Bab 107: Hanya Keberuntungan Semata
Tak lama kemudian, Chen Yu mengikuti Tang Zhicheng masuk ke salah satu barak sementara.
Di dalam, seorang pekerja muda sedang berteriak-teriak histeris. Ia mengayunkan helm pengamannya ke sana kemari, terkadang bersembunyi di bawah meja sambil gemetar, menangis sekaligus tertawa. Beberapa pria lain di dalam ruangan tampak bersiaga penuh, berusaha mencegahnya melukai diri sendiri atau melarikan diri. Selain seorang pemuda berkacamata yang mengenakan setelan jas rapi dan tampak tenang, semua orang di sana memperlihatkan raut wajah cemas dan gelisah.
"Jangan, jangan mendekat! Jangan celakai aku! Aku tidak takut padamu, jangan ke sini..."
Pekerja muda itu berteriak penuh amarah, lalu seketika memohon dengan suara rendah. Ucapannya sangat cepat dan tidak jelas, membuat orang-orang di sekitarnya kesulitan menangkap apa yang sebenarnya ia katakan.
"Kami tidak akan mendekat, tenanglah," ujar pemuda berkacamata itu sambil menekan kedua tangannya ke udara, berusaha menenangkan emosi pekerja tersebut dengan nada bicara yang lembut.
"Direktur Tang."
"Bos Tang."
Melihat Tang Zhicheng masuk, pria-pria lain segera menyapanya, sementara pemuda berkacamata itu memanggil, "Ayah."
"A-Ze, bagaimana situasinya?" tanya Tang Zhicheng langsung.
"Pada dasarnya sama seperti yang lain, dia sama sekali tidak bisa diajak berkomunikasi. Sepertinya kita harus melumpuhkannya secara paksa," jawab Tang Ze dengan tenang.
Tang Zhicheng mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah Chen Yu dan bertanya, "Adik, bagaimana menurut pendapatmu?"
Chen Yu menyipitkan mata, mengamati pekerja muda itu dengan saksama. Ia tidak menemukan hawa jahat yang mencolok pada wajah pria tersebut.
"Ikat dia terlebih dahulu agar tidak melukai diri sendiri," gumam Chen Yu.
Tang Zhicheng segera bertanya, "Apakah ini karena kerasukan?"
Chen Yu menggelengkan kepala. "Agak aneh... untuk saat ini saya belum menemukannya. Biar saya periksa lebih lanjut terlebih dahulu."
"Baik. Ikat dia," perintah Tang Zhicheng.
Tang Ze segera menyuruh pria-pria tersebut untuk menahan pekerja muda itu. Butuh usaha yang tidak sedikit untuk mengikat tangan dan kakinya, lalu membaringkannya di tempat tidur kayu.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak pekerja muda itu dengan wajah garang seraya meronta-ronta.
Tang Ze tidak memedulikannya lagi. Ia menatap Chen Yu dari atas ke bawah dan bertanya dengan rasa penasaran, "Ayah, siapa orang ini?"
"Ini adalah Tuan Chen yang pernah Ayah ceritakan padamu."
Tang Zhicheng memperkenalkan mereka berdua, lalu tersenyum kepada Chen Yu. "Adik, ini putra bungsuku, Tang Ze. Sifatnya sangat berbeda dengan kakaknya, dia sangat hebat."
"Kalian seumuran, semoga ke depannya bisa lebih akrab."
Saat berbicara tentang Tang Ze, raut wajah Tang Zhicheng tidak bisa menyembunyikan rasa bangga. Putra bungsunya itu tidak hanya penurut dan bijak, tetapi juga lulusan universitas ternama di luar negeri dengan jurusan teknik sipil.
Selama kuliah, ia sering mengikuti berbagai kompetisi internasional dan memenangkan dua penghargaan bergengsi di bidang desain arsitektur. Baru saja kembali ke tanah air, ia sudah dipercaya memimpin seluruh proyek pengembangan tahap ketiga, dan kemampuannya mendapat pujian dari seluruh jajaran grup perusahaan. Putra yang berbakat ini adalah kebanggaan seluruh keluarga Tang.
Melihat sambutan hangat Tang Zhicheng, Chen Yu mengulurkan tangan ke arah Tang Ze untuk menyapa, "Halo."
Tang Ze mendorong kacamatanya dengan dua jari tanpa berniat menjabat tangan. Dengan nada bicara yang cukup sopan, ia berkata, "Ayah bilang, menurut pendapatmu orang-orang ini kerasukan. Saya memiliki pandangan yang berbeda."
Tang Zhicheng menatap Tang Ze dengan tidak puas dan berbisik, "Apa yang kamu katakan itu?"
"Tidak apa-apa, biarkan dia bicara," ucap Chen Yu sambil menarik kembali tangannya dengan tenang.
"Budaya negeri kita sangat luas, memiliki banyak harta karun, namun juga tidak sedikit hal-hal usang," tutur Tang Ze dengan percaya diri.
"Takhayul feodal adalah hal usang yang harus dibuang. Terlebih lagi, sekarang sudah abad ke-21, zaman di mana sains sudah maju."
"Mengapa di masa sekarang masih ada istilah kerasukan? Itu sungguh konyol."
"Menurut pandangan saya, alasan mengapa para pekerja di lokasi konstruksi ini gila satu per satu hanya ada dua penyebab."
Tang Zhicheng tak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Apa dua alasan itu?"
Tang Ze mengangkat satu jari. "Pertama, tenggat waktu proyek yang terlalu ketat sehingga tekanan yang diterima pekerja terlalu besar."
Tang Zhicheng terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Proyek tahap ketiga *Jingshi Chuntian* adalah proyek terbesar grup perusahaannya dalam dua tahun terakhir. Untuk menjadikannya ikon bagi Grup Properti Huihuang bahkan bagi kota Zhonghai, Tang Zhicheng telah mencurahkan banyak tenaga. Ia mengundang Gu Qingcheng untuk menjadi duta iklan guna mempromosikan kompleks hunian tersebut. Tim desainnya berasal dari luar negeri—rekan dan guru universitas Tang Ze—sehingga konsep, teknik, dan alur kerjanya sangat berbeda dari yang biasa mereka lakukan. Singkatnya, terlalu maju dan asing bagi para pekerja, sehingga progres proyek menjadi sangat lambat. Hal ini memicu ketidaksenangan Tang Zhicheng, yang kemudian memberi tekanan berlebih pada penanggung jawab lapangan hingga ke tingkat pekerja bawah.
Tang Ze melanjutkan, "Kedua, pekerja yang menjadi gila ini pada dasarnya berasal dari desa yang sama."
"Saya sangat curiga mereka memiliki riwayat genetik penyakit mental. Ke depannya, kita harus lebih berhati-hati dalam perekrutan."
"Cara termudah agar lokasi konstruksi ini aman adalah dengan memberhentikan semua pekerja dari desa tersebut."
Tang Zhicheng mengangguk setuju. "Masuk akal."
Pria-pria lain yang mendengar hal itu merasa lega. Siapa yang tidak takut dengan banyaknya pekerja yang menjadi gila? Beberapa hari terakhir ini benar-benar terasa ganjil. Semua orang takut ada hal-hal gaib yang menempel pada diri mereka dan tidak lagi fokus bekerja. Seluruh area konstruksi diliputi kecemasan dan rasa waspada.
Kini, setelah mendengar analisis sang putra bos, mereka merasa lebih tenang. Yang terpenting, Direktur Tang pun setuju dengan argumen tersebut. Maka, bisa dipastikan bahwa para pekerja itu hanya mengalami gangguan jiwa, bukan kerasukan. Jika bukan kerasukan, berarti tidak ada hal gaib di lokasi tersebut, sehingga mereka tidak perlu takut lagi.
"Terlalu dini untuk menarik kesimpulan," sela Chen Yu saat itu.
Meskipun ia tidak menemukan hawa jahat di ruangan ini maupun pada pekerja tersebut, bukan berarti area lain di lokasi konstruksi ini aman. Mendengar ucapannya, hati Tang Zhicheng kembali merasa tidak tenang.
Tang Ze menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Saya berterima kasih karena Anda telah menyelamatkan nenek saya, dan saya tahu keahlian medis Anda sangat hebat, tapi itu tidak berarti Anda serba bisa."
"Sebagai seorang praktisi pengobatan tradisional, apakah mungkin Anda tidak bisa mendiagnosis, atau bahkan tidak bisa mengenali penyakit mental?"
Pria-pria lainnya mengangguk, merasa Chen Yu hanya menakut-nakuti orang. Ia datang ke lokasi namun tidak bisa melihat apa pun, malah hanya tahu cara membuat orang cemas. Jika ia benar-benar memiliki kemampuan, ia seharusnya bisa memberikan argumen yang logis seperti yang dilakukan sang putra bos, bukannya bersikap misterius di sini.
Tiba-tiba, seorang penanggung jawab lapangan berlari dengan tergesa-gesa dan melapor kepada Tang Zhicheng, "Direktur Tang, Nona Nalan telah tiba."
"Mengapa dia datang?" Tang Zhicheng terkejut. Ia berkata kepada Chen Yu, "Adik, mohon maaf sebentar, saya harus menjemput seseorang."
Setelah mengatakannya, ia segera pergi dengan langkah cepat. Begitu Tang Zhicheng pergi, postur tubuh Tang Ze seolah tegak dengan sendirinya. Ia memandang Chen Yu dengan angkuh dan bertanya sambil tersenyum, "Chen Yu, apakah tebakan saya benar?"
"Perkataanmu terdengar masuk akal, tapi itu semua hanya spekulasimu," jawab Chen Yu dengan tenang. "Sedangkan saya, akan memberikan bukti nyata."
Tang Ze menanggapi dengan tidak peduli, "Kalau begitu, saya tunggu bukti darimu."
Sebagai pemuda yang menerima pendidikan modern yang sistematis dan maju, Tang Ze sama sekali tidak percaya pada hal-hal seperti kerasukan atau energi jahat. Ia bahkan menganggap kesembuhan neneknya berkat Chen Yu hanyalah kebetulan semata. Jika Chen Yu tidak ikut campur, dokter-dokter Barat yang berpendidikan tinggi pun pasti bisa menyelamatkan neneknya. Kasarannya, keberhasilan Chen Yu hanyalah keberuntungan orang bodoh. Ia hanya beruntung saja, apa yang perlu dibanggakan? Dia sama sekali tidak pantas mendapatkan rasa hormat setinggi itu dari ayahnya.