Bab 2: Suaminya yang Cacat
Tatapan Shen Yiran tertuju ke arah belakang Yue Yao.
"Kau dengar sendiri, kan? Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau sukai dari wanita menyebalkan ini."
Yue Yao menoleh ke belakang, tampak Shen Yishen sedang berdiri di ambang pintu.
Pria itu tersenyum tipis. Sambil melepaskan sepatu dan kaus kakinya, dia berkata, "A-Ran, kau sepertinya sedang cemburu? Tapi karena kalian sudah menikah, kurasa tidak ada gunanya cemburu lagi, kan?"
Shen Yiran tidak menanggapi ucapan itu, dia hanya berkata, "Aku lelah, ingin istirahat sebentar."
Kepala pelayan memberi salam kepada Shen Yishen, lalu mendorong kursi roda Shen Yiran naik ke lantai atas.
Setelah sosok mereka berdua menghilang di belokan tangga, Shen Yishen tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telinga Yue Yao.
"Kau tidak mungkin jatuh cinta padanya, kan?"
Yue Yao menatap pria itu.
Dulu, dia adalah orang terpenting dalam hidupnya.
Kini, dia hanya bisa menjadi adik iparnya.
Sungguh ironis, seperti pepatah yang mengatakan bahwa sepasang kekasih pada akhirnya justru berakhir sebagai saudara.
Dia menyembunyikan perasaannya dan menjawab dengan datar, "Tuntunya tidak."
Jari Shen Yishen menyentuh dagu Yue Yao.
Dia ingin mencari tahu sesuatu dari sorot matanya.
Namun, tatapan mata Yue Yao begitu tenang, tanpa riak sedikit pun.
Dengan nada menguji, dia berkata, "Shen Yiran hanyalah seorang pria cacat yang tidak berguna. Memangnya kenapa kalau kalian sudah menikah? Begitu aku mendapatkan posisi pemegang kendali kekuasaan, aku akan merebutmu kembali dari sisinya!"
Yue Yao menepis tangannya.
Memangnya dia menganggap dirinya apa?
"Shen Yishen, karena pernikahan ini adalah hasil rencanamu sendiri, maka kau harus merelakannya! Jangan mengatakan hal-hal seperti ini lagi!"
Kata-kata itu tampaknya memicu kemarahannya.
Ekspresi wajahnya perlahan berubah menjadi bengis. "Kau pikir aku menginginkan ini? Kakinya lumpuh demi menyelamatkanku! Hanya karena hal itu, selama bertahun-tahun ini, apa pun yang kuinginkan selalu dia rebut. Dan orang tua itu mendukungnya tanpa syarat. Apa yang bisa kukatakan? Termasuk pernikahan ini, seharusnya akulah yang menikahimu!"
Sejak Shen Yiran dan Yue Yao menikah, Shen Yiran sengaja bermesraan dengan Yue Yao di hadapannya.
Di luar dia tampak tidak peduli, tetapi di dalam hati dia hampir menjadi gila!
Yue Yao tiba-tiba berujar, "Jadi, karena itulah kau melakukan tindakan gila di tengah malam buta?"
Shen Yishen bertanya dengan bingung, "Tindakan apa?"
Melihat reaksinya, Yue Yao menarik napas dalam-dalam.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya bermimpi buruk semalam."
Tampaknya sosok misterius di malam hari itu juga bukan dia.
Kini dia harus memperjelas batasan dengan Shen Yishen. "Karena kau sudah menyerahkanku kepadanya, maka kau tidak boleh memiliki angan-angan yang tidak pantas lagi."
Melihat Yue Yao hendak pergi, Shen Yishen bergerak lebih cepat dan menyudutkannya ke dinding.
Dia berkata dengan penekanan pada setiap kata, "Pria cacat seperti dia, yang lumpuh setengah badan, apa bisa memberimu kebahagiaan? Atau kau memang ingin hidup seperti janda seumur hidupmu?"
Yue Yao ingin melepaskan diri, tetapi perbedaan kekuatan dan ukuran tubuh mereka terlalu besar.
Dia hanya bisa pasrah dalam kungkungannya.
She ingat hari pernikahannya.
Shen Yiran memberitahunya bahwa Shen Yishen bukanlah orang yang bisa dia pahami dengan mudah.
Karena dia dan Shen Yishen sudah lama bersama, dia merasa tidak ada orang yang lebih mengenal sifat pria itu selain dirinya.
Saat itu, dia sama sekali tidak memercayai ucapan Shen Yiran.
Namun kini, perlahan-lahan dia mulai menyadari bahwa Shen Yiran benar.
Tampaknya dia tidak pernah benar-benar mengenal Shen Yishen.
Sama seperti sekarang, di hadapan publik, Shen Yishen tampak sangat menyayangi Shen Yiran.
Siapa yang akan menyangka bahwa di belakang, dia tega menyebut Shen Yiran sebagai pria tidak berguna?
Bahkan bersekongkol untuk merebut kekuasaan dan merampas istri saudaranya sendiri?
Sosoknya kini terasa semakin jauh dari Shen Yishen yang lembut dan sopan dalam ingatannya.
Shen Yishen menundukkan kepalanya, menyentuh sudut bibir Yue Yao dengan bibirnya, "Kau masih mencintaiku, kan?"
Di sudut lantai dua yang tersembunyi, kepala pelayan yang mendorong kursi roda Shen Yiran sedang memperhatikan kedua orang di bawah.
Kepala pelayan merendahkan suaranya, "Tuan Muda, haruskah saya turun tangan?"