Bab Tujuh: Penandatanganan Kontrak Resmi
Keesokan harinya, Ma Qiang membawa Li He ke sebuah tempat bernama Kantor Pengacara Cheng Bu Tang. Nama ini sekilas terdengar seperti judul sebuah permainan perdebatan hukum dari negeri tetangga, namun sesungguhnya kantor hukum ini didirikan oleh tiga orang yang bermarga Cheng, Bu, dan Tang, yang namanya begitu terkenal di kalangan pengacara ibu kota. Tokoh-tokoh sehebat itu tentu saja tidak bisa didatangkan oleh Ma Qiang, ia hanya mengenal seorang pengacara biasa yang berasal dari kampung halamannya di timur laut.
Li He cukup heran karena Ma Qiang ternyata punya banyak kenalan di berbagai bidang, dan yang terpenting, semua kenalannya itu benar-benar bisa diandalkan. Jelaslah bahwa dalam urusan hubungan sosial, Bang Qiang memang luar biasa. Tentu saja, meski mengenal dan berteman, bantuan itu tidak datang secara cuma-cuma; tarif teman seribu yuan. Li He sendiri belum bernegosiasi soal honor dengan pihak produksi, namun dengan kondisinya sekarang, dibayar dua ribu per episode saja sudah lumayan.
Li He akhirnya menggigit bibir dan setuju, sebab sudah terbukti berkali-kali bahwa kontrak yang tidak diperiksa pengacara seringkali bermasalah di kemudian hari. Meski merasa bahwa produksi sebesar "Istana" mustahil akan menipunya, namun demi menghindari konflik, tetap perlu meminta pengacara meninjau kontraknya.
Waktu berlalu cepat. Li He bersama rombongan kecilnya tiba di hotel tempat kru "Istana" menginap di ibu kota untuk membahas kontrak. Niu Zhili bertindak sebagai manajer sementara yang bertanggung jawab bernegosiasi dengan kru, Ma Qiang menjadi pengawal sekaligus asisten tidak bergaji, ditambah seorang pengacara. Tim kecil ini tampak cukup profesional.
Sebenarnya, Li He sama sekali tidak punya daya tawar di hadapan pihak produksi, tetapi mungkin karena waktu memang sangat mendesak, pihak kru pun akhirnya melunak di beberapa hal. Tidak hanya honor per episode naik dari dua ribu menjadi dua ribu lima ratus, ia juga mendapat fasilitas mobil khusus untuk beristirahat di lokasi syuting.
Akhirnya, setelah pengacara memastikan tidak ada masalah dalam kontrak pemeran, Li He menandatangani kontrak itu dengan namanya sendiri.
Yu Zheng melihat Li He menandatangani kontrak, akhirnya bisa bernapas lega. Ia menjabat tangan Li He, berkata, "Semoga kerja sama kita berjalan lancar..."
Li He tersenyum balik, "Saya juga menantikan..."
"Kapan bisa mulai bergabung? Waktunya sangat mepet, hanya tinggal adeganmu yang belum diambil."
Tanpa ragu, Li He menjawab, "Bisa kapan saja, saya siap untuk segera mulai."
Yu Zheng mengangguk, "Baiklah, besok saya kirim mobil menjemputmu. Kita berangkat ke lokasi bersama."
Keluar dari hotel dan berpamitan dengan pengacara, Ma Qiang dengan semangat menepuk pundak Li He, "Wah, kamu hebat juga! Ganteng memang punya kelebihan, sutradara saja langsung tertarik padamu."
"Bang Qiang, bukannya dulu kamu bilang ganteng saja nggak cukup, kalau nggak bisa akting ya percuma?" Li He balik bertanya.
Ma Qiang menghela napas, "Ah, zaman sudah berubah, Bro. Sekarang ini zamannya wajah tampan, dan bukan wajah biasa pula."
Li He merasa perkataan Bang Qiang ada benarnya. Entah bagaimana di bumi ini, tapi berdasarkan pengalaman mantan pacar semasa kuliahnya di kehidupan sebelumnya, ia cukup memahami bahwa dunia hiburan di Blue Star pernah mengalami masa demam idola muda bermodal tampang. Kemudian, karena adanya kebijakan pemerintah dan peningkatan selera penonton, industri hiburan Blue Star pun akhirnya kembali ke jalur yang benar.
Untungnya, tubuh barunya ini memang punya paras tampan, tapi bukan tipe pria lembek, melainkan lelaki sejati yang gagah dan cerah. Mungkin karena dulu sering bekerja di ladang kampung halaman, kulitnya memang tidak putih, tapi tetap sehat dan tidak gelap. Tingginya 183 sentimeter, kaki panjangnya membuat para oppa sebelah pun iri, tubuhnya proporsional, bertelanjang dada berotot, berpakaian tampak ramping, dan enam otot perutnya pasti bikin para penggemar wanita menelan ludah.
Di mata mayoritas penonton yang masih memegang standar tradisional soal ketampanan, Li He semestinya adalah gambaran ideal seorang pria tampan; hanya saja pemilik tubuh ini sebelumnya tak pernah memanfaatkan kelebihannya.
"Sebenarnya dari awal aku yakin kamu nggak bakal kepilih pas audisi, kulitmu nggak putih, padahal di drama semua kasim itu pucat-pucat. Kamu malah lebih mirip pengawal istana. Eh, ternyata rezekimu bagus banget, malah dipilih sama Sutradara Yu," kata Ma Qiang dengan nada iri, tak habis pikir dengan keberuntungan Li He.
Li He menggaruk kepala, "Aku juga kaget, rasanya seperti rezeki nomplok jatuh dari langit, sampai sekarang masih agak bingung harus gimana."
"Nanti kalau sudah jadi bintang besar, jangan lupakan abangmu ini ya!" goda Bang Qiang.
"Mana bisa. Kalau bukan karena Bang Qiang, aku mungkin masih tidur di bawah jembatan, mana mungkin dapat kesempatan seperti ini," jawab Li He.
"Wah, hebat kamu! Ayo, kita rayakan, minum-minum sedikit," ajak Ma Qiang.
"Minum?" Mata Li He berbinar, sepertinya ide bagus. Siapa tahu tiba-tiba ia kembali ke dunia asal, jadi walikota yang sebentar lagi naik jadi gubernur?
Niu si Sapi punya urusan sendiri, jadi hanya Ma Qiang dan Li He yang pergi ke warung barbeque, memesan dua botol bir Snowflake dan mulai minum.
Tapi makin diminum, Li He malah kecewa, kadar alkohol bir terlalu rendah. Dengan daya tahan minumnya yang dulu, minum sampai perut kembung pun tidak akan mabuk.
Tidak puas, Li He memesan dua botol arak Niulan Shan, Ma Qiang ikut menemani, tapi baru dua gelas kecil, Bang Qiang sudah tumbang. Li He menghabiskan semua sisa minuman sendirian, tapi makin diminum malah makin segar, sama sekali tidak merasa mabuk.
Astaga, kenapa aku nggak mabuk? Li He bertanya-tanya dalam hati.
Tapi memang benar, ia sama sekali tidak mabuk. Melihat Bang Qiang sudah tak sadarkan diri, Li He hanya bisa menggeleng, membayar tagihan, lalu mengantar Bang Qiang pulang ke rumah.
Keesokan paginya, mobil kru "Istana" sudah menunggunya di Stasiun MRT Tiantongyuan. Ia meninggalkan pesan untuk Bang Qiang, lalu langsung berangkat ke lokasi syuting.
"Semua departemen, periksa properti! Tim kuda, siapkan kuda, kita akan mulai syuting. Xiao Zhao, sudah jemput pemainnya belum?"
Sejak pagi, suasana di lokasi syuting sudah ramai dan kacau. Li Huizhu dan Yu Zheng sibuk mengatur segalanya. Para pemeran utama duduk santai di dekat mobil karavan, menunggu giliran syuting.
Adegan hari itu adalah kemunculan perdana Jenderal Agung Wang Yinzhen. Kemarin, tim sutradara sudah membahas detail adegannya, tinggal menunggu para pemain siap di tempat.
Kebanyakan kru sudah tahu bahwa Mao Zijun, pemeran sebelumnya, mengundurkan diri. Mereka juga tahu bahwa sutradara Yu memilih seorang figuran untuk memerankan tokoh Yinzhen.
Namun, apakah si figuran beruntung ini bisa memerankan peran itu dengan baik, kebanyakan tetap meragukan. Bagaimanapun, tak semua figuran bisa sehebat Baoqiang.
Dengan rasa penasaran dan cemas, kru akhirnya menanti kedatangan Li He. Dalam perjalanan, Li He sudah diberi tahu jadwal syuting hari itu, penuh sesak dengan adegan dialog dan laga.
Untuk adegan dialog, Li He yakin bisa. Tapi untuk adegan laga, ia agak ragu. Ia tak pernah belajar bela diri, begitu pula pemilik tubuh ini sebelumnya. Meski ada pemeran pengganti, tapi sebagai figuran yang baru saja naik jadi pemeran, langsung pakai stuntman rasanya kurang pantas, malah terkesan sok selebritas.
Li He memutuskan, selama bukan adegan berbahaya, ia akan melakukannya sendiri agar meninggalkan kesan baik pada sutradara.
Di sisi lain, Yu Zheng juga cemas. Bagaimanapun, Li He adalah pilihannya sendiri yang dipilih secara langsung. Jika Li He gagal tampil baik, ia juga harus bertanggung jawab.
Begitu turun dari mobil, Li He langsung dibawa ke tenda rias. Tim make-up mulai merias wajahnya dengan berbagai krim agar kulitnya tampak lebih putih. Lalu setengah kepala bagian atas dicukur dan dipakaikan kepangan panjang di belakang.
Harus diakui, Li He memang punya wajah tampan alami. Setelah dipermak kru, ia terlihat semakin menarik. Kemudian tim kostum membawakan baju zirah dan membantunya mengenakannya.
Konon, demi detail, sutradara Yu Zheng memesan baju zirah yang benar-benar sesuai aslinya, akibatnya Li He merasa baju itu sangat berat dan melelahkan.
Li He tak tahan berkomentar, "Kalau di zaman dulu perang pakai baju begini, belum sempat bunuh musuh, sudah tewas sendiri karena kecapekan."
Ketua tim make-up, seorang wanita tiga puluhan tahun yang masih menawan, terkekeh, "Tapi kostummu ini keren, pasti banyak gadis suka."
Li He membalikkan mata, tadi tangan si Mbak ini benar-benar kurang ajar, pegang-pegang badannya sampai ia merasa risih.
"Sutradara! Pemeran sudah siap!"
"Oke, suruh pemain masuk ke lokasi!"