Bab Tujuh Puluh Empat: Keberadaan yang Paling Penting
“Yang Mulia Rajero!”
Lumia, yang sedari tadi memperhatikan Yang Xiao, terkejut setengah mati hingga hampir menangis. Dengan panik, ia menarik salah satu kobold di sampingnya dan berkata, “Yang Mulia Rajero menghilang! Cepat! Kalian harus segera menyelamatkannya!”
“Guk?”
Beberapa kobold di sekitarnya tertegun sejenak, lalu menoleh ke tempat Yang Xiao tadi berdiri, memang benar, sosok Yang Xiao sudah tidak terlihat lagi...
Benar, Yang Xiao telah lenyap. Bahkan ia sendiri tidak tahu berada di mana sekarang. Begitu menjejakkan kaki ke tanah, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruang gelap gulita.
“Apa yang terjadi ini!?” Wajah Yang Xiao langsung berubah serius. Ia menggenggam pedangnya dengan waspada dan meneliti sekeliling, namun tidak menemukan apa pun. Tempat ini seolah hanya diisi oleh dirinya sendiri.
Kejadian aneh seperti ini belum pernah dialami Yang Xiao sebelumnya. Sekilas, rasanya seperti ia diserap ke dalam kantong ruang milik Adams. Apakah bola yang ia tangkap tadi adalah kantong ruang yang mampu menghisap manusia!?
“Lupakan, sekarang yang terpenting adalah keluar dari tempat sialan ini.”
Di luar sana pertempuran masih berlangsung sengit. Sebagai pemimpin, Yang Xiao tidak bisa tiba-tiba menghilang begitu saja. Ia tidak sempat memikirkan hal lain, langsung mengayunkan pedangnya ke tembok di sebelah, yang menurutnya adalah satu-satunya cara keluar.
Tempat ini kosong melompong, kemungkinan memang bagian dalam bola itu. Kalau ia bisa menghancurkan dinding di sini, seharusnya ia bisa membebaskan diri.
Sekali tebas, suara dentuman nyaring menggema, mirip saat ia menebas batu di lantai dua gua bawah tanah. Namun, dinding yang mirip batu itu tetap utuh, sama sekali tidak retak.
Yang Xiao tidak menyerah, wajahnya malah semakin tegang. Ia menambah tenaga dan kembali menebas dinding tersebut dengan kuat. Ia benar-benar cemas, tidak bisa absen di saat krusial seperti ini!
Menghadapi pasukan elit Tangan Perak, pihaknya hanya unggul sedikit saja. Pertarungan ini bisa saja berakhir dengan kekalahan hanya karena ia menghilang! Kalau nanti berhasil keluar, bisa-bisa ia sudah dikepung para petualang. Yang Xiao sadar betul, sekarang tidak ada lagi Raja Malam...
Memikirkan ini, Yang Xiao seperti orang kesetanan. Ia menggenggam erat Pedang Kejatuhan dan mulai menebas dinding secara membabi buta.
Bunyi dentingan pedang dan dinding terus menggema di ruang sempit ini.
“Sialan, jangan-jangan dinding ini memang tidak bisa dihancurkan!? Sebenarnya tempat apa ini?”
Setelah beberapa kali menebas, Yang Xiao sadar tidak ada bekas sedikit pun di dinding. Ia semakin panik. Setelah ragu sejenak, ia menurunkan senjatanya dan mulai memeriksa sekeliling dengan teliti, berharap menemukan semacam mekanisme rahasia. Namun hasilnya mengecewakan. Selain dirinya dan dinding itu, memang tidak ada apa-apa.
Ia mencoba menebas dinding di sisi lain. Kedua kemampuan aktifnya sedang dalam masa pendinginan, jadi ia hanya bisa menyerang biasa. Dengan sekuat tenaga, ia kembali menebas. Kali ini suara benturannya lebih nyaring, lengannya bahkan terasa kesemutan, namun dinding itu tetap tidak mengalami kerusakan apa pun.
“Aku tidak percaya aku tidak bisa menghancurkan selembar dinding! Haa!”
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menebas sekuat tenaga. Tetap tidak ada hasil. Belum sempat menebas untuk kelima kalinya, ia mendadak berhenti.
Ia merasakan Pedang Kejatuhan di tangannya tiba-tiba jadi lebih ringan...
“Ada apa denganmu!?”
Yang Xiao memeriksa pedang di tangannya dan langsung panik. Pedang itu kini tampak agak transparan! Jangan-jangan rusak karena terlalu sering digunakan!
Setelah beberapa saat, Pedang Kejatuhan bergetar ringan di tangannya, memberinya perasaan seolah sedang memandang seorang kakek renta yang sekarat...
“Jangan kenapa-kenapa, aku akan membiarkanmu beristirahat, tenang saja, aku tidak akan lagi memaksamu menebas dinding.”
Entah kenapa, perasaan sedih yang amat dalam tiba-tiba menyelimuti hati Yang Xiao, membuatnya seperti anak kecil yang gelisah. Ia gemetar berusaha memasukkan pedangnya ke sarung, namun ketika melihat armornya sendiri, ia kembali terpaku.
Bukan hanya pedang, armor Kejatuhan dan pelindung lengan pun semuanya berubah menjadi setengah transparan. Mereka bergetar lembut, seperti kakek tua yang sekarat, mengumpulkan sisa tenaga terakhir untuk berpesan pada keturunannya...
“Kau lelah, ya?” Sudut mata Yang Xiao mendadak terasa panas. Dengan takut-takut, ia mengulurkan tangan menyentuh armornya, bertanya dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban. Getaran set armor Kejatuhan pun berhenti. Melihat armornya yang semakin transparan, dada Yang Xiao terasa sesak, seolah dihimpit batu besar hingga sulit bernapas. Entah sudah berapa lama ia tidak menangis, namun kali ini ia merasa matanya benar-benar panas...
Set armor Kejatuhan memang bukan manusia dan tak bisa bicara, tapi jelas merupakan hal terpenting yang ia miliki di dunia ini...
Sejak pertama kali tiba di dunia asing ini, ia langsung terjebak bersama sekumpulan monster menakutkan di tempat seperti arena perburuan, setiap hari diburu oleh orang-orang. Hanya ia sendiri yang tahu betapa takut dan resahnya ia saat itu, dan hanya armor yang membungkus tubuhnya rapat ini yang memberinya rasa aman...
Yang Xiao membuka mulut, bahkan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ia menahan perasaan sedih, menarik napas dalam-dalam. Belum sempat bicara lagi, berbagai bayangan tiba-tiba melintas di hadapannya.
“Aku... Arthas... akan mengenakan zirah keadilan, mengangkat pedang keadilan, seumur hidup menegakkan keadilan! Berjuang demi Kekaisaran!”
Adegan yang agak familiar kembali terlintas di depan mata Yang Xiao. Ia melihat dirinya sendiri berambut pirang dan tampan, berdiri di depan patung besar seorang ksatria berzirah emas dan menggenggam pedang emas, dengan khidmat mengucapkan sumpah tertentu.
Tiba-tiba patung itu memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Adegan di depan Yang Xiao berubah, kini ia sudah mengenakan set armor emas yang gagah berdiri melindungi orang-orang sipil dari serbuan pasukan elit. Tak lama kemudian, adegan berganti lagi, ia yang mengenakan armor emas bertempur sendirian melawan kepungan monster, berlumuran darah, bertarung mati-matian, sebelum ia sempat melihat lebih jelas, adegan sudah berubah lagi...
Satu demi satu potongan adegan perang berganti dengan cepat di depan matanya. Di setiap momen itu, ia selalu mengenakan set armor emas yang sama. Pada adegan-adegan berikutnya, armor emas dan seekor unicorn gagah selalu menemani, bahkan ia melihat dirinya bertarung melawan seekor naga raksasa yang ukurannya sulit dibayangkan...
Seperti menonton film, satu persatu adegan berlalu cepat di hadapan Yang Xiao, sampai akhirnya ia muncul di sebuah gereja megah, barulah semuanya melambat. Di dalam gereja yang mewah itu, ia mendongak menatap patung dewi raksasa dengan pandangan kosong. Tiba-tiba, cahaya merah menyala dari belakang dan menyinari tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat, lalu perlahan berlutut...