Kakakku hanya memiliki masalah pada lambungnya.
Bab 10
Shen Yu baru mengetahui kabar bahwa ayah dan ibunya akan pergi dinas ke luar kota saat sarapan pagi keesokan harinya. "Nanti waktu aku dapat hasil ujian masuk universitas dan mau pilih jurusan, kalian bakal pulang, kan?"
Yao Long, seperti biasa, menjawab, "Tentu saja, kalau nilaimu jelek siap-siap pantatmu dipukul."
Shen Yu sudah terbiasa dengan keluarganya yang sering pergi dinas. "Kalau begitu, nggak masalah."
Meskipun Shen Yu sudah dewasa, ia masih merasa dirinya adalah bayi kecil di rumah. Saat ujian masuk universitas, seluruh keluarga harus menemaninya, apalagi waktu memilih jurusan, tentu saja semuanya juga harus hadir.
Ayah Shen sejak semalam tidak tidur, sudah menyiapkan banyak makanan dan menyimpannya di freezer. Kini ia menjelaskan satu per satu pada Shen Yu. "Kalau ada apa-apa, cari saja Paman Chen."
Waktu Shen Yu masih kecil, ayah, ibu, dan kakaknya kadang harus menyisakan satu orang di rumah untuk berjaga jika yang lain ada tugas. Tapi beberapa kali mereka terpaksa berangkat semua, dan Shen Yu dititipkan pada Chen Xu. Itulah sebabnya Shen Yu selalu merasa keluarganya sangat dekat dengan Chen Xu.
Shen Yu berkata, "Aku tahu."
Yao Long mengingatkan, "Aku sudah transfer uang lagi ke kamu. Kalau kurang dan kamu nggak bisa hubungi kami, cari saja Paman Chen. Nanti kami ganti setelah pulang."
Shen Yu mengangguk patuh, lalu membagikan telur rebus yang sudah ia kupas untuk ayah dan ibunya.
Ayah Shen bertanya, "Kamu masih ingat di mana simpanan buku tabungan di rumah?"
Shen Yu menjawab, "Ingat."
Ayahnya menaruh hakau ke piring Shen Yu. "Kalau perlu, kamu ambil saja sendiri."
Bagaimanapun, anaknya sudah dewasa. Kalau tidak enak hati minta bantuan orang, sementara mereka tak bisa dihubungi, bagaimana?
Ucapan-ucapan seperti itu sudah sering Shen Yu dengar, bahkan mungkin lebih dari belasan kali, tapi setiap kali ia tetap mencatatnya baik-baik. Itu semua adalah bentuk kasih sayang keluarga padanya!
Chen Xu datang mengantarkan dua jimat pelindung dan liontin giok yang sudah diberkati.
Ayah Shen memeriksa dengan teliti, lalu memasangkan liontin ke leher anaknya dan berpesan, "Pakai terus, jangan dilepas bahkan kalau mandi."
Shen Yu yang baru saja melihat hantu, tentu saja langsung percaya hal-hal seperti itu. "Pasti!"
Ayah Shen lalu memasukkan jimat pelindung ke dalam casing ponsel Shen Yu. Ia sudah paham betul dengan kebiasaan Shen Yu; bahkan mandi pun ponsel selalu dibawa untuk mendengarkan musik. "Sudah, cukup."
Shen Yu berkata, "Ayah, Ibu, jimat pelindung ini kalian saja yang bawa. Aku dan Jiang Xiao sudah pakai liontin, jadi..."
Yao Long langsung menepuk kepala Shen Yu tanpa basa-basi. "Kami sudah cukup dengan barang-barang yang kamu kasih kemarin."
Tapi Shen Yu merasa itu berbeda.
Ayah Shen mengeluarkan ponselnya sendiri dan memperlihatkan pada Shen Yu. Di ponsel itu tergantung gantungan berbentuk pedang kayu persik. "Ngomong-ngomong, kali ini kami juga sekalian mau jenguk kakakmu, mau nitip sesuatu buat dia?"
Menurut bayangan ayah Shen, Shen Yu pasti akan senang dan langsung mengambilkan barang-barang tersebut. Namun kali ini wajah Shen Yu justru tampak ragu. "Kalian mau jenguk kakakku?"
Ayah Shen berkata, "Malah mungkin dia akan ikut pulang bareng."
Shen Yu tampak cemas, lalu berkata, "Apa nggak takut nggak bisa hubungi kakak? Atau nggak usah pergi?"
Soalnya kakaknya kalau lagi kerja memang nggak pernah angkat telepon.
Ayah Shen mengangkat alis. "Kami tahu di mana dia dinas, jadi langsung ke sana. Dan semalam kami sudah kontak dia."
Begitu tahu mereka sudah berhasil menghubungi Shen Yun, Shen Yu baru lega. Yang penting kakaknya tahu orang tua mereka akan datang. "Mau, mau! Aku ambil sekarang."
Selesai berkata, Shen Yu langsung berlari ke kamarnya.
Ayah Shen heran. "Kenapa waktu dengar kami mau jenguk Shen Yun, ekspresi Xiao Yu jadi aneh begitu?"
Yao Long dan Chen Xu juga tidak tahu.
Chen Xu berkata, "Nanti setelah antar kalian, aku tanya-tanya deh."
Mereka berdua setuju. Tak lama, Shen Yu sudah kembali membawa ransel. Di dalamnya berisi beragam gelang dan liontin yang khusus ia mintakan untuk kakaknya, juga camilan kecil seperti ikan kering dan cumi-cumi kering yang menurutnya enak beberapa hari ini. Kakaknya memang suka sekali makanan laut.
Shen Yu ikut mengantar keluarganya ke bandara, tapi ia dan Chen Xu tidak turun dari mobil.
Dalam perjalanan pulang, Chen Xu bertanya, "Kamu cemburu, ya?"
Shen Yu yang sedang asyik mengirim pesan ke Jiang Xiao, heran. "Cemburu apa?"
Chen Xu tahu Shen Yu dan Shen Yun memang sangat dekat sejak kecil. Dulu Shen Yu paling suka tidur bareng kakaknya. "Kamu nggak bisa hubungi kakakmu, tapi orang tua kamu bisa."
Shen Yu tertegun, lalu langsung kesal. "Iya, kan?! Kenapa dia nggak balas pesanku, tapi balas pesan orang tua?!"
Kalau bukan Chen Xu yang ingatkan, ia tak akan sadar soal itu. Sambil ngomel, Shen Yu langsung mengetik belasan pesan berisi protes ke kakaknya. "Menyebalkan!"
Chen Xu tak menyangka Shen Yu tadi sama sekali tak sadar soal itu. "Terus tadi kenapa kamu malah nyuruh orang tuamu nggak usah jenguk kakakmu?"
Shen Yu tak mengangkat kepala. "Bukan nggak mau. Aku cuma merasa, meski orang tua mau datang, ya sebaiknya tetap kasih tahu kakak dulu."
Bagaimanapun, pekerjaan kakaknya memang ada beberapa hal yang tak cocok diketahui orang tua.
Sebenarnya Shen Yu sendiri juga tak terlalu paham keputusan kakaknya. Ia memang berencana menanyakan langsung pada kakaknya nanti, apakah ada alasan khusus atau terpaksa.
Sebenarnya, Shen Yu tahu rahasia kakaknya juga secara tidak sengaja. Ia pernah mendengar kakaknya menerima telepon sebelum berangkat, walau hanya terpotong-potong, tapi cukup baginya.
Ke laut, tidak ganti target, punya uang, tulus, sudah bertahun-tahun.
Dari kata-kata itu saja, Shen Yu sudah membayangkan banyak hal.
Ditambah lagi, kakaknya setiap kali tugas jarang sekali membalas pesan, pulang pun wajah dan tubuhnya selalu sangat letih, sering membawa oleh-oleh mahal, badannya juga beraroma wangi khas, dan yang paling penting, kakaknya tidak punya pekerjaan tetap tapi tidak pernah kekurangan uang, bahkan sangat kaya.
Semua tanda-tanda itu menunjukkan satu hal—kakaknya disponsori wanita kaya! Yang disebut tugas keluar kota itu sebenarnya menemani wanita kaya itu.
Bahkan Shen Yu merasa kakaknya benar-benar mencintai wanita itu. Hanya saja, entah karena wanita itu jauh lebih tua hingga orang tua mereka tidak setuju, atau wanita itu hanya ingin mensponsori, bukan menikahi, sehingga selama ini disembunyikan?
Soal telepon itu pun jadi mudah dipahami. Ada yang menyarankan, kalau sudah "turun ke laut" dan targetnya sulit didapat, lebih baik ganti yang lebih kaya. Tapi kakaknya menolak dan bilang benar-benar tulus pada wanita itu, sudah bersama bertahun-tahun!
Tangan Shen Yu berhenti mengetik. Apa mungkin orang tuanya sudah tahu sesuatu dan mau memastikan ke kakaknya? Atau kakaknya sebenarnya sudah diskusi dengan wanita itu dan mau bicara terus terang?
Tak peduli yang mana, Shen Yu merasa ia harus mengingatkan kakaknya. Apapun pilihan kakaknya, ia akan selalu mendukung.
Shen Yu langsung mengirim pesan: "Kak, meski awalnya jadi sponsor, tapi kalau perasaan kalian tulus, itu juga takdir. Tak peduli seperti apa atau bagaimana kakak ipar nanti, aku pasti dukung kalian. Orang tua mau ke sana, kamu bicara baik-baik sama mereka. Mereka sangat sayang sama kita. Kalau butuh bantuan, hubungi aku saja, aku pasti datang!"
Akhirnya, Shen Yu menambahkan stiker semangat.
Sore harinya, Shen Ru Nan dan Yao Long sudah bertemu dengan Shen Yun. Begitu melihat luka di lengan Shen Yun, wajah mereka langsung berubah.
Shen Yun baru naik ke permukaan laut saat matahari terbit. Ia sudah diberitahu lewat perantara bahwa orang tuanya akan datang. "Lukanya tidak parah, sudah diobati."
Meski begitu, keduanya tetap memeriksa sendiri, baru kemudian bertanya, "Bagaimana kondisi di dasar laut?"
Yang datang bukan hanya pasangan Shen Ru Nan, melainkan juga Pendeta Hui Dao, Master Hui Ji, dan lainnya. Tapi retakannya terjadi di dasar laut, jadi selain bangsa laut, tak ada yang bisa turun ke sana. Saat ini, di antara bangsa laut, kekuatan tertinggi adalah bangsa duyung.
Pendeta Hui Dao sudah melihat keadaan retakan melalui bola perekam yang dibawa Shen Yun. "Retakannya tidak terlalu besar, hanya makhluk kecil yang bisa keluar. Yang merepotkan adalah pengaruh aura dendam yang menyebar setelah terbuka, kemungkinan jumlah hantu di sekitar sini akan meningkat selama beberapa waktu ke depan."
Shen Ru Nan duduk di samping Shen Yun, menepuk-nepuk ransel yang dibawa dari rumah. "Ini kakakmu yang bawakan."
Mendengar itu, sorot mata Shen Yun yang biasanya dingin jadi lebih lembut.
Yao Long pergi berkoordinasi dengan anggota tim aksi khusus, memastikan selain mereka, tim juga memanggil beberapa ekor duyung.
Melihat lengan Shen Yun yang terluka, Shen Ru Nan membantunya membuka resleting ransel, lalu menyerahkannya.
Shen Yun tidak mempedulikan pembicaraan soal penanganan retakan, ia mengeluarkan isi tas satu per satu. Paling atas adalah ikan kering dan cumi-cumi kering berbagai macam.
Shen Ru Nan sangat menghormati privasi anak-anaknya. Ia membawa tas itu sepanjang jalan tanpa melihat isinya. Sekarang, demi seru-seruan, ia berkata sambil tersenyum, "Bagi aku juga, dong."
Shen Yun menunjuk agar ayahnya memilih sendiri.
Shen Ru Nan membuka satu bungkus cumi-cumi kering, lalu memakannya sambil menatap Shen Yun, jelas ingin melihat reaksi. "Akhir-akhir ini adikmu punya hobi baru."
Pendeta Hui Dao yang ada di dekat mereka juga tampaknya sadar apa hobi Shen Yu sekarang. Kalau tidak, di tengah situasi genting seperti ini, dia pasti ingin ikut campur juga. Ia pun menatap Shen Yun penuh harap, menunggu perubahan ekspresi.
Shen Yun hanya mengangguk. Saat ia menemukan gelang yang memancarkan energi lemah, tangannya sempat terhenti... sepertinya ia bisa menebak hobi adiknya akhir-akhir ini, mengingat kebiasaan adiknya yang suka minta doa sebelum ujian penting bersama Jiang Xiao.
Shen Ru Nan menahan tawa. "Betul, hobinya sekarang adalah membagikan barang-barang ini untuk seluruh keluarga."
Shen Yun merasakan ada satu benda di dalam tas yang energinya cukup kuat. Setelah diambil, ternyata sebuah jimat pelindung.
Pendeta Hui Dao langsung menggumam pelan. Ia langsung mengenali itu sebagai jimat yang dikirim ke Chen Xu semalam.
Shen Ru Nan juga melihatnya, seketika ia langsung sadar. "Pantes tadi pagi Chen Xu ngasih dua jimat gambar Pendeta Hui Dao, ternyata diam-diam satu buat kakakmu."
Bibir Shen Yun mengatup rapat, langsung bertanya, "Kenapa adikku tiba-tiba minta barang-barang ini? Apa ada sesuatu di rumah? Kenapa ayah dan ibu sekarang membolehkan barang-barang begini masuk rumah?"
Shen Yun langsung menanyakan inti persoalan.
Shen Ru Nan lalu menjelaskan tentang kejadian hantu kelaparan.
Shen Yun menunduk sedikit. "Kalau cuma urusan hantu kelaparan malam itu, mestinya Chen Xu hanya mengirimkan jimat keselamatan, kenapa jadi jimat pelindung?"
Akhirnya, Shen Yun menatap langsung ke Pendeta Hui Dao.
Shen Ru Nan juga ikut sadar ada yang aneh. "Iya, kenapa harus jimat pelindung?"
Pendeta Hui Dao baru sadar keluarga Shen tidak tahu Shen Yu dan Jiang Xiao pernah melihat hantu. "Saya juga tidak tahu, Chen Xu minta jimat pelindung, saya kasih dua. Itu lebih berharga dari jimat keselamatan biasa."
Sementara Chen Xu tidak tahu dirinya sudah ketahuan. Setelah mengantar Shen Yu pulang, ia segera mengatur orang untuk melindungi Shen Yu. Siang dijaga manusia, malam dijaga hantu, memastikan Shen Yu aman dua puluh empat jam.
Setelah pulang, Shen Yu segera naik sepeda mengantarkan jimat pelindung pada Jiang Xiao.
Jiang Xiao melihat Shen Yu mengeluarkan jimat dari casing ponselnya, lalu bertanya, "Kalau punyamu sendiri gimana?"
Shen Yu tidak bercerita kalau satu jimat itu ia berikan ke kakaknya. Ia hanya berkata, "Nanti pulang ke rumah aku simpan lagi di ponselku."
Jiang Xiao meniru Shen Yu menyimpan jimat dengan baik. "Nanti kalau ibuku pulang, aku kasihkan ke dia. Aku sudah punya liontin ini, cukup."
Shen Yu tidak keberatan. Mereka pun langsung makan di restoran barbeque terdekat, lalu pulang membawa banyak camilan dan buah. Selama ayah ibunya tidak di rumah, Shen Yu tidak mau kekurangan asupan!
Dan karena tak ada orang di rumah, Shen Yu akhirnya melakukan sesuatu yang sejak punya ekor ikan selalu ingin ia coba. Setelah menaruh barang belanjaan di dapur, ia segera berjalan ke akuarium di ruang tamu. Ia mengukur ulang panjang dan lebar akuarium, lalu dengan berat hati memastikan, walau memaksakan diri berubah dengan ekor ikan, ia tetap akan sangat sempit di dalamnya.
Ayahnya suka memelihara bermacam-macam ikan, satu-satunya kesamaan adalah semua punya ekor indah, dan semua ikan itu tumbuh sangat sehat.
Shen Yu menempelkan wajah ke kaca akuarium, membandingkan ekornya dengan ikan-ikan di dalam, dan memastikan tidak ada satupun yang lebih indah dari ekornya sendiri. Barulah ia puas, lalu sambil bersenandung, ia pergi ke dapur memasak mi seafood untuk makan malam. Barbeque memang enak, tapi hanya memuaskan lidah saja.