2 002 Baru
Bab 2
Ayah Shen memang sudah terbiasa bangun pagi. Ia bergerak perlahan dan rapi, lalu bersiap hendak ke dapur menyiapkan sarapan untuk istrinya, ketika ia melihat putra bungsunya sedang duduk bersandar di meja dengan mata terpejam, sambil tak lupa menyuapkan bakpao ke mulutnya. "Xiao Yu?"
Shen Yu terbangun karena lapar sebelum fajar. Ia memasak dua bungkus mi instan tapi masih merasa kurang kenyang, jadi ia keluar kompleks membeli bakpao, jianbing, cakwe, dan bubur. Ia tahu porsi makannya sekarang sangat besar, takut membuat orang tuanya kaget, jadi ia makan sebagian besar di luar, lalu membawa sisanya pulang. "Pa."
Ayah Shen mengerutkan kening melihat makanan yang ada di meja. "Sebanyak ini, bisa habis?"
Shen Yu yang masih lapar dan mengantuk hanya membuka sebelah matanya dan dengan berat hati berkata, "Ini juga untuk kalian."
Ayah Shen melirik makanan di meja, lalu menepuk kepala Shen Yu, "Baiklah, Ayah ke dapur buatkan susu kedelai untuk ibumu. Mau juga?"
Shen Yu segera menjawab, "Mau, tambahkan kurma merah ya."
Sekarang tubuhnya lemah, ia butuh asupan lebih.
Ayah Shen mengangguk, "Baik."
Ketika Yao Long sudah rapi dan keluar, Ayah Shen telah menata semua makanan di meja. Bakpao dan cakwe sudah dipindah ke piring, ia juga menyiapkan acar dan merebus telur. "Istriku, coba sarapan yang dibelikan anakmu ini."
Shen Yu sudah lebih segar, dengan sigap ia menarik kursi untuk Yao Long, "Ma, ini khusus aku belikan untukmu."
Ayah Shen hanya bisa tersenyum kecut, malas membongkar kebohongan anaknya.
Yao Long duduk, "Jarang-jarang pagi-pagi bisa lihat kamu."
Sejak ujian akhir SMA selesai, Shen Yu meski sudah bangun tetap saja berbaring di kasur, tidak akan keluar kamar sebelum jam sepuluh. Ayah dan ibunya maklum, tahu anak mereka sudah bekerja keras sebelumnya, jadi membiarkan saja.
Akhir-akhir ini, Shen Yu sering belanja sehingga uang sakunya menipis. Sebagai siswa, satu-satunya tempat ia bisa dapat uang adalah dari rumah, dan urusan keuangan dipegang oleh ibunya. Ia pun rajin membukakan telur untuk ibunya, meletakkannya di piring kecil, "Ma, aku mau keluar bareng teman, traktir dong."
Yao Long meliriknya dengan anggun, "Pantas saja pagi-pagi sudah bangun, pasti ada maunya."
Shen Yu tahu itu tanda setuju, ia pun dengan senang hati mengupaskan telur untuk ayahnya, lalu baru mengambil satu untuk dirinya sendiri. Dua kali suapan telur, ia mengambil cakwe, mencelupkannya ke susu kedelai, "Di dunia ini hanya ibu yang terbaik~ ibu yang baik~"
Ayah Shen tertawa, "Makan tetap saja mulutmu tidak bisa diam."
Shen Yu langsung mengganti lagu, "Ayah, aku ingin bilang terima kasih, sudah bekerja keras~ benar-benar tidak mudah~"
Ayah Shen menunggu Shen Yu selesai bernyanyi, lalu mengetuk kepalanya, "Jangan kira sudah bilang yang manis-manis, ayah bakal lupa kamu suka mengadu."
Shen Yu meringis, buru-buru menghabiskan susu kedelai, pura-pura tidak mendengar.
Setelah sarapan, Yao Long mentransfer uang ke Shen Yu lalu pergi keluar membawa buah-buahan yang sudah disiapkan oleh ayah Shen.
Shen Yu segera merendam ekor ikannya di air, lalu baru berganti pakaian dan mengambil tas saat waktu janjian hampir tiba. Ketika ia hendak keluar sambil memakai sepatu, ia berseru, "Pa, aku nggak pulang makan siang. Kalau mau nitip makanan, nanti kirim pesan saja, pulang nanti aku bawakan."
Ayah Shen sedang memberi makan ikan, "Makan malam di rumah nggak?"
Shen Yu sambil jongkok mengikat tali sepatu, tidak menoleh, "Makan!"
Ayah Shen mengingatkan, "Baik, hati-hati di jalan, jangan main ponsel saat berjalan, hati-hati saat menyeberang."
Shen Yu berdiri dan melompat dua kali, "Iya, tahu!"
Setelah Shen Yu berangkat, Ayah Shen baru menaburkan pakan terakhir ke akuarium, lalu masuk dan mengisi bathtub. Di setiap kamar keluarga mereka memang ada bathtub besar dan nyaman, dan karena kelima indera manusia duyung sangat tajam, mereka tinggal di lantai yang berbeda dan mengeluarkan biaya besar untuk peredam suara.
Saat air sudah terisi setengah, Ayah Shen masuk berendam. Kedua kakinya berubah menjadi ekor ikan biru yang berkilauan, ia pun rileks sambil mengatur meja kecil dan laptop untuk mulai bekerja.
Shen Yu tiba di tempat janjian dan menemukan Jiang Xiao sudah menunggunya. Mereka berteman sejak SD, sudah kenal lebih dari sepuluh tahun. Shen Yu langsung memeluk leher Jiang Xiao dan mencari makanan, "Katanya tante menggoreng bakso lobak buatku?"
Jiang Xiao mengeluarkan sebungkus bakso lobak dan menyodorkannya pada Shen Yu, "Jauh-jauh sana, makan di situ."
Shen Yu tidak ambil pusing dengan sikap Jiang Xiao, ia pun membuka bungkus dan mulai menyantap bakso goreng itu dengan puas. "Ayo, bukannya mau pilih kado ulang tahun buat tante? Cepat, habis itu kita bisa makan soun pedas di depan sekolah."
Jiang Xiao mendorong kacamatanya, menatap Shen Yu serius, "Kamu kayaknya tambah tinggi lagi?"
Shen Yu memasukkan dua bakso ke mulut, lalu berdiri mengukur tinggi badan Jiang Xiao, langsung tersenyum senang, "Kayaknya iya!"
Tinggi Jiang Xiao sekitar 175 cm, di antara laki-laki tidak tergolong pendek, sebelumnya Shen Yu juga sudah sedikit lebih tinggi. Tapi baru sepuluh hari tidak bertemu, Shen Yu kini tampak lebih tinggi. Jiang Xiao berkomentar dengan nada iri, "Duh, tinggi banget kayak bambu."
Shen Yu mengingat panjang ekor ikannya, dengan bangga berkata, "Aku masih bisa tumbuh lagi."
Dulu, waktu kecil Jiang Xiao lebih tinggi, tapi sejak SMA Shen Yu berkembang pesat dan segera melewatinya. Impian terbesar Jiang Xiao adalah mencapai tinggi 180 cm, "Akhir-akhir ini kamu makan apa sih? Ceritain dong, aku juga pengen nambah tinggi."
Sambil bercanda, mereka tiba di mal, bakso lobak itu pun habis dimakan Shen Yu. Mereka lalu membeli segelas besar air lemon dan mulai berkeliling. Dari kecil Shen Yu memang tampan, sering kali saat di jalan ada yang minta nomor telepon, bahkan pernah beberapa kali ditawari jadi model atau artis. Saat makan mi sapi, daging di mangkuk Shen Yu pun sering lebih banyak dari orang lain.
Beberapa hari sebelumnya, Shen Yu dan Jiang Xiao sudah diskusi dengan Yao Long soal kado, jadi mereka langsung menuju toko emas sambil minum lemon.
Jiang Xiao memilih liontin berbentuk bunga lili yang sesuai budget, dan menambahkan rantai tipis. Setelah dibungkus oleh pegawai, ia memasukkannya ke tas, "Uangku habis, nanti kamu yang traktir makan."
Shen Yu sudah mulai lapar lagi, "Ayo ke lantai enam makan hotpot, habis itu aku main di arcade, aku yang traktir."
Jiang Xiao mengikut Shen Yu ke lift, menggerutu, "Nah, gitu dong."
Begitu sampai di lantai enam, mereka hendak langsung ke restoran hotpot, tapi seorang pegawai promosi membagikan selebaran dan menghadang mereka.
Gadis promosi itu terlihat memerah pipi saat melihat Shen Yu, suaranya pun jadi lembut, "Dua kakak ganteng, toko kami baru buka, sedang ada lomba makan. Kalau dalam dua puluh menit bisa habiskan tiga mangkuk mi, makan gratis plus dapat hadiah."
Mata Shen Yu langsung berbinar, ada peluang sebagus ini? Ia segera mengambil selebaran, "Baik, aku ikut!"
Restoran mi itu lokasinya memang agak tersembunyi, tapi karena hari itu ada acara pembukaan, pemiliknya mengundang beberapa influencer, suasana pun jadi sangat meriah.
Untuk ikut lomba makan, harus mendaftar dulu. Jiang Xiao juga ikut-ikutan, mereka berdua pun menonton empat peserta lain yang sedang berlomba.
Jiang Xiao menatap mangkuk sebesar wajah itu lalu berbisik, "Tau gitu tadi nggak beli lemon. Kamu udah makan bakso lobak banyak banget, masih sanggup makan?"
Shen Yu takut jawaban jujur bakal mengejutkan Jiang Xiao, jadi ia berkata, "Aku bangun kesiangan, belum sempat sarapan."
Jiang Xiao hanya mengangguk-angguk, lalu menyadari beberapa kamera live streaming kadang mengarah ke mereka, lebih tepatnya ke Shen Yu, dan ia hanya kecipratan. "Dasar cowok cakep, kayak rubah jantan."
Shen Yu melirik Jiang Xiao dengan kesal, "Jangan sebut yang menakutkan begitu."
Rubah kan makan ikan, kalau dipikir-pikir, rubah jadi-jadian itu kan makan manusia ikan? Duh, omongan nggak nyambung.
Dua puluh menit pun berlalu cepat, keempat peserta sebelumnya tak ada yang berhasil menghabiskan mi. Entah disengaja atau tidak, di grup Shen Yu ternyata ada dua influencer, satu khusus review tempat makan, satu lagi memang terkenal sebagai jago makan. Mereka ditempatkan di kanan kiri Shen Yu, sedangkan Jiang Xiao agak terpisah.
Mi sudah disiapkan dapur, disajikan di mangkuk besar putih biru, di atasnya ada sayuran dan sepotong besar iga sapi rebus.
Di hadapan mereka ada timer, kedua influencer itu juga didampingi asisten khusus untuk merekam. Begitu pemilik restoran bilang mulai, pegawai menekan timer serentak.
Shen Yu sudah lapar sejak tadi, langsung mengambil sumpit dan mulai makan. Kuahnya kaldu tulang, mienya kenyal, ia menambahkan cabai, sambil makan memberi acungan jempol ke pemilik, mantap!
Pemilik restoran senang melihat aksi Shen Yu, apalagi ia makan cepat tapi tetap rapi, membuat orang lain jadi ikut lapar. Ia mendengar orang-orang di sekitar mulai berbisik ingin mencoba, memang niatnya lomba makan dan mengundang influencer itu agar restorannya dikenal.
Shen Yu bukan yang pertama habis, influencer jago makan di sebelahnyalah yang lebih dulu menghabiskan dan minta mangkuk kedua. Shen Yu baru meminta tambah setelah menghabiskan kuahnya.
Padahal kuah tidak wajib diminum, baik peserta sebelumnya maupun influencer itu hanya menghabiskan mi lalu mendorong mangkuk. Tapi Shen Yu benar-benar menghabiskan sampai tetes terakhir, walaupun mungkin sudah terlambat.
Pegawai yang membawakan mi kedua sempat membisiki Shen Yu, "Sebenarnya nggak harus minum kuahnya."
Shen Yu tersenyum, lalu mulai mengaduk mi dengan cabai. "Kak, ada bawang putih nggak?"
Makan mi tanpa bawang putih, kurang nikmat.
Pegawai itu segera mengambilkan sepiring kecil bawang putih kupas, dan selama waktu itu, sepertiga mi mangkuk kedua Shen Yu sudah habis.
Porsi makan Jiang Xiao sebenarnya tidak kecil, tapi setelah mangkuk pertama ia sudah kenyang, tidak mau mubazir jadi tidak minta tambah. Ia lalu duduk di depan Shen Yu, melihat cara makan Shen Yu, "Aduh, nanti jangan ngomong sama aku ya."
Influencer yang mereview tempat makan bahkan belum menghabiskan satu mangkuk, ia berbicara dengan penonton live streaming, "Mienya kenyal, tapi porsinya besar banget. Kalau kalian ke sini jangan pesan porsi jumbo, pasti nggak habis."
Melihat komentar penonton, influencer itu berkata seolah pasrah, "Baiklah, sudah tahu kalian suka lihat cowok ganteng. Dia sudah habiskan mangkuk kedua, kuahnya juga diminum, sekarang minta yang ketiga!"
Shen Yu makan dengan santai, dari empat peserta tinggal ia dan si jago makan yang masih bertahan. Sayang, waktu mangkuk kedua baru dimakan setengah, influencer itu sudah mulai kekenyangan. Kalau bukan live streaming, mungkin bisa diedit, tapi karena semua sedang siaran langsung, ia hanya bisa tersenyum, "Habis mangkuk ini aku cukup, sudah kenyang, jangan mubazir makanan."
Lalu ia memberi isyarat pada asisten agar kamera fokus ke Shen Yu, melanjutkan, "Adik kecil ini badannya ramping, tapi makannya luar biasa. Aku sendiri kalah, dia makan tiga kali lipatku. Nggak ngerti makanan masuk ke mana."
Influencer jago makan itu bertubuh gemuk, berbicara dengan tawa yang jujur.
Tapi komentar di live streamnya tidak seramah itu.
[Idola kita saja sudah jago makan, masa dia bisa lebih banyak? Aku nggak percaya.]
[Aku juga nggak percaya ada yang makan banyak tanpa gemuk, jangan-jangan habis itu dimuntahkan.]
[Bener-bener mubazir makanan, orang begini pantesnya masuk neraka.]