Bab Tiga Puluh Satu: Fanatisme
“Oh! Pemimpin baru!”
“Pemimpin baru!”
“Guk guk guk! Apakah pemimpin baru akan membantu kami merebut kembali tambang?”
...
Para manusia anjing itu langsung bersorak gembira, mengira mulai sekarang mereka benar-benar bisa hidup enak dan makmur.
Melihat kelompok manusia anjing cerdas ini, Yang Xiao merasa inilah saat yang tepat untuk mengambil hati mereka. Ia segera mengeluarkan satu per satu peralatan yang tak terpakai dan melemparkannya ke tanah, lalu berkata, “Anggap ini sebagai hadiah perkenalan dariku. Selama kalian patuh dan mendengarkan, tentu saja aku akan membawa kalian menuju kehidupan yang lebih baik.”
“Guk guk guk! Terima kasih, pemimpin baru!”
Mereka langsung bersorak riang dan berebut mengambil peralatan itu, karena mereka tahu betul manfaatnya!
“Oh! Pemimpin baru sungguh baik hati!” Agus juga ikut berterima kasih, matanya berkaca-kaca karena terharu, “Mulai sekarang, kami pasti akan setia mengikutimu sampai mati!”
Tentu saja Yang Xiao tidak sepenuhnya mempercayainya, lalu ia bertanya, “Barusan aku dengar soal merebut kembali tambang, kalian masih bisa menambang?”
“Tentu, pemimpin! Jangan samakan kami dengan monster biasa. Kami tidak hanya bisa menambang, tapi juga bisa berdagang dengan manusia. Aku sendiri sudah menukar banyak barang dari para pedagang manusia yang licik, misalnya minuman keras yang sangat enak, pemimpin pasti belum pernah mencobanya, kan? Akan kuambilkan untukmu!”
Agus berkata dengan bangga, bahkan berencana mengeluarkan minuman keras terbaiknya yang mudah memabukkan untuk dicicipi Yang Xiao...
“Tidak usah. Jadi, maksudmu kalian masih berhubungan dagang dengan manusia? Di mana tambangnya?” Yang Xiao menolak dengan isyarat tangan, agak terkejut, lalu bertanya lagi.
Agus tampak kecewa. Ia tadinya ingin mencoba membuat Yang Xiao mabuk, lalu... hehehe...
Namun, ia tak berani memaksa, takut menimbulkan kecurigaan. Ia menggeleng dan menjawab, “Tidak, mana berani aku ke tempat manusia. Hanya saja, setiap beberapa waktu ada rombongan pedagang yang datang berdagang dengan kami. Batu abu-abu hasil tambang kami bisa ditukar dengan banyak minuman arak! Nanti, pemimpin harus mencobanya, itu barang bagus dari manusia!”
Agus masih belum menyerah, terus berusaha membujuk Yang Xiao untuk minum. Setelah ditendang oleh Yang Xiao, barulah ia patuh dan melanjutkan, “Bukan hanya minuman keras, kami juga bisa menukar peralatan. Tapi akhir-akhir ini, tambang batu hitam direbut oleh sekelompok kadal goa yang menjengkelkan. Jika pedagang manusia datang lagi, kami tidak punya apa-apa untuk ditukar dengan minuman.”
Akhir kalimatnya, Agus tampak sangat sedih. Kali ini bukan pura-pura—belakangan ini ia memang benar-benar tertekan. Tambang direbut, harapan mendapat peralatan pupus, malah harus tunduk di bawah orang lain!
Hal itu membuat Yang Xiao cukup terkejut. Ia tak menyangka para pedagang manusia berbisnis hingga ke Hutan Malam, dan bahkan dengan para monster.
Petualang memburu monster, tapi pedagang malah memasok peralatan untuk monster. Yang Xiao benar-benar heran kenapa para petualang tidak membantai para pedagang itu saja... Mungkin mereka melakukannya secara diam-diam.
Namun, ini kabar baik. Saat para pedagang datang lagi, ia bisa bertanya perihal kelompok petualang itu.
Baron yang melarikan diri masih menjadi duri dalam hati Yang Xiao. Kata orang, membalas dendam tak perlu tergesa-gesa, tapi rasanya ia bukan tipe orang semacam itu. Andai saja nama monster tidak langsung muncul di atas kepala, ia sudah ingin pergi ke Kota Bintang Jatuh untuk menuntut balas bagi anak buahnya!
“Bawa aku ke tambang.”
Yang Xiao pun tidak masuk ke markas manusia anjing, melainkan langsung meminta Agus membawanya ke tambang. Batu tambang adalah barang berharga, bisa dibuat senjata maupun ditukar. Asalkan ia punya batu tambang, para pedagang mata duitan itu pasti akan menjawab pertanyaannya dengan patuh.
“Guk guk guk! Pemimpin baru akan memimpin kita merebut kembali tambang!”
Agus bersorak riang, lalu segera memimpin jalan di depan.
Yang Xiao menunduk memandang Cecilia, mendapati gadis itu juga sedang menatapnya. Ia pun berkata, “Tetaplah di dekatku dan para kerangka.”
“Ya!” jawabnya sambil mengangguk keras.
Tambang manusia anjing ternyata tak jauh dari sana. Tak butuh waktu lama, Yang Xiao sudah sampai di depan tambang yang ukurannya sedang.
“Pemimpin Lejero, inilah tempatnya! Kadal goa yang menyebalkan itu ada di dalam.”
Agus sama sekali tak menyembunyikan kebenciannya pada kadal goa. Setiap kali menyebut mereka, taringnya tampak, wajahnya garang. Begitu pula dengan para manusia anjing lain. Sepertinya dendam mereka sangat dalam, setidaknya di hadapan Yang Xiao mereka masih bisa menahan diri.
“Ceritakan dulu situasi di dalam.”
Yang Xiao mengangguk, tidak langsung masuk, melainkan duduk bersama Cecilia di pinggir, lalu bertanya pada Agus.
Jika kadal goa bisa mengusir manusia anjing, pasti mereka cukup kuat. Terlebih, ia harus menunggu waktu pemulihan pasukan undead. Ia sudah memakainya sekali tadi, dan belum waktunya untuk dipanggil kembali.
Setelah bertanya-tanya, Yang Xiao akhirnya tahu mengapa kadal goa mampu mengusir manusia anjing. Bos mereka saja sudah mencapai level 30, pasukan bawahannya juga tinggi, dan mereka punya kemampuan menabrak. Di lorong tambang yang sempit, manusia anjing sulit melawan.
“Ayo masuk.”
Begitu kemampuan pasukan undead siap digunakan, Yang Xiao langsung masuk ke tambang tanpa rasa takut. Tentu saja, ia mempercayakan punggungnya pada para pelayannya, bukan pada manusia anjing.
Karena Yang Xiao memimpin, para manusia anjing pun tak gentar, malah penuh semangat mengikuti untuk merebut kembali tambang mereka.
Di dalam tambang, di dinding-dindingnya masih banyak lilin menyala—mungkin sisa dari manusia anjing sebelumnya. Anehnya, lilin itu belum juga padam, padahal Yang Xiao sudah tahu dari mereka bahwa kadal goa tidaklah cerdas, seperti binatang saja, tentu saja mereka tak akan menyalakan lilin.
Tak lama, Yang Xiao pun melihat seekor kadal goa. Tubuhnya sangat kekar, menyerupai buaya raksasa, dengan kepala besar mengarah padanya, seolah menantang Yang Xiao untuk menusuknya di situ.
[Kadal Goa]
Level: 27
HP: 321/321
“Memang cukup kuat.”
Yang Xiao tentu tak sungkan, melompat ke depan, lalu menusukkan pedangnya ke kepala kadal itu. Serangan mematikan pun terpicu, ia bisa menyingkirkan musuh dengan mudah.
Lewat banyak pertarungan, Yang Xiao kini tahu betapa pentingnya menyerang titik vital, terutama kepala. Hampir setiap serangannya ke kepala lawan selalu memicu serangan mematikan dan langsung menumbangkan musuh!
“Guk guk guk! Pemimpin baru hebat sekali!”
“Guk guk guk! Kita akan merebut kembali tambang kita!”
“Minuman keras! Minuman keras! Minuman keras!”
...
Manusia anjing di belakangnya langsung bersorak heboh. Mereka takjub, kadal goa yang menyusahkan bisa dikalahkan hanya dengan satu serangan. Pemimpin baru ini jauh lebih hebat daripada Agus!
Di dunia yang mengagungkan kekuatan ini, semua orang maupun monster akan mengagumi yang terkuat. Dengan menunjukkan kekuatan luar biasa, Yang Xiao dengan mudah membuat manusia anjing yang lemah dan kurang cerdas itu tunduk padanya.
Agus yang melihat ini langsung merasa tak enak. Kalau begini terus, anak buahnya yang bodoh itu benar-benar akan menganggap Yang Xiao sebagai pemimpin sejati. Ia pun segera ingin menunjukkan kekuatannya sendiri, mengangkat tongkat sihir sambil berteriak, “Pemimpin, lihat aku! Fanatisme!”
Begitu Agus selesai bicara, tubuh Yang Xiao langsung terasa panas. Sebelum ia sempat bereaksi, tubuhnya membesar, dan manusia anjing yang tadinya tampak kecil di depannya kini jadi semakin mungil.