Bab 54: Tuan, Anda Harus Melindungi Saya
Akhirnya pihak kampus melunak, memperbolehkan aku untuk tetap tinggal di asrama.
Namun, aku harus menghentikan perbodohan yang kulakukan.
Hah!
Apa boleh buat?
Raja Akhirat pun tidak mendukungku melakukan hal ini.
Beliau menyuruhku agar menggunakan waktu luang untuk memperdalam mantra utusan akhirat.
Sebab, ujian seleksi utusan akhirat di dunia bawah akan dimulai empat bulan lagi.
Mengingat aku sudah tidak berniat melanjutkan ujian pascasarjana.
Maka, aku akan mengikuti tes PNS di dunia bawah saja.
PNS akhirat, ya?
Selama dua puluhan tahun hidup di dunia ini, urusan dunia fana saja belum beres, kini malah harus mengurusi urusan dunia baka.
Namun, jika dipikir-pikir, itu tidak buruk juga.
Di dunia fana, aku tidak punya orang dalam, sehingga sulit bertahan hidup.
Di dunia baka, ada Raja Akhirat, mungkin akan lebih mudah daripada di dunia fana.
Aku membulatkan tekad untuk bersungguh-sungguh melatih mantra utusan akhirat.
Namun, keesokan harinya Tang Zhou langsung mencariku.
Menarikku untuk ikut berlibur.
Mereka sudah berjanji untuk melakukan perjalanan darat bersama.
"Kalian pergi liburan kelompok sebagai satu asrama, terasa tidak pantas jika aku sebagai orang luar ikut."
"Apa yang tidak pantas? Asrama kita hanya berisikan aku, Fang Zi, pacarnya, dan sahabat pacarnya."
Mendengar itu, Tang Zhou berbisik memberitahuku, "Sahabat pacar Fang Zi sangat tampan. Bukankah kau bilang tidak ada hubungan apa-apa dengan Guru Wan? Lebih baik..."
"Aku ikut!"
Ada pria tampan, ya!
Mataku langsung berbinar.
Tang Zhou menatapku dengan ekspresi seolah sudah tahu aku akan setuju, lalu berkata, "Baiklah, kita berangkat pukul sepuluh, berkumpul di gerbang kampus. Kutunggu ya!"
"Oke, beres."
Aku dengan gembira melepas kepergian Tang Zhou, lalu berbalik untuk bersiap-siap membereskan barang.
Besok adalah libur Hari Buruh.
Kuliah hari ini juga tidak banyak, jadi aku bisa membolos.
"Mau pergi ke mana?"
Raja Akhirat datang.
Aku begitu terhanyut dalam kegiranganku sampai-sampai tidak menyadari kedatangannya.
Beliau berdiri dengan wajah dingin, mengenakan jubah putih tanpa noda sedikit pun.
Berdiri tenang di sudut ruangan, dinding di sekitarnya pun berwarna putih bersih yang sama, membuatnya hampir menyatu dengan dinding.
Bukan salahku jika aku tidak menyadari keberadaannya.
"Liburan! Besok kan libur Hari Buruh."
"Kudengar ada pria tampan?"
Nada suaranya terdengar ambigu.
Aku menangkap ada keanehan dalam suaranya yang mendingin, lalu menoleh dan mendapati beliau sedang mengatupkan bibir menatapku, dasar mata jernihnya tampak begitu gelap dan pekat.
Apakah beliau ini... sedang marah?
"Ah, begitu ya!"
Aku menggaruk kepala pura-pura tidak paham.
Kemudian tersenyum cengengesan, "Apakah Yang Mulia ingin ikut?"
"Hah!"
Pria itu enggan memandangku, membuang muka lalu berbalik menuju ke balkoni.
Apa maksudnya ini?
Mau ikut atau tidak?
"Yang Mulia, kalau Anda tidak ikut, aku benar-benar pergi ya!"
Aku berteriak ke arah balkoni.
Raja Akhirat tidak memedulikanku, dan aku pun melanjutkan mengemas barang bawaanku.
Sebelum pukul sepuluh, aku membawa koperku dan menyelipkan plak suci ke dalam tas selempangku.
Tidak lupa membawa dupa dan pemantik api.
Lalu meninggalkan asrama.
Hingga aku melangkah keluar.
Raja Akhirat sama sekali tidak menggubrisku.
Namun, dengan adanya plak suci, aku tidak takut tertinggal darinya.
Beliau jauh lebih berguna daripada tiga helai bulu penyelamat milik Sun Go Kong. Selama aku menyalakan dupa, di mana pun beliau berada, beliau pasti akan dapat merasakannya, itu semua tergantung pada apakah beliau bersedia meladeniku atau tidak.
Setibanya di sana, Tang Zhou sudah naik ke mobil bersama Fang Zi dan yang lainnya.
Dia melambaikan tangan menyuruhku untuk ikut naik.
Aku melirik sekilas ke arah mobil yang mengekor di belakang.
Tanpa sengaja melihat sosok yang familiar duduk di kursi penumpang depan.
Tang Zhou mengira aku sedang memerhatikan pemuda yang menyetir, lho, lalu mendekat dan berbisik kepadaku, "Jangan mengincar pria tampan di belakang itu, dia sudah punya pujaan hati."
Kemudian dia menunjuk wanita yang duduk di kursi penumpang depan dan berkata, "Bidadari hatinya."
Bidadari hati?
Alisku mengernyit, menoleh ke belakang sekali lagi.
Aku yakin, wanita itu adalah mantan pacar Wan Qi'an, wanita yang bercengkerama dengan hantu bos arogan di malam hari.
"Siapa namanya?"
Hebat juga dia!
Setiap mantan pacarnya begitu luar biasa.
"Namanya Qin Xi, senior kita, sekarang bekerja di Grup Lu."
Yang menjawab pertanyaanku adalah pacar Fang Zi.
Dipanggil Monyet.
Tubuhnya kurus tinggi, sepasang matanya berbinar licik.
Seseorang yang terlihat sangat jenaka.
Mobil mulai melaju.
Aku menoleh ke belakang menatap gerbang kampus.
Entah apa yang kuharapkan untuk kulihat.
Tang Zhou melihat emosiku sedang turun, lalu menggoda, "Kenapa? Tidak jadi diperkenalkan dengan pria tampan, jadi tidak senang?
Sudahlah, sepulangnya kita nanti, aku akan menyuruh Monyet memperkenalkan pria paling tampan di jurusannya kepadamu, bagaimana?"
Monyet pun buru-buru menyahut, "Pasti dong. Para pria di jurusan kami setampan aku. Urusan ini beres, serahkan padaku."
Sudut bibirku berkedut.
Hanya merasa bosan.
Tampan-tampannya pria jurusan mereka, apakah bisa lebih tampan daripada Yang Mulia-ku?
Cih!
Melihatku terdiam, Tang Zhou memelukku dan berkata lagi, "Pergi berlibur itu harus dengan perasaan senang! Ayo, senyum dulu."
Senang!
Aku juga ingin merasa senang.
Namun, begitu mobil keluar dari jalan tol dan memasuki jalur yang semakin lama semakin terpencil.
Dikelilingi oleh pepohonan rimbun.
Jalanan tersebut terasa semakin mencekam.
Aku pun merasa perjalanan ini tidak akan bisa dinikmati dengan senang.
Matahari perlahan terbenam.
Sisa sinarnya menembus dedaunan lebat, menebarkan pendar kekuningan yang suram.
Hatiku semakin diliputi kegelisahan.
"Tang Zhou, bukankah kita mau ke kawasan wisata? Apakah kita salah jalan?"
Tanganku perlahan meraba masuk ke dalam tas.
Mencengkeram erat plak suci Raja Akhirat.
Terus-menerus merapal di dalam hati, "Yang Mulia, Yang Mulia, Anda harus melindungiku!"
Tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti tempat tinggal manusia.
Energi yang memancar minim, energi negatifnya begitu pekat.
Meskipun ilmu yang kudapatkan belum seberapa.
Namun, semenjak aku melatih mantra utusan akhirat, kepekaan tubuhku menjadi sangat tajam.
Fang Zi menjelaskan, "Sekarang kan libur Hari Buruh! Pergi ke tempat wisata selain tiketnya mahal, kita juga bisa terjebak macet di sepanjang jalan sampai stres.
Kami sudah mencari informasi, di dekat sini ada sebuah Vila Qingyu. Karena baru dikembangkan dan sedikit orang yang tahu, kita pergi bermain ke sana saja.
Kudengar ada gunung dan air, saat cuaca cerah pun bisa turun hujan, lagipula biaya menginapnya gratis, kita hanya perlu membayar biaya makan. Bukankah itu sangat menguntungkan?"
Fang Zi dengan senang hati mengira dirinya telah mendapakan keberuntungan besar.
Namun, alisku justru semakin mengerut dalam.
"Tempat ini tidak beres, energi negatifnya terlalu kuat, sebaiknya kita tidak usah ke sana."
Saat aku mengucapkan kalimat itu.
Mobil telah melaju masuk ke jalan tanah berbatu yang semakin menyempit, bahkan navigasi GPS sudah berhenti memberikan panduan rute.
Dikelilingi pohon-pohon raksasa, orang yang tidak tahu mungkin akan mengira kami telah memasuki hutan belantara.
"Haha! Chengxia, kau terlalu banyak berpikir. Mana mungkin kita semudah itu menemui energi negatif. Sudahlah, nikmati saja liburanmu dengan tenang."
Fang Zi menyanggah perkataanku.
Monyet pun bersikap sama seperti Fang Zi, membujukku beberapa patah kata, "Tempat ini sudah pernah dikunjungi orang tahun lalu, tenang saja, tidak apa-apa."
Tenang kepalamu.
Aku sama sekali tidak merasa tenang.
Aku ingin turun dari mobil, tetapi, turun di tengah hutan pegunungan terpencil ini sendirian pun, bagaimana cara aku kembali juga menjadi masalah besar.
Aku hanya bisa memberanikan diri melanjutkan perjalanan bersama mereka.
Namun, seiring matahari tenggelam, kabut mulai naik menyelimuti hutan.
Mobil pun berhenti di depan sebuah gerbang pekarangan yang tinggi.
Sebuah plakat tergantung bertuliskan Vila Qingyu.
Semua orang turun dari mobil dan sibuk menurunkan barang bawaan.
Hanya aku yang berdiri memandangi sekeliling, menatap lampion merah yang tergantung di kedua sisi gerbang tinggi di hadapanku, merasakan gelombang hawa dingin merayap menyergap.
Saat itu, seorang paruh baya keluar dari dalam vila.
Mengenakan setelan jas Zhongshan, dengan punggung tegap.
Dengan sangat sopan membantu mendorong koper.
Vilanya sangat besar.
Sangat kosong.
Tampak begitu aneh dan janggal di tengah hutan pegunungan yang sunyi ini.
Terutama setelah memasuki vila, lampion-lampion merah yang tergantung di sepanjang sisi jalan memancarkan warna merah menyala bagaikan darah segar.
"Lampion merah ini indah sekali."
Yang berbicara adalah Qin Xi, dia bersama seorang pemuda bernama Chen Hao berjalan tepat di belakangku.
Ketika aku mendengarnya bersuara dan menoleh ke belakang.
Aku melihat Qin Xi sedang mengulurkan tangan menyentuh lampion tersebut.
Tiba-tiba!
Nyala lilin di dalam lampion itu padam seketika, berubah menjadi warna merah pekat.
Semakin menyerupai darah.