Sayangnya, kini semuanya telah lenyap. Yang tersisa hanyalah deretan bangunan kosong.
Sesampainya di kawasan pabrik, Luo Yihang tidak masuk. Ia justru mengendarai motornya ke jalan yang dahulu dibangun untuk mengangkut mesin-mesin pabrik, lalu mengikuti jalan itu sampai tersambung dengan jalan nasional.
Setelah melaju sekitar sepuluh menit di jalan nasional, ia tiba di kota kecil.
Kota di kaki gunung itu benar-benar kecil. Penduduknya bahkan belum mencapai seribu orang. Hanya ada satu jalan utama, panjangnya tidak lebih dari dua ratus meter.
Luo Yihang memasuki satu-satunya jalan utama di kota itu. Ia melewati gudang pangan, supermarket, warung makan kecil, toko sepeda listrik, tempat pengambilan paket, dan toko lotre, lalu berhenti di depan sebuah bangunan kecil berlantai dua.
Di bangunan itu tergantung papan nama bertuliskan “Perusahaan Sarana Pertanian Zhiqiang”. Pada jendela kacanya, dengan cat tertulis: pupuk kimia, plastik mulsa, benih, peralatan pertanian, pupuk mikro, hormon tanaman, pakan ternak, grosir dan eceran pestisida; penyewaan mesin pertanian; berbagai kebutuhan sehari-hari, dan sebagainya.
Sebenarnya, toko itu juga mengurus perantara pembuatan dokumen, jasa titip dan antar, pengurusan balik nama serta uji kelayakan kendaraan, antar-jemput ke stasiun, dan berbagai layanan lainnya. Semua itu tidak ditulis di papan.
Mau bagaimana lagi? Usaha sarana pertanian tidak menghasilkan banyak uang, jadi harus mengembangkan berbagai pekerjaan sampingan.
Di depan pintu, tepat di bawah atap, terdapat sebuah kursi malas.
Seorang pemuda gendut sedang mendengkur keras di atasnya. Tangannya menjuntai keluar kursi, sementara ponselnya hampir jatuh ke tanah.
Sungguh membuat iri. Di usia dua puluhan, ia sudah menjalani kehidupan seperti orang berusia enam puluhan.
Luo Yihang turun dari motor, berjalan ke belakang si gendut, menggosok-gosok kedua tangannya, lalu menepuk dahinya.
Plak!
Bunyinya begitu nyaring.
“Apa-apaan!” Si gendut tersentak kaget dan hampir terguling dari kursi malas.
Begitu mendongak dan melihat Luo Yihang, ia langsung memaki, “Dasar bodoh!”
“Kau juga dasar tolol!” Luo Yihang membalas tanpa sungkan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Dasar bodoh!”
“Tolol!”
“Bodoh!”
“...”
Setelah saling bertukar “salam” dengan penuh persahabatan, si gendut yang kehidupannya seperti pensiunan itu—Qiangwa, nama lengkapnya Luo Zhiqiang—mempersilakan Luo Yihang masuk ke toko.
Ia menuangkan segelas air.
“Dasar bodoh, kapan kau pulang?”
“Aku sudah pulang kira-kira seminggu. Bagaimana keadaanmu?” Luo Yihang menerima gelas itu dan menyesap air.
“Masih begini-begini saja. Tidak bisa kaya, tapi juga tidak sampai kelaparan. Orang tua masih sehat dan kuat. Belum punya istri. Kalau kau? Kenapa pulang? Mau tinggal berapa lama?”
“Aku sudah berhenti bekerja. Pulang untuk bertani. Akan tinggal cukup lama. Soal istri, belum ada—dan itu bagus sekali.”
Ini sudah seperti prosedur tetap. Setiap kali Luo Yihang pulang, ia selalu mengobrol seperti ini dengan teman sekolah lamanya. Mereka saling mengetahui keadaan masing-masing. Selama tidak ada hal besar yang terjadi, itu sudah cukup.
Terakhir kali mereka bertemu adalah dua bulan lalu, saat Festival Musim Semi. Waktu itu baru saja berlalu, jadi tidak ada rasa haru karena bertemu kembali.
Lagipula, anak muda selalu memandang ke masa depan. Menganggur atau berhenti bekerja bukan perkara besar. Yang lebih penting adalah punya pacar atau tidak, serta sudah putus atau belum.
Setelah basa-basi selesai, Luo Yihang menjelaskan maksud kedatangannya.
“Aku ingin membuat gerobak makanan ringan. Bagaimana caranya?”
Luo Yihang ingin membuat gerobak makanan ringan keliling yang menjual pucuk lada goreng, sebagai awal usaha.
Ia tidak punya uang maupun koneksi, jadi membuat gerobak adalah pilihan yang paling praktis.
Setelah mendengar perkataan Luo Yihang, Qiangwa menggaruk kepalanya.
“Pertama, kau harus mengurus surat keterangan kesehatan, izin sanitasi, dan surat untuk pembayaran pajak.”
Kemudian ia melanjutkan, “Kalau soal perlengkapan untuk berjualan, aku punya kendaraan roda tiga listrik. Pakai saja dulu. Untuk barang-barang lain, coba lihat di pasar grosir. Kalau ada, beli di sana. Kalau tidak ada, beli lewat internet.”
Setelah berpikir sejenak, ia menambahkan, “Untuk yang lainnya, sebaiknya tetap mengurus izin usaha. Di sini memang tidak ada persyaratan khusus, tapi kalau punya izin, hati terasa lebih tenang.”
Setelah menjelaskan panjang lebar, ia akhirnya mengeluh, “Ribet sekali.”
“Dari semua orang yang kukenal, hanya kau yang pernah mengurus hal seperti ini.” Luo Yihang mengangkat bahu tanpa sedikit pun merasa sungkan. “Bisa mengurusnya atau tidak?”
“Bisa.”
“Kalau begitu, ayo.”
“Baik, baik. Aku yang menyetir, kau kunci pintunya.”
Halaman (3/3)