Bab Tiga Puluh Tiga: Ternyata Di Bawah Helm Itu Bukan Tengkorak!
Melihat semangat mereka yang begitu tinggi, Yang Xiao pun tidak mengucapkan kata-kata yang akan merusak suasana. Lagipula, mereka memang harus beristirahat sejenak. Meskipun kemenangan di tangan mereka, beberapa anak buahnya tetap saja terluka parah dan tanpa tabib, hanya waktu yang bisa menyembuhkan.
Selain itu, ia juga perlu menyiapkan makanan untuk Cecilia. Sudah beberapa kali ia mendengar suara perut gadis itu yang keroncongan.
Soal makanan, tentu saja bukan masalah. Semua kadal goa yang baru saja mereka kalahkan sudah diseret pulang oleh para manusia anjing, tak seekor pun yang dibiarkan. Mereka bukan makhluk tak bernyawa, jadi tetap butuh makan. Jika tidak habis, bisa disimpan sebagai cadangan.
Mereka tampaknya memang sudah lama kelaparan. Begitu sampai di rumah, mereka langsung menyalakan api, memanggang seadanya, lalu menikmati daging kadal yang di banyak bagian masih mentah dengan lahap.
“Bos, perlu bantuan memanggang anak manusia itu?”
Augus bertanya sambil menggigit paha besar kadal pemimpin yang masih meneteskan darah, matanya melirik pada Cecilia yang meringkuk di samping Yang Xiao.
Cecilia jelas sekali hanyalah anak manusia biasa, sehingga Augus mengira gadis itu adalah hasil buruan Yang Xiao. Dulu, saat ia masih sering berburu dan hasilnya berlebih, ia pun biasa memelihara mangsanya di dekatnya.
Mendengar itu, Cecilia langsung menegang, gugup mendekat dan memegang tangan Yang Xiao yang terbalut zirah.
“Menurutmu aku ini tampak seperti pemakan anak kecil? Dia adikku.”
Yang Xiao mengibas tangan, mengusir Augus yang menyebalkan itu.
Cecilia tertegun sejenak, menoleh pada Yang Xiao lalu diam-diam mendekat sedikit...
Eh... kau memang terlihat seperti manusia, tetapi jelas-jelas kau itu monster, bukan manusia...
Augus semakin heran, tapi tidak berani berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengira Cecilia adalah hewan peliharaan Yang Xiao dan tak terlalu memikirkannya. Toh, dia hanya anak manusia biasa.
Tak lama kemudian, ia berniat menawarkan minuman keras pada Yang Xiao, lalu membawa beberapa anak buahnya untuk mengeluarkan koleksi anggur terbaik miliknya.
“Tak perlu takut, makanlah dengan baik.”
Yang Xiao mengelus kepala Cecilia, lalu mengambilkan paha kadal panggang dari tangan manusia anjing di sampingnya dan memberikannya pada gadis kecil itu.
“Terima kasih.”
Wajah Cecilia yang kotor pun tersenyum ceria pada Yang Xiao, menerima paha daging itu lalu mulai mengunyahnya pelan-pelan.
Setelah memperhatikan Cecilia sebentar, Yang Xiao baru teringat bahwa ia sendiri pun belum sempat membersihkan diri. Zirahnya sudah entah berapa kali terkena darah yang kini sudah mengering dan berbau amis. Namun, bersih-bersih pun percuma, sebentar lagi pasti akan kembali ternoda darah.
Tak lama kemudian, Augus datang membawa minuman keras koleksinya, diikuti beberapa manusia anjing yang juga mengangkat kendi-kendi anggur.
“Bos, kau harus coba anggur manusia ini! Sungguh, daging panggang dan anggur adalah kenikmatan tiada tara!”
Augus meletakkan anggur di hadapan Yang Xiao seolah mempersembahkan harta karun. Tak hanya ia, para manusia anjing lain pun menatap minuman itu dengan penuh harap.
Melihat kendi anggur yang dikeluarkan satu per satu, Yang Xiao tahu benar kalau Augus berniat membuatnya mabuk. Dengan sifat pelit seperti Augus, mana mungkin ia tiba-tiba menjadi dermawan.
Ia tersenyum tipis pada Augus lalu berseru lantang, “Ayo semua, mari minum! Untuk merayakan kemenangan kita merebut kembali tambang, hari ini semua anggur boleh dinikmati sepuasnya!”
“Apa!? Tapi—”
Wajah Augus langsung berubah, ingin melarang, tapi suaranya langsung tenggelam oleh sorak-sorai para manusia anjing.
“Hidup bos baru! Auuuu~!”
“Guk guk guk!”
“Minuman keras! Guk guk guk!”
...
“Augus, cepat keluarkan semua anggur! Biar saudara-saudara kita puas malam ini!” Yang Xiao berseru lantang melihat wajah Augus yang penuh penyesalan.
“Tapi, Bos, anggur ini mahal sekali! Bagaimana kalau kita—” Augus jelas enggan mengeluarkan semuanya, membujuk dengan suara lirih.
“Lakukan saja! Atau kau tak ingin saudara-saudaramu berpesta hari ini?”
Yang Xiao malas berdebat, langsung menarik Augus ke hadapannya dan menatap tajam, “Jangan kira aku tak tahu niatmu mau memabukkanku. Ini peringatan terakhir, kalau kau coba lagi, nasibmu akan seperti Huston—hanya tahu patuh, jadi mayat hidup manusia anjing yang berjalan!”
“B-bos, aku...”
Augus ketakutan, ingin membela diri tapi langsung dilempar ke samping oleh Yang Xiao. Para manusia anjing lainnya hanya menoleh heran, tapi tak terlalu peduli dan langsung berebut anggur.
Augus tak berani berkata apa-apa lagi, lari terbirit-birit ke ruang bawah tanah kamarnya lalu mengeluarkan lebih banyak anggur, membuat para manusia anjing terkejut. Tak disangka, ternyata bos lama mereka menyimpan begitu banyak anggur mahal! Untung sebelumnya tidak dirampas para petualang.
Seperti apa rasa anggur di dunia ini?
Yang Xiao membuka sebuah kendi, menghirupnya perlahan. Memang ada aroma anggur, meski ia bukan penikmat minuman keras, tetap saja ia penasaran. Bagaimana tidak, di dua dunia yang sepenuhnya berbeda, minuman itu sama-sama ada, dan tampaknya tak jauh berbeda.
Dalam tas para petualang pun banyak ditemukan anggur.
Sambil merenung, Yang Xiao ragu sejenak lalu mengangkat helmnya, menyingkap wajah yang pucat dan tampan tiada tanding. Rambut putih panjangnya terurai begitu helm dilepas.
“Sekarang aku jadi makhluk apa sebenarnya...”
Ia meraih rambut putih itu, perasaan campur aduk memenuhi hatinya. Tiba-tiba ia ragu menatap wajah sendiri, takut bila yang tampak adalah muka monster.
Padahal, tanpa ia sadari, dengan penampilan sekarang pun ia mampu memikat ribuan gadis. Walau berambut putih, wajahnya pucat, dan tampak lemah, tetap saja menawan.
Tentu saja, selera manusia anjing berbeda dengan manusia. Melihat wajah Yang Xiao di balik helm, mereka hanya sedikit terkejut—di bawah helm itu ternyata bukan tengkorak!
Cecilia berbeda dari mereka. Meski masih kecil, ia paham betul Yang Xiao sungguh tampan, bahkan jauh lebih tampan dari siapa pun yang pernah ia lihat.
Ternyata wajahnya seperti manusia. Seketika, Cecilia merasa Yang Xiao semakin ramah dan dekat.
Yang Xiao tak peduli apa yang mereka pikirkan. Ia meneguk anggur, mendapati rasanya berbeda dari anggur di dunia lama, meski ia tak bisa menjelaskan perbedaannya.
Bagaimanapun, rasa penasarannya terpuaskan. Ia buru-buru mengenakan kembali helmnya, tak suka perasaan lemah saat tak mengenakannya.
Augus sempat ingin membujuk Yang Xiao untuk minum lebih banyak, tapi teringat ancaman tadi, ia langsung diam dan menikmati anggur serta daging kadalnya sendiri.
Awalnya, Yang Xiao berniat menunggu mereka selesai makan lalu mengajak berburu laba-laba. Namun, ternyata pikirannya terlalu naif. Anggur segera habis, dan akhirnya setiap manusia anjing mabuk berat, tergeletak di lantai, tertidur pulas, tak mampu bangun lagi.