Bab 9 Berapa Lama Lagi Kau Akan Menolakku

Funeral Alegre A faísca deslumbrante. 1388kata 2026-07-31 12:06:43

Perasaan getir tiba-tiba menyeruak di dalam hatinya.

Sosoknya yang dulu begitu mempesona dan penuh semangat tampak begitu gemilang hingga membuat orang tak sanggup memalingkan pandangan. Entah rasa getir ini muncul karena ia dulunya adalah pria yang begitu sempurna namun kini harus terkurung di kursi roda, ataukah karena ada seorang wanita yang begitu akrab di sisinya?

Untuk sesaat, ia bahkan tidak mengerti perasaannya sendiri.

Piala-piala itu adalah penghargaan atas juara pertama yang ia raih dari olahraga ekstrem seperti balap mobil dan terbang layang. Pria seperti apa dia dulunya, yang begitu mencintai hidup!

Ia melirik jam, waktu hampir menunjukkan pukul lima. Ia meraba tiket masuk di dalam sakunya.

Ia akhirnya berhasil tiba di lokasi perjamuan sesuai alamat yang tertera.

Acara itu dipadati banyak orang. Baru saja ia menemukan tempat duduk, suara seorang pria terdengar dari sampingnya—

"Akhirnya kau datang juga?"

Ia menoleh, Shen Yishen berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.

"Bukankah seharusnya kau sedang tidur?"

"Malam ini akan ada pertunjukan menarik, tentu saja aku tidak boleh melewatkannya."

Apa sebenarnya yang ia maksud dengan pertunjukan menarik?

Saat sedang berpikir, pembawa acara di panggung mendorong kursi roda Shen Yiran ke depan.

Di bawah sorotan lampu, meski hanya duduk di kursi roda, penampilan Shen Yiran tetap cukup untuk membuat orang menoleh berkali-kali. Wajahnya tampak pucat, matanya tertutup kabut tipis, seolah ia sangat menolak situasi ini.

Yueyao menatap Shen Yiran tanpa berkedip.

Saat itu, seorang wanita berjalan perlahan dari balik layar. Ia menghampiri Shen Yiran dan meletakkan tangannya di bahu pria itu dengan luwes.

Yueyao mengenali wanita ini. Wanita yang ada di dalam foto itu!

Wanita itu mengambil mikrofon dari pembawa acara dan berkata dengan penuh percaya diri, "Meski ini adalah kerja sama pertama saya dengan Grup Shen, saya yakin kita pasti akan kembali menciptakan keajaiban di dunia desain!"

Ia berdiri di sana, seolah berada di tengah sorotan lampu. Saat Shen Yiran menatapnya, kelembutan di matanya adalah hal yang belum pernah Yueyao lihat sebelumnya. Keduanya tampak seperti pasangan yang serasi, bak pinang dibelah dua.

Suara Shen Yishen terdengar lirih di sampingnya, "Namanya Xu You, mantan kekasih Yiran."

Ia menyalakan sebatang rokok lalu melanjutkan, "Keadaan Shen Yiran yang menyedihkan seperti ini, ada hubungannya dengan wanita itu."

Yueyao berdiri dengan punggung tegak. Ternyata inilah alasan Shen Yishen memintanya datang.

"Aku tidak tertarik padanya," ucapnya dengan nada tenang. "Bagaimanapun, akulah yang kini menjadi istri Shen Yiran."

Meskipun berkata demikian, pandangannya tak sedetik pun lepas dari panggung. Ia pernah mendengar dari kepala pelayan bahwa Shen Yiran mengalami kelumpuhan kaki akibat kecelakaan dan sejak itu hanya memulihkan diri di rumah. Selama masa itu, pria itu seolah berubah menjadi orang lain.

Emosinya meledak-ledak, melakukan mogok makan, hingga menyakiti diri sendiri. Sulit membayangkan pria yang begitu angkuh bisa hancur seperti ini hanya karena seorang wanita.

Jantungnya terasa sesak, seolah diremas oleh tangan tak kasat mata hingga sulit bernapas.

"Aku pergi dulu."

Pria itu menghalanginya. "Biar kutemani jalan-jalan?"

"Jaga jarakmu," sahut Yueyao.

Semakin ia menolak, pria itu justru semakin berani. Ia bahkan mencengkeram tangan Yueyao dan memaksanya ke dalam pelukan.

"Hatinya saja tidak tertuju padamu, sampai kapan kau akan terus menolakku, hmm?"

Di atas panggung, Xu You berlutut dengan lembut. Di bawah tatapan semua orang, ia berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "Aran, aku tahu kemunculanku yang tiba-tiba membuatmu sangat..."

"Ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, kau tidak akan menjadi seperti ini. Sekarang aku sudah kembali, aku akan merawatmu..."

Shen Yiran mengelus pipi wanita itu dengan jemarinya yang panjang dan ramping. Xu You menggenggam tangan Shen Yiran dengan kedua tangannya.

Suasana hening seketika. Pada saat itu, keduanya seolah hanya memiliki satu sama lain.