Pendahuluan
Tanah luas Negeri Shenzhou, membentang tanpa batas, konon di atas langit yang kesembilan bersemayam para dewa, memiliki kekuatan luar biasa yang mampu meraih bintang dan menangkap bulan, memindahkan gunung serta membalikkan lautan; usia mereka pun amat panjang, tak hancur oleh ribuan bencana, langit dan bumi boleh saja musnah, namun mereka tetap abadi. Jika seseorang mampu membuka Gerbang Langit dengan tubuhnya sendiri, maka ia akan memperoleh kedudukan keabadian dan hidup selamanya.
Karena itu, manusia berlomba-lomba mempelajari jalan menuju keabadian, mendambakan menjadi pasangan dewa, meninggalkan tubuh fana dan hidup bebas tanpa batasan waktu. Sejak entah berapa lama yang lalu, ketika manusia pertama berhasil membuka Gerbang Langit dan meraih keabadian, arus keinginan untuk menapaki jalan keabadian di dunia manusia kian hari kian membara.
Kini, berbagai aliran dan sekte telah bermunculan bak jamur di musim hujan. Namun, jika ditelaah lebih jauh, secara garis besar dapat dibedakan sebagai berikut: ajaran terbagi menjadi Buddhis dan Taois, sedangkan seni dan ilmu terbagi menjadi benar dan sesat.
Mereka yang menelaah sebab akibat, menempuh jalan pertapaan penuh penderitaan, dan meraih pencerahan, itulah Buddhis; mereka yang mempelajari rahasia langit, menyeimbangkan yin dan yang, hingga akhirnya menjadi makhluk abadi yang terbang ke langit, itulah Taois.
Seni terbagi menjadi benar dan sesat: Jalan Dewa, Jalan Iblis, Jalan Arwah, dan Jalan Siluman, semuanya adalah jalan yang bisa ditempuh. Apa yang disebut benar dan apa yang disebut sesat, sejak dahulu hingga kini tak pernah ada kesimpulan pasti. Perselisihan ini bukan hanya terjadi di kalangan manusia biasa, namun juga menjadi asal mula pertikaian di antara para pencari keabadian. Masing-masing menempuh jalannya sendiri, berusaha meraih abadi, dan di ujung perjalanan, hanya ada hidup dan mati yang saling berhadapan.
Namun, untuk menapaki jalan keabadian, seseorang bukan hanya memerlukan bakat dan akar spiritual yang unggul, tetapi juga guru dan sekte yang baik, serta peruntungan yang mendukung. Segala syarat ini sangat sulit dipenuhi. Karena itu, di tengah hamparan tanah yang tak berujung, lebih banyak manusia biasa yang harus berjuang dalam debu dunia fana.
Dan kisah kita bermula di sebuah negeri kecil di selatan Negeri Dewa Timur, yakni Negeri Qin.