Selama ini, Shen Yu selalu mengira rahasia terbesar di keluarganya hanyalah tempat ayahnya menyembunyikan uang simpanan dan kabar bahwa kakaknya dipelihara oleh seorang wanita kaya. Sampai suatu hari,
Bab satu
Cuaca bulan Juni sudah mulai panas. Shen Yu sedang mengunyah semangka yang baru saja diambil dari sumur, matanya berputar-putar lalu bertanya pada ayahnya yang sedang asyik menonton drama televisi, “Ayah, menurutmu keluarga kita ada keturunan asing nggak, ya?”
Ayah Shen memegang sebuah baskom berisi setengah semangka, dia makan dengan sendok, mengeruk dari pinggir ke tengah, “Keturunan asing apanya, keluarga kita dari dulu sampai sekarang murni orang Huaguo.”
Shen Yu menghabiskan satu potong semangka, membuang kulitnya ke baskom kosong, lalu mengambil potongan lain dan bertanya lagi dengan nada berpikir, “Kalau begitu, ada nggak kira-kira leluhur kita yang orang hebat? Misalnya bisa terbang di langit atau berenang di laut?”
Akhirnya, ayah Shen menoleh pada putranya, “Ada, dong.”
Mata Shen Yu langsung berbinar, menatap ayahnya penuh harap.
Meski sudah paruh baya, ayah Shen masih tampan dan gagah, kalau keluar pun masih sering ada yang meminta kontak, “Shen Wansan, katanya semua keluarga kita keturunan Shen Wansan. Sekarang V saya lima puluh, nanti saya kasih peta harta karun warisan keluarga.”
Shen Yu langsung berteriak kesal, berdiri dan merebut setengah semangka dari baskom ayahnya. Di tengah makian ayahnya yang menyebutnya anak durhaka, ia menghabiskan bagian tengah semangka yang sengaja disisakan untuk terakhir, lalu mengembalikan kulitnya ke pelukan ayahnya. Dengan penuh amarah, ia naik ke atas, masih sempat berkata dengan nada keras, “Sampai makan malam, aku nggak mau ngomong sama Ayah!”
Ayah Shen menunjuk pun