Dia memiliki ekor ikan.

Ternyata aku adalah manusia duyung. Kabut tipis menyelimuti sungai di Selatan 3443kata 2026-03-04 18:28:31

Bab satu

Cuaca bulan Juni sudah mulai panas. Shen Yu sedang mengunyah semangka yang baru saja diambil dari sumur, matanya berputar-putar lalu bertanya pada ayahnya yang sedang asyik menonton drama televisi, “Ayah, menurutmu keluarga kita ada keturunan asing nggak, ya?”

Ayah Shen memegang sebuah baskom berisi setengah semangka, dia makan dengan sendok, mengeruk dari pinggir ke tengah, “Keturunan asing apanya, keluarga kita dari dulu sampai sekarang murni orang Huaguo.”

Shen Yu menghabiskan satu potong semangka, membuang kulitnya ke baskom kosong, lalu mengambil potongan lain dan bertanya lagi dengan nada berpikir, “Kalau begitu, ada nggak kira-kira leluhur kita yang orang hebat? Misalnya bisa terbang di langit atau berenang di laut?”

Akhirnya, ayah Shen menoleh pada putranya, “Ada, dong.”

Mata Shen Yu langsung berbinar, menatap ayahnya penuh harap.

Meski sudah paruh baya, ayah Shen masih tampan dan gagah, kalau keluar pun masih sering ada yang meminta kontak, “Shen Wansan, katanya semua keluarga kita keturunan Shen Wansan. Sekarang V saya lima puluh, nanti saya kasih peta harta karun warisan keluarga.”

Shen Yu langsung berteriak kesal, berdiri dan merebut setengah semangka dari baskom ayahnya. Di tengah makian ayahnya yang menyebutnya anak durhaka, ia menghabiskan bagian tengah semangka yang sengaja disisakan untuk terakhir, lalu mengembalikan kulitnya ke pelukan ayahnya. Dengan penuh amarah, ia naik ke atas, masih sempat berkata dengan nada keras, “Sampai makan malam, aku nggak mau ngomong sama Ayah!”

Ayah Shen menunjuk punggung Shen Yu dan memaki, “Dasar bocah bandel, tunggu saja, nanti suruh kakakmu pulang buat hajar kamu!”

Shen Yu mendengus, mengunci pintu kamar dari dalam, lalu mengeluarkan ponsel dan mengirim lokasi uang simpanan ayahnya pada ibunya. Setelah mendapat angpao hadiah dari sang ibu, barulah hatinya terasa lega. Sambil bersenandung kecil, ia masuk ke kamar mandi dan mulai mengisi air ke bak mandi, “V lima puluh? Kubuat kamu nggak punya uang sepeser pun, dasar ayah menyebalkan, sedikit pun nggak pernah membantu anaknya.”

Setelah air hampir penuh dua pertiga, Shen Yu pun melepas pakaian dan berendam. Begitu ia menuruti pikirannya, kedua kaki putih dan kuatnya langsung berubah menjadi sebatang ekor ikan berwarna perak.

Berapa kali pun melihatnya, Shen Yu tetap menganggap ekor itu sangat indah berkilauan. Meski dalam kenyataan ia hanya pernah melihat satu ekor seperti ini, tetap saja ia merasa ekor miliknya paling cantik. Tapi sehebat apapun, tetap saja itu ekor ikan.

Sambil mendesah, Shen Yu mengibaskan ekornya beberapa kali untuk meluapkan kekesalan, lalu menyiapkan meja kecil dan mengambil tablet untuk menonton anime. Tapi baru satu episode, ia sudah kesal sampai-sampai sisik di ekornya berdiri semua. Ia mematikan video itu sambil menggerutu, “Sialan! Apa-apaan itu, makan daging duyung? Bikin emosi saja! Sial!”

Setelah memaki, Shen Yu mengambil air dari bak dan memercikannya ke badannya untuk membuang sial. Ia merasa sejak ujian masuk perguruan tinggi selesai, tak ada hari yang berjalan lancar. Ia segera keluar dari bak, mengubah ekornya kembali menjadi kaki, melilitkan handuk dan berlari keluar kamar, membuka pintu dan berteriak ke bawah, “Ayah, belikan aku daun jeruk bali!”

Ayah Shen membalas dengan marah, “Dasar anak bikin pusing, bukannya tadi kamu nggak mau ngomong sama aku?”

Shen Yu tak peduli, tetap mengingatkan, “Jangan lupa, sekalian cari kayu persik!”

Setelah berteriak, ia menutup pintu dan kembali berendam di bak.

Shen Yu baru turun setelah ibunya pulang. Entah sejak kapan ayahnya keluar, yang jelas daun jeruk bali dan ranting kayu persik yang ia minta sudah ada, tergeletak begitu saja di lantai.

Yao Long sudah berganti pakaian rumah, sedang makan semangka yang sudah dikupas oleh suaminya, “Mau buat apa daun jeruk dan kayu persik itu?”

Shen Yu dengan hati-hati mengumpulkan barang-barang itu, “Oh iya, Ma, aku dengar di kabupaten sebelah ada dukun perempuan yang sakti, bener nggak sih?”

Yao Long mengangkat alis, “Kenapa? Takut nilaimu jelek, baru sekarang ingat cari pertolongan?”

Shen Yu memeluk daun jeruk dan ranting kayu persik, membantah keras, “Nilai aku bagus, kok!”

Ayah Shen mengintip dari dapur, sambil mengacungkan alat penggilas adonan, “Hei, kamu ngomong sama siapa itu pakai suara keras?”

Shen Yu merasa kesal, tapi tak bisa bercerita pada orangtuanya bahwa anak mereka punya ekor ikan, “Kakak kapan pulang, sih?”

Sebenarnya, Shen Yu sudah terbiasa kalau kakaknya sering dinas ke luar kota dan tiap kali pergi tak pernah membalas pesan.

Yao Long tetap makan semangka, “Entah.”

Shen Yu menjawab lesu, lalu membawa daun jeruk dan kayu persik ke kamarnya sebelum turun lagi dan duduk di samping ibunya, “Ma, dulu Ayah pernah bilang, aku bukan anak kandung kalian, tapi ditemukan waktu Ayah mancing di laut. Itu bener nggak sih?”

Yao Long tertawa mendengar nada putus asa anaknya, “Mana ada. Dulu keluarga kita miskin, Ayahmu cari barang bekas di tempat sampah, katanya kamu ditemukan di sana.”

Shen Yu, “…”

Ia memutuskan sampai makan malam tidak akan berbicara dengan ibunya. Benar-benar bikin kesal.

Karena terlalu kesal, malam itu Shen Yu makan tiga mangkuk besar mi buatan tangan. Kalau saja di panci masih ada, ia yakin bisa makan sampai mangkuk keempat.

Ayah Shen sampai kaget melihat porsi makan anaknya yang makin banyak, setelah Shen Yu mencuci piring, ia bahkan memberinya pil hawthorn.

Sambil mengunyah pil hawthorn, Shen Yu bertanya, “Ayah, Ibu, kalian mau makan apel nggak?”

Yao Long, meski sudah punya dua anak, tetap ramping dan, yang terpenting, tidak pernah gemuk, “Nggak, deh.”

Ayah Shen juga sudah kenyang.

Shen Yu lalu mengambil dua apel, mencuci, dan memakannya sendiri.

Ayah Shen bergumam, “Anak remaja benar-benar bikin orang tua bangkrut. Untung masih ada uang, kalau nggak, mana sanggup membiayai kamu.”

Shen Yu mendelik, sengaja menggigit apel dengan suara keras.

Tiba-tiba ayahnya teringat sesuatu, “Eh, kamu masih mau syuting film nggak?”

Shen Yu menoleh pada ayahnya.

Ayahnya adalah seorang penulis, novel-novelnya tak hanya diterbitkan, bahkan sudah dijual hak adaptasinya ke film, dan ia pun pernah terlibat dalam penulisan naskah, jadi kenal beberapa orang di bidang itu.

Shen Yu menelan apel, melirik curiga ke arah ayah dan ibunya, “Bukannya kalian dulu melarang aku masuk dunia hiburan?”

Ayah Shen menjelaskan, “Kalau benar-benar melarang, mana mungkin dulu ikut menemani kamu ujian seni dan mendaftarkanmu ke institut perfilman. Dulu kamu masih di bawah umur, jadi tentu belum boleh masuk dunia itu.”

Kalau saja kabar ini ia dengar beberapa hari sebelumnya, Shen Yu pasti sudah melonjak kegirangan. Tapi dengan keadaannya sekarang, jadi bintang bukan pilihan bijak. Kalau sampai ketahuan dia adalah duyung, bisa-bisa hidupnya terancam. “Aku pikir-pikir lagi, deh.”

Ayah Shen melihat anaknya seperti ayam kecil kehujanan, bertanya, “Kenapa? Nggak mau jadi bintang lagi?”

Shen Yu memberikan pandangan penuh keluhan pada ayahnya. Sebenarnya, dari rupa saja sudah jelas ia anak kandung mereka, hanya saja entah kenapa ia bisa berubah ras, jangan-jangan gara-gara waktu kecil ayahnya sering bilang ia ditemukan di laut, jadi benar-benar berubah jadi ikan?

Yao Long memperhatikan putranya, “Apa-apaan sih, muka aneh begitu?”

Shen Yu menyalurkan kekesalannya dengan makan, menghabiskan dua apel, “Kalian nggak akan ngerti!”

Tiga orang itu menonton televisi bersama sebentar, lalu masing-masing masuk kamar. Baru saja Shen Yu berbaring, ia sudah lapar lagi. Ia pun turun ke dapur, mengambil beberapa pisang dan sosis, dan ketika hendak naik, terdengar suara dari kamar orangtuanya.

Ayah Shen membujuk, “Istriku, cuma segitu, aku nggak punya simpanan lain.”

Yao Long, yang mendapat bocoran dari anaknya, bersikeras, “Kalau yang di belakang AC?”

Ayah Shen mendengus, “Pasti ulah bocah bandel itu, benar-benar anak durhaka.”

Mendengar ayahnya dimarahi, Shen Yu langsung senang, tak lagi memikirkan omelan ayahnya. Ia melangkah ringan ke atas, bersyukur pintu kamar orangtuanya tidak tertutup rapat, kalau tidak, dengan kedap suara rumah ini, ia tak akan bisa mendengar drama bagus itu.

Namun, Shen Yu tak tahu, pintu kamar ayah dan ibunya sebenarnya tertutup rapat. Setelah ia diam-diam menutup pintu kamarnya, ayah dan ibunya mulai membicarakan hal lain.

Ayah Shen agak pilu, “Waktu kamu nggak di rumah, Xiao Yu tiba-tiba tanya, apa ada leluhur kita yang sakti, bisa terbang atau berenang. Aku sampai kaget, hampir saja rahasia terbongkar.”

Yao Long yang sedang memakai masker wajah langsung melepasnya, “Ceritakan dengan jelas.”

Ayah Shen menceritakan percakapan mereka dengan detail, lalu mengeluh, “Bocah itu, semangka bagian tengahku saja dihabiskan, padahal itu bagian paling manis.”

Yao Long mengernyit, “Aku juga tadi sudah periksa, di tubuhnya nggak ada tanda-tanda kebangkitan.”

Ayah Shen menghela napas, “Kalau memang bisa bangkit, pasti sudah dari dulu. Menurut catatan suku, duyung biasanya bangkit saat usia enam tahun, yang paling lambat dua belas tahun. Sekarang Xiao Yu sudah delapan belas, sepertinya memang tidak akan bangkit.”

Mendengar itu, Yao Long pun merasa sedih, “Kalau memang tidak bangkit, ya sudah.”

Ayah Shen sampai memerah matanya menahan air mata, “Kalau tak bangkit, ia hanya manusia biasa, umur manusia cuma seratus tahun.”

Sedangkan duyung bisa hidup sampai lima ratus tahun.

Yao Long kembali memakai masker, berbaring di kursi goyang, “Bukankah kita sudah bahas ini? Kalau begitu, kita bertiga juga berpura-pura jadi manusia biasa, temani dia sampai akhir usia.”

Air mata Ayah Shen pun mengering, ia mengambil masker dan duduk di samping Yao Long, “Jangan sampai dia tahu, nanti Xiao Yu pasti sedih.”

Yao Long mengiyakan.

Sebenarnya, di antara suku duyung masa kini, yang tidak bangkit jauh lebih banyak, sementara yang berhasil bangkit sangat sedikit. Sejak Shen Yu lahir dan menangis keras saat dibawa ke pantai, mereka sudah punya firasat, lalu memutuskan pindah meninggalkan Pulau Duyung, menyembunyikan identitas mereka dari Shen Yu.

Saat itu keluarga Shen masih punya harapan, tapi setelah menunggu dari usia enam sampai delapan belas tahun, mereka pun yakin anak bungsu mereka hanyalah manusia biasa, jadi tidak lagi membatasi keinginannya.

Ayah Shen kembali menghela napas, “Untung kita selalu merahasiakan ini, biar saja nanti ia lakukan apapun yang ia inginkan.”

Saat ayah dan ibunya sedang cemas, Shen Yu sedang berendam dengan air jeruk bali. Ia sudah mencari cara mengusir sial dengan daun jeruk, sangat khusyuk merendam daun itu dalam bak, lima belas menit berlalu, ia membasuh muka dan tangannya, lalu berendam sepenuhnya, bahkan menempelkan daun jeruk di ekor ikannya. Dengan kedua tangan menangkup berdoa, “Tuhan, semoga besok pagi, semua ini cuma mimpi.”