Bab 37: Aku Tahan Dingin
Halaman (1/3)
Saat keluar rumah pagi tadi, Qingcheng masih terasa agak gerah.
Namun kini hawa dingin sudah mulai terasa di dalam mobil.
Shen Yiran melepas jasnya lalu menyerahkannya kepada Yueyao. “Nanti kau bisa masuk angin.”
Yueyao menerima jas yang diberikannya.
Masih tercium samar aroma bunga osmanthus dari sana.
Ternyata dia cukup menyukai bunga osmanthus.
Sepertinya di taman belakang rumahnya juga tumbuh beberapa pohon osmanthus.
Yueyao mengendus. “Aku tahan dingin.”
Shen Yiran mengangkat alis. “Aku hanya takut kau menularkannya kepadaku yang sedang sakit.”
Setelah berkata demikian, teleponnya berdering.
Dengan dahi berkerut, dia mengangkat telepon itu. Setelah memberikan beberapa instruksi, dia pun menutupnya.
Yueyao bertanya heran, “Siapa yang akan datang?”
Shen Yiran terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Xu You akan datang.”
Dialah yang baru saja menelepon.
Katanya, suasana di rumah sakit cukup membosankan dan dia ingin berjalan-jalan ke tempat terdekat untuk menyegarkan pikiran.
Lalu dia bertanya apakah hari ini ada orang di lapangan golf karena dia ingin datang melihat-lihat.
Tanpa banyak berpikir, Shen Yiran menyetujuinya.
Dengan nada menyindir, Yueyao berkata, “Wajar saja. Bagaimanapun juga, dia baru saja keluar dari bayang-bayang percobaan bunuh diri. Dia memang perlu berjalan-jalan ke berbagai tempat untuk menenangkan diri.”
Perempuan itu datang sesuka hati.
Seolah-olah dialah yang lebih pantas menjadi Nyonya Shen daripada dirinya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Namun, tidak ada yang bisa dilakukan. Siapa suruh Shen Yiran begitu memanjakannya?
Lalu, dirinya ini dianggap apa?
Pengasuh keluarga Shen yang penuh perhatian?
Memikirkan hal itu, Yueyao mengeluarkan dari kantongnya beberapa stiker kecil yang diberikan gurunya saat pelatihan.
Stiker itu adalah hadiah kecil karena dia menyimak dengan sungguh-sungguh dan lulus penilaian.
Dengan kesal, dia menempelkan stiker-stiker itu di jendela mobil Shen Yiran.
Tak lama kemudian, seluruh stiker di dalam tasnya sudah habis ditempel.
Kini jendela mobil mewah Shen Yiran dipenuhi stiker kekanak-kanakan.
Lao Qiao melirik kaca spion dan tertegun saat melihat jendela tersebut.
Gerakan kecil Yueyao tadi juga terlihat oleh Shen Yiran.
Shen Yiran berkata lantang, “Siapkan uangmu.”
Yueyao menoleh dan baru menyadari “karyanya”. “Eh, apa maksudmu dengan menyiapkan uang?”
“Biaya perawatan mobil,” jawab Shen Yiran datar.
Yueyao langsung mencopot salah satu stiker. Namun karena menempel terlalu kuat, masih tersisa lapisan putih di permukaannya.
Hasilnya malah tampak lebih buruk.
Dengan perasaan bersalah, Yueyao sedikit menundukkan kepalanya.
Setelah dipikir-pikir, ada yang terasa tidak benar. Bagaimanapun, uang itu tetap berasal dari domba yang dicukur bulunya sendiri.
Dengan kepala tegak, dia berkata, “Memangnya kenapa? Aku juga bagian dari keluarga Shen. Uang yang kubayar bukankah pada akhirnya juga uangmu?”
Shen Yiran menatapnya dengan sorot mata penuh penilaian.
“Sejak kapan kau bicara dengan begitu percaya diri?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Bukankah kau sendiri yang bilang, aku harus percaya diri saat menghadapi siapa pun?”
Tak disangka, sekarang dia bisa langsung menggunakan kata-kata Shen Yiran untuk melawannya.
Shen Yiran merapikan lengan bajunya.
Suaranya yang berat dan merdu terdengar, “Memang benar, sebuah mobil jelas tidak sebanding dengan gelar Nyonya Shen.”
Yueyao dapat memahami maksudnya. Yang dia katakan bukanlah bahwa dirinya berharga.
Melainkan posisi itu yang memiliki bobot lebih besar.
…
Lapangan golf tersebut berada di pinggiran Qingcheng, tepat di kaki sebuah gunung bersalju.
Saat suhu di dalam kota masih terasa agak gerah, gunung itu sudah tertutup lapisan salju tebal.
Yueyao mendorong Shen Yiran memasuki lapangan golf.
Hamparan rumputnya membentang sejauh mata memandang, sementara berbagai fasilitas lainnya juga sangat lengkap.
Namun, di hadapan pemandangan seindah itu, yang ada dalam benak Yueyao justru adalah:
Kapan dia bisa memenuhi kursi roda Shen Yiran dengan stiker?
Apakah saat itu Shen Yiran akan merasa jijik lalu mengganti kursi rodanya?
Jin Shukuo sudah tiba lebih dulu.
Dia berjalan menghampiri mereka sambil tertawa kecil. “Saat datang tadi, aku melihat sebuah mobil lain terparkir di depan pintu. Jangan-jangan ada tamu kehormatan?”
Shen Yiran menjawab datar, “Ada juga orang-orang dari keluarga Cheng. Hubunganku dengan keluarga Cheng cukup baik. Kami sebelumnya juga sudah sepakat untuk bermain bersama karena sudah lama tidak bermain golf. Kebetulan hari ini kita bisa bersenang-senang bersama.”