Bab 56 Sungguh naif
Pertempuran memasuki babak kedua!
Kaum Manusia Kucing mulai terdesak.
Begitu infanteri ringan elit di bawah komando Ksatria Hitam Feder memasuki medan perang, situasinya langsung berbalik condong ke satu sisi.
Total prajurit kaum Manusia Kucing hanya sekitar dua ratus orang, itu pun sudah termasuk laki-laki, perempuan, tua, dan muda. Sementara itu, infanteri ringan elit Pasukan Ksatria Hitam saja berjumlah 200 orang, ditambah lagi dengan 200 prajurit rendahan milik Adrian.
Total kekuatan militer mencapai 400 orang.
Bagaimana mungkin kaum Manusia Kucing bisa menahannya?
Garis pertahanan tidak dapat dipertahankan lagi!
Kaum Manusia Kucing mundur teratur.
Penyihir Agung Berhati Hitam dengan santainya merapalkan [Bola Api] dan melemparkannya ke sebuah pondok jerami. Kobaran api langsung membesar, menyambar pondok jerami di sekitarnya, dan desa Manusia Kucing itu seketika dilalap api besar.
Situasi ini membuat kaum Manusia Kucing semakin kacau.
Seseorang berteriak, "Gawat Meow, ada kebakaran Meow."
"500 kati jatah makanan kucing kita masih ada di gudang Meow, nanti ikut terbakar Meow."
"Jangan bakar makanan kucingku Meow."
"Tidak bisa menahannya lagi Meow."
"Apakah kita harus mundur Meow?"
Kepala Suku Silver Tabby: "Yang di depan tahan sekuat tenaga Meow! Orang tua dan wanita, masing-masing bawa beban 40 kati makanan kucing lalu mundur Meow! Cepat mundur Meow!"
Sekelompok Manusia Kucing tua dan perempuan bergegas menerobos sebelum kobaran api semakin meluas, masuk ke lumbung, dan masing-masing memanggul sekantong kecil makanan kucing lalu berlari keluar.
Sementara para prajurit Tabby, prajurit Golden Tabby, dan yang lainnya di garis depan berjuang keras menahan gempuran.
"Awas punggungmu Meow!"
"Aku sudah lihat Meow."
"Bertahanlah selama mungkin Meow, agar makanan kucing kita bisa selamat Meow."
[Cakaran Liar]
[Taring dan Cakar Tajam]
Prajurit Tabby mengeluarkan seluruh kemampuan bertempurnya, berhasil memukul mundur tiga infanteri ringan secara beruntun. Sungguh sebuah pemandangan di mana satu ekor kucing mampu menghadang ribuan musuh.
Di kejauhan, Ksatria Hitam Feder berkata, "Manusia Kucing itu cukup kuat. Sepertinya aku harus turun tangan sendiri."
Penyihir Agung Berhati Hitam menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Dia melompat ke sana ke mari dan berlari kesana-kemari dengan [Lompatan Super Kilat], kau tidak akan bisa menangkapnya. Biar aku saja."
Ia mulai merapal mantra. Setelah beberapa detik merapal...
Penyihir Agung Berhati Hitam melambaikan tangannya ke depan: [Jaring Laba-laba].
Sebuah jaring laba-laba raksasa tiba-tiba muncul dari udara kosong dan langsung meluncur menutupi kepala prajurit Tabby.
"Meow!"
Prajurit Tabby sangat terkejut dan buru-buru melompat ke samping, tetapi tepat di sebelah kanannya ada seorang infanteri ringan yang menghalangi, mengayunkan pedang panjangnya secara membabi buta untuk memotong jalur pelarian prajurit Tabby.
Prajurit Tabby merasa panik dan berniat melompat ke arah sebaliknya.
Namun, semua sudah terlambat. Jaring laba-laba raksasa itu telah menyeubungi kepalanya dan langsung menjeratnya seketika. Jaring itu pun menyusut secara otomatis.
Prajurit Tabby berteriak "Meow meow meow" sambil meronta sekuat tenaga, tetapi sia-sia. Jaring laba-laba semakin mengencang, membuatnya kehilangan ruang gerak dalam sekejap. Tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan lagi, dan dengan suara gedebuk, ia terjatuh ke tanah.
Penyihir Agung Berhati Hitam merentangkan tangannya. "Manusia Kucing sulit dikalahkan dengan cara fisik, tetapi mereka hampir tidak memiliki ketahanan terhadap sihir."
Ksatria Hitam berteriak lantang, "Bunuh dia!"
Dua prajurit infanteri ringan melompat bersamaan, mengangkat pedang satu tangan mereka, dan bersiap menusuk prajurit Tabby yang terjebak di dalam jaring laba-laba.
Tepat saat situasinya hampir tamat, tiba-tiba sebuah bola api melesat dari arah samping. Ukurannya sebesar bola sepak, meluncur deras ke arah kedua infanteri ringan tersebut. Serangan itu membuat kedua prajurit tersebut terpaksa menarik kembali pedang mereka dan mengangkat perisai secara bersamaan.
"Bum!"
Bola api itu menghantam perisai salah satu dari mereka, menyebarkan hawa panas ke depan dalam bentuk kipas. Kedua prajurit infanteri ringan itu langsung tersapu oleh gelombang sihir api.
Tanpa berani ragu sedetik pun, mereka langsung menjatuhkan diri ke belakang, berguling-guling dengan liar di atas tanah untuk memadamkan sisa api di tubuh mereka. Ketika mereka bangkit berdiri, bulu di tubuh mereka hampir hangus tak bersisa, dan sebagian besar pakaian mereka pun hancur terbakar.
"Musuh juga punya penyihir?" Infanteri ringan itu mendadak teringat sesuatu dan berteriak, "Penipu itu telah muncul."
Sebuah kendaraan besar dan aneh muncul di hadapan mereka.
Mobil pikap off-road yang dikemudikan oleh Zhang Jingyi tiba di medan perang pada saat-saat krusial.
Elizabeth duduk di kursi penumpang, mengulurkan tangan kanannya ke luar jendela. Di ujung tongkat sihir yang dipegangnya, masih tersisa pendaran partikel cahaya merah yang ditinggalkan oleh para peri api.
Penyihir Agung Berhati Hitam menoleh. "Oh! Penipu, akhirnya muncul juga."
Ksatria Hitam Feder: "Menyerang kaum Manusia Kucing adalah keputusan yang tepat."
Penguasa Muda Adrian juga bersuka cita. "Jasa besar sudah berada di depan mata."
Elizabeth: "Penipu? Heh! Muka tembok macam apa yang kalian miliki sampai bisa melontarkan sebutan seperti itu? Aku adalah Elizabeth X, pewaris sah Kerajaan Sihir Faran. Darah kerajaan mengalir di dalam tubuhku. Yang harus kalian lakukan sekarang adalah bersumpah setia kepada Ratu kalian! Bantu aku menggulingkan pengkhianat Ugu Mante."
"Diam!" bentak Penyihir Agung Berhati Hitam. "Penipu, tidak akan ada yang percaya pada omong kosongmu itu. Garis keturunan kerajaan telah terputus sejak 16 tahun lalu. Ratu terdahulu, Elizabeth IX, beserta suami dan putrinya, tewas di tangan pengkhianat Antonio. Raja Bijaksana Ugu Mante bukanlah seorang pengkhianat negara. Dialah yang memimpin pasukan untuk membela raja, membalaskan dendam Elizabeth IX, mengusir Antonio, dan menjamin perdamaian Kerajaan Faran."
"Heh! Apakah kalian merangkai cerita sampai kalian sendiri percaya pada kebohongan itu?" Kepala Pengawal Antonio muncul di samping mobil pikap, melepaskan jubahnya untuk memperlihatkan wajah tuanya yang berambut perak. "Beranikah Ugu Mante mengumpulkan seluruh penguasa di dunia ini, lalu berhadap-hadapan langsung dengan aku dan Yang Mulia Ratu untuk membeberkan dan memperjelas kejadian yang terjadi 16 tahun lalu?"
Penyihir Agung Berhati Hitam mencibir. "Antonio, usiamu sudah hampir tujuh puluh tahun, tapi bagaimana bisa kau masih melontarkan ucapan yang begitu naif? Apakah karena kau sudah tidak punya cara lain selain menggunakan metode kekanak-kanakan seperti ini?"
Antonio: "..."
Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berkata apa.
Sebab, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia pun mengerti bahwa kata-kata yang baru saja diucapkannya memang sedikit naif. Bagaimana mungkin seorang pengkhianat negara begitu bodoh mau datang untuk berdebat? Lagipula, apakah menang atau kalah dalam perdebatan semacam itu ada gunanya?
Sekalipun para penguasa mengetahui apa yang terjadi 16 tahun lalu, mereka belum tentu mau mendukung Yang Mulia Ratu. Bukti nyata dari hal ini adalah Ksatria Hitam Feder.
Dulu ia jelas-jelas seorang ksatria yang setia kepada kerajaan, dan ia sangat mengetahui proses kudeta 16 tahun lalu. Namun sekarang, ia justru menjadi pemburu yang memalukan, bertekad bulat untuk menghabisi sang Ratu, bahkan jauh lebih tidak sabar dibanding Ugu Mante sendiri dalam melenyapkan sang Ratu.
Antonio menghela napas panjang.
Tepat pada saat itu, suara Zhang Jingyi tiba-tiba terdengar. "Naif? Tunggu sampai pasukan pemulihan negara kita mengalahkan semua pengkhianat, menangkap pengkhianat negara Ugu Mante, menyeretnya dengan terikat erat di hadapan seluruh penguasa di dunia ini, dan kemudian mengonfrontasinya mengenai kejadian 16 tahun lalu—menurut kalian, apakah tindakan itu masih bisa disebut naif?"
Begitu kata-kata ini diucapkan, Elizabeth dan Antonio langsung bersemangat!
Penyihir Agung Berhati Hitam mengerutkan kening, lalu menoleh menatap Zhang Jingyi. "Eh? Siapa kau?"
Zhang Jingyi terkekeh. "Coba tebak!"